• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Tinjauan Pustaka

3. Pembuktian dan Alat Bukti yang Sah Menurut

a). Pengertian Pembuktian

31 Jaksa Agung Republik Indonesia, Surat Edaran Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : SE-004/J.A/11/1993 tentang Pembuatan Surat Dakwaan, Kejaksaan.go.id

bagi penilaiannya.32 Sedangkan pembuktian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, cara pembuatan membuktikan; usaha menunjukkan benar atau salahnya si terdakwa di sidang persidangan.33 Namun menurut R. Subekti berpendapat bahwa membuktikan ialah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil dalam suatu persengketaan.34

Eddy O.S Hiariej memberi defenisi hukum pembuktian sebagai ketentuan-ketentuan mengenai pembuktian yang meliputi alat bukti, barang bukti, cara mengumpulkan dan memperoleh bukti sampai pada penyampaian bukti di pengadilan serta kekuatan pembuktian dan beban pembuktian dalam perkara pidana. Begitupun Syaiful Bakhri juga memberi pengertian pembuktian sebagai ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang, membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.

35

Namun Hari Sasangka dan Lili Rosita memberikan defenisi hukum pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan alat bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai suatu pembuktian.

36

32 Andi Hamzah, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986, hal. 83.

33 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hal. 218.

34 R. Subekti, Hukum Pembuktian Cetakan ke-17, Pradnya Paramita, Jakarta, 2008, hal. 1.

35 Eddy O.S. Hiariej, Teori dan Hukum Pembuktian, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2002, hal. 4.

36 Hari Sasangka dan Lili Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, Mandar Maju, Bandung, 2003, hal. 10.

Arti pembuktian ditinjau dari segi hukum acara pidana antara lain:

a. Ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usaha mencari dan mempertahankan kebenaran, baik hakim, penuntut umum, terdakwa, atau penasihat hukum, semua terikat pada ketentuan tata cara dan penilaian alat bukti yang ditentukan undang-undang. Terdakwa tidak bisa leluasa mempertahankan sesuatu yang dianggapnya benar di luar ketentuan yang digariskan undang-undang.

b. Sehubungan dengan pengertian di atas, majelis hakim dalam mencari dan meletakkan kebenaran yang akan dijatuhkan dalam putusan harus didasarkan alat-alat bukti yang telah ditentukan undang-undang secara limitatif, sebagaimana yang disebut dalam Pasal 184 KUHAP.37

Pembuktian tentang benar tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan, merupakan bagian yang terpenting acara pidana. Dalam hal ini pun hak asasi manusia dipertaruhkan. Bagaimana akibatnya jika seseorang yang didakwa dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan berdasarkan alat bukti yang ada disertai keyakinan hakim, padahal tidak benar. Untuk inilah maka hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, berbeda dengan hukum acara perdata yang cukup puas dengan kebenaran formal.

b). Sistem atau Teori Pembuktian

38

37 M. Yahya Harahap, Op.Cit., hal. 274.

38 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hal. 249.

Terdapat 4 sistem atau teori mengenai pembuktian antara lain:

1). Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Positif (Positive Wettelijk Bewijstheori)

Dalam menilai kekuatan pembuktian alat-alat bukti yang ada, dikenal beberapa sistem atau teori pembuktian. Pembuktian yang didasarkan melulu kepada alat-alat pembuktian yang disebut undang-undang, disebut sistem atau teori pembuktian berdasar undang-undang secara positif (positief wettelijk bewijstheorie). Dikatakan secara positif, karena hanya didasarkan kepada undang-undang melulu. Artinya, jika telah terbukti suatu perbuatan sesuai dengan alat-alat bukti yang disebut oleh undang-undang, maka keyakinan hakim tidak diperlukan sama sekali. Sistem ini disebut juga teori pembuktian formal (formele bewijstheorie).39

Teori pembuktian ini ditolak juga oleh Wirjono Prodjodikoro untuk dianut di Indonesia, karena katanya bagaimana hakim dapat menetapkan kebenaran selain dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang hal kebenaran itu, lagi pula keyakinan seorang hakim yang jujur dan berpengalaman mungkin sekali adalah sesuai dengan keyakinan masyarakat.40

Berhadap-hadapan secara berlawanan dengan teori pembuktian menurut undang-undang secara positif ialah teori pembuktian menurut keyakinan hakim melulu. Teori ini disebut juga conviction intime.

2). Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Melulu

39 Ibid.

40 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Pidana di Indonesia, Sumur Bandung, Jakarta, 1967, hal. 75.

