2.4 Pembuktian dalam Perundang-Undangan
2.4.3 Pembuktian dalam Electronic Transaction Act (ETA) 2010 Singapore
Singapura mempunyai misi untuk menjadi pusat kegiatan perdagangan elektronik internasional, di mana transaksi perdagangan yang elektronik dari daerah dan di seluruh bumi diproses. The Electronic Transactions Act telah diberlakukan pada tanggal 10 Juli 1998 yang kemudian mengalami perubahan pada tahun 2010, untuk menciptakan kerangka yang sah tentang undang-undang untuk transaksi perdagangan elektronik di Singapura yang memungkinkan bagi Menteri Komunikasi Informasi dan Kesenian untuk membuat peraturan mengenai perijinan dan peraturan otoritas sertifikasi di Singapura.
Tujuan dibuatnya ETA pertama memudahkan komunikasi elektronik atas arsip elektronik yang penting. Kedua memudahkan perdagangan elektronik, yaitu menghapuskan penghambat perdagangan elektronik yang tidak sah atas penulisan dan
persyaratan tanda tangan, dan untuk mendorong pengembangan dari undang-undang dan infrastruktur bisnis diperlukan untuk menerapkan menjamin perdagangan elektronik. Ketiga memudahkan penyimpanan secara elektronik tentang dokumen pemerintah dan perusahaan menurut undang-undang, dan untuk mendukung penyerahan yang efisien pada kantor pemerintah atas bantuan arsip elektronik yang penting. Keempat meminimalkan timbulnya arsip elektronik yang sama (double), perubahan yang tidak disengaja dan disengaja tentang arsip, dan penipuan dalam perdagangan elektronik. Kelima membantu menuju keseragaman aturan, peraturan dan mengenai pengesahan dan integritas dari arsip elektronik. Keenam mempromosikan kepercayaan, integritas dan keandalan dari arsip elektronik dan perdagangan elektronik, dan untuk membantu perkembangan dan pengembangan dari perdagangan elektronik melalui penggunaan tanda tangan elektronik untuk menjamin keaslian dan integritas surat menyurat yang menggunakan media elektronik.30
Dalam ETA 2010, transaksi elektronik diartikan sebagai data, teks, gambar, suara, kode, program komputer, software dan database dikomunikasikan, diterima atau disimpan secara elektronik dalam suatu sistem informasi atau untuk transmisi dari satu sistem informasi lain serta berkaitan dengan teknologi yang menggunakan listrik, berhubungan dengan angka-angka untuk sistem perhitungan tertentu, berhubungan dengan penomoran atau digital, maknit, nirkabel atautanpa kawat, kemampuan optik, dan elektromagnetik. Dengan demikian segala hal yang dihasilkan melalui sistem elektronik diakui sebagai alat bukti yang sah di persidangan.
Namun sebagai negara dengan sistem hukum common law, Singapura menerapkan Teori Pembuktian Bebas. Dalam proses pembuktian dalam persidangan khususnya kasus yang melanggar ETA 2010. Berdasarkan teori tersebut hakim mengakui adanya alat bukti dan cara pembuktian yang diatur dalam undang-undang, namun kesimpulan dari kasus tersebut tetap dilandaskan pada keyakinan hakim apakah ia akan menggunakan alat bukti menurut undang-undang atau alat bukti lain yang menurut hakim dapat lebih mengungkapkan kebenaran dari sebuah peristiwa.
2.5 Perbandingan Transaksi Elektronik Undang No. 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik dengan Electronic Transaction Act 2010 Singapura
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Perubahan itulah yang mengharuskan Indonesia dan Singapura memberlakukan undang-undang mengenai transaksi elektronik. Walaupun sama-sama mempunyai peraturan mengenai transaksi elektronik, terdapat perbedaan dan persamaan antara UU Telekomunikasi 1999, UU ITE 2008, dan ETA 2010 yang pertama ditinjau dari latar belakang di buatnya undang-undang ini.
UU Telekomunikasi 1999 dan UU ITE 2008 diberlakukan karena hukum harus mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih dan maraknya kasus cyber
crime karena kurangnya ketegasan hukum serta lemahnya kontrol terhadap penggunaan ITE. Alasan lainnya adalah untuk menjamin kepastian hukum khusunya tanda tangan elektronik dan penggunaan arsip elektronik.
