• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.9. Pemeliharaan Tikus Wistar

Tikus dipelihara dalam kandang berukuran 30 x 20 x 10cm, yang dilapisi sekam padi 1-2cm serta ditutup dengan kawat ayam. Kandang dibersihkan dan sekam padi ditukar 2 hari sekali untuk mencegah infeksi yang dapat terjadi akibat kotoran tikus tersebut. Kandang ditempatkan dalam suhu kamar dan cahaya menggunakan sinar matahari tidak langsung. Makanan tikus Wistar diberikan berupa pellet. Makanan dan minuman diberikan secukupnya dalam wadah terpisah dan diganti setiap hari. Setiap minggu dilakukan pengukuran berat badan tikus.

3.10. Persiapan Hewan Percobaan

Masing-masing kelompok hewan percobaan dipersiapkan dalam kandang yang terpisah. Tikus Wistar dipilih dan dipisahkan secara random dalam keadaan baik, disiapkan untuk beradaptasi selama 1 minggu sebelum dilakukan penelitian. Sebelum perlakuan, terhadap setiap tikus ditimbang berat badannya dan diamati kesehatannya secara fisik (gerakannya, berat badan, makan dan minum). Jika ada tikus yang sakit pada saat adaptasi ini, maka diganti dengan tikus yang baru dengan kriteria yang sama dan diambil secara acak.

3.11. Prosedur Kerja

Dua puluh lima ekor tikus betina strain Wistar dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol positif pertama (K1), kontrol positif kedua (K2), perlakuan 1 (P1), perlakuan 2 (P2) dan perlakuan 3 (P3). Masing-masing kelompok terdiri dari 5 tikus Wistar, kemudian dikandangkan sesuai kelompok dan pada tiap tikus diberi penomoran dengan memberi tanda pada telinga tiap tikus. Masing-masing kelompok diberi perlakuan seperti pada kerangka operasional.

3.11.1. Induksi sel kanker payudara tikus Wistar

Sel kanker payudara tikus Wistar diinduki oleh benzo(α)pyrene dosis 0.3mg/20gBB dalam oleum olivarium diberikan secara sub kutan dengan volume pemberian 0,1ml/20grBB selama 10 hari.12 Setelah muncul kanker (1-3 minggu), dilakukan inokulasi sel kanker payudara pada payudara tikus resipien, kemudian diamati timbulnya massa tumor pada payudara tikus resipien dengan cara palpasi (3 minggu). 3.11.2. Prosedur transplantasi (inokulasi) tumor

a. Tikus donor dimatikan dengan dekapitasi servikalis, kemudian diletakkan terlentang pada tatakan/alas fiksasi dan keempat kakinya difiksasi dengan jarum. b. Kulit dibagian yang bertumor diusap dengan alkohol 70%, kemudian dibuat

sayatan dengan gunting lurus, untuk mengeluarkan tumor.

c. Tumor diletakkan di cawan petri kecil yang telah terlebih dahulu dicuci dengan larutan garam fisiologis dan diletakkan di atas es.

d. Amati bentuk dan keadaan tumor, kemudian ambil/potong jaringan tumor yang masih baik yaitu bagian yang tanpa nekrosis (biasanya di daerah tepi jika tumor besar) sebanyak kira-kira yang dapat menghasilkan bubur tumor paling sedikit 1

ml dan taruh dicawan petri kecil lainnya. Bersihkan dari jaringan ikat (simpai), jaringan nekrotik dan darah, kemudian cacah/potong-potong sampai halus dengan gunting hingga akhirnya terbentuk “bubur tumor” yang partikelnya dapat melewati jarum trokar. Tambahkan garam fisiologis lebih kurang sama banyak dengan volume tumor.

e. Bubur tumor disuntikkan sub kutan di payudara tikus dengan dosis 0.2ml menggunakan spuit insulin dengan ketepatan 10-1.

f. Sisa tumor yang padat dimasukkan ke dalam botol formalin untuk dibuat sediaan mikroskopik.

g. Masing-masing mencit diberi nomor di telinganya dan dimasukkan ke dalam kandang berbeda yang diberi label berisi: jenis kelompok perlakuan, tanggal transplantasi.

