Allium sativum YANG OPTIMUM PADA PAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
II. BAHAN DAN METODE
2.1 Metode Penelitian .1 Persiapan Wadah
2.2.4 Gambaran Darah
2.2.4.5 Pembuatan Preparat Ulas Darah (Svobodova, 1991)
Jenis dan jumlah leukosit dihitung dengan cara membuat sediaan ulas darah. Pembuatan preparat ulas darah yaitu darah diteteskan pada gelas objek kemudian diratakan dan dikeringkan udara kemudian difiksasi dengan metanol selama 5 menit. Selanjutnya dibilas dengan akuades, dikeringkan, dan diwarnai dengan pewarna Giemsa selama 15 menit. Lalu preparat ulas tersebut dibilas dengan akuades dan kembali dikeringkan.
Diferensial leukosit (monosit, neutrofil, limfosit dan trombosit) dihitung sampai 100 sel leukosit, kemudian dihitung jumlah sel monosit, neutrofil, limfosit, dan trombosit.
8 Adapun cara perhitungan diferensial leukosit adalah sebagai berikut :
2.3 Analisis Data
Penelitian yang dilakukan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh adalah data kelangsungan hidup dan gambaran darah meliputi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah leukosit, diferensial leukosit (monosit, neutrofil, limfosit, dan trombosit) ditampilkan dalam bentuk grafik kemudian dilakukan uji F menggunakan software SPSS ver.16 dengan uji lanjutan Duncan. Data gejala klinis, respons makan dan suhu dianalisis secara deskriptif.
9
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Kelangsungan Hidup
Mortalitas ikan mas (ekor) pasca uji tantang pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 1. Grafik mortalitas ikan mas pasca uji tantang menunjukkan hasil bahwa ikan mulai mengalami kematian pada hari ke-23 untuk perlakuan kontrol positif dan kontrol negatif. Kematian pada kontrol negatif diduga stres pasca penyuntikkan karena untuk perlakuan kontrol negatif tidak terjadi kematian lagi sampai akhir pemeliharaan. Pada hari ke-25, pada kontrol positif dan perlakuan C mengalami kematian ikan yang cukup tinggi yaitu masing-masing sebanyak 6 dan 4 ekor. Untuk perlakuan kontrol positif, kematian ikan terus terjadi sampai hari ke-34. Pada perlakuan A dan B, kematian ikan tidak terjadi lagi mulai pada hari ke-27 sampai akhir pemeliharaan.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 1. Grafik Mortalitas (ekor) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 1 2 3 4 5 6 7 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Ju m lah Ikan yan g M ati (e ko r) Hari Ke-K- K+ A B C
10 Rata-rata kelangsungan hidup (%) ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 2. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas dihitung mulai hari ke-22 pemeliharaan atau selama 14 hari pasca infeksi KHV. Nilai kelangsungan hidup ikan mas pada berbagai perlakuan pasca penyuntikan KHV menunjukkan bahwa kontrol positif mengalami kematian yang paling tinggi yaitu sebesar 0%. Nilai kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol negatif yaitu sebesar 95,8%. Pada perlakuan A dan B didapat nilai kelangsungan hidup yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol negatif yaitu masing-masing sebesar 91,7% dan 83,8%. Namun, berbeda nyata dengan perlakuan kontrol positif dan perlakuan C dengan nilai kelangsungan hidup masing-masing sebesar 0% dan 62.5%. Untuk perlakuan kontrol positif berbeda nyata dengan perlakuan C. Penambahan ekstrak bawang putih pada pakan diduga dapat meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas terhadap infeksi KHV. Analisis statistik tingkat kelangsungan hidup ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 2. Kelangsungan Hidup (%) Ikan Mas Cyprinus carpio Selama 14 hari Pasca Uji Tantang
95,8 0 91,7 83,8 62,5 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 K- K+ A B C K e lan g su n g an Hi d u p ( % ) Perlakuan
c b
a c
c
11 3.1.2. Respons Makan Selama Pemeliharaan
Penurunan nafsu makan terjadi saat awal pemberian ekstrak bawang putih dalam pakan. Nafsu makan cenderung kembali normal pada hari ke-5 pemberian pakan dengan penambahan ekstrak bawang putih, hal ini diduga ikan sudah terbiasa dengan pakan yang telah diberi ekstrak bawang putih sehingga nafsu makan kembali normal. Penurunan nafsu makan juga terjadi pasca uji tantang, hal ini dikarenakan ikan mengalami stres akibat penyuntikkan. Untuk perlakuan kontrol negatif, nafsu makan kembali normal pada hari ke-24, sedangkan untuk perlakuan kontrol positif , penurunan nafsu makan terus terjadi sampai hari ke-34 akibat adanya rinfeksi KHV. Respons makan ikan selama pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 6.
