Dalam perkembangannya, Museum Nasional Jakarta mengalami beberapa hambatan atau kendala. Untuk mengatasi hambatan tersebut perlu pemecahan masalah atau solusi. Solusi untuk menjawab semua hambatan agar tidak menganggu aktivitas dalam pekembangan Museum Nasional Jakarta agar dapat menarik wisatawan lebih banyak untuk berkunjung ke museum. Solusi tersebut antara lain :
1. Masyarakat
Kendala tersebut dapat diselesaikan dengan kegiatan yang inovatif dan kreatif, agar masyarakat mengapresiasi museum. Di samping itu perlu dilakukan kajian pengunjung seperti kotak kritik dan saran pengunjung untuk mengetahui ekspektasi masyarakat terhadap museum. Sasaran pembinaan dan pengembangan permuseuman di Indonesia menargetkan peningkatan fungsi dan peran seluruh komponen yang mendukung tugas-tugas museum sebagai lembaga tempat studi, pendidikan, dan rekreasi.
Masyarakat sendiri semakin lama sudah dapat menilai bahwa museum merupakan suatu lembaga yang bertujuan melestarikan benda-benda bersejarah yang ada. Lewat museum masyarakat dapat belajar serta berekreasi. Terutama untuk kegiatan yang sering diadakan museum dapat menambah kunjungan wisatawan yang datang untuk berpartisipasi mengikuti kegiatan yang ada dimuseum.
(Wawancara dengan Maltha selaku wisatawan 1 Juni 2016)
2. SDM Permuseuman
Manajemen yang belum optimal, dapat diatasi melalui pelatihan dibidang permuseuman baik melalui pelatihan dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan cara memberikan para siswa-siswi atau mahasiswa-mahasiswi melakukan praktek kerja dimuseum, agar dapat belajar tentang museum serta koleksinya yang ada di Museum Nasional Jakarta, serta memberikan beasiswa pendidikan untuk Spesialis Keahlian Museum kepada anak-anak Indonesia yang ingin melestarikan budaya Indonesia lewat Museum.
Kerjasama antara lembaga pendidikan yang ada khususnya dibidang ahli permuseuman sangat perlu dioptimalkan untuk kelanjutan pengembangan museum dimasa depan. Dengan begitu semakin banyak Sumber Daya Manusia yang berkualitas dapat bekerja dimuseum.
3. Fisik Bangunan
Upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan tindakan perawatan khusus untuk bangunan museum tersebut, disamping itu dilakukan perluasan dalam rangka pengembangan museum. Untuk gedung museum yang baru dan akan didirikan perlu diadakan pendekatan dengan berbagai pihak untuk memperoleh kemudahan memperoleh areal tanah yang memenuhi persyaratan museum.
Melihat kekuatan dari Museum Nasional, yaitu, berskala nasional, berada di pusat kota (Jakarta), memiliki koleksi sekitar
141.899 benda, memiliki berbagai kegiatan kebudayaan untuk memajukan masyarakat, maka kekurangan ruangan untuk menyimpan benda koleksi dapat diatasi melalui pembangunan gedung dengan usulan kepada pemerintah pusat melalui APBN. Pada saat ini sedang Museum Nasional Jakarta sedang berproses membangun gedung C untuk menambah penempatan koleksi pameran. (Wawancara dengan Oting Rudy selaku Kepala Seksi Promosi 1 Juni 2016)
4. Promosi
Menumbuhkan kembali minat wisatawan untuk belajar mengenal peninggalan–peninggalan sejarah ilmu pengetahuan dan budaya, salah satunya dengan mengunjungi Museum Nasional Jakarta.
Melalui pendekatan promosi ke daerah-daerah seluruh Indonesia maupun ke setiap sekolah atau instansi pemerintah.