3.11.3. Pengamatan morfologi benjolan, perubahan berat badan tikus

Pengamatan dilakukan dengan menghitung volume benjolan yang terjadi di payudara tikus. Benjolan yang terbentuk diukur luas dan tingginya. Luas benjolan diukur dengan jangka sorong sedangkan tinggi benjolan ditentukan dengan bantuan pengaris/rol. Kemudian ditentukan volume benjolan dengan memakai rumus kerucut. Volume benjolan = 1/3 luas benjolan x tinggi benjolan

Sedangkan perubahan berat badan ditentukan dengan menimbang berat badan tikus sekali dalam 1 minggu.

3.11.4. Pembuatan ekstrak benalu teh (Scurrulla atropurpurea)

Pembuatan ekstrak benalu teh (Scurrulla atropurpurea) yang dimaksud adalah ekstrak daun dan batang Scurrulla atropurpurea yang berasal dari gunung Pangrango (Bogor) yang dikeringkan dengan panas matahari dan kemudian dibuat ekstrak dengan dosis 1.5g/kgBB dan 3g/kgBB, sesuai prosedur standar laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan. Suspensi ekstrak benalu teh dibuat per 3 hari, dengan menggunakan pelarut carboxyl methyl celulosa (CMC) dengan konsentrasi 0.5% yang ditambahkan aquadest sampai volume yang telah ditentukan. Suspensi yang dihasilkan berupa larutan kental bewarna kehitaman. 3.11.5. Prosedur pembuatan preparat histopatologi

a. Fiksasi

Potongan kanker dimasukkan dalam larutan formalin buffer (larutan formalin 10% dalam buffer Natrium asetat sampai mencapai pH 7. Waktu fiksasi jaringan 18-24 jam. Setelah fiksasi selesai, jaringan dimasukkan dalam larutan aquadest selama 1 jam untuk proses penghilangan larutan fiksasi.

b. Dehidrasi

Potongan kanker dimasukkan dalam alkohol konsentrasi bertingkat. Jaringan menjadi lebih jernih dan transparan. Jaringan kemudian dimasukkan dalam alkohol-xylol selama 1 jam dan kemudian larutan xylol murni selama 2x2 jam.

c. Impregnasi

Jaringan dimasukkan dalam paraffin cair selama 2x2 jam. c. Embedding

Jaringan ditanam dalam paraffin padat yang mempunyai titik lebur 56-58oC, ditunggu sampai parafin dipotong setebal 4 mikron dengan mikrotom. Potongan jaringan ditempelkan pada kaca objek yang sebelumnya telah diolesi polilisin sebagai perekat. Jaringan pada kaca objek dipanakan dalam inkubator suhu 56-58oC sampai parafin mencair.

d. Pewarnaan jaringan dengan Hematoksilin-Eosin

Secara berurutan jaringan pada kaca objek dimasukkan dalam :

1 Xylol 1 menit 9 Air 1 menit

2 Xylol 2 menit 10 Eosin 0,5%-alkohol- asam asetat

1 menit

3 Xylol 2 menit 11 Air 15 detik

4 Alkohol 100% 2 menit 12 Alkohol 80% 15 detik 5 Alkohol 96% 2 menit 13 Alkohol 96% 30 detik 6 Alkohol 80% 2 menit 14 Alkohol 100% 45 detik

7 Air 1 menit 15 Xylol 1 menit

8 Haematoksilin 7,5 menit 16 Xylol 1 menit 3.11.6. Prosedur imunohistokimia

Sampel blok parafin yang sudah dipotong tipis (4 µm) ditempelkan pada kaca objek. Pada pulasan imunohistokimia Ki-67 digunakan kaca objek yang telah di-coating dengan poly-L-lysine atau Silanized slide agar jaringan dapat menempel pada kaca objek selama proses pulasan imunohistokimia. Prosedur pulasan immunohistokimia KI67 sesuai protokol Dako:

