• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PIDANA MATI TERHADAP PELAKU

2. Macam-Macam Pembunuhan

Pembunuhan secara garis besar ditinjau dari aspek perbuatan dapat dibagi dua bagian sebagai berikut:7

1. Pembunuhan yang dilarang, yaitu pembunuhan yang dilakukan dengan melawan hukum.

2. Pembunuhan dengan hak yaitu pembunuhan yang dilakukan dengan tidak melawan hukum, seperti membunuh orang murtad.

Sedangkan pembunuhan menurut Jumhur Fuqaha ditinjau dari aspek niat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Pembunuhan Sengaja (al-qathlu ‘amdan)

Adalah pembunuhan yang dilakukan dengan kesengajaan, dimana seseorang telah memiliki niat dan kehendak untuk sengaja ingin membunuh orang muslim.8 Menurut as-Sayyid Sabiq, pembunuhan sengaja adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang mukallaf kepada orang lain yang darahnya terlindungi, dengan memakai alat yang pada umumnya dapat menyebabkan mati.9 Menurut Abdul Qadir Audah, pembunuhan sengaja adalah suatu pembunuhan dimana perbuatan mengakibatkan hilangnya nyawa itu disertai dengan niat untuk membunuh korban.10

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembunuhan sengaja adalah perbuatan seeorang yang sengaja dilakukan dengan niat dan menghendaki akibat dari perbuatannya.

Adapun unsur-unsur dalam pembunuhan sengaja yaitu: 1. Korban yang dibunuh adalah manusia yang hidup. 2. Kematian adalah hasil dari perbuatan pelaku.

7 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. 139.

8 Mardani, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Kencana, 2019), h. 88.

9 Aa-sayyid Sabiq, Fiqih as-Sunnah, Jilid II, (Kairo: dar ad-diyan li at-turas, 1990), cet. ke-2, h. 435

10 Abdul Qadir Audah, at-Tasyri’ al-Jinai al-islami, Juz 1 (Beirut: Dar al-Kutub, 1963), h. 7.

3. Pelaku tersebut menghendaki terjadinya kematian.11

Dan unsur yang terpenting diantara ketiganya ialah pada unsur yang ketiga, yaitu adanya niat si pelaku. Hal ini sangat penting karena niat pelaku itu merupakan syarat utama dalam pembunuhan sengaja. Dan masalah tersebut menjadi perbincangan para ulama karena niat itu terletak dalam hati, sehingga tidak dapat diketahui.

Larangan pembunuhan dengan sengaja didasarkan pada firman Allah a. Surat Al-Isra’a ayat 33:12

َّلَِإ ُ َّاللَّ َم َّرَح يِتَّلا َسْفَّنلا اوُلُتْقَت َلَ َو

َلََف اًناَطْلُس ِهِ يِل َوِل اَنْلَعَج ْدَقَف اًموُلْظَم َلِتُق ْنَم َو ۗ ِ قَحْلاِب

اًروُصْنَم َناَك ُهَّنِإ ۖ ِلْتَقْلا يِف ْف ِرْسُي

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah

(membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan” (QS. Al-Isra-17 : 33)

b. Surat Al-Baqarah ayat 178:13

ُْلا َو ِدْبَعْلاِب ُدْبَعْلا َو ِ رُحْلاِب ُّرُحْلا ۖ ىَلْتَقْلا يِف ُصاَصِقْلا ُمُكْيَلَع َبِتُك اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي

َٰىَثْن

ءْيَش ِهي ِخَأ ْنِم ُهَل َيِفُع ْنَمَف ۚ َٰىَثْنُ ْلاِب

عاَبِ تاَف

َكِلََٰذ ۗ ٍناَسْحِإِب ِهْيَلِإ ءاَدَأ َو ِفو ُرْعَمْلاِب

ميِلَأ باَذَع ُهَلَف َكِلََٰذ َدْعَب َٰىَدَتْعا ِنَمَف ۗ ةَمْح َر َو ْمُكِ ب َر ْنِم فيِفْخَت

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash

berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka

11A. Djazuli, Fiqih Jinayah, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1997), h. 132.

12Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Marwah), h. 285.

13Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Marwah), h. 27.

20

barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih” (QS. Al-Baqarah-2 : 178)

Ayat ini berisi tentang hukuman qishash bagi pembunuh yang melakukan kejahatan secara sengaja dan pihak korban tidak memaafkan pelaku. Apabila pihak keluarga korban memaafkan pelaku maka sanksi qishash tidak berlaku dan hukuman penggantinya adalah diyat.

Pembunuhan sengaja ada beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:14 1. Membunuh seseorang dengan benda/alat yang biasanya dapat

membunuh, misalnya dengan senjata tajam atau senjata api, atau dengan benda yang berat dan sebagainya.

2. Membunuh dengan alat/benda yang biasanya tidak mematikan, tetapi ada indikasi lain yang pada umumnya bisa menyebabkan terbunuhnya seseorang, misalnya memukul dengan tongkat secara berulang-ulang. 3. Membunuh seseorang dengan melakukan perbuatannya yang dapat atau

bisa menghilangkan nyawa orang lain. Contohnya, menaruh racun di makanan, mencekik leher, membakar dengan api, melempar dari tempat yang tinggi, menabrak dengan mobil, mengurung di suatu tempat tanpa diberi makan minum dan sebagainya.

2. Pembunuhan Menyerupai Sengaja (al-qathlu syibhu ‘amdin)

Menurut Abdul Qadir Audah pebunuhan menyerupai sengaja adalah perbuatan yang sengaja dilakukan oleh seseorang kepada orang lain tanpa adanya niat untuk membunuh dan korban meninggal karena perbuatannya.15

14 Mardani, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Kencana, 2019), h. 90.

15 Abdul Qadir Audah, at-Tasyri’ al-Jinai al-islami, Juz 1 (Beirut: Dar al-Kutub, 1963), h. 7.

Para ulama memiliki pendapat yang berbeda dalam mendefinisikan pembunuhan menyerupai sengaja.16 Menurut Hanafiyah, pembunuhan menyerupai sengaja adalah suatu pembunuhan dimana pelaku sengaja memukul korban dengan tongkat, cambuk, batu, tangan, atau benda lain yang mengakibatkan kematian. Menurut Syafi’iyah, pembunuhan menyerupai sengaja adalah suatu perbuatan dimana pelaku sengaja dalam perbuatan, tetapi keliru dalam membunuh. Sedangkan menurut Hanabilah, pembunuhan menyerupai sengaja adalah sengaja dalam melakukan perbuatan yang dilarang, dengan alat yang pada galibnya tidak akan mematikan, namun kenyataannya korban mati karenanya.

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan pembunuhan menyerupai sengaja yaitu perbuatan sengaja dilakukan oleh seseorang dengan memukul korban tanpa adanya niat untuk membunuh, akan tetapi perbuatannya mengakibatkan kematian. Adapun alat yang pada umumnya tidak akan mematikan seperti tongkat, ranting kayu, batu kerikil, atau sapu lidi.

Dalam pembunuhan menyerupai sengaja ini, ada 2 (dua) macam unsur yang berlainan, yaitu kesengajaan di suatu sisi dan kesalahan disisi lain. perbuatan si pelaku untuk memukul si korban adalah sengaja, namun akibat yang dihasilkan dari perbuatan tersebut sama sekali tidak diinginkan.

Adapun unsur-unsur dalam pembunuhan menyerupai sengaja yaitu: 1. Adanya perbuatan dari pelaku yang mengakibatkan kematian.

