BAB 2 SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMBUBARAN PARTA
2.3 Pembubaran Partai Politik Di Beberapa Negara
Pengaturan partai politik di suatu negara sangat dipengaruhi oleh kecendrungan hukum nasional dalam menempatkan partai politik, apakah lebih sebagai organisasi privat ataukah sebagai organisasi publik. Hal itu terkait juga dengan paradigma pengaturan hak politik yang dianut seperti paradigma managerial, progresif, dan pluralist yang cenderung menempatkan partai politik sebagai organisasi publik yang perlu diatur oleh negara. Sedangkan paradigma libertarian dan political market, lebih memposisikan partai politik sebagai organisasi privat, sehingga hukum negara tidak terlalu banyak mengatur.231
Negara-negara yang menganut paradigma partai politik sebagai organisasi privat adalah Inggris dan Amerika Serikat. Dimana di Inggris, ketentuan tentang partai politik hanya ada terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum, yaitu ketentuan pendaftaran dan pendanaan yang diatur dalam Political Parties, Election and Referendum Act 2000. Sama halnya dengan di Amerika, partai
229 Ibid., hlm. 289. 230 Ibid., hlm. 290.
politik masih ditempatkan sebagai organisasi privat dimana tidak ada ketentuan khusus yang mengatur tentang partai politik, kecuali terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum, khususnya terkait dengan pendanaan kampanye dari masyarakat, serta penggunaan media dalam melakukan kampanye.232Sementara itu ada negara-negara yang menempatkan partai politik sebagai organisasi publik mengingat peran dan fungsinya dalam kehidupan bernegara. Konsekuensinya, banyak ketentuan hukum yang mengatur tentang partai politik, bahkan sampai tertuang dalam konstitusinya seperti di negara-negara Eropa Barat dan negara- negara demokrasi yang baru.233
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Muchamad Ali Safa’at dalam disertasinya, dari total 132 konstitusi negara di dunia, terdapat 72 konstitusi negara yang menyebut partai politik. Dimana dari 72 konstitusi negara yang mengatur tentang partai politik, terdapat 23 konstitusi negara yang mengatur pembubaran partai politik yakni Afganistan, Albania, Algeria, Angola, Azerbaijan, Chile, Cape Verde, Ceko, Armenia, Islandia, Georgia, Jerman, Macedonia, Mauritania, Moldova, Korea Selatan, Paraguay, Polandia, Rumania, Slovenia, Spanyol, Turki dan Ukraina. Dari total 23 konstitusi negara yang mengatur tentang pembubaran partai politik dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu yang menyatakan diatur dengan aturan hukum, diputuskan oleh pengadilan atau prosedur yustisial, dan yang secara tegas menyatakan pembubaran partai politik merupakan wewenang Mahkamah Konstitusi.234
Pada penelitian ini Penulis memilih tiga negara untuk diteliti yakni negara Jerman, Korea Selatan dan Slovenia. Dalam pembentukan lembaga Mahkamah Konstitusi di Indonesia, negara Jerman menjadi salah satu prototipenya. Terlebih lagi dalam praktek pembubaran partai politik di Negara Jerman memiliki kesamaan dengan Indonesia yakni dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi. Selain
232 Elyssa Wong, Systems of Government in Some Foreign Countries: The United
Kingdom, Research and Library Services Division Legislative Council Sekretariat, Hongkong,11 April 2000.
233 Katz and Mair, How Parties Organize: Change and Adaptation in Party
Organizations in Western Democratie, (London: Sage Publications, 1994), hlm. 7-10.
itu juga terdapat banyak bahan yang membahas mengenai pembubaran partai politik di negara Jerman, sehingga Penulis tertarik untuk menelitinya lebih jauh. Sedangkan alasan dipilihnya negara Korea Selatan, pertama dikarenakan Indonesia dalam Naskah Akademis Rancangan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi dengan tegas mengikuti model dari Mahkamah Konstitusi Korea Selatan dimana Mahkamah Konstitusi dibentuk secara khusus berbeda dengan Mahkamah Agungnya, akan tetapi keduanya tetap menjadi bagian dari kekuasaan kehakiman yang memiliki hubungan sejajar. Selain itu, tugas dan wewenangnya juga mirip dengan Korea Selatan dimana terdapat perbedaan fungsi dan kewenangan antara Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusinya. 235 Sedangkan dipilihnya Slovenia, karena negara Slovenia adalah satu-satunya negara di dunia yang memberikan Legal Standing pembubaran partai politik kepada setiap orang dalam mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi.
