Pemerintahan Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan yang menjadi pejabat kerajaan adalah: Patih Agung dijabat oleh Kyayi Nyuhaya putra dari Arya Kepakisan yang berkedudukan di Gelgel, Tumenggung (Merangkap Manca Agung) dijabat oleh Kyayi Klapodyana putra tertua Arya Kuthawaringin yang berdomisili di desa Gelgel, Penyarikan atau sekretaris dijabat oleh Kyayi Arya Brangsinga putra tertua Sira Arya Kanuruhan yang berdomisili di Tangkas, Kyayi Arya Tangkas menjadi Bendesa di desa Tangkas dan adiknya Kyayi Arya Pegatepan menjadi patih yang bertugas di Bagian Logistik Kerajaan. Ketika Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan bertahta sebagai pelindung rakyat daerah Bali, aman sentosa seluruh kerajaan Bali, tidak ada kekacauan, makmur tidak kurang makanan, karena bagaikan penjelmaan Sanghyang Tohlangkir (Gunung Agung), tampan seperti Arjuna, tidak ada perumpamaan lagi pada sesama manusia, lengkap dengan kedelapan ilmu yang tinggi (Karteswarya), disangga oleh para menteri dan arya semuanya.
Pada masa pemerintahan Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan ada sedikit permasalahan, yang mana Kyayi Klapodyana yang bergelar Kyayi Agung Bendesa Gelgel, dapat berselisih paham dengan Kyayi Nyuhaya, sebagai penyebabnya Kyayi Klapodyana mengawinkan putri Kyayi Nyuhaya, bernama Ni Gusti Ayu Hadi saudara Kriyan Petandakan, demikian pokok permasalahannya yang menyebabkan hati Kyayi Nyuhaya marah dan kesal. Beliau tidak rela putrinya dinikahkan, serta menolak permakluman pelapor yang mempermaklumkan perkawinan itu. Kyayi Nyuhaya merencanakan untuk membunuh Kyayi Klapodyana, karena menganggap sangat besar dosa beliau itu, seperti seorang pria ras kebanyakkan mengawinkan putri bangsawan, tidak dapat ditebus dengan apapun, kecuali dibunuh. Demikian niat Kyayi Nyuhaya bersikeras, dan telah memberitahukan kepada saudara-saudara beliau yaitu Kriyan Petandakan, Satra, Pelangan, Kaloping, Akah, Cacaran, Anggan dan semua saudara sepupunya untuk bersatu padu. Setelah berhasil mencapai kata sepakat, beliau segera menghadap raja Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan di Istana Sweca Lingarsa Pura, mempermaklumkan bahwa putri beliau dinikahkan oleh Kyayi Klapodyana, serta mohon perkenan baginda raja untuk membunuh Kyayi Klapodyana, yang dianggap berdosa menikahkan putrinya sebagai keturunan bangsawan, karena kasta Kyayi Klapodyana belum diketahuinya.
Tianyar dan adiknya Ni Gusti Ayu Pegatepan menikah dengan cucu Kyayi Arya Brangsinga. Ki Gusti Madya Bukian Bendesa Sibetan mempunyai putra lima orang yang sulung bernama Ki Gusti Wayahan Bukian, adik-adiknya bernama Ki Gusti Madya Bukian, Ki Gusti Nyoman Bukian, Ki Gusti Ketut Bukian dan yang bungsu Ki Gusti Kalianget kelima putra-putra biliau merupakan cikal bakal atau pawiwit adanya warga Bukian di Bali.
Kini diceritakan dahulu pada waktu wafatnya Dewateng Enggong (Ida Dalem Waturenggong) saat itu sedang zaman kali, timbul suatu keganjilan pada Kryan Batan Jeruk, diliputi oleh perasaan “lobha, moha, murka”, pada akhirnya dia melawan pemerintahan Ida Dalem, diikuti I Dewa Anggungan, itu yang menyebabkan timbul suatu pertempuran yang hebat pada tahun 1550, putra-putri Ida Dalem Waturenggong (I Dewa Pemahyun Bekung dan I Dewa Anom Saganing) terkurung di dalam istana, dan Sang Raja Putri (adik I Dewa Anom Saganing) dibunuh oleh Batan Jeruk.
