• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan roti dilakukan dengan cara sebagai berikut : masing-masing pati yang dihasilkan dari tahap satu dicampur dengan tepung terigu sesuai perlakuan. Disiapkan bahan-bahan dan ditimbang sesuai dengan formulasi pada Tabel 6. Dicampur semua bahan-bahan kering kecuali garam kemudian menggunakan mixer berkecepatan rendah sampai homogen, sambil ditambah air sedikit demi sedikit. Kemudian ditambahkan Shortening dan garam sambil tetap diaduk lebih kurang 10 menit sampai adonan kalis. Selanjutnya adonan digiling menggunakan gilingan kayu kemudian digulung, lalu dimasukkan ke dalam loyang yang beroleskan mentega. Loyang yang berisi adonan tersebut ditutup menggunakan kain basah lalu dilakukan fermentasi selama 60 menit. Setelah proses fermentasi selesai adonan kemudian dipanggang dengan suhu pemanggangan 180oC dalam waktu 25 menit. Setelah proses pemanggangan selesai kemudian loyang dikeluarkan dan didinginkan roti pada suhu ruang, untuk penyimpanan roti sebelum dianalisa, roti dikemas dalam plastik polietilen. Skema pembuatan roti jahe ditampilkan pada Gambar 3.

Tabel 6. Formulasi bahan-bahan pembuatan roti tawar

Bahan-bahan (g) Perlakuan

P1 P2 P3

Pati 10 20 30

Terigu 90 80 70

Susu skim 6 6 6

Gula 8 8 8

Ragi instan 2 2 2

Shortening 10 10 10

Garam 1,5 1,5 1,5

Bread improver 1 1 1

Air 60 60 60

Varietas Jahe : J1=Jahe Merah J2=Jahe Gajah J3=Jahe Emprit Jahe

Dibersihkan Jahe kemudian dicuci bersih

Dihaluskan Jahe

Ditambahkan air ke dalam bubur jahe (2:1)

Diperas bubur jahe sehingga terpisah ampas dan air perasannya

Diperas kembali ampas jahe dengan penambahan jumlah air yang sama

Diendapkan air hasil perasan selama 12 jam

Dibuang airnya

Dikeringkan pati dalam oven bersuhu 50oC selama 7 jam

Pati jahe

Dihaluskan dan diayak pati menggunakan ayakan 100 mesh

Analisa sifat kimia:

Gambar 1. Skema pembuatan pati jahe

Dibersihkan temulawak kemudian dicuci bersih

Dihaluskan temulawak

Ditambahkan air ke dalam bubur temulawak (2:1)

Diperas bubur temulawak sehingga terpisah ampas dan air perasannya

Diperas kembali ampas temulawak dengan penambahan jumlah air yang sama

Diendapkan air hasil perasan selama 12 jam

Dibuang airnya

Dikeringkan pati dengan pengeringan oven pada suhu 50oC selama 7 jam

Pati temulawak

Dihaluskan lalu diayak pati dengan ayakan 100 mesh

Analisa sifat kimia:

Gambar 2. Skema pembuatan pati temulawak Diaduk menggunakan mixer pada kecepatan

tinggi selama 10 menit hingga adonan kalis

Roti tawar

Dimasukkan adonan ke dalam loyang yang telah diolesi mentega dan ditutup dengan kain basah

Difermentasikan selama 60 menit

Adonan dipanggang di oven suhu 180 ºC selama 25 menit

Roti tawar mutu terbaik

Gambar 3. Skema pembuatan roti dari campuran pati dan tepung terigu Pengamatan dan Metode Pengukuran Data

Proses pengambilan data pada penelitian ini dilakukan secara analisis.

Adapun pengamatan yang dilakukan berupa karakteristik fisik, kimia, dan fungsional pati jahe dan temulawak. Karakteristik fisik pada pati meliputi nilai L*

(kecerahan), densitas kamba, dan bentuk serta ukuran granul. Karakteristik kimia berupa analisis proksimat, kadar serat kasar, kadar amilosa, amilopektin, dan kadar pati. Adapun karakteristik fungsional terdiri atas daya serap air, daya serap minyak, swelling power, solubility (kelarutan), pH, dan antioksidan IC50.

Adapun pengamatan dan pengukuran data yang dilakukan pada roti tawar terdiri dari analisis mutu fisik berupa uji warna,volume spesifik, dan tekstur.

