4. Pelaksanaan pemeriksaan
a. Mengucapkan salam, memperkenalkan diri dan meminta persetujuan pasien secara lisan.
b. Menjelaskan prosedur & kegunaan hasil pengukuran LGS kepada pasien.
c. Memposisikan pasien pada posisi tubuh yang benar (anatomis), kecuali gerak rotasi (Bahu dan Lengan bawah).
d. Sendi yang diukur diupayakan terbebas dari pakaian yang menghambat gerakan.
e. Menjelaskan dan memperagakan gerakan yang hendak dilakukan pengukuran kepada pasien.
f. Melakukan gerakan pasif 2 atau 3 kali pada sendi yang diukur, untuk mengantisipasi gerakan kompensasi.
g. Memberikan stabilisasi pada segmen bagian proksimal sendi yang diukur, bilamana diperlukan.
h. Menentukan aksis gerakan sendi yang akan diukur.
i. Meletakkan goniometer :
1) Aksis goniometer pada aksis gerak sendi.
2) Tangkai statik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal segmen tubuh yang statik.
3) Tangkai dinamik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal
a. Membaca besaran LGS pada posisi awal pengukuran dan mendokumentasikannya dengan notasi ISOM.
b. Menggerakkan sendi yang diukur secara pasif, sampai LGS maksimal yang ada. Memposisikan goniometer pada LGS maksimal sebagai berikut:
4) Aksis goniometer pada aksis gerak sendi.
5) Tangkai statik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal segmen tubuh yang statik.
6) Tangkai dinamik goniometer sejajar terhadap aksis longitudinal segmen tubuh yang bergerak.
a. Membaca besaran LGS pada posisi LGS maksimal dan mendokumentasikannya dengan notasi International Standard Orthopedic Measurement (ISOM).
PROSES PENGUKURAN RANGE OF MOTION (ROM) VERTEBRA
NO. LANGKAH / PROSEDUR PEMERIKSAAN
CERVICAL
Fleksi Cervical
1 Subjekdalamposisiduduk, dengan trunk tegak, leher dalam posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2 Letakkan goniometer pada axis external auditory meatus 3 Ukur ROM fleksi cervical
ILUSTRASI GAMBAR
EkstensiCervical
1 Subjekdalamposisiduduk, dengan trunk tegak, leher dalam posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2 Letakkan goniometer pada axis external auditory meatus 3 Ukur ROM ekstensi cervical
ILUSTRASI GAMBAR
Rotasi Cervical
1 Subjekdalamposisiduduk, dengan trunk tegak, leher dalam posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2 Letakkan goniometer pada axis pada bagian atas tengah/pusat dari kepala (centre of the top of head )
3 Ukur ROM rotasi cervikal dengan orientasi moving arm pada hidung ILUSTRASI GAMBAR
Lateral fleksi cervical
1. Subjekdalamposisiduduk, dengan trunk tegak, leher dalam posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2 Letakkan goniometer pada axis processus spinosus C7
3 Ukur ROM lateral fleksi cervikal dengan orientasi moving arm pada protuberaatia occipital external (POE) dari os.occipital
ILUSTRASI GAMBAR
TRUNK / LUMBAR SPINE
Fleksi trunk
1. Subjekdalamposisiberdiri tegak posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2 Letakkan meteran pada posisi pita awalan pada bagian proksimal prosesus spinosus C7 dan hingga ke bagian distal dari S1
3 Arahkan subjek untuk membungkuk maiksimal (fleksi vertebra)
4. Ukur ROM fleksi trunk dengan dengan membandingkan posisi awal dan akhir
ILUSTRASI GAMBAR
Hyperekstensi trunk
1 Subjekdalamposisiberdiri tegak posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2 Letakkan meteran pada posisi pita awalan pada bagian proksimal prosesus spinosus C7 dan hingga ke bagian distal dari S1
3 Arahkan subjek untuk ekstensi vertebra maksimal
ILUSTRASI GAMBAR
Lateral fleksi trunk
1 Subjekdalamposisiberdiri tegak posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2 Letakkan goniometer pada axis processus spinosus S1
3 Ukur ROM lateral fleksi cervikal dengan orientasi moving arm pada processus spinosus c7
ILUSTRASI GAMBAR (Unhas.ac.id
Rotasi Trunk
1 Subjekdalamposisiduduk, dengan trunk tegak, leher dalam posisi anatomis, posisi tangan menggantung, bahu rileks.
2
Letakkan goniometer pada axis pada bagian atas tengah/pusat dari kepala (centre of the top of head )
