• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembubaran dan Likuidasi Perseroan Terbatas

B. Pengaturan Mengenai Likuidasi dalam Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

2. Pembubaran dan Likuidasi Perseroan Terbatas

Dalam Pasal 142 ayat (1) UU nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, mengatur dasar terjadinya pembubaran Perseroan yang dibenarkan oleh hukum. Menurut pasal ini Pembubaran perseroan terjadi karena:

a. Berdasarkan keputusan RUPS

b. Karena jangka waktunya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir c. Berdasarkan penetapan Pengadilan

d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan Pengadilan Niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit perseroan tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan

e. Karena harta pailit perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang,

f. Karena dicabutnya izin usaha perseroan sehingga mewajibkan perseroan melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan105

104

Ibid., hal. 90. .

Sehubungan dengan dasar terjadinya pembubaran yang dikemukakan diatas, akan dijelaskan beberapa proses pembubaran yang diatur dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 2007.

a. Proses Pembubaran Berdasarkan Keputusan RUPS.

Tata cara pembubaran Perseroan berdasarkan keputusan RUPS diatur pada pasal 144 UUPT 2007, melalui proses berikut.

1) Yang berhak mengajukan usul pembubaran

Yang berhak mengajukan usul pembubaran Perseroan kepada RUPS, menurut Pasal 144 ayat (1) terdiri atas:

a) Direksi

b) Dewan Komisaris c) Pemegang saham

Syarat pemegang saham untuk dapat mengajukan usul pembubaran Perseroan adalah paling sedikit mewakili 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara.

2) Syarat Sahnya Keputusan RUPS Tentang Pembubaran Perseroan.

Agar keputusan RUPS tentang pembubaran Perseroan sah menurut hukum, maka keputusan harus diambil sesuai dengan ketentuan pasal 87 ayat (1) dan pasal 89 UUPT nomor 40 tahun 2007. Hal ini ditegaskan pada pasal 144 ayat (2) UUPT.

Pembubaran Perseroan melalui proses RUPS mulai berlaku menurut pasal 144 ayat (3), terhitung sejak saat yang ditetapkan dalam keputusan.

b. Proses Pembubaran Perseroan Berdasarkan Jangka Waktu Berdirinya Berakhir. Sesuai dengan ketentuan pasal 6 UUPT, anggaran dasar dapat menentukan jangka waktu berdirinya Perseroan. Apabila anggaran dasar menentukan Perseroan didirikan untuk jangka waktu tertentu, maka proses pembubarannya menurut Pasal 145 ayat (1) UUPT adalah Perseroan karena hukum bubar apabila jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam AD telah berakhir. Terhitung sejak tanggal jangka waktu berdirinya Perseroan berakhir, Direksi tidak boleh atau dilarang melakukan perbuatan hukum. Semua perbuatan hukum dalam rangka pemberesan beralih seluruhnya kepada likuidator.

c. Proses Pembubaran Berdasarkan Penetapan Pengadilan.

Pasal 142 ayat (1) huruf c UUPT menentukan proses pembubaran Perseroan berdasarkan penetapan Pengadilan. Hal ini disebabkan diajukannya Permohonan oleh orang atau pihak yang memiliki hak atau legal standing (legitima persona standi in judicio) pihak yang memilik kapasitas atau kedudukan untuk mengajukan permohonan pembubaran ke Pengadilan Negeri, telah ditentukan secara limitatif pada pasal 146 ayat (1) yaitu kejaksaan, pihak yangt berkepentingan, pemegang saham, Direksi dan Dewan Komisaris. Adapun dasar alasan permohonan yang dapat diajukan adalah bahwa perseroan tidak mungkin untuk dilanjutkan lagi.

d. Proses Pembubaran Karena Harta Pailit Perseroan Tidak Cukup Untuk membayar Biaya Kepailitan.

Pasal 142 ayat (1) huruf a, berbunyi sebagai berikut : ”dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan”.

Menurut pasal ini, maka cara pembubaran Perseroan berkaitan dengan pasal 17 ayat (2) dan pasal 18 UU nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan kewajiban Pembayaran Utang ( UU KPKPU).

Menurut pasal 17 ayat (2) UU KPKPU, Majelis Hakim yang membatalkan putusan pernyataan Pailit juga menetapkan biaya kepailitan dan imbalan jasa kurator. Selanjutnya penjelasan pasal ini memberi pedoman kepada Majelis Hakim yang memutus perkara kepailitan, supaya biaya kepailitan ditetapkan berdasar rincian yang diajukan oleh kurator setelah mendengar pertimbangan Hakim Pengawas.

