BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Pembungaan Tanaman
Perlakuan tidak nyata mempercepat inisiasi kuncup bunga G. leontopiodes, tidak nyata mempercepat perkembangan kuncup bunga sampai
bunga G. leontopiodes mekar dan juga tidak nyata mempengaruhi persentase jumlah tanaman yang berbunga pada setiap perlakuan. Perlakuan nyata
meningkatkan jumlah bunga mekar, meningkatkan jumlah total bunga G. leontopiodes dan perlakuan sangat nyata meningkatkan jumlah daun saat
muncul kuncup bunga, meningkatkan jumlah daun saat mekar bunga dan meningkatkan jumlah kuncup bunga G. leontopiodes (Tabel 2).
Perlakuan tidak nyata mempercepat inisiasi kuncup bunga P. axillaris dan tidak nyata mempercepat perkembangan kuncup bunga sampai bunga P. axillaris mekar. Perlakuan nyata meningkatkan jumlah daun saat muncul kuncup bunga dan juga nyata meningkatkan jumlah daun saat bunga P. axillaris mekar. Perlakuan sangat nyata mempengaruhi persentase jumlah tanaman yang berbunga pada setiap perlakuan, sangat nyata meningkatkan jumlah bunga mekar, sangat nyata meningkatkan jumlah kuncup bunga dan sangat nyata meningkatkan jumlah total bunga P. axillaris (Tabel 2).
Tabel 2. Rekapitulasi Sidik Ragam Hasil Percobaan Gomphrena leontopiodes dan Ptilotusaxillaris
Spesies Peubah
G. leontopiodes P. axillaris
Saat muncul kuncup bunga tn tn
Jumlah kuncup bunga ** *
Jumlah daun saat muncul kuncup bunga ** tn
Saat mekar bunga tn tn
Persentase jumlah tanaman berbunga tn **
Jumlah bunga mekar * **
Jumlah daun saat bunga mekar * tn
Jumlah total bunga * **
4.3.1. Saat Muncul Kuncup Bunga
4.3.1.1. Saat Muncul Kuncup Bunga Gomphrena leontopiodes
Saat muncul kuncup bunga adalah peubah pengamatan yang menunjukkan
jumlah hari yang dibutuhkan tanaman untuk membentuk kuncup bunga G. leontopiodes pertama yang dapat terlihat (Gambar 11a). Tanggal ketika kuncup
bunga G. leontopiodes yang pertama dapat dilihat dicatat lalu jumlah hari dihitung sejak tanggal benih ditanam sampai tanggal kuncup bunga pertama terlihat, sehingga didapatkan jumlah hari yang dibutuhkan tanaman sampai kuncup bunga pertama dapat terlihat. Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan tidak nyata mempercepat saat muncul kuncup bunga G. leontopiodes (Tabel 3). Diduga
Keterangan : tn : tidak berbeda nyata pada uji F 5% * : berbeda nyata pada uji F 5 % ** : berbeda sangat nyata pada uji F 1%
panjang hari dan suhu sebagai perlakuan tidak mempengaruhi lama waktu tanaman G. leontopiodes membentuk kuncup bunga yang pertama, sehingga tanaman dapatmenghasilkan kuncup bunga dalam waktu yang tidak berbeda.
4.3.1.2. Saat Muncul Kuncup Bunga Ptilotus axillaris
Pengamatan peubah saat muncul kuncup bunga pada tanaman P. axillaris, menggunakan metode yang sama dengan pengamatan peubah saat muncul kuncup bunga pada tanaman G. leontopiodes. Tanggal ketika kuncup bunga P. axillaris pertama terlihat (Gambar 11b) dicatat dan kemudian jumlah hari yang dibutuhkan tanaman sampai kuncup pertama terlihat didapatkan dari menghitung tanggal benih ditanam sampai pada tanggal kuncup bunga muncul yang tercatat. Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan tidak nyata mempercepat saat munculnya kuncup bunga P. axillaris (Tabel 3). Diduga panjang hari dan suhu yang merupakan perlakuan tidak mempengaruhi tanaman P. axillaris dalam mempercepat kemunculan kuncup bunga pertama yang terlihat, sehingga tanaman pada perlakuan yang berbeda dapat menghasilkan kuncup bunga dalam waktu yang tidak berbeda.