2.3.1 Pembubaran Partai Politik di Negara Jerman
Republik Federal Jerman sebagai salah satu negara yang terletak di Eropa Barat menganut demokrasi liberal dengan sistem multi partai.236 Negara dengan nama resmi Bundesrepublik Deutschland atau Federal Republik of Germany ini menerapkan sistem demokrasi parlementer dengan Kanselir sebagai kepala pemerintahan federal dan Presiden sebagai kepala negara. Jerman pasca Perang Dunia ke-2 menggunakan Basic Law 1949 sebagai konstitusi yang mengatur sistem kenegaraan dan sistem pemerintahannya. Sistem demokrasi parlementer dengan kombinasi multi partai telah membuka ruang bagi berdirinya partai-partai politik dengan beragam ideologi. Di Jerman sendiri terdapat beberapa partai politik yang selalu memperoleh suara signifikan dalam pemilihan umum yakni: Sozialdemokratische Partei Deutschlands atau Social Democratic Party of Germany (SPD), Christlich Demokratische Union Deutschlands atau Christian
235 Tim Konstitusi, Naskah Akademis Rancangan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi,
hlm.10.
236 Pieter Vanhuysse and Achim Goerres, Agein Populations In Post-Industrial
Democratic Union (CDU), dan Christlich-Soziale Union in Bayern atau Christian Social Union (CSU).237
Jerman merupakan negara federasi yang terdiri dari enam belas negara bagian (lander) yang menerapkan sistem parlemen dua kamar atau bikameral. Pada tingkat federal terdapat majelis rendah (Bundestag) sementara perwakilan negara bagian ditampung dalam majelis tinggi (Bundesrat). Bundestag merupakan parlemen tingkat federal yang anggotanya dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Fungsi Bundestag adalah memilih Kanselir yang akan menjalankan tugas sebagai kepala pemerintahan, membentuk undang-undang bersama pemerintah serta mengawasi jalannya pemerintahan federal. Bundesrat adalah semacam Senat yang anggotanya berfungsi memperjuangkan kepentingan dari masing-masing negara bagian dalam proses legislasi di tingkat federal. Anggota Bundesrat berasal dari delegasi 16 negara bagian dengan pembagian secara proporsional. Bundesrat juga menjadi bagian dalam proses pengambilan keputusan dalam pembuatan kebijakan pemerintah federal bersama Bundestag.238
Partai politik merupakan pilar utama dalam sistem politik Jerman sebab berfungsi untuk memfasilitasi kehendak politik rakyat. Jerman mengakui partai politik sebagai instrumen yang dibutuhkan secara konstitusional dalam pembentukan kemauan politik rakyat dan diangkat sesuai dengan lembaga. Namun demikian, partai-partai bukanlah merupakan lembaga-lembaga pemerintah dalam arti yang sebenarnya. Pasal ini juga memberikan jaminan perlindungan dan pengakuan yang kuat terhadap partai politik, oleh karena statusnya yang khusus dalam konstitusi. Bahkan tidak ada seorang yang yang boleh menyatakan suatu partai bertentangan dengan konstitusi, kecuali diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Federal Jerman. Bahkan keistimewaan partai politik di Jerman juga terlihat ketika MK Jerman, menafsirkan Pasal 19 bagian 3 Undang- Undang Dasar Republik Federal Jerman yang menyatakan bahwa hak-hak dasar
237 Hari Poerna Setiawan, “Kebijakan Luar Negeri Jerman Dalam Merespon Isu
Perubahan Iklim Global (Periode 1997-2007), (tesis Universitas Indonesia, Jakarta, 2008), hlm.21.
238 German Federal Foreign Office, “Facts about Germany”, Frankfurt/Main,
incollaboration with the German Federal Foreign Office, (Berlin: Societäts-Verlag, 2008), hlm. 61- 67.
juga berlaku bagi badan-badan hukum dalam negeri sejauh mana sesuai dengan keberadannya hal itu dapat diterapkan. Atas ketentuan pasal ini, MK Jerman memutuskan bahwa kemerdekaan mengeluarkan pendapat bukan hanya milik setiap orang, tetapi juga hak ini diberikan kepada partai politik sebagai corong kemauan politik masyarakat. Hal ini dipertegas dalam Pasal 21 Konstitusi Jerman bahwa partai politik berperan dalam pembentukan kehendak rakyat.239 Dalam Konstitusi Jerman, partai politik diatur dalam Pasal 21 sebagai berikut:
“(1) The political parties participate in the forming of the political will of the people.They may be freely established. Their internal organization must conform to democratic principles. They have to publicly account for the sources and use of their funds and for their assets.