Disanalah para tanda menteri diantaranya Kryan Dawuh Manginte, Kryan Kubon Tubuh, Ki Gusti Singa Kanuruhan, Ki Gusti Madya Kanuruhan, Ki Gusti Abrasinga, Ki Tangkas Gelgel, Ki Tangkas Dimade Keluwung Sakti, Ki Ketut Tangkas serta para Arya dan rakyat, sebagian besar bersama-sama bertahan membela Ida Dalem, serentak mereka semua menerobos masuk ke istana, untuk dapat menyelamatkan kedua putra Ida Dalem, kemudian dilarikan oleh Kryan Kubon Tubuh, melalui lubang tembok, menuju ke arah barat, dan hampir mengalami kekalahan perlawanan Dalem. Namun demikian akhirnya Kyayi Batan jeruk dapat dikalahkan, dikejar oleh pasukan tempur “Dulangmangap”, yang akhirnya dapat dibunuh di Bungaya Karangasem, dan I Dewa Anggungan diturunkan kastanya menjadi Sang Anggungan.
Ditetapkan lagi bahwa yang menduduki tahta sebagai pelindung pulau Bali putra Ida Dalem yang bergelar Ida Dalem Pemayun Bekung, dibantu oleh adinda beliau Ida Dalem Anom Sagening, sebab Ida Dalem Pemayun Bekung kurang kebijaksanaan atau kecakapannya bila dibandingkan adiknya. Menteri utama diduduki adalah Kryan Dawuh Manginte, maka disebut “Ya-Nginte, Ya Batanjeruk”, sebab kenyataannya seketurunan. Para Arya yang lain menduduki tempat masing-masing seperti semula, Ki Gusti Madya Kanuruhan, tetap sebagai ”Penyarikan Ida Dalem”, Ki Gusti Singa Kanuruhan Patih Muda kedudukannya, kembali pulih keamanan negara, terdorong oleh kebijaksanaan atau kecakapannya Kriyan Patih. Tak terkatakan suka cita Ida Dalem, sebab telah tertundukkan segala gelagat perbuatan musuh.
46
Sejarah Sira Arya Kanuruhan -Wayan Adiartayasa
menggigil, kehilangan keseimbangan dan tidak bergerak, kemudian ditombak bahu harimau tersebut dengan besi tombak sumpitan sehingga luka parah badan dan akhirnya rebah dan harimau hitam tersebut mati. Matinya harimau tersebut karena adanya pengaruh bius atau racun punglu dibuat dari empat jenis bahan baku (tanah liat, gula Bali, pasir hitam, dan kapas).Setelah Kyayi Klapodyana berhasil mengalahkan harimau hitam tersebut, kemudian raja Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan menganugrahkan “Aji Purana” kepada Kyayi Klapodyana
dan semua keturunan Arya Kutawaringin.
Adapun Kriyan Arya Berangsinga, yang menjabat Kanuruhan atau sekretaris raja Ida Dalem Ketut Sri Smara Kepakisan, mempunyai dua orang putra laki-laki, benar-benar tak tercela tampang mukanya yang tampan, sebagai Nakula Sahadewa, sedang muda remaja kedua putranya itu, menarik hati mereka yang melihat, yang tertua bernama Kyayi Brangsinga Pandita, adiknya bernama Kyayi Madya Kanuruahn Kesari. Menurut Palalintih Kyayi Tangkas Kori Agung Sading yang disalin oleh Drs I Nyoman Sukada tahun 2002.
Diceritakan Kyayi Arya Tangkas telah mempunyai empat putra yang sulung bernama Kyayi Tangkas Wayahan yang menjadi Bendesa Tangkas, yang kedua bernama Kyayi Tangkas Dimade menjadi patih kerajaan Gelgel, yang ketiga bernama Kyayi Nyoman Tangkas Kanuruhan berdomisili di Gelgel menjadi patih kerajaan Gelgel dan yang bungsu bernama Ni Ayu Tangkas yang kemudian menikah dengan Arya Kepasekan. Kyayi Arya Pegatepan juga mempunyai seorang putra bernama Kyayi Gusti Pegatepan.
Tersebut ketika Maharaja Bali Ida Dalem Ketut Sri Smara Kepakisan, diundang oleh Sri Hayam Wuruk raja Majapahit, agar datang ke Majapahit ketika dibangun suatu yadnya yang bernama “Usaba Sradha”, Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan berkeinginan untuk menghadiri Paruman Agung tersebut.