Menurut Wirjono Prodjodikoro, sistem pembuktian demikian pernah dianut di Indonesia, yaitu pada pengadilan distrik dan pengadilan kabupaten. Sistem ini katanya memungkinkan hakim menyebut apa saja yang menjadi dasar keyakinannya, misalnya keterangan medium atau dukun.41 Sistem ini memberi kebebasan kepada hakim terlalu besar, sehingga sulit diawasi. Di samping itu, terdakwa atau penasihat hukumnya sulit untuk melakukan pembelaan. Dalam hal ini hakim dapat memidana terdakwa berdasarkan keyakinannya bahwa ia telah melakukan apa yang didakwakan. Praktik peradilan juri di Perancis membuat pertimbangan berdasarkan metode ini dan mengakibatkan banyaknya putusan-putusan bebas yang sangat aneh.42

Menurut sistem pembuktian ini, keyakinan hakim tetap memegang peranan yang penting.

3). Sistem atau Teori Pembuktian Berdasar Keyakinan Hakim Atas Alasan Yang Logis (La Conviction Raisonnee/Conviction Raisonee)

43 Namun, keyakinan hakim dalam sistem ini hanya sampai batas tertentu yaitu, hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasarkan keyakinannya, keyakinan hakim tersebut didasarkan pada dasar-dasar pembuktian disertai dengan suatu kesimpulan yang berdasarkan kepada peraturan-peraturan pembuktian tertentu.44

41 Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit., hal. 72.

42 A. Minkenhof, De Nederlandse Strafvordering, Haarlem: H.D. Tjeenk Willink &

Zoon, hal. 219 sebagaimana dikutip dari bukunya Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 1985, hal. 230.

43 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Edisi Kedua, Cetakan VI, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hal. 249.

44 Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985, hal. 249.

Martiman Prodjohamidjojo menyatakan bahwa sistem ini disandarkan semata-mata atas keyakinan atas dasar pertimbangan akal pikiran dan hakim tidak terikat kepada alat-alat bukti yang ditetapkan oleh undang-undang. Dengan demikian hakim dapat mempergunakan alat-alat bukti lain yang ditetapkan diluar ketentuan perundang-undangan.45 Sedangkan M. Yahya Harahap menyatakan bahwa keyakinan hakim tetap memegang peranan yang penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi keyakinan tersebut dibatasi dan harus didukung dengan alasan-alasan yang jelas. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Keyakinan hakim harus mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan dapat diterima akal.46

45 Martiman Prodjohamidjojo, Sistem Pembuktian dan Alat-alat Bukti, Cetakan I, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983, hal. 17.

46 M. Yahya Harahap, Op.Cit, hal. 277.

4). Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk)

Pasal 183 KUHAP berbunyi sebagai berikut.

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Dari kalimat tersebut nyata bahwa pembuktian harus didasarkan kepada undang-undang (KUHAP), yaitu alat bukti yang sah tersebut dalam Pasal 184 KUHAP, disertai dengan keyakinan hakim yang diperoleh dari alat-alat bukti tersebut.

Hal tersebut dapat dikatakan sama saja dengan ketentuan yang tersebut pada Pasal 294 ayat (1) HIR yang berbunyi sebagai berikut.

Tidak seorang pun boleh dikenakan pidana, selain jika hakim mendapat keyakinan dengan alat bukti yang sah, bahwa benar telah terjadi perbuatan yang dapat dipidana dan bahwa orang-orang yang didakwa itulah yang bersalah melakukan perbuatannya itu.

Dalam sistem atau teori pembuktian yang berdasar undang-undang secara negatif (negatief wettelijk bewijstheorie) ini, pemidanaan didasarkan kepada pembuktian yang berganda (dubbel en grondslag, kata D. Simons), yaitu pada peraturan undang dan pada keyakinan hakim, dan menurut undang, dasar keyakinan hakim itu bersumberkan pada peraturan undang-undang.47

Untuk Indonesia, yang sekarang ternyata telah dipertahankan oleh KUHAP, Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa sistem pembuktian berdasar undang-undang secara negatif (negatief wettelijk) sebaiknya dipertahankan berdasarkan dua alasan, pertama memang sudah selayaknya harus ada keyakinan hakim tentang kesalahan terdakwa untuk dapat menjatuhkan suatu hukuman pidana, janganlah hakim terpaksa memidana orang sedangkan hakim tidak yakin atas kesalahan terdakwa. Kedua ialah berfaedah jika ada aturan yang mengikat hakim

Hal tersebut terakhir ini sesuai dengan Pasal 183 KUHAP tersebut, yang mengatakan bahwa dari dua bukti sah itu diperoleh keyakinan hakim.

Penjelasan Pasal 183 KUHAP mengatakan bahwa ketentuan ini adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan, dan kepastian hukum bagi seorang.

47 Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit, hal. 77.

dalam menyusun keyakinannya, agar ada patokan-patokan tertentu yang harus diturut oleh hakim dalam melakukan peradilan.48

Pasal 1 angka 27 KUHAP menentukan, bahwa “keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya tersebut”.