3 Ukur ROM rotasi trunk dengan orientasi moving arm pada hidung ILUSTRASI GAMBAR
BUILDING MUSCULAR STRENGTH AND ENDURANCE
E. Latihan tahanan mempunyai beberapa manfaat yang positif : 1. Meningkatkan massa otot dan menurunkan massa lemak.
2. Meningkatan kuasa dan daya tahan otot.
3. Meningkatakan Basal Metabolic Rate (BMR).
4. Meningkatkan antigravitasi otot ( abdominal, lower back, hips, front and back of tight, both calves).
5. Meningkatkan kepadatan tulang.
6. Memperbaiki keseimbangan dyinamis
7. Memperbaiki mobility, seperti perlunya berjalan kaki dan menaiki tangga.
8. Memperbaiki waktu reaksi.
9. Menambah kepada lebih waktu istirahat.
10. Membantu menaikkan mood pada orang yang mengalami depresi sedang.
11. Memperbaiki bentuk tubuh, harga diri, dan kepercayaan diri.
12. Memperbaiki keefektifan insulin pada orang tua.
13. Membantu mengurangi berat badan dan pengurusan berat badan.
14. Boleh Meningkatkan HDL F. Anaerobic Exercise
Latihan Meningkatkan kuasa adalah anaerobic. Anaerobic secara harfiah berarti
“tanpa oksigen” dan ketika diaplikasikan pada latihan, itu menunjukan kepada aktiviti fizikal dengan intensity tinggi dimana tuntutan oksigen diatas level yang boleh disuplai selama pelaksanaan latihan.
G. Muscular Strength
Muscular strength adalah usaha yang maxsimum dari sebuah atau sekelompok otot yang digunakan dalam satu kali kontraksi. Muscular strength akan berkembang baik melalui latihan dengan intensiti yang tinggi. Jumlah kerja yang harus diselsaikan dalam latihan menggunakan istilah repetisi dan set dan Istilah peratus dari 1 Repetisi
Maksimum (RM) untuk 10 repetisi, dan 10 repetisi mewakili 1 set latihan. Satu RM adalah mewakili beban terberat yang boleh diangkat.
H. Muscle Contraction and Resistance Training Static Training ( Isometris)
Kontraksi isometric (panjang otot tetap) adalah kontraksi dimana otot menghasilkan regangan tetapi tidak memendekkan, karena tahanan melebihi kuasa kontraktil yang dihasikan dari latihan otot. Pengembangan kuasa optimum dari kontraksi isometric terjadi pada 5 – 10 set dari 6 saat kontarksi pada 100 peratus tenaga maksimum. Latihan isometrik berkesan untuk Meningkatkan kuasa.
I. Dynamic Exercise Isotonic Training
Pergerakan isotonic terdiri dari concentric dan eccentric. Kontraksi konsentrik terjadi ketika otot memendek sebagai pengembangan dari peregangan untuk mengatasi tahanan luar. Kontraksi eksentris terjadi ketika otot memanjang dan tahanan secara perlahan pada posisi awal.
J. Variable Resistance Trainning
Alatan Variable resistance training dikembangkan karena latihan isotonic tidak maksimum menekan seluruh otot untuk bergerak. Angkatan beban maksimum secara isotonic terbatas pada titik lemah system pengungkit kerangka otot. Beban Nampak sangat ringan pada satu titik pergerakan sendi tertentu, dan sagat beran di bahagian yang lain. Pada kenyataannya, beban adalah tetap dan sistema pengungkit tulang manusia berubah.
K. Free Weight Trainning
Latihan isotonic dengan beban bebas selanjutnya menjadi metode yang tepat untuk membangun kuasa. Latihan beban bebas mempunyai banyak manfaat, untuk atlet, ini boleh menghasilkan fleksibiliti dalam pembangunan kuasa, karena pergerakan tidak membatasi jalan.
L. Isokinetic Training
Latihan tahanan isokinetic meliputi gerakan dinamis dalam alatan latihan yang menghasilkan tahanan maksimum. Otot terdiri dari tiga tipe serabut : (1) tipe I atau slow-twitch oxidative fibers (SO);(2) jenis II a atau fast-twitch oxidative glycolitic fibers (FOG); (3) jenis IIb atau fast-twitch glycolitic fibers (FG). Jenis serabut tersebut boleh diidentifikasi melalui kecepatan kontraksi dan sumber energy utama yang digunakan. slow-twitch oxidative fibers mengandalakan aerobic atau
sistema oksigen. Serabut ini bertanggung jawab untuk latihan dan aktiviti aerobic atau sifat dasar daya tahan. fast- twitch oxidative glycolitic fibers berkontraksi lebih cepat dari tipe serabut I dan mampu menggunakan oksigen tetapi tida seefisien tipe I.
serabut ini membantu latihan yang memerlukan kedua-dua energi aerobic dan anaerobic. fast-twitch glycolitic fibers memeiliki kontraksi yang paling cepat.
M. Circuit Resistance Training.
Circuit Resistance Training (CRT) sangat efektif untuk orang yang menghendaki pembangunan beberapa dimensi kecergasan secara simultan. Kuasa dan daya tahan otot, berubah menjadi komposisi badan, dan perbaikan pada daya tahan cardiorespiratory boleh dicapai secara bersamaan.