Sehubungan dengan keberangkatan beliau ke Majapahit, maka beliau mengundang seluruh menteri untuk hadir di istana Sweca Lingarsa Pura dan kemudian belaiu bersabda kepada para menteri hadir: Kriyan Petandakan, Ki Gusti Pinatih, Kyayi Klapodyana, Kyayi Brangsinga Pandita, Tan Kober, Tan Kawur, dan Tan Mundur semuanya ikut ke Majapahit, menghadiri udangan raja Majapahit.
Sedang Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan juga bersabda kepada Arya Tabanan, Tegeh Kori, Penataran, Tohjiwa, Pring, Cagahan, Sukahet, Kyayi Tangkas Dimade, Kyayi Nyoman Tangkas Kanuruhan,Kyayi Pegatepan, Kulwan, Jelantik dan Camenggawon tidak ikut ke Majapahit dan semuanya menjaga
keraton dan untuk menciptakan kedamaian.
3 5
Sejarah Sira Arya Kanuruhan -Wayan Adiartayasa
Kini diceritakan putra-putra Ki Tangkas Gelgel di desa Tangkas menyebar ke desa-desa dan menjadi Bendesa di desa Dawan, Getakan, Besang, Banjarangkan, Klungkung dan Tangkas. Menurut Sejarah Dadia Tangkas Kori Agung Tulus Dadi di Banjar Jangu Desa Duda, Kecamatan Selat Karangasem tahun 2009 putra Ki Tangkas Gelgel yang menetap di desa Tangkas mempunyai putra empat orang yang sulung bernama Ki Tangkas Purwadana, adiknya bernama Ki Tangkas Pemade, Ki Tangkas Kesatria Jeroan, dan yang bungsu bernama Ki Tangkas Kepasekan. Diceritakan Ki Tangkas Purwadana mmpunyai tujuh orang putra yang sulung bernama Ki Tangkas Pemayun, adiknya kedua Ki Tangkas Jaya Kusuma, adiknya ketigaKi Tangkas Tulus Dadi (kesah ke Desa Adat Duda tepatnya di Cungkub kemudian kesah ke Jangu sekarang semeton penyungsung atau pengempon Pura Dadia Tangkas Kori Agung Tulus Dadi di Banjar Jangu, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem). Adiknya keempat Ki Tangkas Kara Sodana, adiknya kelima Ki Tangkas Suta, adiknya keenam Ki Tangkas Slokaserana, dan yang bungsu Ki Tangkas Tata Negara.
Putra-putra Ki Tangkas Manik Mas yang menjadi Bendesa Kapal kemudian menjadi Bendesa di desa Kapal, Mengwi, Munggu, Kediri, dan Kuta.
Putra-putra Ki Tangkas Manikan yang menjadi Bendesa Seraya kemudian menjadi Bendesa di desa Tumbu, Sengkidu, Antiga, Garbawana, dan Seraya.
Putra-putra Ki Tangkas Jaya yang menjadi Bendesa Tulamben kemudian menjadi Bendesa di desa Tulamben, Datah, Selat, Sidemen, Sangkan Gunung, Tiying Tali, Bulakan, Babi, Munti, Culik, Margatiga, Tista dan Batudawa.
Diceritakan Ki Tangkas Dimade Keluwung Sakti mempunyai dua orang putra yang sulung bernama Ni Luh Tangkas kemudian menikah dengan treh I Gusti Agung Pasek Gelgel dan adiknya yang namanya hampir sama dengan ayahandanya bernama Ki Tangkas Dimade Keluwung Sakti atau sering disebut Raden Bagus, kemudian kesedahang oleh ayahandanya sendiri pada saat bertugas di wilayah Kertalangu, akibat dari kesalahan perintah raja Ida Dalem Sagening.