2. Adanya kesengajaan dalam melakukan perbuatan, tetapi tidak adanya niat untuk membunuh.

3. Kematian adalah akibat perbuatan pelaku.17

16 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. 141

22

Dalil hadits tentang pembunuhan menyerupai sengaja diriwayatkan Abu Daud:18

دبع نع

الله

نب

نا ورمع

لوس ر

ملسو هيلع الله يلص الله

اطخلا ةيد نا لا ا :

ا ام اصعلاو طوسلاب ناك ام دمعلا هبيش

ةَئ

لاا نم

لِب

نوطب يف نوعب را اهنم

اهدلاوا

Abdulllah bin Amr Radiyallahu annhu dari Rasulullah SAW bersabda:

“ketahuilah bahwa diyat pembunuhan mirip dengan sengaja, yaitu dilakukan dengan cambuk atau tongkat adalah seratus ekor unta”.

3. Pembunuhan Karena Kesalahan (al-qathlu khatha’)

Adalah pembunuhan yang terjadi dengan tanpa adanya maksud penganiayaan, baik dilihat dari perbuatan maupun orangnya. Contohnya seseorang melakukan penebangan pohon yang kemudian pohon yang ditebang itu tiba-tiba tumbang dan menimpa orang yang lewat lalu meninggal dunia.19

Adapun unsur-unsur pembunuhan karena kesalahan yaitu: 1. Adanya perbuatan yang menyebabkan kematian korban.

2. Perbuatan tersebut terjadinya karena kesalahan atau ketidaksengajaan pelaku.

3. Adanya perbuatan kesalahan dan kematian korban terdapat sebab akibat.20

18 Abu Daud, Hadist Sunan Abu Daud, (Lembaga Ilmu Dakwah Publikasi Sarana Keagamaan (Lidwa Pusaka), 1436 H), h. 3941.

19 Haliman, Hukum Pidana Syariat Islam Menurut Ahlus Sunnah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), cet. 1, h. 152-153.

Dalil tentang hal ini yaitu didasarkan kepada firman Allah dalam Al-Quran Surat An-Nisa'ayat 92:23

ٍةَنِم ْؤُم ٍةَبَق َر ُري ِرْحَتَف ًأَطَخ اًنِم ْؤُم َلَتَق ْنَم َو ۚ ًأَطَخ َّلَِإ اًنِمْؤُم َلُتْقَي ْنَأ ٍنِمْؤُمِل َناَك اَم َو

ْحَتَف ن ِم ْؤُم َوُه َو ْمُكَل ٍ وُدَع ٍم ْوَق ْنِم َناَك ْنِإَف ۚ اوُقَّدَّصَي ْنَأ َّلَِإ ِهِلْهَأ َٰىَلِإ ةَمَّلَسُم ةَيِد َو

ُري ِر

ِرْحَت َو ِهِلْهَأ َٰىَلِإ ةَمَّلَسُم ةَيِدَف قاَثيِم ْمُهَنْيَب َو ْمُكَنْيَب ٍم ْوَق ْنِم َناَك ْنِإ َو ۖ ٍةَنِمْؤُم ٍةَبَق َر

ُري

ًميِلَع ُ َّاللَّ َناَك َو ۗ ِ َّاللَّ َنِم ًةَب ْوَت ِنْيَعِباَتَتُم ِنْي َرْهَش ُماَي ِصَف ْد ِجَي ْمَل ْنَمَف ۖ ٍةَنِمْؤُم ٍةَبَق َر

ا

اًميِكَح

Artinya: “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang

mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklahia (sipembunuh) berpuasa dua bulanberturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisa-4: 92).

Adapun hukuman bagi pembunuhan karena kesalahan bedasarkan ayat di atas adalah sama dengan pembunuhan menyerupai sengaja. Maksudnya diyat untuk pembunuhan menyerupai sengaja dan karena kesalahan adalah sama, karena sama-sama tidak dikenakan qishash.

