E. Jadwal dan Lokasi Penelitian
6. Pemeriksaan Operasional Terhadap Proses Produksi
PT MUTIFA Upah Langsung
Nov-Des 2003
Bulan Jam Kerja Langsung Tarif Upah Langsung
November 24,5 Jam Rp. 12.862,50
Laporan harga pokok produksi
Persediaan awal WIP, 1 Nov Bahan baku :
-Persediaan awal / B. penolong 1.053.300
-Pembelian
34.758.152 33.704.852
-Persediaan Akhir
Pemakaian bahan langsung 32.920.132
1.838.020
Biaya T.Kerja langsung 315.131,25
Biaya overhead pabrik
36.742.591,55 3.507.328,30
Persediaan akhir WIP
Harga pokok produk diselesaikan 35.498.741,55
1.243.850,00
Persediaan produk selesai, 1 nov
Jumlah tersedia dijual 40.598.741,55
5.100.000.00
Persediaan produksi selesai,31 oktober
Harga pokok produksi 36.038.741,55
B. Analisis Hasil Penelitian
Berdasarkan uraian tentang pemeriksaan operasional yang telah dijelaskan pada Bab II, maka penulis mencoba memberikan suatu analisa dan penilaian atas peranan satuan kerja periksaan operasional melalui fungsi dan kedudukannya untuk mencapai pengendalian yang baik dari hasil penelitian.
Pembahasan dalam bab ini akan terbagi menjadi :
1. Jenis-Jenis dan Standar Pemeriksaan operasional terhadap proses produksi
1) Bahan baku
Dari hasil penelitian bahan paku yang dipakai perusahaan bahan-bahan kimia yang sebagian besar diimpor. Laporan harga pokok produksi pada bulan November 1999 pemakaian bahan baku sebesar Rp.32.920.132,00 atau 92,37% dari total biaya produksi (Rp.35.498.741,55). Jika dilihat dari teori bahwa bahan baku adalah merupakan bahan yang secara menyeluruh membentuk produk yang bersangkutan. Jadi bahan baku tersebut merupakan bagian yang integral dari barang-barang yang diproduksi.
2) Bahan penolong
Dari hasil penelitian ; bahan penolong yang dipakai oleh perusahaan terdiri dari kemasan, brosur, etiket, kotak, karton dan lem kertas yang total biayanya Rp.710.000,00 atau 2% dari total biaya produksi. Dilihat dari teori bahan penolong adalah bahan yang menjadi bagian dari produk jadi tetapi
nilainya relative kecil. Dengan demikian perusahaan telah menetapkan bahan penolong yang sesuai dengan teori.
3) Upah langsung
Dari laporan tarif upah langsung yang dibuat perusahaan, perhitungan upah berdasarkan jam kerjanya pada bulan November jam kerja yang dibutuhkan dalam memproduksi Antalgin tablet 24,5 jam kerja dimana tariff upah perjam Rp.12.862,50. Jadi total jam kerja dikalikan tarif upah langsung Rp.315.131,25. Menurut salah satu koonsep teori ada 3 alternatif dalam menentukan dasar pembayaran upah langsung dan salah satunya berdasarkan tarif jam kerja. Dengan demikian perusahaan telah menerapkan perhitungan dan pembebanan upah langsung kedalam biaya produksi sesuai dengan teori.
Kedudukan auditor operasional sangat mempengaruhi luas pemeriksaan yang dapat dilakukannya dalam perusahaan. Semakin tinggi kedudukan auditor operasional maka semakin luas pula cakupan pemeriksaan yang akan dilakukannya.
Peran auditor operasional yang independen sangat dibutuhkan manajemen untuk memberikan hasil pemeriksaan yang tidak lepas dari kedudukannya dalam perusahaan. Kedudukan auditor operasional yang independen akan memungkinkan auditor memberi pendapat dan saran tanpa terlibat dengan kegiatan yang diperiksanya.
Kedudukan auditor operasional yang berada diperusahaan akan memberikan independensi yang tinggi untuk menjalankan audit pada seluruh bagian perusahaan yang ada dibawah pimpinan tersebut. Posisi tersebut dapat
membuat auditor bertindak dengan tegas bila menemukan keadaan yang tidak sesuai.
