BAB V ANALISIS DATA
5.3. Variabel Terikat
5.3.1. Pemenuhan Kebutuhan Rumah
terbuat dari papan yang berlubang, atap rumah sudah baik dan tidak berlubang dan lantai rumah yang sudah tidak dari tanah lagi, namun masih ada responden yang menjawab masih semi permanen. Ini disebabkan tidak adanya model perencanaan pembangunan rumah yang disediakan pemerintah sehingga responden tidak memiliki perencanaan pembangunan rumah yang sesuai dangan dana bangunan yang diberikan dan yang memenuhi standar rumah yang sehat dan layak huni.
Tabel 5.13
Distribusi Responden Berdasarkan Ventilasi Rumah Sebelum dan Sesudah
RS-RTLH
Sebelum RS-RTLH Setelah RS-RTLH
NO Kategori F % Kategori F %
1.
2 3.
Tidak ada
Ada, <10% luas lantai Ada, >10% luas lantai
10 19 5
29,4 55,9 14,7
Tidak ada
Ada, <10% luas lantai Ada, >10% luas lantai
- 9 25
- 26,5 73,5
Total 34 100 34 100
Sumber: kuesioner penelitian, Mei 2015
Berdasarkan tabel 5.13 dapat dilihat bahwa sebelum adanya Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni rumah responden masih dikatakan rumah yang tidak sehat. Dapat dilihat dari setengah rumah responden memiliki ventilasi <10 % dari luas lantai dan terbuat dari kayu yang hanya disusun sedemikian rupa sebagai ventilasi udara, ada juga responden tidak memiliki ventilasi rumah sama sekali.
Seperti diketahui penggunaan ventilasi rumah sangat penting untuk sinkronisasi udara didalam rumah. Rumah yang tidak memiliki ventilasi yang baik dapat menyebabkan timbulnya penyakit bagi penghuninya dan juga dapat mengakibatkan penghuni rumah marasa tidak nyaman tinggal di dalamnya.
Ketidak mampuan dan kurangnya kesadaran membuat mereka hanya bisa membangun rumah yang tidak memiliki ventilasi atau hanya menyisakan sedikit ruang di atas jendela untuk keluar masuknya udara.
Setelah adanya bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni dalam bentuk pemberian bahan bangunan, masyarakat dapat membangun rumah yang layak huni dengan ventilasi rumah yang sudah memadai. Perubahan tersebut dapat dilihat dari responden yang memiliki ventilasi rumah >10% luas lantai meningkat menjadi 73,5% tetapi masih ada responden yang memiliki ventilasi rumah <10%
luas lantai. Kondisi ini di akibatkan masih kurangnya bahan bangunan yang diberikan sebagai akibat tidak adanya perencanaan pembangunan rumah yang sesuai dengan kebutuhan responden.
Tabel 5.14
Distribusi Responden Berdasarkan Fasilitas MCK Sebelum dan Sesudah
RS-RTLH
Sebelum RS-RTLH Setelah RS-RTLH
NO Kategori F % Kategori F %
1.
2.
3.
4.
Tidak tersedia
Hanya kamarkamar mandi/kakus,terpisah dari rumah dan hanya ditutupi terpal.
Tersedia tapi masih terpisah dari rumah, hanya ditutupi terpal Tersedia,sudah menyatu dengan rumah dan tertutup batu/kayu
1 11
15
7 2,9 32,4
44,1
20,6
Tidak tersedia
Hanya kamarkamar mandi/kakus,terpisah dari rumah dan hanya ditutupi terpal.
Tersedia tapi masih terpisah dari rumah, hanya ditutupi terpal Tersedia,sudah
menyatu dengan rumah dan tertutup batu/kayu
- -
12
22 - -
35,3
64,7
Total 34 100 34 100
Sumber: kuesioner penelitian, Mei 2015
Berdasarkan tabel 5.14 diatas dapat dilihat bahwa sebelum adanya Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni kondisi MCK responden masih kurang baik dapat dilihat dari 44,1% responden sudah memiliki MCK namun dalam kondisi yang kurang memadai seperti hanya di tutupi terpal/plastik dan biasanya terletak dibelakang rumah. Dan ada responden yang tidak memiliki kamar mandi ataupun kakus sehingga bila ingin mencuci,mandi atau buang air besar mereka biasanya kesungai atau menumpang dengan tetangga. Kurangnya fasilitas MCK mengakibatkan responden sering mengalami sakit sebelum RS-RTLH seperti diare dan iritasi kulit karna sebelumnya mereka masih menggunakan air sungai saat mandi,cuci dan kakus
Setelah adanaya Rehabilitasi rumah Tidak Layak Huni responden yang sudah memiliki MCK tersendiri dirumah sudah meningkat. Pemberian dana bantuan pembagunan rumah langsung dimanfaatkan responden dengan membangun MCK tersendiri yang sudah menyatu dengan rumah. Sedangkan masih ada responden yang memiliki MCK sendiri namun belum di tutupi permanen. Kondisi ini terjadi karna kurangnya bahan bangunan sebagai akibat tidak adanya model perencanaan pembangunan rumah yang diberikan oleh pemerintah kepada penerima RS-RTLH sehingga mereka masih menutupi MCK mereka dengan bahan-bahan seadanya seperti dari karung atau terpal.