Analisis mutu sensori terdiri dari uji hedonik terhadap warna, rasa, aroma, tekstur serta penerimaan umum dengan skala 1-7. Analisis mutu kimia yang dilakukan terhadap roti tawar perlakuan terbaik yang diperoleh berdasarkan perlakuan yang memiliki nilai organoleptik dan volume spesifik tertinggi terdiri dari uji proksimat serta karbohidrat, kadar serat kasar dan analisis sifat fungsional berupa indeks glikemik.

Karakteristik Fisik Pati Jahe dan Pati Temulawak Warna

Pengujian warna dilakukan berdasarkan prosedur Hutching (1999), dengan memakai alat chromameter Minolta (tipe CR 200, Jepang). Uji dilakukan dengan cara sampel ditempatkan di atas wadah, kemudian tombol mulai ditekan dan nilai L*, a*, dan b* dari sampel akan diambil. Nilai L* menunjukkan kecerahan warna dimana angka 0 (hitam) dan 100 (putih). Nilai a* menunjukkan campuran warna

merah-hijau. Warna merah ditunjukkan dengan nilai “+a” yang berkisar dari 0 hingga +100, dan hijau dari nilai “–a” 0 hingga –80. Nilai b* menunjukkan warna biru-kuning, dimana warna kuning ditunjukkan dari nilai “+b*” antara 0 hingga +70 dan warna biru dari nilai “–b*” antara 0 hingga –80. oHue dapat dihitung dari nilai a* dan b* berdasarkan persamaan berikut.

oHue = tan a , b

apabila hasil yang didapat:

18o – 54o warna produk adalah merah (R)

54o – 90o warna produk adalah merah kekuningan (RY) 90o – 126o warna produk adalah kuning (Y)

126o – 162o warna produk adalah kuning kehijauan (YG) 162o – 198o warna produk adalah hijau (G)

198o – 234o warna produk adalah hijau kebiruan (BG) 234o – 270o warna produk adalah biru (B)

270o – 306o warna produk adalah ungu kebiruan (BP) 306o – 342o warna produk adalah ungu (P)

Densitas Kamba

Pengujian mengacu pada prosedur Okaka dan Potter (1977), dengan cara ditimbang 20 g sampel kedalam gelas ukur 100 ml lalu dipadatkan dengan cara ditepuk-tepuk sebanyak 20-30 kali menggunakan jari, kemudian dihitung nilai perhitungan diperoleh dari persamaan berikut:

Berat sampel (g) Volume sampel (ml) Densitas Kamba (g/ml) =

Karakteristik Kimia Pati Jahe dan Pati Temulawak Kadar Air

Pengujian didasarkan pada metode AOAC (2012), dengan cara ditimbang 5 gram sampel kedalam cawan kadar air, dikeringkan sampel di oven dengan temperatur 105°C dalam waktu 3 jam, setelah itu dikeluarkan dan dipindahkan ke desikator selama 15 menit. Pengeringan dilakukan secara berulang hingga diperoleh berat yang konstan dengan selisih berat 0,001 g.

Kadar Air (%) = Berat sampel awal – berat sampel akhir x 100%

Berat sampel awal Kadar Abu

Pengujian didasarkan pada metode Sudarmadji (1997) yaitu dengan cara dimasukkan 5 gram sampel ke dalam cawan porselen, lalu dipijarkan dalam alat tanur di suhu 500°C dalam waktu 4 jam. Setelah itu, dimatikan tanur dan ditunggu hingga dingin, lalu dimasukkan cawan kedalam desikator selama 15 menit dan ditimbang. Perhitungan diperoleh dari persamaan:

Kadar Abu (%) = Bobot abu akhir (g) x 100 Bobot sampel awal (g)

Kadar Lemak

Uji dilakukan menggunakan prosedur AOAC (2012), yaitu dengan cara ditimbang 5 g sampel ke dalam selongsong yang dibuat dari kertas saring, kemudian ditempatkan dalam alat ekstraksi soxhlet. Selanjutnya bagian atas dipasang kondensor dan bagian bawah dipasang labu didih yang berisi heksan sebagai pelarut lemak. Selanjutnya dihidupkan alat dan diatur suhu ekstraksi.

Proses ekstraksi lemak berlangsung sekitar 6-8 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, labu didih yang berisi hasil ektraksi lemak kemudian dimasukkan ke

dalam oven suhu 70oC agar sisa heksan yang masih tercampur dengan lemak menguap. Setelah itu dikeringkan labu didih hingga beratnya konstan.