Independensi yang cukup tinggi yang dimiliki audit operasional pada perusahaan akan memberi kebebasan bagi audit operasioanal untuk menjalankan wewenangnya. Secara garis besar adapun yang menjadi wewenang audit opersional PT MUTIFA yaitu sebagai berikut :
a. Menyusun dan mengubah kebijakan dan prosedur audit operasional serta ruang lingkup pekerjaan audit sesuai dengan kebijakan audit intern PT MUTIFA.
b. Menguji, memeriksa, dan menilai kelengkapan, keakuratan, keabsahan, kepemilikan dan kewenangan akses kepada sumber daya PT MUTIFA seperti catatan Akuntansi serta administrasi.
c. Memonitor, menindaklanjuti dan mengevaluasi langkah perusahaan yang diambil oleh manajemen auditee berdasarkan temuan audit.
d. Memberi masukan pada sistem development life cycle tentang sistem internal control dan risk management (sebagai nara sumber). Keterlibatan
audit operasional dalam sistem development life cycle tidak diartikan bahwa audit opersional telah menerima secara mutlak sistem tersebut. Perkembangan bisnis obat-obatan dan teknik control serta peer review memungkinkan audit opersional untuk mengaudit sistem tersebut.
e. Memiliki akses langsung ke komite audit, komisaris dan anggota Direksi lainnya dalam kaitan dengan objek audit
f. Menetapkan comperency profile dan kegiatan performance indicator dalam audit operasional melalui rekrutmen / seleksi, promosi, rotasi dan pendidikan profesional yang terus menerus.
Pada PT MUTIFA standar pemeriksaan yang digunakan ada 3 yaitu seperti dijelaskan pada halaman sebelumnya. Dimana ke 3 jenis perusahaan PT MUTIFA yaitu pemeriksaan primer, pemeriksaan fisik hasil pengemasan primer, pemeriksaan fisik produk jadi dan pemeriksaan fisik produk ruahan sangatlah penting untuk berlangsungnya suatu proses produksi di PT MUTIFA. Setelah pemeriksaan dilakukan maka penyelesaian pemeriksaan yamg berlangsung selama proses produksi, hasil produksi tersebut diperiksa kembali oleh bagian QA (Quality Assurance) dimana tugas seorang QA adalah memastikan apakah obat tersebut sudah terjamin untuk dikonsumsi oleh konsumen dengan menggunkan standar GMP (Good Manufactured Production).
Dari uraian diatas terlihat bahwa audit operasional mempunyai pengaruh penting dalam perusahaan terutama dalam membantu manajemen untuk mewujudkan proses produksi yang baik pada perusahaan. Untuk itu, maka auditor operasioanal juga harus mempunyai keahlian yang memadai dan pengalaman yang cukup agar dapat menjalankan peran dan fungsinya dalam perusahaan.
2. Penyelesaian operasional terhadap proses proses produksi dalam mencapai pengendalian yang baik
Semakin besar skala operasi perusahaan maka kebutuhan akan fungsi audit operasional dalam pelaksanaan proses akan semakin meningkat. Fungsi audit operasional dalam perusahaan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pelaksanaan proses operasional seperti mengurangi dan menghindari penyelewengan, pemborosan dan hal-hal yang dapat merugikan perusahaan.
Untuk mendapatkan suatu produksi yang baik, diperlukan penerapan fungsi audit operasional di dalam organisasi yang mempunyai tugas untuk melakukan pemeriksaan, penilaian, serta memastikan bahwa proses produksi yang ditetapkan oleh perusahaan telah berjalan dengan baik. Pelaksanaan fungsi audit operasioanal PT MUTIFA disesuaikan pada Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern(SPFAI) yang merupakan bagian dari peraturan pemerintah. Sehingga diharapkan kualitas audit dapat dikatakan telah memadai.
Dari penelitian yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa pimpinan perusahaan telah memberi perhatian yang cukup besar pada peranan audit operasional. Kondisi tersebut tidak hanya dikarenakan oleh ketentuan pemerintah yang mewajibkan pelaksanaan audit operasional pada perusahaan di Indonesia yang tertuang dalam SPFAIB tersebut, tetapi juga karena pimpinan perusahaan telah menyadari pentingnya peran audit bagi
manajemen terutama dalam menjaga agar proses produksi dalam perusahaan berjalan dengan baik.
Perusahaan telah membentuk suatu satuan kerja audit penilaian atas proses produksi dan pelaksanaan operasi pada badan usaha yang bersangkutan dan disertai dengan pemberian rekomendasi ataupun saran perbaikan. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk memastikan apakah pelaksanaan kegiatan operasi perusahaan telah sesuai dengan kebijaksanaan, rencana dan prosedur yag telah ditetapkan.