Dibandingkan dengan Pasal 295 HIR (Het Herzienne Inlands Reglement) yang hanya menyebutkan kesaksian termasuk dalam pengertian kesaksian-kesaksian menurut HIR adalah kesaksian-kesaksian-kesaksian-kesaksian yang diberikan oleh saksi-saksi a charge, saksi-saksi-saksi-saksi a de charge, dan saksi-saksi-saksi-saksi ahli sebagai alat bukti yang sah.

c). Alat-Alat Bukti Yang Sah Menurut KUHAP

Pada dasarnya perihal alat-alat bukti diatur dalam Pasal 184 KUHAP ayat (1) mengenai alat-alat bukti yang sah ialah:

1. Keterangan Saksi

49

Akan tetapi menurut Lamintang secara formal terdapat sedikit perbedaan antara keterangan saksi dan keterangan ahli tersebut, yakni:

50

48 Ibid.

49 R. Atang Ranoemihardja, Hukum Acara Pidana, Tarsito, Bandung, 1980, hal. 57-58.

50 Lamintang, Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana Yurisprudensi, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hal. 412.

1. Pada dasarnya, keterangan saksi dapat diberikan oleh setiap orang sedangkan keterangan ahli hanya dapat diberikan oleh orang-orang yang mempunyai keahlian di bidang tertentu saja;

2. Sumpah saksi berbunyi bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain dari yang sebenarnya, sedangkan sumpah ahli berbunyi bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya;

3. Pada dasarnya UU memberikan kesempatan kepada orang-orang tertentu untuk memberikan keterangan sebagai saksi tanpa disumpah, sedang kesempatan seperti itu tidak diberikan kepada orang-orang yang diminta memberikan keterangan sebagai ahli.

Menurut KUHAP, persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu keterangan saksi dapat menjadi alat bukti:51

Dimasukkannya keterangan ahli sebagai bukti yang sah dalam KUHAP kemungkinan berdasarkan Pasal 1 Stb. 1949 Nomor 275.

a. Berlaku prinsip unus testis nullus testis (satu saksi bukan saksi), jadi minimal saksi harus ada dua orang;

b. Saksi mendengar sendiri, melihat sendiri, dan mengalami sendiri;

c. Pendapat rekaan semata-semata dari saksi bukan alat bukti;

d. Saksi harus disumpah. Keterangan saksi yang tidak disumpah bukanlah alat bukti penuh, melainkan alat bukti tambahan yang memperkuat alat bukti lain.

2. Keterangan Ahli

52

51 Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012, hal. 128.

52 Andi Hamzah dan Irdan Dahlan, Perbandingan KUHAP HIR dan Komentar, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984, hal. 256.

Hal ini didasarkan

kepada yurisprudensi tanggal 22 Januari 1909 yang mengatakan bahwa keterangan ahli tidak dapat digunakan sebagai alat bukti, berhubung dalam Pasal 306 HIR dikatakan “…hanya boleh dipakai untuk memberikan keterangan kepada hakim.” Yahya Harahap menilai saat diberlakukannya HIR, keterangan ahli tidak dipandang sebagai alat bukti yang sah, melainkan hanya sebagai keterangan keahlian belaka. Hakim dapat menjadikan keterangan keahlian itu sebagai pendapatnya sendiri jika hakim menilai keterangan ahli tersebut dapat diterima.53

Menurut Pasal 1 angka 28 KUHAP menyatakan bahwa keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Keterangan ahli menurut Pasal 186 KUHAP ialah apa yang seorang lain nyatakan di sidang pengadilan.

Setelah KUHAP berlaku di Indonesia, keterangan ahli juga menjadi salah satu alat-alat bukti yang sah. Selain di Indonesia, keterangan ahli juga menjadi salah satu alat bukti dalam hukum acara pidana di Belanda.

54

53 M. Yahya Harahap, Op.Cit., hlm. 274.

54 Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan. Jika hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum, maka pada pemeriksaan di sidang, diminta untuk memberikan keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksan. Lihat penjelasan Pasal 186 KUHAP.

Menurut Pasal 179 ayat (1) KUHAP yang menyatakan bahwa setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. Pasal 179 ayat (2) menyatakan bahwa semua kegiatan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan

memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan bidang keahliannya.

Dalam KUHAP dikenal ahli yang mempunyai keahlian tentang surat (Pasal 132 ayat (1) KUHAP) dan keterangan palsu dan ahli yang mempunyai keahlian untuk menentukan korban luka, keracunan, atau mati yang dikenal dengan ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya (Pasal 133 ayat (1) KUHAP).

Keterangan ahli diperlukan dalam proses penyidikan ataupun dalam upaya pembuktian di pengadilan hal ini sesuai dengan Pasal 120 ayat (1) KUHAP yang berbunyi bahwa dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. Pasal 120 ayat (2) KUHAP menyatakan bahwa ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaiknya-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.