1. Siapkan preparat berupa potongan tipis jaringan 4 µm yang sudah ditempelkan pada kaca objek silanized.

2. Preparat dimasukkan dalam inkubator 1 malam, suhu 37⁰C.

3. Deparafinisasi dengan meletakkan slide di hot-plate selama 60 menit, kemudian mencelupkan slide ke dalam cairan xylol sebanyak 3 kali, masing-masing 5 menit.

4. Rehidrasi dengan cara mencelupkan secara berurutan dalam etanol 98% sebanyak 3 kali, masing-masing selama 5 menit, kemudian alkohol 90%, 80% dan 70% masing-masing selama 5 menit.

5. Bilas dengan air mengalir selama 5 menit. 6. Berikan antigen retrieval

7. Bilas dengan air selama 2-3 menit.

8. Netralisasi peroksidase endogen menggunakan peroxidase block selama 5 menit. 9. Bilas dengan TBS selama 2 x 5 menit.

10.Inkubasi dengan protein block selama 5 menit. 11.Bilas dengan TBS selama 2 x 5 menit.

12.Inkubasi dengan antibodi primer yang telah didilusi secara optimal selama 60 menit.

13.Bilas dengan TBS selama 2 x 5 menit.

14.Inkubasi dengan post primary block selama 30 menit. 15.Bilas dengan TBS selama 2 x 5 menit.

16.Inkubasi dengan Novolink Polymer selama 30 menit.

17.Bilas dengan TBS selama 2 x 5 menit dengan kocokan lembut. 18.Amati aktivitas peroksidase dengan DAB working solution. 19.Bilas slide dengan air mengalir.

20.Beri counterstain hematoksilin

21.Bilas slide dengan air mengalir selama 5 menit 22.Dehidrasi dengan alkohol kemudian bersihkan

3.12. Analisis Data

Data yang diperoleh dari semua kelompok sampel diolah dengan program komputer SPSS 13.0. dilakukan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis, dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney.40,41

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL PENELITIAN

4.1.1. Induksi Kanker Payudara dengan Benzo(α)piren pada Tikus Donor

Tikus donor yang telah diinduksi dengan benzo(α)piren selama 32 hari, diterminasi dan diambil massa yang tumbuh di daerah payudaranya. Kemudian dijadikan bubur tumor dan diperiksa sitologinya dengan pewarnaan Giemsa. Pada pemeriksaan sitologi, didapati gambaran apusan berupa kelompokan sel-sel yang atipik dengan kohesi yang longgar. Sel berbentuk pleomorfik, membran inti sebagian ireguler, kromatin kasar, sitoplasma sedikit eosinofilik (Gambar 4.1).

Gambar. 4.1. Induksi benzoalphapyrene pada tikus donor A. Bubur tumor tikus donor B. C. Sitologi sel-sel tumor payudara yang diinduksi dengan benzo(α)pyrene tampak kelompokan sel dengan kohesi yang longgar D. Sel dengan membran inti ireguler. (Giemsa 400x).

A B

4.1.2. Rata-rata perubahan berat badan tikus selama penelitian.

Pertambahan berat badan tikus pada kelompok perlakuan menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kelompok kontrol, baik pada kelompok perlakuan dalam waktu 3 minggu maupun 6 minggu. Ini bisa dilihat pada rata-rata pertambahan berat badan tikus pada tabel 4.1. di bawah ini.