Jika dilihat dari fungsi audit yang dijalankan pada perusahaan, menurut penulis secara keseluruhan telah sesuai dengan fungsi audit yang telah diuraikan pada uraian teoritis. Salah satu tugas audit operasional pada PT MUTIFA yang paling penting yaitu melakukan penilaian, evaluasi dan konsultasi secara independen ke manajemen atas sistem internal control yang dijalankan perusahaan
Seperti yang telah dikemukakan dalam uraian teoritis daengan adanya proses produksi yang selalu dinilai oleh audit maka akan menghasilkan operasional perusahaan, perusahaan yang sesuai dengan usaha pencapaian tujuan perusahaan. Dengan demikian audit operasional merupakan fungsi penting peoses produksi di perusahaan.
Audit operasional pada PT MUTIFA mendorong para pegawainya untuk bekerja hati-hati dengan menghindari terjadinya penyelewengan. Audit operasional PT MUTIFA menempatkan diri sebagai strategic business partner by management untuk mencapai tujuan perusahaan dan memberikan
nilai tambah bagi perusahaan baru hanya sebagai pihak yang mencari-cari kesalahan.
Audit operasional perusahaan tidak hanya bertanggung jawab untuk menginformasikan sifat dan dampak dari kelemahan proses produksi yang ditemukan dalam operasional bisnis, tetapi juga memberikan solusi praktis untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Audit operasional juga menilai kualitas pelaksanaan tugas menjadi tanggung jawab menajemen lini.
Adapun yang menjadi tujuan perusahaan melaksanakan peran audit operasional dalam menilai internal control dan kualitas pelaksanaan tugas manajemen adalah sebagai berikut :
a) Tujuan dari pemeriksaan dan evaluasi arti kecukupan sistem internal control adalah memastikan bahwa sistem internal control memberikan jaminan bahwa tujuan PT MUTIFA dapat tercapai secara ekonomis dan efisien.
b) Tujuan dari pemeriksaan dan evaluasi atas efektivitas sistem internal control adalah memastikan bahwa system internal control berfungsi dengan baik.
c) Tujuan dari pemeriksaan dan evaluasi kualitas pelaksanaan tugas adalah memastikan bahwa tujuan bisnis PT MUTIFA telah dicapai. Karena peran dan tanggung jawab audit yang begitu penting bagi tercapainya tujuan perusahaan maka jumlah personil audit yang dimiliki harus sesuai dengan cakupan luas pemeriksaan yang harus dilakukannya.
Pelaksanaan audit akan optimal jika personil melakukan audit dengan cakupan dan luas yang sesuai dengan kemampuannya.
Dilihat dari penyajian temuan audit yang dihasilkan bagian audit operasional perusahaan, penulis berpendapat bahwa audit telah disajikan dengan baik. Peranan audit disampaikan dengan dasar fakta yang akurat, jelas, ringkas, dan dapat dimengerti oleh pihak terkait. Temuan audit menjelaskan dengan lengkap, tentang kondisi, kelemahan, implikasi, penyebab, dampak, dan rekomendasi. Selain itu, dalam temuan audit juga dicantumkan bagaimana tanggapan auditee terhadap temuan sehingga lebih memperjelas masalah yang ada. Bagian proses penyusunan laporan yang begitu jelas dan terperinci maka audit diharapkan dapat membimbing manajemen dalam mengenali kelemahan-kelemahan yang mengalami pencapaian tujuan organisasi.
Sebelum laporan disetujui, diterbitkan dan didistribusiksn, laporan tersebut terlebih dulu diperiksa kembali dan diperbaiki bila perlu sehingga kualitas laporan tetap terjaga. Dengan informasi yang diberikan melalui laporan audit tersebut, auditee akan melakukan tindak lanjut untuk memperbaiki dan meningkatkan proses produksi perusahaan.
Tindak lanjut merupakan tindakan yang dilaksanakan oleh auditee sesuai dengan rekomendasi yang diajukan oleh auditor dalam laporannya. Sehubungan dengan tindak lanjut, lazimnya diperlukan adanya pernyataan auditee mengenai tindakan yang diambil berdasarkan rekomendasi yang
diajukan tersebut untuk menekankan komitmen auditee dalam melaksanakan perbaikan.
Audit operasional perusahaan memiliki wewenang untuk melakukan monitoring terhadap tindak lanjut hasil audit yang dilakukan auditee tersebut. Kegiatan monitoring dilakukan untuk memastikan bahwa tindakan perbaikan telah dilakukan dengan memadai dan efektif. Dengan demikian perusahaan akan menerapkan pengendalian yang semakin baik di masa-masa yang akan datang karena penilaian dalam tindakan perbaikan atas kelemahan dan kesalahan yang ditemukan selalu dilakukan.