3. Surat

Menurut Sudikno Mertokusumo surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda bacaan yang dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran seseorang yang dipergunakan sebagai pembuktian.55

55 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Cetakan I, Edisi 6, Liberty, Yogyakarta, 2002, hal. 141.

Sedangkan menurut Asser-Annema seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah ‘surat’

ialah segala sesuatu yang mengandung tanda-tanda baca yang dapat dimengerti,

dimaksud untuk mengeluarkan isi pikiran.56

Jadi, contoh-contoh dari alat bukti surat itu adalah berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibuat oleh polisi (penyelidik/penyidik), BAP pengadilan, berita acara penyitaan (BAP), surat perintah penangkapan (SPP), surat izin penggeledahan (SIP), surat izin penyitaan (SIP) dan lain sebagainya.

KUHAP tidak menjelaskan pengertian tentang surat, melainkan hanya mengemukakan surat sebagai salah satu alat bukti yang sah dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 187 KUHAP menyatakan bahwa surat sebagaimana tersebut dalam Pasal 184 KUHAP ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah adalah:

a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;

b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat menganai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang untuk diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;

c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;

d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari pembuktian yang lain.

57

56 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hal. 271.

57 Andi Muhammad Sofyan, dan Abd. Asis, Op.Cit, hal. 258.

4. Petunjuk

Menurut Pasal 188 KUHAP, bahwa yang dimaksud dengan alat bukti petunjuk adalah:

(1) Petunjuk adalah perbuatan, kejadian, atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.

(2) Petunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diperoleh dari:

a. keterangan saksi.

b. surat.

c. keterangan terdakwa.

(3) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.58

Jadi, berdasarkan Pasal 189 KUHAP di atas, bahwa keterangan terdakwa harus diberikan di depan sidang saja, sedangkan di luar sidang hanya dapat digunakan untuk menemukan bukti di sidang. Demikian pula apabila terdakwa lebih dari satu orang, maka keterangan dari masing-masing terdakwa untuk dirinya sendiri, artinya keterangan terdakwa satu dengan terdakwa lainnya tidak boleh dijadikan alat bukti bagi terdakwa lainnya. Dalam hal keterangan terdakwa saja di dalam sidang, tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa telah 5. Keterangan Terdakwa

Menurut Pasal 189 KUHAP, bahwa yang dimaksud dengan alat bukti berupa keterangan terdakwa adalah:

(1) Apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.

(2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.

(3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.

(4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.

58 Ibid., hlm. 259.

bersalah melakukan suatu tindak pidana, tanpa pidana, tanpa didukung oleh alat bukti lainnya.59

59 Ibid.

Alat bukti yang diluar UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP menurut UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika diatur dalam ketentuan Pasal 86 ayat (1) dan ayat (2) yang berbunyi :

(1) Penyidik dapat memperoleh alat bukti selain sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana.

(2) Alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan

b. data rekaman atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada:

1. tulisan, suara, dan/atau gambar;

2. peta, rancangan, foto atau sejenisnya; atau

3. huruf, tanda, angka, simbol, sandi atau perforasi yang memiliki makna dapat dipahami oleh orang; yang mampu membaca atau memahaminya.

Tidak terdapat penjelasan Pasal 86 ini di dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009. Dari bunyi Pasal 86 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 dimengerti bahwa ada alat bukti lain yang diakui oleh Undang-Undang No. 35 Tahun 2009. Pasal 86 ayat (2) memiliki persamaan dengan Pasal 26A UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi:

Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari :

a. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan

b. dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dijabat, dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas,benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan,suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.

Di dalam penjelasan Pasal 26A UU No. 20 Tahun 2001 dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan frasa “disimpan secara elektronik” misalnya data yang disimpan dalam mikrofilm, Compact Disk Read Only Memory (CD-ROM) atau Write Once Read Many (WORM). Yang dimaksud dengan frasa “alat optik atau yang serupa dengan itu” dalam ayat ini tidak terbatas pada data penghubung elektronik (electronic data interchange), surat elektronik (e-mail), telegram, teleks, dan faksimile. 60

Keberadaan informasi dan/atau dokumen elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap pelanggaran sistem elektronik dan transaksi elektronik, terutama dalam pembuktian dengan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui sistem elektronik. Kemudian khusus untuk informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik berupa hasil intersepsi atau penyadapan atau perekaman yang merupakan bagian dari penyadapan harus dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang.61

60 Lihat Penjelasan Pasal 26A UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

61 Ramiyanto, Bukti Elektronik Sebagai Alat Bukti Yang Sah Dalam Hukum Acara Pidana, Jurnal Hukum dan Peradilan, Volume 6 Nomor 3, November 2017:463-486. Diakses tanggal 4 Maret 2019.

G. Metode Penelitian

Dokumen terkait