Tabel 4.1. Rata-rata pertambahan berat badan tikus dalam tiap kelompok

Kelompok Lama perlakuan

(minggu)

Total pertambahan berat badan (gr)

Persentase (%) pertambahan berat badan

K1 3 17,8 11,50

P1 3 19,8 14,27

K2 6 14 10,25

P2 6 23,2 15,74

P3 6 21,8 15,01

4.1.3. Makroskopis massa di payudara tikus

Setelah tikus diterminasi, kemudian diperiksa massa pada daerah payudaranya. Pengamatan visual dilakukan namun karena gambaran makroskopisnya hampir sama, maka tidak dijadikan sebagai suatu variabel yang diamati (Gambar 4.2). Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada massa yaitu berupa pengukuran berat massa pada payudara yang bisa diamati pada tabel 4.2.

Gambar 4.2. A. Massa di payudara tikus B. Massa yang sudah diangkat.

Tabel 4.2. Berat massa pada payudara tikus dan reratanya

Kelompok Kode

Sampel

Berat massa (g) Rerata berat massa pada tiap kelompok (g) K1-M1 1.37 K1-M2 3.09 K1 K1-M3 0.76 1,148 K1-H1 0.10 K1-H2 0.42 P1-M1 0.22 P1-M2 0.55 P1 P1-M3 0.09 0,316 P1-H1 0.38 P1-H2 0.34 K2-M1 0.68 K2-M2 0.26 K2 K2-H1 0.37 0,384 K2-H2 0.29 K2-H3 0.32 P2-M1 0.31 P2-M2 0.21 P2 P2-M3 0.64 0,358 P2-M4 0.26 P2-H3 0.37 P3-M1 0.32 P3-M2 0.15 P3 P3-M3 0.24 0,202 P3-H1 0.14 P3-H3 0.16

Dari tabel di atas didapati bahwa rerata massa terbesar dijumpai pada kelompok kontrol pertama (K1), dimana tikus diinokulasikan kanker payudara terinduksi benzo(a)piren tanpa pemberian ekstrak benalu teh dan diterminasi pada minggu ke 3 dengan rata-rata sebesar 1,148g. Sedangkan rerata massa terkecil didapati pada kelompok perlakuan 3 (P3), dimana tikus diinokulasikan kanker payudara terinduksi benzo(a)piren setelah timbul massa tumor kemudian diberi ekstrak benalu teh dosis 3g/kgBB dan diterminasi pada minggu ke 6 dengan rata-rata sebesar 0,202g. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak ada

perbedaan yang signifikan rata-rata berat massa tumor pada semua kelompok perlakuan (p=0,68).

4.1.3. Histopatologi massa di payudara tikus

Gambaran histopatologi tumor payudara tikus secara umum memperlihatkan gambaran hiperplasia atipik.

Gambar 4.3. A.B.C.D. Gambaran mikroskopis tumor payudara tikus, tampak proliferasi sel- sel kelenjar, dengan sel-sel atipik, inti membesar, hiperkromatik, sitoplasma eosinofilik.

(HE,100x)

4.1.4 Ekspresi immunohistokimia Ki-67 pada tumor di payudara tikus.

Pada penelitian ini skor yang digunakan untuk menilai ekspresi Ki-67 adalah Ki-67 labelling index (indeks pelabelan Ki-67) dengan menggunakan mikroskop cahaya pembesaran 400x pada 5 lokasi lapangan pandang.

A B

Tabel 4.3. Ekspresi indeks pelabelan K1-67 pada tumor kelenjar payudara tikus

Kelompok

Indeks Pelabelan Ki-67 (jumlah, %)

Total (%)

0 Lemah Sedang Kuat

K1 - 4 (80) - 1 (20) 5 (100) P1 2 (40) 2 (40) - 1 (20) 5 (100) K2 1 (20) 3 (60) - 1 (20) 5 (100) P2 2 (40) 3 (60) - - 5 (100) P3 3 (60) 2 (40) - - 5 (100) Keterangan :

 0 : tidak ada ekspresi Ki-67 pada tumor payudara  Lemah : ekspresi Ki-67 ≤ 15% pada tumor payudara  Sedang : ekspresi Ki-67 16% - 30% pada tumor payudara  Kuat : ekspresi Ki-67 > 30% pada tumor payudara

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa terjadi perubahan ekspresi Ki-67 pada kelenjar tumor payudara tikus antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Umumnya terjadi penurunan ekspresi Ki-67 antara kelompok K1 dengan P1 maupun kelompok K2 dengan P2 dan P3 seperti tertera pada tabel di atas.