(2) Parties Which, by reason of their aims or the behaviour of their adhrents, seek to impair or abolish the free democratic basic order or to endanger the existence of the Federal Republic of Germany are unconstitutional. The Federal Constitutional Court decides on the question of unconstitutionality.
(3) Details are regulated by federal statutes.”
Berdasarkan ketentuan diatas, dapat diketahui bahwa dasar pembubaran partai politik di negara jerman adalah apabila tujuan atau perilaku pengikutnya yang tidak sesuai atau berupaya menghapuskan tatanan dasar demokrasi, atau membahayakan eksistensi negara Republik Federal Jerman. Pembubaran dilakukan dengan menyatakan bahwa partai politik yang dimaksud bertentangan dengan konstitusi (unconstitutional). Kewenangan untuk menyatakan suatu partai politik bertentangan dengan konstitusi terdapat di lembaga Mahkamah Konstitusi Jerman. Sebagaimana yang tertuang dalam Article 21 ayat (3) Basic Law Jerman, pengaturan lebih lanjut tentang partai politik diatur dalam undang-undang federal dan undang-undang yang dimaksud adalah Parteiengesetz (Political Parties Act) yang ditetapkan pada 24 Juli 1967 dan telah beberapa kali mengalami perubahan terakhir pada 31 Januari 1994.240
239 Jerman, “Basic Law for The Federal Republic of Germany”, diunduh melalui
https://www.btg-bestellservice.de/pdf/80201000.pdf.
240 Jerman, “Political Parties Act of 24 July 1967”, diunduh melalui
https://www.bundestag.de/blob/189734/2f4532b00e4071444a62f360416cac77/politicalparties- data.pdf.
Undang-Undang tersebut dibuat untuk memperbaiki kesalahan utama pada masa Republik Weimar yang mentoleransi partai ekstrim dan cendung merusak demokrasi sehingga memunculkan rejim Hitler. Berpijak pada pengalaman masa lalu itu, penyusun konstitusi Jerman berpendapat bahwa negara tidak akan pernah dapat netral menghadapi musuh yang akan menghacurkannya. Untuk itu, upaya menghancurkan negara demokrasi dengan sendirinya bertentangan dengan demokrasi dan harus dihadapi. Dalam jurispudensi konstitusional Jerman, hal itu disebut dengan istilah militant democracy.241
Sesuai dengan ketentuan Article 21 ayat (2) Konstitusi Jerman, apabila tujuan partai politik atau perilaku pengikutnya tidak sesuai dan berupaya menghapus tatanan demokrasi atau membahayakan eksistensi negara Republik Federal Jerman, maka partai politik tersebut harus dinyatakan Unconstitusional oleh Mahkamah Konstitusi jerman. Hal itu sesuai dengan Pasal 13 Undang- Undang Mahkamah Konstitusi Federal Jerman (Bundesverfassunggericht-Gesetz) menyatakan bahwa salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi Jerman adalah memberikan putusan tentang konstitusionalitas partai politik yang ditangani oleh Panel Kedua Mahkamah Konstitusi Jerman.242
Permohonan putusan tentang konstitusionalitas partai politik dilakukan oleh Bundestag, Bundesrat, atau Pemerintah Federal. Namun demikian, pemerintah negara bagian juga bisa mengajukannya jika organisasi partai itu berada di wilayahnya.243 Partai politik diwakili oleh pihak yang ditentukan sesuai dengan anggaran dasar partai, atau oleh orang yang menjalankan partai.244 Partai politik tersebut harus diberi kesempatan pada waktu tertentu untuk memberikan pernyataannya.245
241 Kommers, The Constitutional Jurisprudence of the Federal Republic of Germany,
(Durham: Duke University Press, 1989), hlm. 222.