Tabel 5.15
Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Air Bersih Sebelum dan Sesudah
RS-RTLH
Sebelum RS-RTLH Setelah RS-RTLH
NO Kategori F % Kategori F %
1.
2 3.
4.
Air PAM
Air tanah (pompa) Air sumur
Air kran umum
2 22
9 1
5,9 64,7 26,5 2,9
Air PAM
Air tanah (pompa) Air sumur
Air kran umum
9 25
- -
26,5 73,5
Total 34 100 34 100
Sumber: kuesioner penelitian, Mei 2015
Berdasarkan tabel 5.15 dapat dilihat bahwa sebelum Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni mayoritas responden menjawab sumber air mereka
berasal dari air pompa Dan hanya 26,5% responden yang masih mengunakan air sumur. Alasan mereka lebih memilih air tanah (pompa) dikarnakan air tanah (pompa) di daerahnya masih sama baik nya dengan air sumur dan memiliki biaya yang lebih murah dalam pembuatannya dari pada sumur serta tidak memerlukan ruang yang luas untuk membangunnya. Sedangkan masih ada responden yang menggunakan air kran umum sebagai sumber air rumahnya, ini disebabkan tidak mampunya responden untuk membangun sumur atupun sumur pompa sebagai sumber air bersih rumahnya
Setelah Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni responden yang menggunakan air PAM sebagai sumber air bersih mereka mengalami peningkatan.
Hal ini dikarnakan adanya kemudahan yang diberikan Pemko Tebing Tinggi bagi penerima bantuan RS-RTLH yang mau mengunakan air PAM dengan memberikan bebas biaya pemasangan instalasi dan bebas biaya selama 1 bulan pemakaian. Pemberian kemudahan ini diberikan untuk meningkatkan kesadaran bagi masyrakat untuk mulai beralih mengunakan air PAM. Namun masih ada responden yang masih mengunakan air tanah (pompa). Jumlah ini mengalami peningkatan menjadai 73,5% responden. Alasan mereka masih mengunakan air tanah dan tidak beralih ke air PAM karna mereka merasa air tanah di lingkunganya masih sama baiknya dengan air PAM .
Tabel 5.16
Distribusi Responden Berdasarkan Katersediaan Sarana Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga Sebelum dan Sesudah RS-RTLH
Sebelum RS-RTLH Setelah RS-RTLH
NO Kategori F % Kategori F %
1.
2.
3.
4.
Tidak ada
Ada, diresap dalam kolam, mencemari sumber air (<10m) Ada, diresap dalam kolam,tidak
mencemari sumber air (>10m)
Ada, dialirkan ke selokan
7 4
13
10
20,6 11,8
38,2
29,4
Tidak ada
Ada, diresap dalam kolam, mencemari sumber air (<10m) Ada, diresap dalam kolam,tidak mencemari sumber air (>10m)
Ada, dialirkan ke selokan
1 2
12
19 2,9 5,9
35,3
55,9
Total 34 100 34 100
Sumber: kuesioner penelitian, Mei 2015
Berdasarkan tabel 5.16 diatas dapat dilihat bahwa sebelum Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni terdapat 20.6% responden tidak memiliki SPAL, yang membuat air limbah rumah tangga yang dikeluarkan hanya di biarkan menggenang di belakang atau disamping rumah. Prilaku seperti ini dapat menyebab timbulnya bibit penyakit dan dapat mengancam kesehatan responden.
Kemudian ada juga responden yang memiliki saluran pembuangan walaupun hanya ditampung dalam kolam dan mencemari sumber air. Kondisi ini timbul
sebagai akibat tidak adanya dana dan masih kurangnya sarana drainase di Kelurahan Bandar Utama yang membuat responden hanya mampu mengalirkan limbah mereka disekitar rumah mereka ataupun di tampung di dalam kolam.
Setelah adanya Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni, mayoritas responden sudah mengalirkan air limbah meraka ke selokan. Dana bantuan rumah langsung dimanfaatkan responden untuk mengalirkan limbah rumah tangga mereka ke saluran drainase. Namun dari data diatas dapat dilihat bahwa kesadaran responden akan pentinganya SPAL yang baik dan sehat sudah meningkat setelah RS-RTLH dimana walaupun masih menampung air limbahnya di dalam kolam tetapi sudah tidak mencemari sumber air bersih rumah mereka.