• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Landasan Konseptual .1 Model .1 Model

2.3.4 Pembuktian Tindak Pidana Kekerasan Psikis

memakai undang - undang PKDRT dalam proses pembuatan berita acara pemeriksaan dengan alasan belum ada peraturan pelaksanaannya. Selain itu adanya anggapan bahwa undang - undang ini merupakan delik aduan masih menjadi alasan beberapa kalangan kepolisian untuk tidak berperan secara aktif dalam kasus kasus kekerasan dalam rumah tangga. Padahal, larangan untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga merupakan delik publik dimana tindakan kekerasan tersebut dapat dilaporkan oleh bukan korban.

Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2004, selain mengatur mengenai pencegahan dan perlindungan serta pemulihan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga, juga mengatur secara spesifik kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dengan unsur tindak pidana penganiayaan yang berbeda dengan tindak pidana penganiayaan yang diatur KUHP. Selain itu, undang - undang ini juga mengatur kewajiban bagi aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping atau pembimbing rohani untuk melindungi korban agar mereka lebih sensitif dan responsif terhadap kepentingan rumah tangga yang sejak awal diarahkan pada keutuhan dan kerukunan rumah tangga. (Soeroso, 2010 : 90)

2.3.4 Pembuktian Tindak Pidana Kekerasan Psikis

Hakim dapat memutus terdakwa dalam perkara kekerasan psikis dengan keyakinannya dan alat bukti yang ada. Baik KUHAP maupun HIR menganut teori ini. Hal ini tercantum dalam Pasal 183 KUHAP yang mengandung esensi yaitu disyaratkan sekurang kurangnya dua alat bukti yang sah, terdakwalah yang telah bersalah melakukannya. (Ariani, 2013 : 34)

Kata sekurang - kurangnya memberikan batasan pada alat bukti minimum yang harus didatangkan pada saat pembuktian. Sedangkan kata alat bukti yang sah

27

memberikan pengertian bahwa hanya alat alat bukti yang diatur oleh undang - undang yang dapat ditetapkan sebagai alat bukti dalam proses pembuktian pada semua bentuk tindak pidana.

Dalam hal pembuktian tindak pidana, sudah jelas dibutuhkan barang bukti yang sah sesuai dengan undang - undang, tetapi untuk tindak pidana kekerasan psikis dalam rumah tangga tidaklah mudah apalagi akibat yang timbul dari kekerasan psikis ini tidak dapat dilihat secara langsung. Sejak berlakunya Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2004 berbagai tindak pidana dengan lokus delikti rumah tangga terus meningkat, namun tidak banyak yang diproses dalam peradilan pidana. Banyak perkara yang dilaporkan dan banyak pula yang diselesaikan karena pelapor mencabut laporannya dan diselesaikan dengan damai. Hal tersebut disebabkan lemahnya kondisi perempuan sebagai seorang istri yang sangat bergantung pada suaminya, hal ini adalah rasa ketakutan dan pengendalian dari suami, setelah kembali berdamai tetap saja istri mengalami ketakutan tersebut.

Dalam hal pencegahan, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama yang telah diatur dalam Bab V Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Kewajiban Pemerintah dan Masyarakat. Pada Pasal 11 Bab tersebut menyatakan pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan penyelenggaraannya terdapat dalam Pasal 13 Bab V UU No. 23 Tahun 2004 yaitu untuk penyelenggaraan pelayaanan terhadap korban, pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan fungsi dan tugas masing - masing dapat melakukan upaya penyediaan ruang pelayanan khusus di kantor kepolisian, penyediaan aparat, tenaga kesehatan, pekerja sosial dan pembimbing

28

rohani, pembuatan dan pengembangan sistem dan mekanisme kerja sama program pelayanan yang melibatkan pihak yang mudah diakses oleh korban dan memberikan perlindungan bagi pendamping, saksi, keluarga dan teman korban.

