• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMENGGALAN KEPALA DIANTARA PARA PENGIKUT MUHAMMAD

PRAKTEK PEMENGGALAN KEPALA DALAM ISLAM

PEMENGGALAN KEPALA DIANTARA PARA PENGIKUT MUHAMMAD

Abu Bakr, sahabat karib dan penerus Muhammad, diangkat menjadi Kalifah Islam pertama yang “dituntun dengan benar” setelah kematian Muhammad. Jenderal dari Abu Bakr adalah Khalid bin al-Walid al-Makhzumi yang juga bertempur di bawah kepemimpinan Muhammad. Di bawah pimpinan Muhammad, Khalid bertempur dengan sangat efektif sehingga ia mendapatkan gelar, Pedang Allah.

Atas perintah Abu Bakr, pada 633-634 M, Khalid menyebarkan undangan kepada orang-orang Arabia untuk memeluk Islam. “Undangan” ini sebenarnya tidak lebih dari ancaman perang dan kematian bagi mereka yang menolak untuk bertobat dan tunduk kepada pemerintahan Islam. Undangan itu sebenarnya berbunyi demikian:

“Dalam nama Allah, Yang Pengasih dan Pemurah. Dari Khalid bin al-Walid kepada gubernur-gubernur Persia. Peluklah Islam maka kamu akan selamat. Jika tidak, buatlah perjanjian dengan saya dan bayarlah pajak Jizyah. Atau, saya telah membawa kepadamu orang-orang yang mencintai kematian sama seperti kamu suka minum anggur”. 7

Setelah “undangan” untuk memeluk Islam ini disampaikan, banyak orang yang menolak untuk memeluk agama Islam. Diantara mereka adalah kelompok orang-orang Persia dan orang-orang-orang-orang Kristen dari Ullays di sungai Efrat. Khalid menyerang mereka pada tahun 633 M. Pertempuran itu begitu sengit sehingga Khalid bersumpah kepada Allah dalam peperangan itu bahwa jika ia dapat mengalahkan mereka, ia akan membuat kanal yang dialiri darah di sekeliling kampung mereka. Ia memerintahkan agar semua yang sudah dikalahkan ditawan hidup-hidup. Tawanan itu sangatlah banyak sehingga diperlukan satu setengah hari untuk memenggal kepala mereka. Namun, darah mereka sangat kental dan pasukan Khalid akhirnya harus memberi air ke dalam kanal supaya menjadi merah, jika tidak maka sumpah Khalid tidak akan tergenapi. Abu Jafar Muhammad ibn Jarir At-Tabari, sejarahwan dan teolog Islam mula-mula, mencatat peristiwa ini demikian:

“Khalid berkata,”O Allah, jika Engkau melepaskan bahu mereka kepada kami, saya akan mewajibkan diri kepada-Mu untuk tidak meninggalkan seorangpun diantara mereka yang dapat kami kalahkan sampai saya membuat kanal mereka dialiri darah mereka”. Lalu Allah mengalahkan mereka bagi orang Muslim, dan menyerahkan bahu mereka pada orang Muslim. Kemudian Khalid memerintahkan utusannya untuk mengatakan pada pasukannya, “Tangkap! Tangkap! Jangan bunuh siapapun kecuali ia tetap melawan”. Kemudian pasukan itu menggiring para tawanan secara berbondong-bondong. Khalid telah menunjuk orang-orang tertentu untuk memenggal kepala mereka di dalam kanal. Ia berbuat demikian pada mereka selama satu setengah hari. Pasukannya mengejar mereka keesokan harinya dan juga hari berikutnya, sampai mereka tiba di Nahrayn dan sekitarnya dari segala arah, dari Ullays. Dan Khalid memenggal kepala mereka”. 8

Beberapa bawahan Khalid menyampaikan padanya:

“Sekalipun engkau harus membunuh semua penduduk dunia, darah mereka tetap tidak akan mengalir...Oleh karena itu berilah air diatasnya, maka engkau akan memenuhi sumpahmu”. Khalid telah menghalangi air dari kanal. Kini Khalid mengembalikannya, sehingga air itu mengalir bercampur darah. Untuk mengingat hari itu, hingga hari ini kanal itu dikenal dengan Kanal Darah”. 9

Amir Taheri, seorang jurnalis kelahiran Iran, dalam sebuah artikel di New York Post, tanggal 14 Mei 2004 yang berjudul “Pemotongan Kepala”, mendaftarkan beberapa insiden lain di sepanjang sejarah praktek pemenggalan kepala yang dilakukan Islam:

“Pada 680 M, cucu laki-laki kesayangan nabi, Hussein bin Ali, dipenggal kepalanya di Karbala, pusat Irak, oleh tentara-tentara Kalif Yazid. Kepala yang bersimbah darah itu diletakkan di atas nampan perak dan

dikirimkan ke Damaskus, ibukota Yazid, sebelum dikirim ke Kairo untuk diinspeksi oleh Gubernur Mesir. Tentara-tentara Kalif juga memenggal kepala ke-71 orang laki-laki yang menyertai Hussein, termasuk seorang bayi laki-laki berusia satu tahun barnama Ali-Asghar”. 10