Dengan melakukan kegiatan museum keliling, kegiatan yang bersifat kebudayaan seperti berlatih gamelan maupun tari tradisional dapat menambah minat wisatawan untuk belajar dan berkunjung ke museum. Sehingga masyarakat dapat berfikir museum tidak hanya sebagai tempat penyimpanan benda kuno, namun sebagai sarana edukasi dan rekreasi yang dapat menambah pengetahuan. (Wawancara dengan Oting Rudy selaku Kepala Seksi Promosi 1 Juni 2016)
5. Peraturan Daerah
Bekerjasama dengan pemerintah, khususnya untuk perda yang melarang kendaraan bermotor lewat di depan Jl. Merdeka Barat, Pasal 71 PP 32/2011 dan Pasal 78 ayat (2) huruf h Peraturan Daerah Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi (“Perda 5/2014”) yang sangat merugikan museum, karena sebagian wisatawan yang berkunjung merupakan pelajar yang menggunakan sepeda motor.
Perda harus mampu mendukung setiap aspek, baik secara ekonomi sosial maupun budaya tidak terkecuali mendukung pariwisata nasional. Pengelola museum juga dapat berpartisipasi memberikan petujuk arahan kepada wisatawan agar dapat mengetahui letak lokasi parkir yang ada. (Wawancara dengan Okta selaku wisatawan)
6. Sumber Dana
Upaya untuk mengatasi kendala ini adalah setiap museum dapat memasarkan dirinya untuk mencari sponsor dan donatur. Dengan bekerjasama pada organisasi swasta yang melibatkan museum sebagai medianya. Oleh karenanya museum-museum di Indonesia harus berusaha mencapai terobosan-terobosan yang kreatif.
Perubahan paradigma dan perkembangan peran edukasi membuat museum menyadari pentingnya untuk memberi perhatian terhadap apa yang menjadi kebutuhan pengunjung museum saat ini, dan masyarakat yang berpotensi menjadi pengunjung museum mereka. Oleh karena itu museum kemudian memasukkan metode dan strategi pemasaran ke dalam pengelolaan museumnya. Strategi pemasaran museum saat ini dianggap dapat menjadi salah satu jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh museum berkaitan dengan upaya membuka akses kepada masyarakat luas untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman di museum, sekaligus memenuhi kebutuhan pengunjung.
Dalam pemasaran museum, ada tiga langkah yang mempengaruhi pembuatan strategi pemasaran, yaitu segmentasi (segmentation), penentuan pasar sasaran (targeting) dan posisi produk dalam benak konsumen (positioning).
Namun, karena museum merupakan lembaga yang menawarkan layanan jasa kepada masyarakat, maka pendekatan dan strategi pemasaran yang dapat diterapkan oleh museum adalah pemasaran jasa (marketing service). Layanan jasa museum memiliki karakteristik tersendiri, yang menjadi ukuran sebuah pelayanan di museum. Karakteristik ini akan diintegrasikan ke dalam teori pemasaran museum, yaitu konsep bauran pemasaran (marketing mix) untuk menentukan strategi pemasaran yang tepat bagi sebuah museum. (http://www.academia.edu/
diakses 16 Juli pukul 18.00)
Tantangan yang dihadapi untuk membuat museum yang hidup, apalagi masyarakat dengan lingkungannya memang tidaklah mudah, tetapi tetap harus dilakukan usaha yang maksimal. Penghayatan tentang dasar serta tujuan penyelenggaraan dan pengelolaan museum tentu harus diperhatikan dan dipahami secara komprehensif dengan implementasi sikap yang diorientasikan pada kepentingan public, pemahaman dan karakteristik sosial budaya daerah, dan terus up to date dengan seluruh hal yang aktual bagi masyarakat dan lingkungannya serta kajian yang serius dan terus menerus terhadap museum. Hal ini tentu berkait dengan pokok permuseuman, di mana pengelola dan penyelenggaran museum tak lepas dengan museum itu sendiri, museum terkait dengan koleksi, dan koleksi dinikmati oleh publik. Dengan demikian, yang tidak boleh dilupakan dan perlu segera diwujudkan adalah membentuk leadership dalam permuseuman. (Moh.
Amir Sutaarga : 1997/1998)