Perhitungan diperoleh dari persamaan beikut:

Kadar Lemak (%) = Berat lemak akhir (g) x 100%

Berat sampel (g) Kadar Protein

Pengujian mengacu pada metode AOAC (2012), yaitu dengan cara ditimbang 2 g sampel ke dalam tabung kjeldhal, lalu dimasukkan 1 butir tablet kjeldhal dan 12-25 ml 𝐻2𝑆𝑂4 pekat (tergantung jenis bahan yang digunakan).

Letakkan tabung kjeldhal rak tabung kjeldhal pada alat dekstruksi yang berisi bahan kimia berupa larutan NaOH 10% dan akuades. Kemudian alat dekstruksi dihidupkan pada suhu kurang dari 360oC selama ± 4 jam. Selanjutnya, dipindahkan tabung ke dalam alat destilasi. Pada alat destilasi telah dipasang alat pengukur suhu atau pH, dan juga sebagai titrasi dengan bahan kimia berupa HCL 0.1 N, NaOH 40%, asam borat 4% dan akuades serta dipasangkan air mengalir ke dalam alat destilasi. Alat destilasi dihidupkan serta diatur menu alatnya dengan cara pertama dititrasi dinonaktifkan, kemudian pilih mode excetution berupa asam borat (sebanyak 0,50 ml), selanjutnya aktifkan titrasi. Pilih metode excetution tepung sehingga keluarlah 𝐻2𝑂 sebanyak 0,40 ml dan NaOH 0,20 ml. Selanjutnya secara otomatis terjadi titrasi pada sampel selama 5 menit 20 detik, sehingga mengeluarkan hasil data N sampel. Pengujian kadar protein dihitung dengan rumus:

Kadar Protein (%) = (A - B) x N HCl x 14 x 6,25

Berat sampel (g) x 100%

Keterangan:

A = titrasi sampel (ml) B = titrasi blanko (ml) 14 = berat atom nitrogen 6,25 = faktor konversi

Kadar Karbohidrat (by difference)

Pengukuran kadar karbohidrat yang dilakukan mengacu pada prosedur Winarno (1997) yaitu menggunakan metode by difference. Penentuan karbohidrat diperoleh dari persamaan berikut:

% Karbohidrat = 100% - [Kadar (Air) + (Protein) + (Lemak) + (Abu)]

Kadar Serat Kasar

Pengujian dilakukan mengacu pada prosedur AOAC (2012). Pengujian dilakukan dengan cara menghidrolisis 2 gram sampel dalam 50 ml larutan H2SO4

0,325 N dalam waktu 30 menit di suhu 100oC. Kemudian sampel dihidrolisis kembali menggunakan 50 ml NaOH 1,25 N. Selanjutnya sampel disaring dengan kertas Wattman No. 41 yang sudah diketahui beratnya. Kertas saring tersebut dibilas secara berurutan menggunakan akuades, 25 ml H2SO4 0,325 N, akuades, dan etanol 96%. Selanjutnya kertas saring dikeringkan dalam oven di suhu 105oC dalam waktu 1 jam hingga berat konstan. Kadar serat kasar dapat dicari dari persamaan berikut:

Serat Kasar (%) = Berat kertas saring + serat (g) – Berat kertas saring x100%

Berat sampel awal (g)

Kadar Pati

Pengujian dilakukan berdasarkan prosedur Apriyantono, dkk. (1989).

Pengujian pati mencakup 3 tahap yaitu pembuatan pereaksi DNS, pembuatan sampel dan penetapan kurva standar.

- Pembuatan larutan DNS

10,6 gram asam 3,5-dinitrosalisilat dan 19,8 gram NaOH dilarutkan ke dalam 1416 ml akuades lalu ditambahkan sebanyak 106 gram NaK-tartarat, 7,6 ml fenol dan 8,3 gram Na-metabisulfit kemudian dihomogenkan. Untuk standarisasi DNS dapat dilakukan dengan mengambil 3 ml pereaksi DNS lalu ditetesi indikator fenolftelein dan dititrasi dengan larutan HCl 0,1 N.

- Pembuatan larutan standar

Dilarutkan 0,05 gram glukosa ke dalam 100 ml akuades. Selanjutnya

dibuat larutan induk berkonsentrasi 0,05 mg, 0,1 mg, 0,15 mg, 0,2 mg, dan 0,25 mg, kemudian diukur masing-masing absorbansinya (λ= 550 nm).