242 Jerman, Federal Constitutional Court Act, Ps. 14 ayat (2). 243 Ibid., Ps. 43.
244 Ibid., Ps. 44. 245 Ibid., Ps. 45.
Putusan Mahkamah Konstitusi dapat meliputi keseluruhan partai politik atau bagian tertentu saja dari organisasi partai politik yang bertentangan dengan konstitusi. Jika secara keseluruhan dinyatakan bertentangan dengan konstitusi maka putusan tersebut diikuti dengan pembubaran partai dimaksud. Jika bagian tertentu saja, maka bagian tersebut yang dibubarkan dan disertai dengan larangan pembentukan organisasi penggantinya. Mahkamah juga dapat memutuskan bahwa kekayaan partai atau bagian dari partai disita untuk kepentingan negara.246 Jika organisasi atau aktivitas tertentu dari suatu partai politik dinyatakan unconstitutional dalam wilayah provinsi negara bagian tertentu, Menteri Dalam Negeri Pemerintah Federal mengeluarkan keputusan yang diperlukan untuk memastikan pelaksanaan putusan tersebut. 247
Di negara Jerman, sanksi dari pembubaran partai politik adalah dilarangnya mendirikan partai atau organisasi yang sama untuk menggantikan partai yang dibubarkan, kemudian terhadap anggota termasuk pendiri yang tidakan atau pernyataanya menyebabkan dibubarkan partai politik, tidak dapat menjadi pendiri, anggota, pengurus, maupun pengawas partai politik lain selain itu juga akibat hukumnya adalah harta kekayaan partai politik dapat disita untuk kepentingan publik. Hal itu tertuang dalam Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Jerman.
2.3.2 Pembubaran Partai Politik di Negara Korea Selatan
Republik Korea atau yang dikenal sebagai Korea Selatan adlah sebuah negara di Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Negara yang memiliki populasi sekitar 51 juta penduduk ini memiliki sistem pemerintahan yang dibagi atas tiga kekuasaan yakni Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Lembaga Eksekutif di Korea Selatan dipegang oleh Presiden yang dipilih berdasarkan hasil pemilu untuk masa jabatan 5 tahun dan dibantu oleh Perdana Menteri yang ditunjuk oleh Presiden dengan perstujuan dewan perwakilan. Itu artinya Presiden bertindak sebagai kepala negara, sedangkan Perdana Menteri bertindak sebagai kepala pemerintahan. Lembaga legislatif di
246 Ibid., Ps. 46. 247 Ibid., Ps. 32.
Korea Selatan memiliki Unicameral National Assembly atau Gukhoe yang dipilih setiap 4 tahun sekali dan terakhir diselenggarakan pada 11 April 2012. Assembly ini terdiri dari 299 kursi dan diisi oleh perwakilan dari beberapa partai politik. Sementara dari lembaga Yudikatif, Korea Selatan memiliki Supreme Court dan Pengadilan Banding Constitutionan Court.
Korea Selatan sendiri memiliki banyak partai politik, menurut Komisi Pemilihan Korea Selatan, partai politik yang terdaftar pada tahun 2012 sebanyak 9 partai. Namun hanya 2 partai besar yang mendominasi hasil pemilu yaitu partai Saenuri dan Democratic United Party. Partai politik di Korea Selatan bertujuan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat di Korea Selatan, pengklasifikasian tersebut berdasarkan isu sosial ekonomi dan ideologi masing-masing individu di Korea Selatan.
Itu artinya kebebasan membentuk partai politik juga mendapatkan jaminan dalam Konstitusi Korea Selatan.248 Namun demikian, Konstitusi Korea Selatan juga mengharuskan partai politik memiliki tujuan, organisasi dan aktivitas yang demokratis serta memiliki sarana organisasi untuk pembentukan kehendak rakyat.249 Jika tujuan atau aktivitas partai politik bertentangan dengan tatanan dasar demokrasi, pemerintah dapat mengajukan pembubaran partai politik kepada Mahkamah Konstitusi.250
Constitutional Court Act Korea Selatan mengatur proses pembubaran partai politik dalam section 3 Article 55 sampai 60.251 Pemerintah mengajukan permohonan pembubaran partai politik kepada MK berdasarkan pertimbangan Dewan Negara (State Council).252 Permohonan tertulis paling tidak harus berisi dua hal, yaitu identitas partai politik yang dimohonkan pembubarannya dan alasan
248 Korea Selatan, Constitution of South Korea, Ps. 8 ayat (1). 249 Ibid., Ps. 8 ayat (2).
250 Ibid.
251 Constitutional Court Act Korea Selatan ditetapkan pada 5 Agustus 1988 dan telah
mengalami perubahan yaitu pada 30 November 1991, 22 Desember 1994, 4 Agustus 1995, dan 13 Desember 1997.