Gambaran histopatologi ekspresi Ki-67 pada kelenjar tumor payudara tikus baik pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan dapat dilihat pada gambar 4.4 di bawah ini.

Gambar 4.4. Ekspresi Ki-67 pada tumor payudara tikus A.B. Ekspresi Ki-67 > 30% pada K1 (40x dan 100x), C. Ekspresi Ki-67 ≤ 15% pada P1 (400x), D. Ekspresi Ki-67 >30% pada K2 (400x),

E. Ekspresi Ki-67 ≤ 15% pada P2 (100x) serta F. Ekspresi Ki-67 ≤ 15% pada P3 (40x).

4.2. PEMBAHASAN

4.2.1. Perubahan berat badan tikus selama penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berat badan tikus mengalami peningkatan seiring dengan lamanya perlakuan setelah diinokulasi dengan benzo(α)pyrene (tabel 4.1). Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan telah terjadi perubahan pada tikus

A B

C D

Wistar tersebut yaitu tumbuhnya massa tumor setelah diinokulasi dengan induksi benzoalphapyrene yang mengakibatkan pertambahan berat badan tikus Wistar secara keseluruhan.12

4.2.2. Kejadian timbulnya massa di payudara tikus

Tikus donor yang telah diinduksi dengan benzo(α)pyrene selama 32 hari, diterminasi dan diambil massa yang tumbuh di daerah payudaranya. Hal ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Juliyarsi & Melia pada mencit Mus musculus dimana sel kanker akan tumbuh antara 9-13 hari setelah terinduksi benzo(α)pyrene yang diberikan selama 10 hari secara sub kutan pada tengkuk dengan volume pemberian 0,1ml/20g BB mencit.12 Pada penelitian ini massa tumor lebih lama timbul dibandingkan dengan kepustakaan. Lamanya massa yang timbul dapat dikarenakan faktor immune surveillance tikus untuk eradikasi sel tumor. Menurut Scwann dan Mark, sistem imun memiliki tiga peran dalam menghambat tumor; pertama, sistem imun dapat melindungi host dari virus-induced tumors dengan cara mengeliminasi atau mensupresi infeksi virus; kedua, setelah eliminasi patogen dan inflamasi sembuh, lingkungan inflamasi diubah sehingga dapat mencegah tumorigenesis; dan ketiga, sistem imun dapat secara spesifik mengenali dan mengeliminasi sel tumor.42

4.2.3. Perubahan berat massa tumor

Dari tabel 4.2. menunjukkan terjadi penurunan berat massa tumor seiring dengan lamanya waktu pemberian ekstrak benalu teh. Hasil ini menunjukkan bahwa secara kasat mata ekstrak benalu teh mampu mengecilkan volume tumor. Pada literatur

disebutkan bahwa Scurrulla atropurpurea tidak secara cepat mematikan sel-sel tumor, tetapi dapat membantu mencegah meluasnya sel-sel tumor (Ohashi et al.), dan diantara senyawa aktif yang dikandung, terdapat dua senyawa yang menunjukkan efek hambatan terhadap invasi sel kanker yaitu senyawa Octadeca-8,10,12-triynoic acid dan senyawa Epigallocathecin-3-O-gallate.15 Penelitian lainnya menunjukkan bahwa suplementasi lignan selama tujuh minggu setelah 13 minggu induksi kanker, dapat menurunkan 50% volume tumor.18