- Persiapan sampel

Dimasukkan 2 gram pati dan 50 ml alkohol 80% ke dalam beaker glass, lalu diaduk dalam waktu 1 jam, lalu, disaring pakai kertas saring, kemudian dibilas menggunakan akuades hingga volume filtrat menjadi 250 ml. Selanjutnya, residu pati pada kertas saring dibilas menggunakan 10 ml ether, dan 150 ml alkohol 10%. Residu pati tersebut kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan cara dicuci menggunakan 200 ml akuades, lalu dituangkan 20 ml HCl 25%. Selanjutnya ditangaskan di penangas balik pada temperatur 100oC dalam waktu 2 jam. Setelah dingin, pH larutan tersebut dinetralkan menjadi ± pH 7, lalu diencerkan larutan sampai volume menjadi 500 ml kemudian disaring. Diambil 1

ml larutan dan dicampurkan dengan 3 ml DNS kemudian dipanaskan dalam waktu 5 menit, lalu dibiarkan sampai dingin. Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi. Dihitung kadar pati dengan rumus :

Kadar Pati (%) = Faktor pengencer x konsentrasi pati x 0,9

Berat sampel (g) x 1000 x 100%

Kadar Amilosa

Prosedur uji yang digunakan berdasarkan metode Apriyantono, dkk.

(1989), sebagai berikut. Panaskan tabung reaksi yang berisi campuran 0,1 gram sampel, 1 ml etanol 95%, dan 9 ml NaOH 1 N dalam waktu 10 menit, lalu dibiarkan hingga dingin. Selanjutnya diencerkan larutan tersebut menggunakan akuades ke dalam labu ukur hingga volumenya menjadi 100 ml. Dimasukkan 5 ml dari larutan tersebut kedalam labu ukur 100 ml yang berisi 1 ml CH3COOH 1 N dan 2 ml iod, lalu diencerkan dengan akuades hingga batas tera. Campuran tersebut dikocok agar homogen lalu dibiarkan selama 20 menit. Dilakukan pengukuran absorbansi (λ= 625 nm). Penentuan konsentrasi amilosa diperoleh dari persamaan linier dari kurva standar.

Prosedur pembuatan larutan untuk kurva standar sama hal nya dengan persiapan dan pengujian sampel, akan tetapi untuk larutan standar, sampel diganti menjadi 40 mg amilosa murni dan larutan standar dibuat dalam 5 konsentrasi lyaitu dengan cara memasukkan larutan campuran masing-masing sebanyak 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, dan 5 ml ke dalam labu ukur 100 mL. Kemudian ditambahkan ke dalam masing-masing tabung sebanyak 0,2 ml, 0,4 ml, 0,6 ml, 0,8 ml, 1 ml CH3COOH 1 N serta 2 ml iod untuk setiap tabung. Kemudian dilakukan

pengukuran absorbansi. Adapun kadar amilosa pada sampel dapat dicari dari persamaan berikut:

Kadar amilosa (%) = Konsentrasi amilosa (mg/ml) x FP x 0,001

Berat sampel (g) x 100%

Kadar Amilopektin (by difference)

Ditentukan berdasarkan hasil pengurangan kadar pati dengan kadar amilosa, sebagai berikut:

Kadar amilopektin (%) = Kadar pati (%) – Kadar amilosa (%)

Karakteristik Fungsional Pati Jahe dan Pati Temulawak Daya Serap Air dan Daya Serap Minyak

Pengujian menggunakan metode Sathe dan Salunkhe (1981). Pertama, ditimbang tabung sentrifuse lalu dimasukkan 1 gram sampel dan 10 ml air untuk uji daya serap air atau minyak untuk uji daya serap minyak, kemudian dihomogenkan. Selanjutnya dilakukan sentrifugasi pada kecepatan 4000 rpm dalam waktu 40 menit. Setelah itu, air atau minyak dituang perlahan dan ditimbang berat tabung dan pastanya. Nilai daya serap air atau daya serap minyak dicari dari persamaan berikut:

Daya serap air atau minyak (g/g) = Berat akhir (g) - Berat awal tabung (g) Berat sampel (g)

Swelling Power

Metode pengujian dilakukan berdasarkan prosedur Afolayan, dkk., (2012) yaitu dengan cara dimasukkan 0,1 gram bahan ke dalam 10 ml akuades.