3.1.3. Gejala Klinis
Gejala klinis pada ikan mas pasca infeksi KHV dapat dilihat pada Tabel 1. Gejala klinis ikan mas yang terserang KHV umumnya pergerakannya menjadi lemah dan terjadi penurunan nafsu makan. Dilihat dari tabel gejala klinis di atas, kondisi fisik ikan yang mati akibat serangan KHV memiliki ciri-ciri kulit melepuh, luka pada daging, tubuh kesat dan insang berwarna pucat (kecoklatan) serta terdapat partikel putih pada insang. Kondisi fisik pada perlakuan kontrol positif mengalami luka pada daging yang cukup parah jika dibandingkan luka pada ikan perlakuan yang diberi ekstrak bawang putih pada pakannya. Luka yang terdapat pada perlakuan A dan B lebih cepat sembuh jika dibandingkan perlakuan kontrol positif yang penyembuhan lukanya sangat lambat dan akhirnya menyebabkan kematian. Gambar gejala klinis pada ikan yang terserang KHV dapat dilihat pada Lampiran 5.
Tabel 1. Gejala Klinis Pada Ikan Mas Pasca Infeksi KHV
Perlakuan Kelainan
Sisik/Kulit Luka Insang
K- normal tidak ada luka merah/normal
K+ kesat dan melepuh luka besar dan dalam
pada daging
merah pucat dan ada bintik putih
A normal tidak ada luka merah/normal
B kesat luka kecil merah/normal
12 3.1.4 Gambaran Darah
Pengamatan gambaran darah yang dilakukan meliputi jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit, leukosit, dan diferensial leukosit yang meliputi monosit, neutofil, limfosit dan trombosit.
3.1.4.1 Eritrosit
Rata-rata jumlah eritrosit (sel/mm3) ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 3. Terjadi peningkatan jumlah eritrosit pada hari ke-25 untuk semua perlakuan. Tingginya jumlah eritrosit pasca infeksi diduga menandakan ikan dalam keadaan stres akibat penyuntikkan pada hari ke-22. Jumlah eritrosit menurun mulai dari hari ke-27, kembali normal dan stabil pada hari ke-29 sampai hari ke-32. Jumlah eritrosit pada hari ke-22 sampai hari ke-32 untuk semua perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 95%. Jumlah eritrosit tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol positif hari ke-25 yaitu sebesat 1,47x106 sel/mm3. Analisis statistik jumlah eritrosit ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 3. Grafik Jumah Eritrosit (sel/mm3) Ikan Mas Cyprinus carpio
1380000 1390000 1400000 1410000 1420000 1430000 1440000 1450000 1460000 1470000 1480000 22 25 27 29 32 Ju m lah E ri tr o si t (sel/m m 3) Hari Ke-K- K+ A B C
13 3.1.4.2 Hemoglobin
Rata-rata kadar hemoglobin (g%) ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 4. Terjadi penurunan kadar hemoglobin pada semua perlakuan pada hari ke-25 pasca infeksi KHV dan penurunan terus terjadi sampai hari ke-27 untuk perlakuan kontrol positif dan perlakuan A. Pada hari ke-27 sampai hari ke-32, kadar hemoglobin cenderung meningkat untuk semua perlakuan. Pada perlakuan kontrol negatif, memiliki kadar hemoglobin yang relatif stabil karena tidak diinfeksi KHV. Pada hari ke-27, kadar hemoglobin perlakuan kontrol negatif berbeda nyata dengan perlakuan kontrol positif, A, B dan C. Pada hari ke-29 dan 