4.2.4. Gambaran mikroskopis tumor payudara tikus

Secara keseluruhan massa tumor pada payudara tikus secara mikroskopis menunjukkan pola perubahan yang sama yaitu dijumpai proliferasi kelenjar dengan sel-sel yang atipik, inti membesar, sebagian hiperkromatik, dan sitoplasma eosinofilik. Pada sebagian kelompok dijumpai mitotik 2-4 mitotik/lpb. Namun peneliti tidak mengklasifikasikan grading kanker payudara sesuai dengan kriteria Richard-Bloom score dikarenakan tumor yang tumbuh pada kelompok perlakuan hanya menunjukkan proliferasi kelenjar dengan beberapa sel atipik, bukan menunjukkan keganasan (kanker) payudara.

4.2.5. Ekspresi Ki-67 pada tumor kelenjar payudara tikus.

Pada kelompok K1 (tabel 4.3) menunjukkan bahwa ekspresi Ki-67 pada tumor kelenjar payudara tikus tertampil dengan indeks yang bervariasi dimana 20% terekspresi kuat dan 80% terekspresi lemah. Terbukti bahwa terjadi aktifitas proliferasi tumor yang bermakna pada kelompok kontrol. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekspresi Ki-67 pada jaringan payudara normal atau pada epitel

normal yang berdekatan dengan fibroadenoma diekspresikan pada tingkat yang sangat rendah (<3% dari sel).43

Pada kelompok P1 yaitu pemberian ekstrak benalu teh dosis 1,5g/kgBB/ hari selama 3 minggu bersamaan dengan inokulasi kanker payudara (tabel 4.3) menunjukkan bahwa 20% terekspresi kuat, 40% terekspresi lemah dan 40% tak terwarnai dengan Ki-67. Hasil indeks pelabelan Ki-67 menunjukkan penurunan aktifitas proliferasi Ki- 67 dibandingkan dengan kelompok K1, meskipun secara statistik dengan menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,343). Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak benalu teh masih berperan sebagai penghambat aktivitas proliferasi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Sulistyo bahwasanya pemberian Scurrulla atropurpurea pada mencit dengan dosis 1,5g/kgBB/hari selama 3 minggu memberikan efek preventif terhadap karsinogenesis nasofaring pada mencit C3H.19

Pada tabel 4.3 juga menunjukkan terjadi penurunan ekspresi Ki-67 pada kelompok K2, P2 dan P3. Pada kelompok K2: 20% terekspresi kuat, 60% terekspresi lemah, 20% tidak terwarnai; kelompok P2: 60% terekspresi lemah, 40% tak terwarnai serta pada kelompok P3: 40% terekspresi lemah dan 60% tak terwarnai. Hal ini menunjukkan penurunan indeks pelabelan Ki-67 yang cukup berarti, meskipun analisis statistik dengan menggunakan uji Kruskal Wallis untuk menguji 3 kelompok (K2, P2 dan P3) menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,330). Penurunan indeks pelabelan Ki-67 lebih bermakna pada kelompok P3 daripada P2 jika dibandingkan dengan kelompok K2 (tabel 4.3). Dari hasil ini menunjukkan bahwa

ekstrak benalu teh juga berperan sebagai penghambat proliferasi Ki-67 jika diberikan setelah tumbuhnya massa tumor, dimana penurunan indeks proliferasi lebih baik jika diberikan dengan dosis tinggi (3g/kgBB/hari) daripada dosis rendah (1,5g/kgBB/hari). Hal ini sejalan dengan penelitian Sulistyo bahwasanya efek preventif Scurrulla atropurpurea lebih baik daripada efek kuratif jika diberikan dalam dosis yang sama.19

Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa Scurrulla atropurpurea berpotensi sebagai anti kanker, dimana potensi kemopreventif diperankan oleh lignan dan epigallocathecin-3-o-gallate. Modulasi Scurrulla atropurpurea terhadap respon imun telah diperlihatkan oleh penelitian Ohashi et al. yang membuktikan peran Octadeca- 8,10,12-triynoic acid yang terkandung dalam Scurrulla atropurpurea mampu menghambat invasi sel kanker sebesar 99,4% pada konsentrasi 10 mg/ml dari hasil uji bioaktivitas terhadap invasi sel kanker secara invitro.15 Kemampuan menghambat invasi sel kanker ini selain menghambat metastasis juga memungkinkan invasi sel ke jaringan sekitarnya terhambat, sehingga efek profilaksis Scurrulla atropurpurea lebih baik. Selenium berfungsi sebagai antioksidan bersama quercetin mampu menekan mutasi gen. Antioksidan akan melawan radikal bebas yang akan berpengaruh pada fungsi sel normal.30,34

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

1. Pemberian ekstrak daun dan batang Scurrulla atropurpurea per-oral dengan dosis 1,5g/kgBB/hari selama 3 minggu bersamaan dengan inokulasi kanker terinduksi benzoalphapyrene menunjukkan kecenderungan penurunan aktivitas proliferasi sel tumor payudara tikus, meskipun tak bermakna (p>0,05).

2. Efek inhibisi aktivitas proliferasi sel tumor dengan pemberian ekstrak daun dan batang Scurrulla atropurpurea jika diberikan setelah tumbuhnya massa tumor payudara tikus Wistar lebih baik jika diberikan pada dosis bertingkat (3g/kgBB/hari/oral) dibandingkan dengan dosis rendah (1,5g/kgBB/hari/oral).

5.2. SARAN

1. Penelitian in vitro atau kultur jaringan mungkin lebih baik digunakan untuk mencegah faktor immune surveillance host.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari dosis kuratif yang tepat, baik dengan dosis bertingkat maupun interval waktu yang lebih lama dengan mempertimbangkan dose-effect relationship terhadap Scurrulla atropurpurea.

DAFTAR RUJUKAN

1. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI, Badan Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis patologi Indonesia. Data Histopatologik.Yayasan Kanker Indonesia, 2001.

2. Jwrt, Stanley J. Breast cancer overview, incidence and prevalence .available from

http://www.oncologychannel.com/breastcancer/index.shtml:Des;2007

3. Mark JR, Humphrey PA, Wu K, et al. Overexpression of p53 and Her-2/neu proteins as prognostic markers in early stage breast cancer. Annals of Surgery. 1994;219:332-341.

4. Lester, Susan C. The breast. In : kumar V, Abbas AK, fausto N, editors. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. 7th edition. Elsevier;2005:1119-1151. 5. Cell cycle related proteins in hyperplasia of usual type in breast specimens of

patients with and without breast cancer : (cited 2011 jan 15). Available from : hhtp://www.biomedcentral.com/147-2121/7/29.

6. Schluter C, Duchrow M, Wohlenberg C, Becker MHG, Key G, Flad HD, et al. The cell proliferation-associated antigen of antibody Ki-67: a very large, ubiquitous nuclear protein with numerous repeated alements, representing a new kind of cell cycle-maintaining protins. J cell boil 1993 Nov; 123(3):p 513-522. 7. Puay HT, Boon HB, Yip G, Selvarajan S, tan P, Wu J, et al.

Immunohistochemical detection of Ki67 in breast cancer correlates with transcriptional regulation of genes related to apoptosis and cell death. Modern pathol (2005) 18 2004 Nov 19:374-381.

8. Ellis.IO, Schnitt SJ. Invasive breast carcinoma. In: Tavassoli FA, Devilee P. WHO Classification ot Tumours Pathology and Genetics of Tumours of the Breast and Female Genital Organs. Lyon: IARC Press; 2003. p.13-103.

9. Mahardini T, Renawati, Yulistia A. Parameter Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dalam Standarisasi Produk Pangan. Balai Besar Industri Agro Deprin, Bogor.