Selanjutnya panaskan campuran tersebut dalam water bath pada suhu 60oC selama 30 menit, sambil diaduk secara berkala. Kemudian, disentrifuse dengan

kecepatan 1500 rpm selama 20 menit. Dibuang air, lalu dipindahkan supernatan secara perlahan dan ditimbang. Dilakukan perhitungan dengan rumus berikut:

Berat pasta (g) Berat pati kering (g) Solubility

Solubility dilakukan dengan mengikuti metode Afolayan, dkk., (2012) dengan cara dimasukkan 0,5 gram sampel dan 10 ml akuades ke dalam tabung, lalu ditangaskan di water bath suhu 60oC dalam selang waktu 30 menit dan diaduk setiap 5 menit. Suspensi kemudian disentrifuse dengan kecepatan 1500 rpm dalam waktu 30 menit. Selanjutnya dikeringkan sebanyak 5 ml supernatan ke dalam oven di suhu 105oC hingga berat konstan. Persentasi solubility dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Berat kering supernatan (g) x 100%

Berat sampel kering (g)

pH

Pengujian dilakukan berdasarkan metode Afolayan, dkk., (2012), dengan cara dilarutkan 20 g sampel dalam 100 mL akuades. Dalam pengujian ini dilakukan modifikasi terhadap jumlah sampel yang dilarutkan menjadi 5 g dalam 25 mL akuades. Selanjutnya dilakukan pengukuran menggunakan pHmeter.

Baking Expansion

Pegujian dilakukan berdasarkan prosedur Demiate, dkk., (2000).

Pengujian dilakukan dengan cara ditimbang 8 g pati lalu ditambahkan 13,3 ml akuades, kemudian dipanaskan pada suhu 100°C. Kemudian pati yang telah menggumpal seperti adonan, dikeringkan dalam oven pada suhu 200°C dalam Swelling power (g/g) =

Solubility (%) =

waktu 25 menit. Setelah itu sampel dibiarkan hingga dingin, kemudian dilapisi dengan parafin lalu dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berisi air. Peningkatan volume setelah dimasukkan sampel dicatat sebagai volume sampel. Selanjutnya nilai baking expansion sampel dapat dicari dengan rumus berikut:

Peningkatan volume (mL)

\\ Berat hasil panggangan (g)

Aktivitas Antioksidan

Pengujian dilakukan berdasarkan prosedur Frindryani (2016). Adapun proses pengujiannya terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:

a. Pembuatan larutan DPPH

Dilarutkan 4,7 mg DPPH dalam 100 ml larutan etanol (pa), kemudian ditempatkan dalam ruangan gelap dalam waktu 20 menit.

b. Pembuatan larutan kontrol

Ditambahkan 1,5 ml etanol (pa) kedalam tabung reaksi yang berisi 1,5 ml DPPH. Ditentukan absorbansi pada panjang gelombang maksimum larutan kontrol pada rentang 510-520 nm.

c. Pembuatan larutan sampel

Dilarutkan 100 mg sampel dalam 100 mL etanol (pa), larutan ini merupakan larutan induk. Selanjutnya, dibuat larutan konsentrasi dengan konsentrasi 3,12 µg/ml, 12,5 µg/ml, 25 µg/ml, 50 µg/ml, dan 100 µg/ml dari larutan stok. Pembuatan konsentrasi tersebut dilakukan dengan cara dipipet larutan stok sebanyak 15,6 µl, 31,2 µl, 62,5 µl, 125 µl, 250 µl, dan 500 µl ke dalam labu ukur 5 ml, kemudian tambahkan 1 ml DPPH pada masing-masing konsentrasi dan ditambahkan etanol (pa) sampai batas tera 5 ml kemudian dicampur dengan menggunakan vortex lalu diinkubasi pada suhu 37oC selama 30 Baking expansion (ml/g) =

menit. Pengukuran absorbansi pada penelitian ini dilakukan tiga kali ulangan dan dilakukan analisis data. Persentasi inhibisi dihitung dari persamaan berikut:

% inhibisi = Absorbansi kontrol – Absorbansi sampel

Absorbansi kontrol x 100%

Mutu Fisik Roti Tawar Warna

Penentuan warna roti tawar dilakukan berdasarkan metode Hutching (1999) seperti halnya penentuan warna pada pati jahe dan temulawak.