32, kadar hemoglobin perlakuan kontrol positif berbeda nyata dengan perlakuan A yang juga berbeda nyata dengan perlakuan C. Kadar hemoglobin tertinggi terdapat pada hari ke-32 pada perlakuan perlakuan A yaitu sebesar 9,4%. Sedangkan kadar hemoglobin terendah terdapat pada perlakuan B pada hari ke-27 yaitu sebesar 3,8%. Analisis statistik kadar hemoglobin darah ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 4. Grafik Kadar Hemoglobin (g%) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 22 25 27 29 32 K ad ar H b ( % ) Hari Ke-K- K+ A B C
14 3.1.4.3 Hematokrit
Rata-rata kadar hematokrit (%) ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 5. Terjadi peningkatan kadar hematokrit pada hari ke-25 pasca penyuntikan untuk semua perlakuan dan terjadi penurunan kadar hematokrit pada hari ke-27 sampai hari ke-32 untuk semua perlakuan,namun tidak terjadi penurunan yang signifikan pada perlakuan kontrol positif. Peningkatan kadar hematokrit yang signifikan terjadi pada saat setelah uji tantang dilakukan. Kadar hematokrit tertinggi terdapat pada perlakuan A pada hari ke-27 yaitu sebesar 32%, sedangkan kadar hematokrit terendah terdapat pada perlakuan kontrol positif pada hari ke-22 yaitu sebesar 18%. Pada hari ke-22, perlakuan kontrol negatif, kontrol positif dan perlakuan A berbeda nyata dengan perlakuan C. Pada hari ke-29 dan 32, perlakuan kontrol positif berbeda nyata dengan perlakuan C. Untuk hari ke-25 dan 27 semua perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 95%. Analisis statistik kadar hematokrit darah ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 5. Grafik Kadar Hematokrit (%) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 5 10 15 20 25 30 35 22 25 27 29 32 K ad ar H e m ato kr it (% ) Hari Ke-K- K+ A B C
15 3.1.4.4 Leukosit
Rata-rata jumlah leukosit ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 6. Terjadi peningkatan jumlah leukosit pada semua perlakuan kecuali perlakuan kontrol positif pada hari ke-25 pasca penyuntikan. Peningkatan jumlah leukosit terus meningkat dari hari ke-25 sampai hari ke-32 kecuali untuk perlakuan kontrol negatif yang mengalami penurunan jumlah leukosit. Pada hari ke-25 dan 27, jumlah leukosit perlakuan kontrol positif berbeda nyata dengan perlakuan A, B dan C. Pada hari ke-25, perlakuan kontrol negatif berbeda nyata dengan perlakuan A, B dan C. Pada hari ke-22 dan 29 semua perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 95%. Jumlah leukosit tertinggi terdapat pada perlakuan A pada hari ke-32 yaitu sebesar 11,6x105 sel/mm3 dan jumlah leukosit terendah terdapat pada perlakuan C pada hari ke-22 yaitu sebesar 3,65x105 sel/mm3. Analisis statistik jumlah leukosit darah ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 6. Grafik Jumah Leukosit (sel/mm3) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 22 25 27 29 32 Ju m lah Leu ko si t (sel/m m 3) Hari Ke-K- K+ A B C
16 3.1.4.5 Diferensial Leukosit
Pengamatan diferensial leukosit meliputi monosit, neutrofil, limfosit dan trombosit.