Diceritakan Ki Tangkas Wayahan yang menjadi Bendesa Giri Tohlangkir berdomisili didesa Jungut Pesangkan (dilokasi Pura Batur Jungut Pesangkan sekarang) kabiseka Jro Bendesa Tangkas telah mempunyai tiga putra yang kemudian menjadi Bendesa di desa Kubutambahan, Tanggabaya dan Giri Tohlangkir (Pesangkan). Putra beliau yang menetap di Pesangkan kabiseke Jro Bendesa Kukuh, kemudian lama kelamaan keluarga beliau kesah ke Desa
44
Sejarah Sira Arya Kanuruhan -Wayan Adiartayasa
Setelah pesamuan agung berakhir Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan mengadakan perjalanan menuju Madura, karena Adipati Madura Jaran Panolih akan menyelenggarakan suatu upacara yadnya kepada leluhurnya. Selain raja dari Bali, upacara yadnya tersebut dihadiri juga oleh raja dari Blangbangan,
Pesuruhan, Palembang, Cina dan Makasar.
Dikisahkan Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan kembali pulang ke Bali.
Kemudian saat sampai di Tukad Canggu, tiba-tiba keris beliau dari pemberian Maharaja Majapahit terjatuh dan tenggelam ke dalam dasar sungai. Kemudian Ida Dalem memperlihatkan sarung keris dan mengarahkan sarung keris tersebut ke arah sungai tempat jatuhnya keris tersebut, maka keris tersebut kembali dengan sendirinya memasuki sarungnya. Sejak saat itu, keris tersebut yang semula bernama “Ki Sudamala” kemudian diberi nama “ Ki Bangawan Canggu”. Setelah Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan sampai di Sweca Lingarsa Pura, beliau berkehendak melakukan upacara “Bhiseka Atitiwa Arjuna” yaitu mengenakan gelung “Apit Surang” dengan mengundang seorang pendeta dari daerah Keling yang bernama Mpu Kayu Manis. Pada suatu hari yang baik, Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan dilantik atau didiksa oleh Mpu Kayu Manis dan dilanjutkan dengan pemberian petuah-petuah. Setelah menyelesaikan pediksaan Brahmana Mpu Kayu Manis kembali ke daerahnya. Kedudukan Raja Sweca Lingarsa Pura menjadi semakin kuat, negara menjadi aman dan sentosa. Diceritakan Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan dijodohkan dengan putri Kyayi Bendesa Gelgel, kemudian beliau menurunkan seorang putra dan dua orang putri, yang sulung bernama I Dewa Waturenggong, yang kedua bernama yaitu I Dewa Ayu Laksmi yang dilarikan dan dijadikan istri oleh Bagawanta Bujangga, serta yang bungsu bernama I Dewa Ayu Kuning yang kawin dengan Sang Garbajata yang menurunkan keturunan Tirta Harum. Diceritakan juga Ida Dalem Ketut
Sri Semara Kepakisan mempunyai putra lain, yang diberi nama I Dewa Kandel sewaktu beliau tinggal di desa Pandak. Istri beliau adalah bernama Ni Gusti Ayu Subanita, putri dari Arya Dalancang di Pura Lemendek Pandak Gede Tabanan.
Adalagi warih Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan menurunkan putra dan sekarang keturunan beliau diberi nama Bendesa Bendega Dalem Samanjaya.
Setelah cukup lama Ida Dalem Ketut Semara Kepakisan bertahta menjadi raja di Sweca Lingarsa Pura Bali, lebih kurang 77 tahun lama, tiba saatnya baginda Ida Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan, berpulang kembali ke alam baka pada tahun 1460 (isaka 1382), kemudian beliau diganti oleh putra yang sulung bernama Ida Dalem Waturenggong.
3 7
Sejarah Sira Arya Kanuruhan -Wayan Adiartayasa
Kini diceritakan tentang anugerah Ida Dalem Waturenggong di istana Gelgel, kepada sekalian para Arya, agar supaya sama-sama mempertahankan kewajiban yang diwariskan dari leluhurnya masing-masing, setia mengabdi kepada raja, menciptakan seluas-luasnya kemakmuran negara, saat itu beliau Ida Dalem Waturenggong menganugerahkan piagam kepada para arya masing-masing yang mengandung tata upacara kematian, sampai dengan kajang, menurut tingkatan tinggi dan rendah, ditulis di dalam lembaran berupa prasasti.