Volume Spesifik

Pengukuran volume spesifik roti tawar dilakukan dengan mengacu pada prosedur (Yananta, 2003), yaitu dengan cara ditimbang berat dan volume roti.

Volume roti ditentukan dengan menimbang berat wijen yang memenuhi wadah yang telah diketahui volumenya. Selanjutnya wadah diisi dengan sebagian biji wijen, lalu dimasukkan roti kedalam wadah tersebut, kemudian ditambahkan kembali wijen hingga wadah penuh. Adapun wijen yang masih tersisa dihitung sebagai wijen yang tumpah. Selanjutnya volume roti dan volume spesifik roti dapat dihitung dari rumus sebagai berikut:

W (g) x Volume wadah (mL) Wr (g)

Keterangan:

W = berat wijen yang tumpah WT = berat wijen seluruhnya

Adapun volume spesifik roti tawar dicari dari persamaan berikut:

Volume roti tawar (ml)

Tekstur dengan Texture Analyzer

Pengujian dilakukan menggunakan alat texture analyzer (TA-XT 2i, Japan). Sampel yang akan diuji diletakkan di bawah probe yang

berbentuk silinder berdiameter 6,35 mm dengan tinggi 35 mm, setelah itu di tekan pilihan tombol “Quick Run Test”. Pengkalibrasian jarak probe disesuaikan dengan tinggi sampel yaitu 4 mm dari sampel. Setelah pengukuran selesai, maka nilai dari setiap parameter yang diuji akan keluar.

Mutu Sensori Roti Tawar

Analisis sensori yang digunakan berupa uji hedonik (SNI 01-2346-2006) terhadap 12 konsentrasi dengan bantuan 40 orang panelis tidak terlatih yang merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap atribut rasa, aroma, tekstur, warna, dan penerimaan umum roti tawar. Skala nilai yang digunakan pada analisis ini adalah skala kategori tujuh poin, yang dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Skala hedonik warna, aroma, rasa, tekstur, dan penerimaan umum

Skala hedonik Keterangan

1 Sangat tidak suka

2 Tidak suka

3 Adak tidak suka

4 Netral

5 Agak suka

6 suka

7 Sangat suka

Pengujian Perlakuan Terbaik Kadar Proksimat

Analisis proksimat yang dilakukan pada roti tawar perlakuan terbaik terdiri dari penentuan kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat yang dilakukan berdasarkan metode AOAC (2012) seperti yang dilakukan pada pengujian pati jahe dan pati temulawak.

Kadar Serat Kasar

Penentuan kadarserat kasar roti tawar produk terbaik dilakukan berdasarkan metode AOAC (2012) seperti halnya penentuan kadar serat kasar pada pati jahe dan pati temulawak.

Indeks Glikemik pada Mencit Percobaan - persiapan hewan uji

Disediakan 9 ekor mencit jantan (Musmusculus) yang sehat dengan berat sekitar 20-30 g.

- Pembuatan sampel roti tawar

Pembuatan sampel dilakukan dengan cara ditimbang sebanyak 0,1-0,3 g roti tawar sesuai dengan perhitungan dosis. Kemudian roti tawar dihaluskan dan ditambahkan air sebanyak 0,7-0,8 ml.

- Perlakuan terhadap hewan uji

Sebelum diuji mencit diadaptasikan terlebih dahulu selama satu minggu.

Selanjutnya mencit dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok I diberi makan roti tawar perlakuan J2P1, kelompok II diberi makan roti tawar kontrol , kelompok III diberi makan glukosa murni.

- Penentuan indeks glikemik

Pengambilan kadar glukosa pertama dilakukan setelah mencit dipuasakan selama 8 jam. Setelah itu, mencit diberi makan setara dengan 50 g karbohidrat.

Kemudian diukur kadar glikosa darah mencit pada menit ke-0, 45, 90, dan 135 menit setelah pemberian makan. Penentuan indeks glikemik diperoleh dari perbandingan antara luas kurva pangan yang diukur dengan pangan acuan dikali 100.

- Penentuan kadar glukosa darah mencit

Dilakukan pengkalibrasian glukometer terlebih dulu menggunakan kunci kode strip. Diteteskan darah mencit yang diambil dari bagian ujung ekornya diatas strip glukometer, tunggu hingga hasil kadar glukosa muncul di monitor glukometer.

- Pengolahan dan analisis data

Pengolahan data dilakukan dengan analisis kolerasi (grafik) dengan metode AUC (Area Under Curve).

Dokumen terkait