Monosit
Rata-rata presentase monosit ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 7. Secara grafik terjadi peningkatan presentase monosit pada hari hari 25 sampai hari ke-29 pada semua perlakuan kecuali pada perlakuan kontrol positif yang mengalami penurunan presentase monosit mulai dari hari ke-25 sampai hari ke-29 dan meningkat pada hari ke-32. Jumlah monosit tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol negatif pada hari ke-29 yaitu sebesar 35%, sedangkan jumlah monosit terendah terdapat pada perlakuan A pada hari ke-22 yaitu sebesar 13%. Pada hari ke-22 sampai hari ke-32 semua perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 95%. Analisis statistik jumlah monosit darah ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 7. Grafik Jumah Monosit (%) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 5 10 15 20 25 30 35 40 22 25 27 29 32 Ju m lah M o n o si t (% ) Hari Ke-K- K+ A B C
17 Neutrofil
Rata-rata presentase neutrofil ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 8. Presentase neutrofil secara grafik cenderung tidak stabil. Jumlah neutrofil tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol positif pada hari ke-27 yaitu sebesar 11%, sedangkan jumlah monosit terendah terdapat pada perlakuan C pada hari ke-22 yaitu sebesar 5%. Pada hari ke-22, presentase neutrofil perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan C. Pada hari ke-25 sampai hari ke-32 semua perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 95%. Analisis statistik jumlah neutrofil darah ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 8. Grafik Jumah Neutrofil (%) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 2 4 6 8 10 12 22 25 27 29 32 Ju m lah N e u tr o fi l ( % ) Hari Ke-K- K+ A B C
18 Limfosit
Rata-rata presentase limfosit ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 9. Dari hari ke-22 sampai hari ke-32 pasca penyuntikkan, nilai presentase limfosit cenderung stabil pada semua perlakuan kecuali perlakuan C yang menurun drastis pada hari ke-29 dan meningkat kembali pada hari ke-32. Pada hari ke-22 sampai hari ke-32 semua perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 95. Analisis statistik jumlah limfosit darah ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 9. Grafik Jumah Limfosit (%) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 10 20 30 40 50 60 70 80 22 25 27 29 32 Ju m lah Li m fosi t (% ) Hari Ke-K- K+ A B C
19 Trombosit
Rata-rata presentase trombosit ikan mas pada kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan A, perlakuan B dan perlakuan C disajikan pada Gambar 10. Pasca penyuntikkan, pada semua perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 95%. Jumlah trombosit rata-rata mengalami peningkatan pada hari ke-25 dan cenderung menurun seiring dengan proses penyembuhan luka dan kembali meningkat pada hari ke-29. Jumlah trombosit tertinggi sebesar 8,2 % terdapat pada perlakuan A hari ke-25, dan jumlah trombosit terendah sebesar 1,6% terdapat pada perlakuan C pada hari ke-27 dan 29. Analisis statistik jumlah trombosit darah ikan selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4.
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
Gambar 10. Grafik Jumah Trombosit (%) Ikan Mas Cyprinus carpio
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 22 25 27 29 32 Ju m lah Tr o m b o si t (% ) Hari Ke-K- K+ A B C
20 3.1.5 Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur pada penelitian ini adalah suhu. Suhu merupakan faktor utama pemicu terjadinya serangan KHV dibandingkan dengan parameter kualitas air lainnya (OATA 2001). Kisaran suhu media selama penelitian disajikan pada Tabel 2. Suhu media selama pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 7.
Tabel 2. Kisaran Suhu Media Selama Pemeliharaan
Perlakuan Suhu (0C) K- 23,0 - 27,0 K+ 23,0 – 28,0 A 23,5 – 29,5 B 23,0 – 30,0 C 23,0 – 29,0
K (-) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan disuntik PBS 0,1 ml. K (+) : tanpa penambahan ekstrak bawang putih dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
A : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 21 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. B : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 14 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml. C : penambahan ekstrak bawang putih (50 gram/kg pakan) selama 7 hari dan diinfeksi KHV 0,1 ml.
3.2 Pembahasan
Penurunan nafsu makan terjadi saat awal pemberian ekstrak bawang putih dalam pakan, hal ini diduga disebabkan oleh bau menyengat dari alisin yang merupakan komponen utama hasil degradasi secara enzimatis dari alliin yang tidak stabil dan sangat reaktif (Block, 1992). Nafsu makan cenderung kembali normal pada hari ke-5 pemberian pakan dengan penambahan ekstrak bawang putih. Penurunan nafsu makan juga terjadi pasca uji tantang, hal ini diduga akibat stres saat penyuntikkan. Untuk perlakuan kontrol negatif, nafsu makan kembali normal pada hari ke-24, sedangkan untuk perlakuan kontrol positif , penurunan nafsu makan terus terjadi sampai hari ke-34 yang diduga akibat adanya infeksi KHV pada tubuh ikan mas. Untuk perlakuan A, B dan C, penurunan nafsu makan akibat penyuntikkan terjadi sampai hari ke- 27 dan kembali normal sampai akhir pemeliharaan. Senyawa alisin pada bawang putih berfungsi sebagai antimikroba spektrum luas. Alisin mampu melawan infeksi yang disebabkan oleh parasit, bakteri, jamur, atau virus. Selain itu juga, adanya Scordinin dan vitamin C yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit (Syamsiah, 2006) sehingga kelangsungan hidup ikan menjadi meningkat.
