3.4 Metode Pelaksanaan
3.4.2 Pemeliharaan Induk Aklimatisasi
Aklimatisasi induk merupakan proses penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungan yang baru, yang dilakukan ketika induk tiba di lokasi pembenihan serta mengurangi stres selama pengangkutan. Aklimatisasi yang dilakukan di lokasi pembenihan membutuhkan waktu selama 7-12 hari sebelum dilakukan ablasi. Induk yang baru datang ditempatkan di dalam bak yang sekaligus digunakan untuk pematangan gonad dengan padat tebar 14 ekor/m2 atau 250 ekor induk per bak untuk jantan dan 300 ekor per bak untuk betina. Selama proses aklimatisasi (7 hari) jumlah induk mati sebanyak 48 ekor dari 300 ekor dengan persentase kematian 16%. Kematian bisa disebabkan karena kondisi induk yang lemah dan cara penanganan pengelolaan.
Pakan yang diberikan berupa pelet dengan dosis 3-5% dari biomass pada pukul 06.30, 11.00, 16.00 WIB dan khusus tiram 35% dari biomass pukul 21.00 WIB. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurdjana et al, (1986) yang menyatakan bahwa untuk proses adaptasi dalam jangka waktu yang lebih lama, kepadatan harus dikurangi dan harus diberi makan. Proses penyesuaian lingkungan dilakukan secara perlahan-lahanakan memberikan hasil yang lebih memuaskan.
Manajemen Kualitas Air
Adapun parameter, alat, waktu pengukuran dan cara pemantauan, kualitas air di sajikan pada Tabel. 4
No Parameter Alat dan Spesifikasi Waktu pengukuran
Cara pemakian
1 Suhu Thermometer 06.00 17.00 insitu
2 Salinitas Refraktometer 3 kali seminggu
Cara pemberian pakan yang merata dapat menghindari terjadinya kompetisi dalam mendapatkan makanan. Apabila kompetisi dapat dihindari, maka sifat kanibalisme akan semakin dapat dikendalikan. Keadaan kompetitif akan semakin tajam dan mencolok apabila ukuran udang sangat bervariasi.
Tabel 5. Frekuensi pemberian pakan : NO Jenis Pakan Frekuensi
Presentase pemberian pakan yaitu pakan cacing 80%, pakan cumi-cumi 20%, . pada pemberian pakan masing-masing dua kali sehari.
Adapun pakan cumi-cumi dan cacing laut yang telah disiapkan, dapat dilihat pada Gambar 5.
A B
Gambar 5. Pakan Induk Udang Vaname Cumi-cumi (A) Cacing (B) .
Selain itu sebagai suplemen, pakan diberikan multivitamin dengan merk New BK 505 Shrimp Formula. Jenis vitamin yang digunakandi lokasi praktik dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Multivitamin
Pemberian vitamin cukup diberikan pada pakan cumi-cumi saja karena cacing sudah memiliki kandungan yang cukup baik sehingga tidak perlu ditambahkan suplemen tambahan tersebut. Selain itu juga cacing banyak mengeluarkan mocus atau lendir, sehingga sulit dalam penyerapan vitamin.
Pemberian multivitamin BK Shrimp Formula bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh udang karena kandungan vitaminnya yang kompleks. Hal ini sesuai dengan pendapat Felix & Perez (2002), yang menyatakan bahwa pakan yang diberikan harus banyak mengandung protein dan mempunyai kandungan lemak
yang cukup serta mengandung vitamin. Kandungan protein, lemak dan vitamin dapat menjaga daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.
Manajemen Induk
Kematangan gonad
Proses perkawinan diawali dengan sampling tingkat kematangan gonad antara lain dengan mencari induk yang sudah matang telur yang dicirikan dengan bagian punggung induk udang vaname berwarna coklat keemasan dan penuh di bagian punggungnya. Adapun ciri-ciri induk betina yang matang gonad dapat dilihat pada gambar 7.
Gambar 7. Induk Betina Udang Vaname dengan Tingkat Kematangan Gonad III.
Sampling dilakukan kembali, induk betina yang berhasil kawin ditandai dengan adanya spermatopod berwarna putih yang menempel pada thellycum.
Induk yang diambil secara acak di dalam bak dengan menggunakan seser.
Ablasi
Teknik ablasi yang digunakan yaitu pemotongan tangkai mata dengan menggunakan gunting yang dipanaskan dengan kompor. Prosedur yang dilakukan saat induk udang diablasi adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan peralatan ablasi seperti gunting arteri, karet, tabung gas mini kompor dan seser.
2. Menangkap induk yang akan diablasi dengan seser, selanjutnya mata udang ditambatkan dengan karet gelang kemudian melakukan pemotongan salah satu tangkai mata dengan gunting yang telah dipanasi dengan kompor.
3. Memasukkan induk kembali ke bak pemeliharaan induk.
Adapun gambar ilmiah ablasi dapat dilihat pada gambar 8.
Gambar 8. Pemotongan Tangkai Mata atau Ablasi Peneluran dan penetasan telur
Induk udang vaname biasanya melepaskan telurnya pada tengah malam sampai dini hari.Telur keluar setelah 2-3 jam setelah induk betina dimasukkan ke dalam bak penetasan yaitu sekitar pukul 22.00 WIB malam hari dan menetas
seluruhnya setelah 16-17 jam. Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah el al, (2006) yang menyatakan telur akan menetas 16-18 jam dari
pemijahan dan dipanen keesokan harinya.
Pada pagi hari dilakukan pengecekan telur udang vaname.Induk udang betina yang telah melepaskan semua telurnya, ditandai dengan ovari induk yang kosong dan terlihatnya plasenta pada dinding bak atau mengapung pada permukaan air, serta bagian punggung terlihat kosong atau transparan.Induk yang telah memijah dikembalikan pada bak pemeliharaan induk agar tidak mengganggu telur-telur yang ada di dalam bak peneluran. Telur didalam bak peneluran diberi aerasi merata dan dibersihkan dari kotoran dan lendir-lendir yang tertinggal serta menempel di dinding bak dengan kain halus ataupun dengan menggunakan filter mad.
Pengadukan telur selain dengan bantuan aearasi juga dilakukan dengan cara manual (menggunakan tangan) yaitu dengan menggunakan pipa yang telah dimodifikasi sebagai pengaduk. Frekuensi pengadukan adalah setengah jam sekali. Fungsi pengadukan agar telur tersebut tetap melayang dipermukaan air, karena jika tidak diaduk telur akan mengendap didasar bak dan akan terserang jamur yang menyebabkan telur tidak menetas dan mati. Pengadukan telur dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Pengadukan Telur
Telur yang telah menetas ditandai dengan adanya naupli yang melayang dipermukaan air pada saat aerasi di matikan. Sedangkan telur yang tidak menetas atau lemah mengendap di dasar bak. Jumlah telur yang dapat dihasilkan oleh seekor induk udang betina tergantung pada ukuran badannya dan usianya.Fekunditas rata-rata yang dihasilkan setiap induk selama praktek adalah berkisar 150-180 ribu telur. Makin besar induk kemungkinan makin banyak telur yang akan dikeluarkan. Menurut Wyban dan Sweeney (1991), bahwa 1 induk udang putih (Litopenaeus vannamei) biasanya menghasilkan 100-200 ribu telur.
3.4 Parameter yang diamati dan Analisa Data