BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
PEMERINTAH (MENDAGRI) : Oh tidak,
F-PD (IR. FANDI UTOMO) : Ya sudah, saya kira jawabannya.
PEMERINTAH (MENDAGRI) :
Contoh Pak Jokowi saja sebelum mengajukan ijin ke Presiden, dia menghadap ke Mendagri dulu, saya sebagai Gubernur, kalau Gubernur itu kan yang melantik Mendagri atau Presiden. Saya mau mengajukan ijin maju sebagai calon Presiden, maka saya minta ijin Mendagri untuk membuat surat kepada Presiden minta ijin untuk maju, tahapannya itu diikuti. Jadi kepastian hukumnya jelas. Kalau hanya pemberitahuan saja wah., menurut saya. Padahal implikasinya ini bisa saja di kemudian hari ada model politicing yang dalam konteks Pilpres, tapi kan tidak harus secara detail diatur di undang-undang tidak harus detail, menyangkut etika.
Begitu saja pimpinan.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
KETUA RAPAT :
Kalau ijin clear ya, Pak Mendagri minta supaya tetap ada ijin. Yang kedua, mesti dijawab adalah kalau misalnya Presiden dalam frase ini dianggap masih punya kemungkinan tidak memberikan ijin, atau tidak memberikan ijin, keluar surat dari Presiden “tidak memberikan ijin”, kalimat ini dianggap masih membuka peluang itu, opsi satu ini.
Setuju sebenarnya, dalam waktu 30 hari setelah menerima surat permohonan ijin dari calon tidak diberikan, maka dengan sendirinya ijin tidak diperlukan. Tapi itu tadi, masih ada kemungkinan keluar surat itu, adalah surat tidak memberikan ijin. Nah menutupi kemungkinan ini bagaimana caranya. P\
PAN ada solusi, silakan.
F-PAN (TOTOK DARYANTO, SE) :
Pertama soal jangka waktu, apakah harus 30 hari jangka waktunya. Bisa tidak itu diperpendek secara administratifnya. Dan yang kedua, bagaimana bahasa, artinya tidak ada, tidak boleh mengeluarkan tidak, begitu lho. Jadi karena itu hak politik, jadi ijin itu hanya meluluskan, dan itu diberi batas waktu.
Jadi kalau tadi 30 hari, saya belum dengar pertimbangannya, karena tahapan-tahapan Pilpres itu harus disesuaikan juga. Satu bulan saya kira cukup lama, akan mengganggu proses pencalonan. Bisa-bisa ijin itu diajukan mungkin sebelum saat pendaftaran. Karena proses politik itu dinamis, dukungan ini - dukungan ini kita belum tahu, Presiden tress hole kan bisa terjadi, sehingga dapatnya itu sudah mendesak dari waktu 30 hari. Bisa seminggu, bisa 15 hari sebelumnya baru ada keputusan politik bahwa ini maju.
Nah ketika itu diajukan bisa ketabrak 30 harinya presiden tadi, lewat. Ini yang perlu diantisipasi, membuat undang-undang harus memikirkan sekecil-kecilnya sampai hal yang tidak mungkin meninggal saja difikirkan. Gimana kalau yang meniinggal calon presidennya. Kemarin malah, gimana kalau yang meninggal calon Wakil Presidennya, masa ini harus dinyatakan gugur, ada juga yang begitu.
Koq tidak adil banget, orang maju, rakyat mungkin senang melihat presidennya, wakilnya cuma mendampingi, wakilnya yang kecelakaan pesawat terbang, misalkan contoh. Lha..apakah itu lalu menjadi gugur, itu kemarin perdebatannya juga cukup kompleks.
Nah kalau yang ini, saya kira intinya disitu, pertama apakah 30 hari tadi sudah waktu yang paling pendek, apakah dimungkinkan waktu kurang dari itu. Itu pertama, untuk mempersempit tadi, kemungkinan itu tadi.
Yang kedua, kalau tidak ada ijin, tidak boleh ada keluar ijin yang tidak menyetujui. Jadi ini kira-kira begitu. Supaya hak politik ini tetap ijin, kami melihat ijin itu karena ini sistem pemerintahannya. Sistem pemerintahan itu mengapa harus ijin, karena menyangkut pelayanan kepada masyarakat tentu tidak boleh mengabaikan itu. Jadi masih ada ijin menunjukkan, satunya sistem pemerintahan NKRI walaupun dia beda partai politik, tapi kepala daerah bagian dari Pemerintah Pusat sebagai Gubernur dan seterusnya seperti UU Pemda itu. Itu perlunya ijin disitu, kalau menurut kami.
Tapi bagaimana supaya tidak mungkin dikeluarkan “tidak boleh”, dalam hal ini. Jadi selain tidak boleh ada batasan. Jadi kalau tidak keluar apa-apa ya sudah dengan sendirinya KPU menyatakan sudah dianggap punya ijin, seperti undang-undang sudah diketok Paripurna, presiden tidak mau tandatangan dalam waktu sekian rentang waktu, itu dinyatakan sudah sah, seperti itu. Kira-kira begitu formula yang kami usulkan.
KETUA RAPAT : Silakan Pak Menteri.