Gambar 11. a. Kuncup Bunga Gomphrena leontopiodes; b. Kuncup Bunga Ptilotus axillaris
Tabel 3. Saat Muncul Kuncup Bunga Gomphrena leontopiodes dan Ptilotus axillaris
Keterangan: angka yang diberi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT pada taraf 5%.
HST: hari setelah tanam.
4.3.2. Persentase Tanaman yang Memiliki Bunga Mekar
4.3.2.1. Persentase Tanaman Gomphrena leontopiodes yang Memiliki Bunga Mekar
Banyak tanaman yang memiliki bunga yang mekar di setiap perlakuan dihitung pada saat pengamatan terakhir kemudian ditampilkan dalam bentuk peubah persentase tanaman yang memiliki bunga mekar. Perlakuan tidak nyata mempengaruhi persentase jumlah tanaman G. leontopiodes yang memiliki bunga
Perlakuan Kode
Perlakuan Suhu (˚C) Panjang hari (jam) Saat muncul kuncup bunga G. leontopiodes Saat muncul kuncup bunga P. axillaris HST P5 (25/10 SD) 108,3 a 46,5 a P6 (25/10 LD) 104,3 a 45,2 a P7 (25/10 SDLD) 89,0 a 47,5 a P8 (25/10 LDSD) 91,8 a 47,8 Rata-rata 98,4 46,8 P13 (25/10 35/20 SD) 98,8 a 47,2 a P14 (25/10 35/20 LD) 97,2 a 48,3 a P15 (25/10 35/20 SDLD) 90,3 a 47,2 a P16 (25/10 35/20 LDSD) 105,3 a 44,7 a Rata-rata 97,9 46,9 P1 (35/20 SD) 89,8 a 48,5 a P2 (35/20 LD) 103,7 a 51,0 a P3 (35/20 SDLD) 96,5 a 47,5 a P4 (35/20 LDSD) 93,4 a 52,0 a Rata-rata 95,9 49,8 P9 (35/20 25/10 SD) 91,5 a 53,8 a P10 (35/20 25/10 LD) 94,4 a 52,7 a P11 (35/20 25/10 SDLD) 109,5 a 50,8 a P12 (35/20 25/10 LDSD) 97,2 a 47,7 a Rata-rata 98,2 51,3
mekar pada tiap perlakuan (Tabel 4). Terdapat satu perlakuan dengan persentase jumlah tanaman yang memiliki bunga mekar sebanyak 100% yaitu perlakuan P1.
Tabel 4. Persentase Tanaman Gomphrena leontopiodes yang Memiliki Bunga Mekar pada Setiap Perlakuan
Keterangan: angka yang diberi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT pada taraf 5%.
4.3.2.2. Persentase Tanaman Ptilotus axillaris yang Memiliki Bunga Mekar Persentase jumlah tanaman P. axillaris yang memiliki bunga mekar pada tiap perlakuan sangat nyata dipengaruhi oleh perlakuan. Tanaman P. axillaris pada perlakuan dengan suhu 25/10˚C yaitu P5, P6, P7 dan P8 serta tanaman P. axillaris pada perlakuan dengan suhu 25/10˚C 35/20˚C yaitu P13, P14, P15 dan P16 memiliki persentase tanaman dengan bunga mekar lebih tinggi dari perlakuan lain yaitu sebesar 100% (Tabel 5). Diduga perlakuan dengan suhu yang
Perlakuan Kode perlakuan
Suhu (˚C) Panjang Hari (jam)
Persentase tanaman berbunga (%) P5 (25/10 SD) 66,6 a P6 (25/10 LD) 16,6 a P7 (25/10 SDLD) 33,3 a P8 (25/10 LDSD) 66,6 a Rata-rata 45,8 P13 (25/10 35/20 SD) 33,3 a P14 (25/10 35/20 LD) 66,6 a P15 (25/10 35/20 SDLD) 50 a P16 (25/10 35/20 LDSD) 16,6 a Rata-rata 41,6 P1 (35/20 SD) 100,0 a P2 (35/20 LD) 66,6 a P3 (35/20 SDLD) 16,6 a P4 (35/20 LDSD) 50,0 a Rata-rata 58,3 P9 (35/20 25/10 SD) 33,3 a P10 (35/20 25/10 LD) 66,6 a P11 (35/20 25/10 SDLD) 66,6 a P12 (35/20 25/10 LDSD) 50,0 a Rata-rata 54,1
yang lebih rendah (25/10˚C) lebih sesuai untuk perkembangan kuncup bunga tanaman P. axillaris.