Sedangkan latar belakang Singapura dalam pembuatan ETA 2010 adalah selain untuk kepastian hukum juga untuk keperluan akan perdagangan elektronik. Pemerintah Singapura ingin agar pembentukan undang-undang ini dapat memenuhi keperluan perdagangan elektronik yang akan membantu perekonomian negara. Maka dari itu, dampak perekonomian akibat penggunaan ITE di Singapura menjadi relatif lebih tinggi. ETA 2010 ini juga untuk keperluan transaksi perdagangan elektronik. UU ini memungkinkan untuk membuat peraturan mengenai perizinan dan peraturan otoritas sertifikasi Singapura.
Perbedaan kedua tampak pada pembuktianmenurut UU Telekomunikasi 1999, UU ITE 2008 dan ETA 2010, yang menjadi Issue dalam skripsi ini. Berdasarkan asas pembagian beban pembuktian yang diterapkan di Indonesia, pada prinsipnya sesuai dengan Pasal 15 UU Telekomunikasi 1999 dan Pasal 7 UU ITE 2008, penggugatlah yang pertama-tama harus dibebani pembuktian oleh hakim baru kemudian diberikan kesempatan pada tergugat untuk melakukan pembuktian balik.
Pembuktian yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa masih harus dinilai, yang berwenang menilai pembuktian adalah hakim.
Pada umumnya sepanjang undang-undang tidak mengatur sebaliknya, hakim bebas untuk menilai kekuatan pembuktian dari suatu alat bukti. Dalam hal ini, pembentuk undang-undang dapat mengikat hakim pada alat-alat bukti tertentu
(misalnya alat bukti surat), sehingga hakim tidak bebas menilainya. Alat bukti surat mempunyai kekuatan pembuktian yang mengikat bagi hakim maupun para pihak.
Sedangkan pada pembuktian di Singapura hakim diberikan kebebasan untuk menilai pembuktian suatu alat bukti, misalnya keterangan saksi mempunyai kekuatan pembuktian yang bebas, artinya diserahkan pada hakim untuk menilai pembuktiannya, hakim boleh terikat atau tidak pada keterangan yang diberikan oleh saksi. Hal ini jelas dinyatakan dalam Pasal 19 ETA 2010, bahwa setiap proses yang melibatkan catatan elektronik dianggap ada kecuali dapat dibuktikan sebaliknya.
Perbedaan ketiga mengenai waktu berlakunya kontrak. Mengingat dalam kasus ITE waktu berlakunya kontrak merupakan hal yang sangat penting dan salah satu faktor utama untuk menentukan dan membuktikan telah terjadi pelanggaran menggunakan teknologi. Selain itu ketiga peraturan ini sama-sama mengatur mengenai kontrak elektronik maka penulis berpendapat hal ini perlu dibandingkan. Pasal 13 (2) ETA 2010 secara jelas merumuskan bahwa kontrak elektronik dinyatakan diterima pada saat kontrak tersebut bisa di unduh oleh penerimanya.
Sedangkan menurut UU Telekomunikasi 1999 dan UU ITE 2008, waktu berlakunya kontrak pada saat kontrak elektronik diterima oleh penerima dan ada pernyataan serta persetujuan bahwa kontrak tersebut telah diterima.
Perbedaan keempat adalah dalam UU ITE 2008 tidak ada pemisahan untuk pembuktian dalam hal ini tindak pidana dan sengketa perdata. Namun UU ITE 2008 secara jelas menngelompokan tindakan mana yang termasuk pidana dan tindakan yang termasuk perdata. Apabila dibandingkan dengan ETA 2010, undang-undang ini sangat tertuju pada peraturan untuk perdagangan elektronik dan kontrak elektronik.
Dengan kata lain, ETA 2010 secara rinci mengatur tentang hubungan keperdataan dalam kontrak dan tanda tangan elektronik. Untuk tindakan yang tergolong tindak pidana berkaitan dengan transaksi atau sistem elektronik diatur secara terpisah dalam undang-undang yang lain.
Selain perbedaan ada juga persamaan dari ketiga peraturan ini,yaitu terletak pada alat bukti. Adapun persamaan tersebut dapat di lihat pada Pasal 42 (2) UU Telekomunikasi 1999, Pasal 5 UU ITE 2008, dan Pasal 6 ETA 2010 ditentukan bahwa siapapun, termasuk pengadilan, tidak boleh menolak efek hukum, validitas hukum, dan pelaksanaan hukum hanya karena hal tersebut merupakan data elektronik. Disamping itu, pengadilan tidak boleh pula menolak efek hukum dari sebuah dokumen jika para pihak memang tidak mungkin mendapatkan naskah asli dari dokumen yang dijadikan alat bukti dalam kasus ITE.
2.6 Perbandingan Pembuktian dalam Putusan Pengadilan Mengenai ITE di