Berdasarkan pasal 17 ayat (3) UU KPKPU, biaya kepailitan dan imbalan jasa kurator dibebankan kepada pihak pemohon pernyataan pailit (voluntary petition) atau kepada pemohon pailit (involuntary petition) dan debitur dalam perbandingan yang ditetapkan oleh Majelis Hakim. Untuk pelaksanaan pembayaran biaya kepailitan dan imbalan jasa kurator, Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan Penetapan Eksekusi atas permohonan Kurator. Selanjutnya pasal 18 UU KPKPU mengatur tata cara pencabutan putusan pernyataan Pailit yaitu :

1. Majelis Hakim dapat mencabut putusan pernyataan pailit apabila harta pailit tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan.

Pengadilan Niaga atas usul Hakim Pengawas dan setelah mendengar panitia kreditor sementara, serta setelah memanggil dengan sah atau mendengar debitur, dapat memutuskan “pencabutan putusan pernyataan pailit”. Putusan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. Dalam penetapan pencabutan putusan kepailitan itu, Pengadilan Niaga sekaligus memutuskan pemberhentian Kurator sesuai dengan tata cara yang diatur dalam UU KPKPU.

2. Majelis menetapkan jumlah biaya kepailitan dan imbalan jasa Kurator. 3. Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan penetapan eksekusi

Berdasarkan uraian diatas , jika harta pailit Perseroan tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan dan imbalan jasa kurator, Pengadilan atas usul Hakim Pengawas dapat memutuskan pencabutan pernyataan pailit. Dalam kasus seperti ini, berdasarkan pasal 142 ayat (1) huruf d, terjadi pembubaran Perseroan.

e. Proses Pembubaran Karena Harta Pailit Yang Telah Dinyatakan Pailit Dalam Keadaan Insolvensi.

Hal ini diatur dalam pasal 142 ayat 1 huruf e UUPT. Proses cara pembubaran Perseroan ini berkaitan dengan ketentuan Pasal 187 UU No.37 Tahun 2004 tentang KPKPU. Menurut pasal ini, setelah harta pailit berada dalam keadaan insolvensi, maka Hakim Pengawas dapat mengadakan suatu rapat kreditor pada hari, jam dan tempat yang ditentukan. Tujuan rapat untuk mendengar seperlunya mengenai cara

pemberesan harta pailit, dan jika perlu mengadakan pencocokan piutang yang dimasukkan setelah berakhir tenggang waktu.

Jika ketentuan ini dikaitkan dengan cara pembubaran yang disebut pasal 142 ayat (1) huruf e UUPT, terhitung sejak Perseroan dinyatakan Pailit oleh Pengadilan Niaga, Perseroan telah berada dalam keadaan “insolvensi”. Berarti sejak saat itu terjadi pembubaran Perseroan sesuai dengan ketentuan pasal 142 ayat (1) huruf e UUPT.

f. Proses Pembubaran Karena Izin Usaha Dicabut.

Hal ini diatur pada pasal 142 ayat (1) huruf f UUPT. Dalam penjelasan pasal ini yang dimaksud dengan dicabutnya izin usaha perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukan likuidasi adalah ketentuan yang tidak memungkinkan Perseroan untuk berusaha dalam bidang lain setelah izin usahanya dicabut, misalnya izin usaha perbankan, izin usaha perasuransian

Sejak tanggal pembubaran, Perseroan tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali jika diperlukan untuk membereskan semua urusan Perseroan dalam rangka likuidasi. Apabila larangan ini dilanggar oleh Perseroan, anggota direksi, anggota dewan komisaris dan Perseroan bertanggung jawab secara tanggung renteng atas perbuatan hukum tersebut.106

Perseroan yang sedang dalam proses likuidasi harus selalu mencantumkan kata “Dalam Likuidasi” di belakang nama perseroan di setiap surat keluar. Likuidator wajib memberitahukan mengenai bubarnya perseroan kepada semua kreditor

106

perseroan dengan surat tercatat.107 Likuidator bertanggung jawab kepada RUPS untuk melakukan likuidasi yang dilakukannya atas kekayaan perseroan. Sisa kekayaan hasil likuidasi dibagikan kepada pemegang saham secara proporsional.108 Likuidator wajib mendaftarkan dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi tersebut dan mengumumkannya dalam dua surat kabar harian.109

Pembubaran sebagaimana tersebut di atas wajib untuk dilakukan pendaftaran dan pengumuman tentang telah dibubarkannya perseroan. Dalam pendaftaran dan pengumuman wajib disebutkan nama dan alamat likuidator. Jika hal itu tidak dilakukan, akibat bubarnya perseroan tidak berlaku bagi pihak ketiga. Jika likuidator lalai melakukan pendaftaran dan pengumuman, likuidator secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pihak ketiga.110

Dokumen terkait