PEMERINTAH (MENDAGRI) :
Ketua, saya kira sudah jelas Pak, bahkan dikunci saja di pasal itu Pak,
“presiden memberikan ijin dan seterusnya”, di poin keduanya surat permintaan.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
F-PGERINDRA (SUPRATMAN ANDI AGTAS, SH, MH) :
Pimpinan, saya Supratmen ketua, ada problem tekhnis, saya menarik apa yang disampaikan oleh Pak Totok tadi, ini kan masalah politik Pak Menteri, kadangkala deal-deal politik kalau yang diinginkan itu harus memenuhi persyaratan, termasuk dukungan partai politik dan lain-lain sebagainya itu menjadi persyaratan dalam proses perijinan itu, itu dijadikan syarat pertimbangan wah..itu sangat berbahaya, karena kita tahu bahwa ini kan ada proses administrasi itu bukan satu-dua jam, itu harus lewat proses, ya perijinannya pasti tidak mungkin bisa sehari, dua hari memaksa Pak Menteri dan Presiden untuk sekian, apalagi Pilkada serentak Pak.
Oleh karena itu menurut saya, kalau ini tetap diberlakukan secara tekhnis nanti itu akan menyulitkan, pasti ada calon yang tidak akan mungkin mendapatkan ijin. Karena mungkin proses surat menyuratnya tidak sampai.
Kalau itu yang terjadi di penyelenggara Pemilu itu bisa berbahaya bagi calon yang bersangkutan Pak.
Oleh karena itu menurut saya, dari pada kita perdebatkan ada kemungkinan hal-hal yang bisa menghambat pencalonan, padahal kita sudah bersepakat ini soal administratif, ya dari pada ada kerjaan, nanti kalau seperti ini kan seakan-akan kesannya Mendagri, Presiden hanya ngurus soal ijin, padahal yang seharusnya sudah wajib. Jadi sudah pasti keluat, jadi untuk apa lagi. Lebih bagus kita tidak batasi, lebih bagus hanya cukup dalam bentuk pemberitahuan saja Pak ketua, terima kasih.
KETUA RAPAT :
Pak Amirul Tamim silakan.
F-PPP (H. MZ. AMIRUL TAMIM, M.SI) :
Kata ijin, meminta ijin itu tentu ada konsekuensi. Konsekuensinya diberi ijin atau tidak diberi ijin. Kemudian kita tambah tadi, kalau 30 hari tidak memperoleh jawaban diijinkan atau tidak, itu sama saja diijinkan. Tadi Pak Menteri menyampaikan, Presiden memberikan ijin, tidak ada kata-kata lain, itu tidak apa-apa Pak Menteri, mungkin ini juga jangan sampai kita membuat norma, seakan-akan memaksa Presiden, mendikte Presiden harus memberi ijin. Kalau tidak ada proses penilaian dari Presiden.
Jabatan Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Walikota, memang itu jabatan politis, tapi harus kita ingat bahwa dia juga terikat dengan satu sistem, ketika dia dilantik mengangkat sumpah, itu dia sudah terikat sebagai suatu pejabat negara yang tentu harus mengikuti tatakrama-tatakrama. Tatakrama dalam proses dalam pemerintahan ya salah satunya etikanya. Kalau hanya sekadar kita memberitahukan, saya kira unsur etikanya itu hampir-hampir hilang.
Pak Menteri tadi sudah kasih contoh, mau ke luar negeri saja urusan pribadi harus ijin, kenapa harus ijin, ya karena ikatan tadi, sudah bersumpah, sudah dilantik dan dia terikat dengan sistem. Oleh sebab itu pimpinan, konsekuensinya memang sebagai pejabat negara sudah terikat dengan aturan-aturan main dalam birokrasi ini, harus minta ijin. Ya..konsekuensinya ditolak atau diijinkan. Tapi karena kita ada ruang, kalau sampai dengan 30 hari tidak diijinkan ya.. sama saja dianggap diberi ijin.
Saya kira kita ambil saja yang satu. Kalau pemberitahuan menurut hemat saya ini, ini juga kurang etis, kurang etis itu. Sebagai pejabat yang sudah terikat dalam satu sistem birokrasi.
Saya kira demikian pimpinan.
KETUA RAPAT :
Pak Johnny Plate dulu, setelah itu Pak Arif Wibowo.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
F-NASDEM (JOHNNY G. PLATE) :
Terima kasih pimpinan. Setelah memperhatikan mendengar secara cermat pendapat pemerintah, apalagi pendapatnya Pak Rambe, sungguh-sungguh saya perhatikan itu tadi Pak Rambe, hatipun mau saya kasih sama Pak Rambe. Begini Pak Rambe, pada prinisipnya sejauh bahasa itu positif, positif bahasanya, ini soalnya di dalam draft, kalau draft ini tidak paslah, ini tidak pas, sejauh draftnya berbunyi Presiden memberikan ijin atas permohonan dari Gubernur dan seterusnya itu, memberi ijin koma, jika dalam waktu 30 hari ijin belum diberikan baru dianggap secara otomatis. Jadi bahasanya positif.
Apabila itu bahasanya positif, kami bisa bergeser dengan penuh kedamaian hati memahami betul pendapatnya Pak Rambe, kami mensupport Pak Rambe dalam hal ini. Gimana Pak Rambe, cocok tidak itu, siap jadi kami bisa bergeser dari dua ke satu dengan catatan itu.
KETUA RAPAT :
Langsung saja kita exersice.
F-PD (IR. FANDI UTOMO) :
Maaf ketua, interupsi ketua, ini kan kita sudah disodori seolah-olah kita ini sudah voting, tapi kita ini masih bisa membahas lagi. Saya mohon kejelasan dari tadi, makanya dari tadi kami tidak mengajukan argumen apa-apa, karena saya fikir kita ini sudah forum pengambilan putusan, begitu lho Pak pimpinan. Kalau memang masih bisa diperbaiki atau muncul opsi, berarti hari ini kita belum masuk ke pengambilan keputusan. Saya ingin membuat clear saja supaya persidangan ini dalam persepsi saya benar, begitu Pak.
KETUA RAPAT :