Untuk kekerasan psikis dapat dibuktikan, jika kita melihat dari teori pembuktian tradisional berikut yang menyatakan bahwa :

a) Teori Negatif

Teori ini menegaskan bahwa hakim diperbolehkan menjatuhkan pidana jika mendapatkan keyakinan dengan alat bukti yang sah bahwa telah terjadi perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Teori ini dianut oleh Pasal 294 ayat (1) HIR yang menyebutkan keharusan adanya keyakinan hakim dan keyakinan tersebut didasarkan pada alat - alat bukti yang sah.

b) Teori Positif

Teori ini mengatakan bahwa hakim hanya boleh menentukan kesalahan terdakwa jika terdapat bukti minimum yang diatur oleh undang - undang. Hakim diwajibkan memutus bersalah atas terdakwa apabila terdapat bukti yang dimaksud oleh undang - undang. Singkatnya, tidak ada bukti, tidak dihukum, ada bukti harus dihukum. Teori ini dianut oleh KUHAP, yakni pada Pasal 183 yang menyebutkan hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila diperoleh sekurang - kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar - benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Maka hakim dapat memutus terdakwa dalam perkara kekerasan psikis dengan keyakinannya dan alat bukti yang ada. (Ariani, 2013 : 35)

29

2.3.5 Efektivitas

Efektivitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki, kalau seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki. Maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan atau mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendaki. Efektivitas dapat diartikan sebagai proses pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Suatu usaha atau kegiatan dapat dikatakan efektif apabila usaha atau kegiatan tersebut telah mencapai tujuannya.

Untuk mengetahui seberapa jauh efektivitas hukum dapat dilakukan dengan menganalisis tiga masalah yang meliputi :

a. Dalam masyarakat modern, tata tertib kemasyarakatan dijaga antara lain oleh suatu sistem pengendalian sosial yang bersifat memaksa, yaitu hukum untuk melaksanakannya hukum didukung oleh suatu sistem alat - alat kekuasaan (kepolisian, pengadilan dan sebagainya) yang diorganisasi oleh suatu negara. b. Dalam masyarakat primitif alat - alat kekuasaan serupa itu kadang - kadang

tidak ada.

c. Dengan demikian apakah dalam masyarakat primitif tidak ada hukum. (Koentjaraningrat, 2005 : 305)

Ketika berbicara sejauh mana efektivitas hukum maka kita pertama - tama harus dapat mengukur sejauh mana aturan hukum itu ditaati atau tidak ditaati. Jika suatu aturan hukum ditaati oleh sebagian besar target yang menjadi sasaran ketaatannya maka akan dikatakan aturan hukum yang bersangkutan adalah efektif. Derajat dari efektivitas hukum ditentukan oleh taraf kepatuhan masyarakat terhadap hukum, termasuk para penegak hukumnya, sehingga dikenal asumsi

30

bahwa taraf kepatuhan yang tinggi adalah indikator suatu berfungsinya suatu sistem hukum dan berfungsinya hukum merupakan pertanda hukum tersebut mencapai tujuan hukum yaitu berusaha untuk mempertahankan dan melindungi masyarakat dalam pergaulan hidup.

Ada empat indikator untuk mengukur efektivitas suatu peraturan antara lain : Pertama, dikembalikan pada hukum itu sendiri. Kedua, para petugas yang menegakannya. Ketiga, fasilitas yang mendukung pelaksanaan hukum. Keempat, warga masyarakat yang terkena peraturan. Faktor pertama, dikembalikan kepada hukum atau peraturan itu sendiri. (Soekanto 1998 : 47)

Setiap peraturan (undang - undang, peraturan pemerintah dan lain - lain) harus memenuhi eight principle of legality, antara lain : (1). Harus ada norma atau kaidah yang terlebih dahulu dianut dalam masyarakat, (2). Peratuaran yang telah dibuat harus disosialisasikan secara layak, tidak hanya dalam fiksi hukum bahwa semua orang dianggap tahu undang - undang sesaat setelah diundangkan, (3). Rumusan aturan dibuat dengan jelas untuk menghindari penafsiran hukum, (4). Peraturan tidak boleh berlaku surut, sesuai dengan asas yang berlaku universal, (5). Hukum mengatur hal konkrit dan realistis sehingga mudah dilaksanakan, (6). Hukum tidak boleh ada pertentangan satu dengan lainnya, (7). Hukum harus konsisten, tidak cepat berubah atau bersifat adhoc. (8). Adanya kecocokan antara peraturan dengan pelaksanaan sehari hari.

31

Dokumen terkait