permohonan pembubaran.253 Pada saat menerima permohonan pembubaran partai politik, Presiden MK menyampaikan pemberitahuan kepada parlemen (National Assembly) dan Komisi Pemilihan Umum Nasional (National Election Commission).254
Dalam proses pengadilan, Mahkamah Konstitusi dapat menghentikan sementara aktivitas partai politik hingga ada putusan final. 255 Pada saat Mahkamah Konstitusi memutuskan pembubaran partai politik, maka partai politik harus dibubarkan yang pelaksanaannya dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Nasional dengan cara menghapus pendaftaran partai politik dan mengumumkan kepada masyarakat.256 Setelah partai politik dibubarkan, tidak ada partai politik yang dapat didirikan dengan platform yang sama atau memiliki kesamaan dengan partai yang dibubarkan.257
Selain pembubaran karena alasan tujuan dan aktivitas partai politik bertentangan dengan tatanan demokrasi, Political Parties Act Korea Selatan juga mengatur tentang pembubaran partai politik dengan cara pembatalan pendaftarannya kepada KPU. Pembatalan itu dapat dilakukan jika:258
1. Tidak memenuhi persyaratan sebagai partai politik, yaitu memiliki sedikitnya lima cabang, setiap cabang 1000 anggota yang tinggal di wilayah cabang partai politik dimaksud.259
2. Gagal berpatisipasi dalam pemilihan umum anggota national assembly dalam empat tahun terakhir, atau dalam bentuk pemilihan kepala daerah. 253 Ibid., Ps. 56. 254 Ibid., Ps. 58 ayat (1). 255 Ibid., Ps. 57. 256 Ibid., Ps. 59 dan Ps. 60. 257 Ibid., Ps. 40 258 Ibid., Ps. 44. 259 Ibid., Ps. 17.
3. Gagal memperoleh kursi di National Assembly setelah mengikuti pemilihan umum, dan gagal memperoleh 2/100 dari jumlaah suara sah.
Akibatnya selain dibubarkan, terdapat juga larangan pendirian bagi partai pengganti yang memiliki kesamaan dengan partai yang dibubarkan, hal ini dikarenakan apabila terbentuk partai yang sama atau partai baru dengan identitas yang sama, pembubaran yang dilakukan tidaklah memiliki arti. Apabila partai pengganti dapat didirikan, hal itu berarti pelanggaran konstitusi secara otomatis kembali terjadi.
Praktek pembubaran partai politik di Korea Selatan baru saja terjadi pada 19 Desember 2014 silam, dimana Mahkamah Konstitusi Korea Selatan memutuskan untuk membubarkan Partai Progresif Bersatu (UPP) sekaligus mencabut keanggotaanya di parlemen dengan enam kursi keanggotaan di parlemen.260 Keputusan pembubaran partai ini disetujui oleh 8 Hakim dan satu diantaranya menolak. Kasus pembubaran partai politik ini menjadi kasus pertama dalam sejarah Korea Selatan.
Permohonan pembubaran partai politik ini diajukan oleh Kementrian Kehakiman kepada Mahkamah Konstitusi satu tahun setelah beberapa anggota Partai Progresif Bersatu ditangkap dengan tuduhan penggulingan pemerintah saat perang antar Korea.261 Pengadilan berpendapat tujuan dan kegiatan partai tersebut telah melanggar tatanan dasar demokrasi yang telah ditetapkan oleh Konstitusi. Akibat dari pembubaran ini UPP telah dibubarkan, dan enam kursi di parlemen telah dicabut, serta larangan mendirikan partai yang mirip dengan UPP.
2.3.2 Pembubaran Partai Politik di Negara Slovenia
260 “Kaleidoskop KBS World Tahun 2014”
http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/specialprogram/sub_index.htm?No=582, diunduh pada 3 Desember 2015.
261“Pemerintah dan Partai Berhaluan Kiri Adu Argumen Soal Pembubaran Partai”,
http://world.kbs.co.kr/indonesian/news/news_Po_detail.htm?No=34833, diunduh pada 3 Desember 2015.
Republik Slovenia adalah negara pesisir yang berada di selatan eropa tengah dengan berbatasan oleh negara Italia, Hungaria, dan Austria. Dilihat dari sejarah, bahwa Slovenia adalah salah satu dari enak republik yang membentuk bekas negara Yugoslavia dan merdeka pada tahun 1991. Kepala negara di Slovenia dijabat oleh seorang Presiden selama 5 tahun yang terpilih melalui pemilihan umum.