21 Gejala klinis ikan mas yang terserang KHV umumnya pergerakannya menjadi lemah dan terjadi penurunan nafsu makan. Kondisi fisik ikan yang mati akibat serangan KHV memiliki ciri-ciri kulit melepuh, luka pada daging, tubuh kesat dan insang berwarna pucat (kecoklatan) serta terdapat partikel putih pada insang. Kondisi fisik pada perlakuan kontrol positif mengalami luka pada daging yang cukup parah jika dibandingkan luka pada ikan perlakuan yang diberi ekstrak bawang putih pada pakannya. Luka yang terdapat pada perlakuan A dan B lebih cepat sembuh jika dibandingkan perlakuan kontrol positif yang penyembuhan lukanya sangat lambat dan akhirnya menyebabkan kematian. Hal ini membuktikan bahwa pemberian ekstrak bawang putih dapat meningkatkan jumlah trombosit sehingga penyembuhan luka dapat terjadi lebih cepat.
Nilai kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol negatif sebesar 95,8%, perlakuan A yaitu sebesar 91,7% dan perlakuan B sebesar 83,8%. Penambahan ekstrak bawang putih pada pakan diduga dapat meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas terhadap infeksi KHV. Pemberian ekstrak bawang putih 50 gram/kg pakan selama 21 hari diduga dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan mas terhadap serangan KHV, hal ini didukung dengan tingginya nilai kelangsungan hidup yang tidak berbeda nyata dengan kontrol negatif dan berbeda nyata dengan kontrol positif yaitu sebesar 0%. Sedangkan untuk pemberian ekstrak bawang putih 50 gram/kg pakan selama 7 hari belum bisa meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas terhadap serangan KHV, yang dilihat dari rendahnya nilai kelangsungan hidup ikan mas pada perlakuan C yaitu sebesar 62,5%. Ikan yang bisa melewati masa-masa kritis terinfeksi KHV dan masih bertahan akan menjadi carrier atau resistant. Ikan yang bersifat carrier, apabila sewaktu-waktu terjadi penurunan kondisi tubuh (Davenport, 2001) dan terjadi fluktuasi suhu (OATA, 2001), akan terjangkit KHV lagi. Pada perlakuan 7 hari diduga bahan-bahan yang terkandung di dalam bawang putih belum terserap secara maksimal karena terlalu sedikit yang masuk ke dalam tubuh dilihat dari respons makan saat pertama kali diberikan pakan dengan penambahan ekstrak bawang putih sangat rendah.
Parameter darah merupakan salah satu indikator adanya perubahan kondisi pada kesehatan ikan, baik karena faktor infeksi maupun akibat faktor non infeksi
22 seperti nutrisi, lingkungan dan genetik. Menurut Amlacher (1970), darah akan mengalami perubahan khususnya apabila terkena penyakit. Pengamatan gambaran darah ikan selama penelitian meliputi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah leukosit dan diferensial leukosit yang meliputi monosit, neutrofil, limfosit dan trombosit. Jumlah eritrosit normal pada ikan mas Cyprinus
carpio adalah 1,43x106 sel/mm3 dengan diameter 7-36 µm (Sjafei et al., 1989).
Pada Gambar 3, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah eritrosit yang cukup signifikan untuk semua perlakuan yaitu mencapai 1,47x106 sel/mm3 yang nilainya diatas batas normal. Tingginya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stres (Nabib dan Pasaribu, 1989). Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi PBS maupun KHV sehingga produksi lendir di insang berlebih dan terjadi kerusakan pada insang sehingga sulit dalam mengambil oksigen serta patogenitas KHV mulai menyerang pada ikan. Jumlah eritrosit mulai menurun pada hari ke-27 dan kembali normal pada akhir pemeliharaan. Walaupun terjadi hemoragi pada insang, namun hal ini tidak terlalu mempengaruhi jumlah eritrosit dalam darah ikan.
Hemoglobin berfungsi mengikat oksigen yang kemudian akan digunakan untuk proses katabolisme sehingga dihasilkan energi (Larger et al., 1977). Hemoglobin merupakan karakteristik dari eritrosit, warna lebih merah dalam darah segar disebabkan adanya hemoglobin dalam sel darah merah. Secara fisiologis, hemoglobin menentukan tingkat ketahanan tubuh ikan dikarenakan