BAB III DISKRIPSI PENYAJIAN GONDANG NAPOSO DAN MAKNA
3.2 Acara Gondang Naposo Periode Pertama
3.2.4 Pembukaan
Tahap pertama dalam acara pembukaan Gondang Naposo adalah menggalang pargonsi yang dipimpin dari orang tua naposo. Pada tahap ini pargonsi di undang oleh hasuhuton ( yang punya acara) untuk makan dan minum dalam tahap inilah maksud dan tujuan di undangnya pargonsi oleh orang tua secara adat. Setelah pargonsi setelah makan, maka acara dilanjutkan dengan tahap berikutnya yaitu pajujuron gondang atau dapat diartikan memainkan repartoar gondang secara berturut. Dalam tahap ini hasuhuton meminta kepada pargonsi untuk memainkan “sipitu gondang” dimainkan tanpa diikuti tarian sama sekali.
Sipitu gondang merupakan kumpulan repertoir dalam gondang sabangunan yang disajikan sebagai pembuka sebuah upacara. Secara harfiah, pengertian sipitu gondang adalah tujuh gondang 6 6 gondang dalam pengertian komposisi lagu. . Keberadaan sipitu gondang dalam upacara sangat penting, karena tujuan dari gondang ini adalah menyampaikan segala maksud dan tujuan dari pelaksanaan upacara tersebut. Kepercayaan asli Batak . ada satu pencipta alam yaitu Mulajadi Na Bolon..
Gondang Mulajadi Na Bolon, ditujukan kepada Debata Mulajadi Na Bolon sebagai pencipta alam semesta, darat, laut, dan segala isinya, yang tidak berawal dan tidak berakhir. , salah satu contoh susunan sipitu gondang adalah sebagai
berikut: 1 Gondang Mula-mula; 2 Gondang Ni Ompunta Mulajadi Na Bolon; 3 Gondang Batara Guru; 4 Gondang Bala Bulan; 5 Gondang Debata Sori; 6 Gondang Habonaran; 7 Gondang Sitio-tio; 8 Gondang Hasahatan. Dari ketujuh gondang tersebut, paling banyak dimainkan adalah tujuh gondang. Sipitu gondang terdiri dari tiga bagian, yaitu: pendahuluan yang disebut gondang mula-mula, pemberkatan yang disebut gondang pasu-pasu, dan penutup yang disebut gondang hasatan .
Acara Gondang Naposo pada pada periode yang kedua ini diawali dengan Pahundul atau Manggalang pargonsi yang dilakukan oleh orang tua, karena secara adat para naposo atau muda-mudi belum bisa untuk Pahundul atau Manggalang pargonsi. Menurut tradisi Batak Toba pargonsi hanya bisa “masisisean” (saling menyapa dan saling bertanya) dengan pengetua dari Suhut (pelaksana acara Gondang Naposo). Hal ini dikarenakan orang yang dituakanlah yang dianggap mengerti dan memahami “ruhut-ruhut ni adat” atau sendi-sendi adat. Pargonsi yang diundang tersebut terlebih dahulu “masisisean” dengan “Hasuhuton” apa kepentingan mereka diundang? Kemudian yang mewakili dari pihak Hasuhuton menjawab: bahwa mereka ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka untuk bergembira dengan Gondang yang akan diadakan tersebut.
Pada tahap ini juga para orang tua menyampaikan harapan-harapan dan nasehat- nasehat mereka kepada muda-mudi, dengan diadakannya Gondang Naposo tersebut mereka semakin dewasa dan mendapat jodoh bagi yang belum mendapat jodoh, manogu na di lambung mangalap di nadao yang artinya merapat
atau merangkul yang dekat dan memanggil kepada yang jauh. Maksud dari pepatah tersebut adalah diharapkan dengan berlangsungnya acara Gondang Naposo tali persaudaraan dengan yang terdekat semakin erat dan persaudaraan dengan orang- orang dari desa tetangga atau dari daerah yang lebih jauh dapat terjalin dengan baik.
Nasehat-nasehat yang diberikan juga berupa dorongan dan motivasi kepada muda- mudi khususnya panitia, agar dapat menjadi muda-mudi yang berbakti dan dapat menjadi kebanggaan orang tua serta menjadi panunduti di harajaon panorusi dihagabeon dan menjadi muda-mudi yang tidak melupakan apa yang menjadi budayanya sendiri. Disini juga para muda-mudi akan di arahkan agar dalam acara Gondang Naposo tersebut tidak melenceng dari aturan dan norma-norma yang ada. Tahap terakhir dalam pembukaan gondang naposo yaitu mambuat tuani gondang atau memohon berkat dari Tuhan untuk kelancaran acara gondang yang akan dilaksanakan. Semua doa permohonan ini diminta kepada Tuhan dan sesama manusia dan hal ini menandakan sikap menghargai dan menghormatu yang sesuai dalam sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu. Pada saat gondang alu-alu ini dimainkan hasuhuton belum boleh manortor, karena gondang ini merupakan doa permohonan dan pemberitahuan kepada Tuhan, manusia dan leluhur. Sikap diam dan tenang menunjukkan penghargaan dan penghormatan kepada Tuhan, manusia dan leluhur. .Setelah tahap ini selesai dilakukan, para orang tua dan naposo dalam hal ini panitia akan marnotor bersama.
