• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Prinsip Dasar Pembuatan Kompos

2.3.1 Pembuatan Kompos Aerob

Pengomposan secara aerob harus berlangsung dalam keadaan terbuka karena membutuhkan oksigen. Dalam hal ini, udara bebas harus bersentuhan langsung dengan bahan baku kompos berupa sampah organik. Pengontrolan terhadap kadar air, suhu, pH, kelembaban, ukuran bahan, volume tumpukan bahan, dan pemilahan bahan perlu dilakukan secara intensif untuk mempertahankan proses pengomposan agar stabil sehingga diperoleh proses pengomposan yang optimal, kualitas maupun kecepatannya. Selain itu untuk memperlancar udara masuk kedalam bahan kompos pengontrolan secara intensif, ini merupakan ciri khas proses pengomposan secara aerob. Oleh karena itu, kegiatan operasional pengomposan secara aerob relatif lebih sibuk dibandingkan secara anerob (Habibi, 2008).

Hasil akhir pengomposan yaitu bentuk fisiknya sudah menyerupai tanah yang bewarna kehitaman, strukturnya remah tidak menggumpal, jika dilarutkan dalam air, kompos yang sudah matang tidak akan larut. suhunya normal dan cenderung konstan (tetap). Apabila bentuknya sudah seperti ini maka kompos aerob siap digunakan pada tanaman atau dikemas dalam wadah (Simamora, 2006).

Dalam pembuatan kompos secara aerob agar lebih berkualitas baik, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :

1. Rasio C/N bahan pada pengomposan secara aerob

Nilai C/N merupakan hasil perbandingan antara karbon (C) dan kadar nitrogen (N) pada suatu bahan. Semua mahluk hidup tersusun dari sejumlah

besar bahan karbon (C) serta nitrogen (N) dalam jumlah kecil. Pembuatan kompos yang optimal membutuhkan rasio C/N 25:1 sampai dengan 30:1.

Sebagai contoh, limbah rumah tangga padat (sampah) organik yang tercampur mempunyai rata-rata kandungan rasio C/N sekitar 15:1 sehingga perlu adanya penambahan unsur C agar mencapai atau mendekati perbandingan rasio C/N 25:1 hingga 30: 1. Kisaran nilai rasio C/N 25:1 hingga 30:1 merupakan nilai perbandingan unsur C/N yang terbaik agar bakteri dapat bekerja sangat cepat. Selama proses dekomposisi bahan organik mentah (sampah) menjadi kompos akan terjadi berbagai perubahan hayati yang dilakukan oleh mikroorganisme sebagai aktivator, dengan perubahan tersebut maka kadar karbohidrat akan hilang atau turun dan senyawa nitrogen yang larut (amonia) akan meningkat. Dengan demikian, C/N semakin rendah dan relatif stabil mendekati C/N tanah.

2. Ukuran Bahan

Aktivitas mahluk hidup pengurai dalam proses pengolahan kompos juga dipengaruhi oleh ukuran bahan. Semakin kecil ukuran bahan baku kompos yang digunakan, proses dekomposisi akan semakin cepat karena bidang permukaan bahan yang kontak dengan mikroorganisme aktivator semakin luas. Oleh karena itu, sampah sebaiknya dipotong-potong/dicacah menjadi ukuran lebih kecil, yaitu 3-5 cm untuk bahan yang tidak keras. Sementara bahan yang keras sebaiknya berukuran 0,5-1 cm.

3. Kandungan air dan aerasi

Kandungan air bahan yang akan dijadikan kompos minimum 35-40% dan maksimum 60-70%. Kandungan air akan berkaitan langsung dengan ketersediaan oksigen untuk aktivitas mikroorganisme arobik. Bila kadar air bahan berada pada kisaran 40-60% maka mikroorganisme pengurai aerobik akan bekerja secara optimal dan menyebabkan dekomposisi berjalan cepat.

Akan tetapi, bila kadar air lebih dari 60%, akan menyebabkan kondisinya anaerobik. Dengan demikian, mikroorganisme aerobik tidak dapat berfungsi dan mengakibatkan proses pengomposan tidak sempurna atau berjalan lambat. Sebagian proses akan beralih ke anaerobik dan menghasilkan CO2 serta senyawa-senyawa organik, seperti asam organik dan sering menimbulkan bau busuk. Agar tidak kekurangan oksigen, biasanya tumpukan bahan dibalik atau dibantu dengan menggunakan blower.

4. Porositas

Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos.

Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplai oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga di penuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.

5. Suhu (Temperatur)

Suhu ideal untuk pengomposan secara aerob yaitu diantara 45-65°C. Untuk mengetahui keadaan suhu bahan dapat digunakan termometer alkohol, agar kalau pecah dilapangan maka cairan alkohol tidak membahayakan kompos.

Suhu kompos organik dapat dijaga agar tetap stabil dengan cara mengatur kadar air, suhu yang terlalu rendah dapat disebabkan bahan yang kurang lembab sehingga aktivitas mikroorganisme menurun. Masalah ini dapat diatasi dengan cara bahan kompos disiram dengan air hingga mencapai kadar air yang optimal. Demikian pula, jika kondisi suhu bahan terlalu tinggi, tidak baik bagi proses pengomposan. Kondisi suhu yang tertinggi dapat mencapai 80°C.

Suhu yang terlalu tinggi dapat diatasi dengan cara membalikkan bahan.

Bakteri yang bekerja pada suhu ini biasanya hanya bakteri termofilik, yaitu bakteri yang tahan terhadap suhu tinggi. apabila hal ini terjadi maka mikroorganisme lainnya akan mati. Penggunaan temperatur tinggi, yaitu 80°C biasanya untuk pengomposan skala besar karena di perlukan kecepatan tinggi untuk pengomposan berton-ton bahan organik. Pengomposan skala industri kecil atau kebun sendiri di rumah tidak terlalu berisiko apabila suhu dipertahankan pada kisaran antara 45-65°C.

6. Derajat Keasaman (pH)

Untuk berlangsungnya pengomposan secara aerob yang baik dibutuhkan pH netral yaitu diantara 6-8,5. Jika kondisi asam dapat diatasi dengan pemberian

kapur, namun sebenarnya degan cara memantau suhu dan membolak-balikkan bahan kompos secara tepat dan benar sudah dapat mempertahankan kondisi pH tetap pada titik netral, tanpa pemberian kapur. Dengan demikian, proses pemeriksaan pH setiap waktu tidak perlu dilakukan. Akan tetapi untuk lebih meyakinkan lagi, pemeriksaan pH dapat dilakukan dengan cara menggunakan kertas lakmus atau menggunakan pH meter elektronik.

7. Kelembaban (Moisture content)

Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada Supply oksigen. Mikroorganisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik larut dalam air. Kelembaban 40-60% adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban dibawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60% hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan tetap terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tak sedap cara mengatasi hal tersebut dapat menambahkan daun kering atau serbuk gergaji (Sudradjat, 2006 dan Habibi, 2008).

Dokumen terkait