Kekeliruan dalam pembunuhan karena kesalahan ada dua macam, yaitu: 1. Pembunuhan karena kekeliruan semata-mata

2. Pembunuhan yang disamakan/dikategorikan dengan kekeliruan

Pembunuhan karena kekeliruan semata-mata adalah suatu pembunuhan dimana pelaku sengaja melakukan suatu perbuatan dan tidak menghendaki 23Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung:

24

perbuatannya. Sedangkan pembunuhan yang dikategorikan kepada kekeliruan adalah suatu pembunuhan dimana pelaku tidak mempunyai maksud untuk melakukan perbuatan dan tidak menghendaki akibatnya.24

Para Fuqaha memberikan alasan tentang sanksi atas pembunuhan karena kesalahan. Berkenaan dengan masalah ini, mereka menetapkan dua prinsip:25

1. Setiap perbuatan yang menimbulkan kerugian kepada orang lain dikenakan pertanggungjawaban atas pelakunya apabila kerugian tersebut dapat dihindari dengan jalan hati-hati dan tidak lalai. Apabila kerugian tersebut tidak dapat dihindari secara mutlak, pelaku perbuatan itu tidak dibebani pertanggug jawaban.

2. Segala perbuatan yang tidak di izinkan oleh syara’ dan perbuatan itu dilakukan tanpa darurat yang mendesak, maka pelakunya dianggap melakukan kesengajaan dan harus mempertanggung jawabkan akibat, baik akibat tersebut mungkin bisa dihindari atau tidak.

Mengenai perbuatan-perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana pembunuhan yaitu:26

a. Pembunuhan dengan muhaddad, yaitu seperti alat tajam, melukai, dan menusuk badan yang dapat mencabik-cabik anggota badan. Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa alat yang digunakan dalam pembunuhan sengaja haruslah alat yang dapat melukai (tajam) seperti pisau, pedang, panah, tombak kayu, dan lain-lain yang dapat menghilangkan nyawa tanpa adanya keraguan.

b. Pembunuhan dengan musaqqal, yaitu alat yang tidak tajam, seperti tongkat dan batu. Mengenai alat ini fuqaha berbeda pendapat apakah termasuk pembunuhan sengaja yang mewajibkan qishash atau syibh amd yang sengaja mewajibkan diyat.

24Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. 144.

25A. Djazuli, Fiqih Jinayah, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1997), h.133-134.

26Fuad Tohari, Hadis Ahkam: Kajian Hadis-Hadis Hukum Pidana Islam (Hudud, Qishash,

c. Pembunuhan secara langsung, yaitu pelaku melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya orang lain secara langsung (tanpa perantaraan), seperti menyembelih dengan pisau, menembak dengan pistol, dan lain-lain.

d. Pembunuhan secara tidak langsung (dengan melakukan sebab-sebab yang dapat mematikan), artinya dengan melakukan suatu perbuatan yang pada hakikatnya tidak mematikan tetapi dapat menjadikan perantara atau sebab kematian.

Adapun sebab-sebab yang mematikan itu ada tiga macam yaitu: 1. Sebab hissiy (perasaan/psikis) seperti paksaan untuk membunuh. 2. Sebab syari’i, seperti persaksian palsu yang membuat terdakwa

terbunuh, keputusan hakim untuk membuat seseorang yang diadilinya dengan kebohongan atau kelicikan (bukan karena keadilan) untuk menganiaya secara sengaja.

3. Sebab urfiy, seperti menyuguhkan makanan beracun terhadap orang lain yang sedang makan atau menggali sumur dan menutupinya sehingga ada orang terpelosok dan mati.

e. pembunuhan dengan cara menjatuhkan ke tempat yang membinasakan, seperti dengan melemparkan atau memasukan ke kandang srigala.

f. Pembunuhan dengan cara meninggalkan atau menahanya tanpa member makan dan minum.

g. Pembunuhan dengan cara menenggelamkan dan membakar. h. Pembunuhan dengan cara mencekik.

i. pembunuhan dengan cara menakutnakuti atau mengintimidasi.

Dokumen terkait