Dari hasil penelitian metode yang dipakai oleh perusahaan adalah metode full costing perusahaan memperhitungkan semua unsur pemeriksaan proses produksi yaitu bahan baku, upah langsung, overhead pabrik maupun bahan penolong ke dalam harga pokok produksi baik yang variabel maupun tetap. Menurut penulis pemakaian metode tersebut oleh perusahaan sudah sesuai dengan teori. Setelah semua proses produksi sudah dilakukan dan dilakukan pemeriksaan maka obat / produksi di PT MUTIFA sudah siap untuk dikonsumsi oleh konsumen dan siap untuk didistibusikan kemana saja.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab terakhir ini, penulis akan mencoba memberikan beberapa kesimpulan yang berdasarkan peda pembahasan dalam bab-bab terdahulu yang berkaitan dengan pemeriksaan operasional terhadap proses produksi untuk mencapai hasil produksi yang efisien dan efektif. Dan pada bab ini penulis juga akan mencoba memberikan saran ynag mungkin dapat digunakan sebagi bahan pertimbangan untuk perbaikan dan kemajuan dimasa yang akan datang bagi siapa yang memerlukannya.
A. Kesimpulan
Setelah membahas teoritis kemudian membandingkan dengan hasil penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagi berikut :
1. Audit operasional melakukan pemeriksaan secara rutin dalam satu periode tahun baku. Setiap unit kerja yang menjadi objek pemeriksaan yaitu Wilayah Sumatera Utara, minimal dilakukan pemeriksaan satu kali dalam satu periode tahun baku pemeriksaan. Dan dapat juga pemeriksaan yang dilakukan untuk hal-hal yang mendadak dan dianggap sangat diperlukan dengan segera dalam kepentingan bersama.
2. Proses produksi yang dilakukan oleh karyawan perusahaan telah disesuaikan dengan baik dan tanggung jawab sesuai dengan apa yang diinginkan. Selain itu, audit operasional yang dilakukan berdasarkan risk assesment akan memberikan manfaat bagi auditor operasional,
antara lain auditor operasional akan lebih efisien dan efektif dalam melakukan audit, sehingga dapat meningkatkan kinerja satuan kerja audit. Audit operasional juga melakukan monitoring tindak lanjut audit untuk meyakini bahwa tindak lanjut dilakukan dengan memadai.
3. Audit operasional pada perusahaan telah memiliki kedudukan yang cukup berpengaruh dalam proses produksi perusahaan. Dengan kedudukan audit operasional yang seperti ini maka tingkat independensinya menjadi tinggi dan dapat menjaga obyektifitas dalam menjalanakan fungsi pengawasan yang dilakukan pada seluruh bagian.
B. Saran
Sebaiknya pemeriksaan operasional dilakukan dalam setiap periode, tetapi tanpa menentukan waktu pelaksanaan yang tetap seperti audit reguler. Namun, hal ini mungkin membutuhkan dana yang lebih tinggi dari biasanya.
DAFTAR PUSTAKA
A. Alvin Arens dan James K. Loebbecke, 1999. Auditing (Suatu Pendekatan Terpadu), Edisi Keempat, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Anoraga, Pandji, 2000. Manajemen Bisnis, Edisi Kedua, PT.Rineka Cipta, Jakarta.
Baroto, Teguh, 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.
Boynton, William, Raymond N. Johnson, Walter G. Kell, 2002. Modern Auditing , Edisi Ketujuh, PT. Gelora Aksara Pratama, Jakarta.
Indriyo, H. Gitosudarmo, 2002. Manajemen Operasi, Edisi Kedua, BPFE, Yogyakarta.
Karni, Soejono, 2000. Auditing, Lembaga Penerbit FE UI, Jakarta.
Katijo, 2008. Auditing (Pengantar Untuk Pemula), Pustaka Bangsa Press, Medan. M. Dan, C. Wayne Alderman dan Alan J. Winters, 2001. Auditing, Edisi Kelima,
PT. Gelora Aksara Pratama, FE UPN Veteran, Yogyakarta. Mukhtar, Ali, 1999. Audit Sistem Informasi, Cetakan Pertama,
PT.Rineka Cipta, Jakarta.
Mulyadi, 2002. Auditing, Edisi Keenam, Salemba Empat, Jakarta.
Nasution, Arman Hakim, 2003. Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Penerbit Guna Widya, Surabaya.
Widjaja, Amin, 2008. Dasar-Dasar Audit Operasional, Harvarindo, Jakarta. Wiley, 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis, Penerbit Salemba Empat,