N. Muscular Endurance
Muscular endurance adalah usaha otot melawan tahanan submaksimal secara berulang-ulang. Daya tahan otot Isometric atau dinamik adalah kemampuan untuk menahan atau menekan kontraksi submaksimal dalam waktu tertentu.
ALAT BANTU MENINGKATKAN PERFORMANCE DALAM OLAHRAGA
1. Dumbbell
Dumbbell adalah seperangkat peralatan latihan beban yang terdiri dari sepotong bar pendek dengan lempengan beban pada setiap sisinya dan digunakan dalam latihan-latihan menggunakan satu lengan tangan (Baechle, Thomas R, 2003:XII). Dumbbell yang digunakan untuk melatih kelentukan pergelangan tangan dengan berat 0,5 kg dan 1 kg. Jenis latihan dumbbell yang digunakan yaitu latihan dumbbell wrist. Dumbbell wrist adalah latihan melentukkan pergelangan tangan menggunakan beban sebuah dumbbell dengan cara melakukan gerakan flexy dan ekstensi. Semakin lentuk pergelangan tangan maka akan mempermudah pemain melakukan pukulan dan pukulan yang dihasilkan maka semakin baik pula.
1. Tahap pelaksanaan (FX Erwin Santoso, 2010:15):
a. Posisi duduk dan badan condong ke depan
b. Tempelkan lengan ke bangku/meja dengan telapak tangan menghadap atas memegang dumbbell
c. Gerakkan pergelangan tangan ke atas untuk mengangkat dan ke bawah menurunkan dumbbell
d. Tarik nafas untuk menaikkan beban dan hembuskan untuk menurunkan beban
2. GYMBALL
a. Latihan untuk Meningkatkan Stamina
Latihan ini juga bisa kamu lakukan sebagai pemanasan sebelum memulai latihan kekuatan. Lakukan masing-masing gerakan selama 1 menit.
- Pertama-tama, duduk di atas gym ball, lalu melompatlah hingga badan terpantul-pantul di atasnya. Latihan ini juga bermanfaat untuk meningkatkan keseimbangan tubuh.
- Selanjutnya, pegang bola dengan kedua tangan di depan dada, angkat hingga berada di atas kepala, turunkan, dan ulangi beberapa kali.
- Masih pegang bola dengan kedua tangan di depan dada, kali ini putar melingkar ke kiri dan ke kanan sebatas pinggang.
b. Latihan untuk Mengencangkan Otot
Gym ball dapat menjadi alat bantu untuk melakukan latihan berbagai otot tubuh, mulai dari otot dada, punggung perut sampai kaki. Buat kamu yang ingin
mengecilkan perut, cocok sekali berlatih dengan menggunakan gym ball.
- Press-up. Latihan ini bertujuan untuk mengencangkan otot dada dan tricep.
Caranya, letakkan kedua tangan di atas gym ball dengan tubuh tetap lurus.
Turunkan dada ke arah bola dan jaga kedua siku tetap di samping, bukan dibuka ke samping. Kemudian kembali ke posisi awal. Gerakan ini mirip seperti push up, tapi menggunakan gym ball.
- Jackknife. Latihan ini bertujuan untuk mengencangkan otot perut, punggung, dan lengan. Caranya, posisikan tubuhmu seperti posisi push up, namun dengan kedua kaki diletakkan di atas gym ball dan kedua tangan menyentuh lantai serta dibuka selebar bahu. Posisi tubuh lurus dari kepala sampai tumit. Kemudian gunakan otot perutmu untuk menarik kedua lutut ke arah dada tanpa mengangkat bagian
belakang.
c. Latihan untuk Melenturkan Badan
Selain keseimbangan dan kekuatan otot, gym ball juga dapat membantu
meningkatkan kelenturan tubuh. Melakukan pemanasan dengan menggunakan gym ball juga bisa mencegah terjadinya cedera saat latihan. Kamu bisa lakukan gerakan berikut ini selama 10-20 detik untuk kelenturan badan:
- Sandarkan tubuh secara menyamping di atas bola dengan bagian pinggul dan paha menyentuh bola. Usahakan tangan menyentuh lantai dan rasakan otot lengan dan kaki tertarik.
- Selanjutnya, posisikan tubuh telentang di atas bola dengan kedua tangan terulur ke samping kanan dan kiri seolah sedang menarik sesuatu. Gerakan ini dapat
membantu merilekskan otot-otot tubuh yang tegang.
- Selanjutnya, sambil duduk di atas bola dan menjaga kedua lutut tetap diam, gerakkan pinggul ke kanan dan kiri dan jaga bola tetap diam. Tahan selama beberapa saat ketika kamu menggerakan pinggul ke samping untuk meregangkan tubuh bagian atas dengan lembut.