Tabel 5. Persentase Tanaman Ptilotus axillaris yang Memiliki Bunga Mekar pada Setiap Perlakuan
Keterangan: angka yang diberi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT pada taraf 5%.
Menurut Wrigley dan Fagg (1979) dan Galbraith (1977) dalam Williams (1995), bunga tanaman P. axillaris umumnya mekar pada saat musim dingin hingga musim semi. Pada saat musim dingin, suhu lingkungan di tempat tanaman P. axillaris berasal (Longreach) berkisar antara 23,7˚C di siang hari dan antara 8,2˚C di malam hari, kemudian suhu berangsur-angsur akan menjadi hangat pada musim semi. Suhu akan menjadi berkisar antara 36,1˚C pada siang hari dan berkisar antara 19,9˚C pada malam hari (Tabel Lampiran 2).
Kondisi suhu 25/10˚C pada perlakuan, menyerupai kondisi suhu lingkungan pada saat musim dingin, sedangkan kondisi suhu 25/10˚C 35/20˚C
Perlakuan Kode
perlakuan Suhu (˚C) Panjang Hari (Jam) Persentase berbunga (%)
P5 (25/10 SD) 100 a P6 (25/10 LD) 100 a P7 (25/10 SDLD) 100 a P8 (25/10 LDSD) 100 a Rata-rata 100 P13 (25/10 35/20 SD) 100 a P14 (25/10 35/20 LD) 100 a P15 (25/10 35/20 SDLD) 100 a P16 (25/10 35/20 LDSD) 100 a Rata-rata 100 P1 (35/20 SD) 50 abc P2 (35/20 LD) 75 ab P3 (35/20 SDLD) 100 a P4 (35/20 LDSD) 66,7 abc Rata-rata 72,9 P9 (35/20 25/10 SD) 50 bc P10 (35/20 25/10 LD) 50 bc P11 (35/20 25/10 SDLD) 33,3 c P12 (35/20 25/10 LDSD) 66,8 abc Rata-rata 50,0
menyerupai kondisi suhu lingkungan pada saat musim semi. Menurut Hopkins (2004) suhu tumbuh yang sesuai untuk tanaman kurang lebih akan sama dengan suhu lingkungan di tempat tanaman berasal.
4.3.3. Saat Mekar Bunga
4.3.3.1. Saat Mekar Bunga Gomphrena leontopiodes
Saat mekar bunga adalah peubah pengamatan untuk menunjukkan jumlah hari yang dibutuhkan tanaman untuk menghasilkan bunga mekar pertama. Pengamatan peubah saat mekar bunga dilakukan dengan cara mencatat tanggal pada saat minimal terdapat satu bunga majemuk yang sudah mekar, pengamatan dilakukan untuk setiap tanaman. Jumlah hari sejak benih tanaman tersebut ditanam sampai bunga pertama mekar dihitung kemudian menjadi jumlah hari yang dibutuhkan tanaman untuk mengahasilkan bunga mekar pertama. Hasil pengamatam menunjukkan perlakuan tidak nyata mempercepat saat mekarnya bunga tanaman G. leontopiodes (Tabel 6).
Gambar 12. a. Bunga Gomphrena leontopiodes mekar; b. Bunga Ptilotus axillaris mekar.
4.3.3.2. Saat Mekar Bunga Ptilotus axillaris
Pengamatan peubah saat mekar bunga pada tanaman P. axillaris sama dengan pengamatan peubah saat mekar bunga pada tanaman G. leontopiodes. Tanggal pada saat terdapat minimal satu bunga majemuk P. axillaris yang sudah
Keterangan: angka yang diberi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT pada taraf 5%.
HST: hari setelah tanam
mekar dicatat, kemudian dihitung jumlah hari sejak benih tanaman ditanam sampai terlihat bunga pertama yang mekar, sehingga didapatkan jumlah hari yang dibutuhkan tanaman P. axillaris untuk memiliki bunga mekar atau saat mekar bunga P. axillaris. Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan tidak nyata mempercepat saat mekarnya bunga tanaman P. axillaris (Tabel 6).
Tabel 6. Saat Mekar Bunga Gomphrena leontopiodes dan Ptilotus axillaris