3.2.4.1 Acara Manortor
Dengan berakhirnya acara pembukaan, maka acara pun sebelumnya di serahkan kepada naposo untuk melanjutkan acara namun tetap mendapat pengawasan dari orang tua selama acara beerlangsung. Pada bagian inilah para peserta dan undangan yang ingin marnotor diberikan waktu sesuai dengan urutan yang telah di tetapkan oleh panitia. Apabila para peserta masih ingin manortor biasanya mereka meminta Gondang tambahan dengan lagu diantaranya Gondang Hata Sopisik atau lebih dikenal dengan Gondang Marhusip, Gondang Si Bunga Jambu dan lain-lain.
Pada bagian ini biasanya seluruh peserta akan marnotor dan berbaur satu dengan yang lainnya bagian ini merupakan bagian saat saat yang dimanfaat kan untuk berkenalan dengan Naposo yang satu dengan yang lain. Tidak tertutup kemungkinan bagi mereka yang ingin mencari jodoh atau pasangan hidup bila mana ada diantara naposo tersebut ada yang saling tertarik.
Khusus Tortor Hata Sopisik merupakan tortor dalam konteks muda-mudi yang awalnya muncul pada Gondang Naposo. pada Tortor Hata Sopisik Terdapat empat bagian penting yang disebut husip yang artinya berbisik. Husip-husip yang terdapat pada tortor Hata sopisik merupakan keunikan yang menjadi ciri khas dari tortor ini., dikatakan unik karena Husip-husip hanya terdapat pada tortor Hata sopisik. Husip husip (berbisik) adalah suatu interaksi simbolik yang memiliki makna pengungkapan rasa cinta kepada lawan jenis dikalangan muda mudi (naposo).
Pada tortor ini terdapat empat bagian penting yang menjadi urutan pengungkapan perasaan yang disimbolkan dengan gerak tari. Pertama. diawali dengan perkenalan. perkenalan disini dimulai dengan menanyakan marga yang disimbolkan dengan gerak mengangguk-angguk kepada pada laki laki dan menggeleng-gelengkan kepala pada perempuan. Ketika marga sudah diketahui maka akan berlanjut pada pengungkapan rasa cinta. Bagian ketiga pemuda akan kembali berbisik menanyakan jawaban dari ungkapan perasaan yang sudah dibisikkan tersebut, kemudia pihak wanita menjawab "iya" dengan gerakan mengangguk-anggukkan kepala.
Gambar. 12 Gerakan tortor Husip-husip Sumber : https://images.app.goo.gl/X8CmVFhdKxNooSvc9
Hal ini juga ditandai dengan daun pohon beringin (banebane) yang disematkan pihak laki laki di kepala pihak perempuan, dimana daun beringin bagi masyarakat batak toba adalah lambang kesuburuan yang menjadi perlindungan.
Laki laki akan melindungi wanita tersebut. bagian keempat yang menjadi puncak dari tarian ini adalah kedua belah pihak sudah saling setuju dansepakat menjalin hubungan yang disimbolkan dengan mengangguk-anggukkan kepala pada kedua belah pihak.
3.2.4.2 Penutup
Setelah seluruh peserta selesai marnotor para orang tua kembali berkumpul untuk memimpin acara penutupan dan menyampaikan pesan pesan serta nasehat nasehat kepada para Naposo. Kemudian perwakilan dari orang tua meminta kepada pargonsi untuk memainkan Gondang penutup (Gondang/tortor Hasahatan Sitio- tio). Pada Gondang Naposo suhut yang akan manortor harus terlebih dahulu maminta Gondang Mula-mula, baru kemudian maminta Gondang lainnya sesuai dengan pilihan dan permintaan mereka. Nama Gondang itu adalah menurut iramanya, antara lain: Gondang Sibunga Jambu, Hatasopisik, Siburuk dan lain- lainnya yang termasuk dalam jenis Gondang parsaoran. Setelah selesai maminta Gondang parsaoran dilanjutkan dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio untuk mengakhiri semua Tortor dengan pesan, kiranya semua horas-horas, selamat secara jasmani maupun rohani. sebagai tanda berakhirnya acara gondang naposo tersebut.