Maka pola yang telah ditetapkan dan prinsip yang telah dicontohkan Muhammad ini kembali dan menimpa keluarganya. Pada akhirnya kisah-kisah pemenggalan kepala memenuhi sejarah Islam. Andrew Botom, editor The Legacy of

Jihad memaparkan bahwa pada akhir abad ke-15:

“Babur, pendiri kekaisaran Mughal, yang dihormati sebagai teladan yang sempurna tentang toleransi Muslim oleh para ahli sejarah revisionis, mencatat peristiwa berikut ini dalam otobiografinya “Baburnama”, mengenai para tawanan sebuah perang jihad: ‘Mereka yang ditawan hidup-hidup (karena menyerah) diperintahkan untuk dipenggal, dan setelah itu sebuah menara yang terbuat dari kepala-kepala mereka didirikan di kamp tersebut”. 11

Taheri kemudian beralih ke jaman yang sedikit lebih modern:

“Pada tahun 1842 orang Muslim Afghanistan mengalahkan pasukan Inggris di Kabul dan memenggal lebih dari 2000 laki-laki, wanita dan anak-anak. Kepala-kepala mereka dipancangkan di tiang-tiang di sekeliling kota sebagai dekorasi”.12

Praktek ini terus berlanjut selama tahun 1980-an di Afghanistan, dimana diperkirakan sekitar 3000 tentara Soviet dipenggal oleh para pejuang Afghanistan. Praktek pemenggalan juga adalah praktek yang umum dilakukan selama revolusi Iran:

“Pada 1992, para mullah mengirimkan seorang ‘spesialis’ untuk memenggal kepala Shapour Bakhtiar, perdana menteri terakhir dari Shah Iran, di pinggiran kota Paris. Ketika kabar itu tersiar, Hashemi Rafsanjani yang kemudian menjadi presiden Republik Islam Iran bersyukur kepada Allah di depan publik karena telah mengijinkan ‘pemenggalan kepala si ular”. 13

Taheri bahkan menceritakan tentang seorang ‘spesialis’ pemenggalan berkebangsaan Algeria, yang dijuluki Momo, yang direkrut oleh sebuah kelompok Islam yaitu GIA, yang bertujuan secara khusus untuk memenggal kepala orang:

“Pada 1996 di Ben-Talha, daerah pinggiran ibukota Algiers, Momo memecahkan rekor memenggal 86 kepala dalam semalam, termasuk lebih dari selusin kepala anak-anak. Sebagai penghargaan atas teladan kebajikannya, GIA mengirimnya ke Mekkah untuk berziarah. Terakhir kali kami mendapatkan keterangan, Momo masih berkeliaran di suatu tempat di Algeria”. 14

“Kelompok-kelompok Sunni dan Shiah yang bermusuhan mempunyai kebiasaan saling mengirim kepala dari masing-masing aktivis melalui kiriman khusus. Diperkirakan ada lebih dari 400 kepala telah dipenggal dan diposkan sejak 1990”.15

Dan dewasa ini, kita melihat dahsyatnya pemenggalan kepala di pulau Kalimantan, di Indonesia, dimana orang Muslim menggunakan cara ini untuk mengusir mayoritas orang Kristen keluar dari pulau itu. Hampir separuh orang Kristen telah meninggalkan pulau itu.

Dan di balik semua contoh yang mengerikan ini ada juga pemerintah yang memberlakukan pemenggalan kepala setiap minggu yaitu di Arab Saudi. Pemenggalan itu dilakukan setelah sembahyang Jumat tepat di luar mesjid-mesjid:

“Pemerintah Saudi memenggal kepala 52 laki-laki dan 1 wanita tahun lalu atas tuduhan kejahatan seperti pembunuhan, homoseksualitas, perampokan bersenjata dan perdagangan obat terlarang...Si terpidana dibawa ke tempat peradilan dengan tangan terikat, dan dipaksa berlutut di hadapan algojo yang mengayunkan sebilah pedang besar dengan diiringi teriakan massa “Allahu akbar!” yang berarti “Allah Maha Besar!”.16

Allahu akbar juga diteriakkan oleh para pembunuh Nicholas Berg, seorang kontraktor Yahudi-Amerika, dan Kim-Sun-il, seorang penerjemah Korea dan

seorang Kristen Injil, yang memimpikan suatu hari akan menjadi seorang misionaris untuk orang Muslim. Impiannya itu terwujud dan berakhir saat itu juga...

Sementara jelaslah sudah apa yang diajarkan oleh sejarah Islam, kita juga perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh para sarjana Islam dan kitab sucinya mengenai hal ini.