10.Agency for Toxic Subtances and Desease Regstry (ATSDR), 1995, ToxicologicalProfile for Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs). Atlanta, GA: U.S.Departement of Health and Human Services, Public Health Services. 11.Elisabeth, dkk., Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH): Kaitannya dengan

minyak sawit dan kesehatan, dalam warta PPKS (Pusat Penelitian KelapaSawit), Medan. 2000.

12.Juliyarsi I, Melia S. Dadih susu sapi mutan lactococcus lactis sebagai food healthy dalam menghambat kanker. Artikel Penelitian. Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. 2007. hal:1-25.

13.Rosai J. Rosai and Ackerman’s Surgical Pathology : Breast. 9th edition. Mosby; 2004.1764-1835.

14.Rosmarilin H. Anti-cancer activity of local alpinia galangal L (SW) rhizome extracts on cancer cell line of human and mice transplanted with primary tumor cell. USU reporitary 2006 (cited 2007 feb 14). Available from:

http://library.usu.ac.id/download/fp/D0300608.pdf

15.Ohashi K, Winarno H, Mukai M. Indonesian medicinal plants XXV: cancer cell invasion inhibitory effects of chemical constituents in the parasitic plant Scurrula artropurpurea (Loranthaceae). Chem Pharm. Bull 2003;51:343-5.

16.Muwarni R. Indonesian tea mistletoe (Scurrula oortiana) stem extract increases tumor cell sensitivity to tumour necrosis factor alpha (TNF alpha). Phytotherapy Research. Phytother. Res 2003:17:407-9. [cited June 17, 2005]. Available from URL : http://www.interscience.wiley.com.

17.Matsunaga K. Legionella pneumophila replication in macrophages inhibited by selective immunomodulatory effects on cytokines formation by epigallocathecin gallate, a major substance from of tea cathecin. Infect and Immunity 2001;69(6):3947-3953.

18.Noreen Y, Serrano G, Perera P, Bohlin L. Flavan-3-ols isolated from some medicinal plants inhibiting COX-1 and COX-2catalyzed prostaglandin biosynthesis. 1998.[cited June 17, 2005]. Available from URL:http://www.fkogserver. bmc.uu.se/info/p1998.html

19.Sulistyo H. Inhibisi aktivitas proliferasi sel dan perubahan histopatologik epithelial mukosa nasofaring mencit C3H dengan pemberian ekstrak benalu teh. Tesis Program pasca sarjana Universitas Diponegoro. Semarang. 2008.

20.Anonymus. Kanker Payudara. Farmasia.2008. Available at: farmasiaunfari.blogspot.com. (cited 10 September 2012)

21.Anderson. Female Reproductive System. Volume 6. Churchill Livingstone. 1991: 208-218.

22.The global burden of cancer: Available from: http://www.global.iarc.fr. (cited 2011jan12).

23.Benzoalphapyrene. Wikipedia.Available from: (cited 12 Januari 2012)

http://en.wikipedia.org/wiki/Benzo(a)pyrene.

24.Public health goal for benzo(a)pyrene in drinking water, December 1977:1-42 25.Caussens, L.M. and Werb, Z. Inflammation and Cancer. Nature 420, 2002:860-

867.

26.Sachs, R.K., Chan, M., Hlatky, L., and Hahnfeldt, P. Modeling Intercellular Interactions during Carcinogenesis. Radiat. Res. 2005;164:324-331.

27.Edsell. RD. Benzo(a)pyrene Regulated with Coal Tar PitchVolatiles.Occupational Safety and Health Administration (ASHA), US Dept. Of labor.1986. http://www.osha-sle.gov/Osh.Doc/Interp_data/119860407.html. cited: 12 Juni 2011.

28.Lamson DW, Brignall MS. Antioxidants and cancer III: quercetin. Altern Med Rev. 2000;5(3):196-208.

29.Fernandez T, cerda Z. immunobiological features of the galactoside lectin L-Lc isolated from the Argentine mistletoe ligaria cuneifolia. 2003. Available from :

http://www.nchi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?pubmed&cmd?Display&dopt?pub

Dokumen terkait