Pada dasarnya parlemen di Slovenia dibagi menjadi dua kamar, yakni Perhimpunan Nasional (Drzavni Zbor) dan Majelis Nasional (Drzavni Svet). Anggota dari Perhimpunan nasional terdiri dari 90 orang yang terpilih melalui proses pemilihan umum dan berasal dari golongan-golongan yang memiliki karakteristik khusus, sedangkan Majelis Nasional terdiri dari 40 orang anggota, yang berasal dari kumpulan sosial, ekonomi, profesional dan lain-lain.Pada pemilihan umum tahun 2004, Partai Demokratik Slovenia memperoleh suara terbesar dengan 29,1% dan diikuti oleh Demokrasi Liberal Slovenia sebanyak 22.8%.
Pada cabang kekuasaan yudikatif, di Slovenia terdiri dari 2 lembaga peradilan yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi pada konteks ini salah satunya mengadili sengketa pembubaran partai politik berdasarkan Pasal 68 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Slovenia.
Berdasarkan Pasal 68 (1) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Slovenia, dinyatakan bahwa setiap warga negara dapat mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi perihal dugaan inkonstitusionalitas dari undang-undang partai politik maupun aktivitas partai politik di Slovenia. Lebih lanjjut, pemohon harus mencantumkan dengan jelas, kondisi faktual berupa kegiatan-kegiatan apa saja yang inkonstitutsional menurut pemohon. Apabila Mahkamah Konstitusi Slovenia menerima dalil dari pemohon, maka Mahkamah Konstitusi akan melarang aktivitas partai politik dan partai politik turunannya yang inkonstitusional tersebut. Putusan mengenai pembubaran partai politik tersebut diperoleh melalui 2/3 suara dari jumlah anggota hakim konstitusi Slovenia. Eksekusi dari putusan tersebut adalah partai yang dibubarkan dihapuskan dari daftar partai politik di Slovenia.
BAB 3
ANALISIS LEGAL STANDING DALAM SENGKETA
PEMBUBARAN PARTAI POLITIK DI MAHKAMAH
KONSTITUSI
3.1 IMPLIKASI PEMBUBARAN PARTAI POLITIK TERHADAP HAK KONSTITUSIONAL WARGA NEGARA
Partai politik merupakan salah satu bentuk organisasi yang dibentuk oleh warga negara untuk memperjuangkan kepentingan politiknya. Proses pelembagaan demokrasi itu pada pokoknya sangat ditentukan oleh pelembagaan organisasi partai politik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi itu sendiri. 262 Sebab secara harfiah demokrasi memiliki makna pemerintah oleh rakyat, hal ini berarti rakyatlah yang benar-benar memerintah dengan cara mengambil keputusan bersama dalam suatu majelis yang diikuti oleh seluruh rakyat.263
Namun MacIver menyatakan bahwa demokrasi secara tradisional seperti itu sudah tidak aplikatif lagi untuk diterapkan sebab hanya bisa dijalankan pada negara yang wilayah dan jumlah masyarakatnya sangat kecil sedangkan saat ini hanya sedikit negara yang memiliki kondisi demografi dan geografi seperti itu.264 Oleh karena itu, berkembanglah sistem baru yang dinamakan sebagai demokrasi tidak langsung yang tetap menjamin dan menjunjung tinggi kehendak rakyat.265 Dalam sistem ini, rakyat tetap memegang peran sentral sebagai kekuasaan tertinggi, namun pelaksanaanya dilakukan oleh wakil-wakil yang dipilih oleh
262 Jimly Asshiddiqie (2), op.cit., hlm. 55. 263 Muchamad Ali Safa’at, op.cit., hlm. 15. 264 RM Maciver, op.cit., hlm. 313.
265 Treg A. Julander, Democracy Without Political Parties, dalam Michelle N. Johnson,
rakyat melalui berbagai cabang kekuasaan seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif.266
Dalam situasi seperti ini partai politik memegang posisi dan peranan yang sangat penting sebab partai berperan sebagai penghubung yang strategis antara proses pemerintahan dengan rakyatnya.267 Konkretnya adalah pengisian jabatan di lembaga eksekutif dan legislatif berasal dari kader-kader partai politik (fungsi rekrutmen politik), tidak hanya itu partai politik juga-lah yang menyerap aspirasi dari rakyat, menampung berbagai masalah dan menyeleksinya, serta mengajukan solusi dalam bentuk program yang ditawarakan (fungsi sosialisasi politik).268 Secara lebih konkret lagi, partai politik-lah yang berperan sangat penting dalam penyelenggaraan kedaulatan rakyat melalui pemilihan umum dengan cara:
a. Mengusulkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden;
b.Mengusulkan pasangan calon kepala daerah, wakil kepala daerah dalam