Tidak luput Kyayi Brangsinga Pandita, beliau juga dianugerahi piagam disaksikan oleh para Arya seluruhnya, dan para brahmana turunan beliau yang baru datang (Danghyang Nirartha). Sabda Dalem, „Hai engkau Brangsinga, engkau adalah darah ksatrya, sekarang kaum Arya penjelmaanmu, sebab kedudukanmu menjadi patihku, daku menganugrahkan piagam gegaduhan kepadamu, yang ditulis dilembaran ini, sebagai suatu tanda peringatan akan kesetiaanmu kepadaku (raja), itu wajar engkau menyampaikan atau menjelaskan kepada keturunan-keturunanmu sepanjang jaman, agar supaya tiada khianat pada dharma seorang petugas, memegang teguh manteri sesana, dan upacara hidup dan mati‟. Daku menganugerahkan padamu, jangan ragu-ragu dan semrawut, jangan tidak yakin, sebab sangat utama untuk penjelmaanmu, dan juga telah mendapat restu dari beliau yang baru tiba (Danghyang Nirartha), sebab demikian diwariskan sejak di Majapahit.
Setelah menerima anugerah dari Ida Dalem, dengan penganjali, sembah Kyayi Brangsinga Pandita, “Daulat tuanku Sri Prameswara yang menjadi junjungan hamba, hamba junjung segala anugerah Paduka Bhatara, hamba menurut segala titah Sri Maha Prabhu, sampai dengan ke tujuh lapisan hati kecil hamba, sepanjang jaman sampai dengan di alam baka kiranya, serta generasi keturunan-keturunan hamba”. Akhirnya Kyayi Brangsinga Pandita, mengadakan suatu pertemuan atau musyawarah dengan anak cucunya Pratisantana Sira Arya Kanuruhan, memberikan “piagam gegaduhan” sebagai yang dianugerahkan oleh Ida Dalem Waturenggong, agar selalu dipertahankan sampai berakhir jaman hingga menjelma kembali.
Lama kelamaan Kyayi Brangsinga Pandita pulang ke alam baka, diganti oleh ketiga orang putranya, mengabdikan diri kepada Ida Dalem. Diceritakan pula bahwa Dalem Waturenggong telah wafat, pada tahun 1550 atau saka 1472, selanjutnya disebut “Dewateng Enggong”. Tinggal putra-putri beliau tiga orang kanak-kanak, dua orang laki-laki, seorang wanita, yang sulung bergelar Ida I
42
Sejarah Sira Arya Kanuruhan -Wayan Adiartayasa
Ketika bertahta Ida Dalem Waturenggong sebagai raja di Nusa Bali, beliau adalah raja yang terbesar dan dihormati, betul-betul raja gagah berani, sangat bijaksana membina jiwa rakyatnya, tak ada taranya kemakmuran kerajaan serta wilayahnya, diresapi oleh budhi luhur sang raja, semua memuji-muji keagungan dan kebijaksanaan beliau, terlebih-lebih dengan keberanian dan kesaktian beliau yang menyebabkan selalu unggul dalam pertempuran, bagaikan Harimurti (Winsumurti) pada waktu bertangan empat.
Adapun para pradana dan tandha menteri, yang sejak dulu semua telah lanjut usia bahkan banyak yang telah berpulang (meninggal), itulah para putra beliau semua yang menggantikan, tetap sama kedudukannya seperti sediakala, di antara nya Ki Gusti Batan Jeruk, putra Kriyan Patandakan, beliau menjabat menteri utama, juga Ki Gusti Abiyan Tubuh putra Kriyan Kubon Tubuh, Kyayi Arya Brangsinga digantikan oleh putranya yang sulung bernama Kyayi Brangsinga Pandita, tingkah lakunya setia sebagai orang tuanya, dan menteri-menteri serta arya yang lain semuanya tetap pada kedudukannya.
Baginda raja amat berwibawa, benar-benar seperti keberanian singa, pandai dan bijaksana mengikat hati rakyatnya, tak terlukiskan dengan kata keamanan, kesejahteraan dan kesentosaan daerah Bali, tak terpengaruh oleh ketinggian hati budi rajanya, amat terpuji kebijakan baginda mengendalikan roda pemerintahan, sangat pemberani dan mepunyai kesaktian dalam pertempuran. Baginda raja Bali bagaikan Hyang Wisnu Murti dikala bertangan empat, lengkap dengan senjata gada, cakra. Keris Si Lobar, Si Tanda Langlang, dan Si Bangawan Canggu merupakan perwujudan senjata Wisnu tak pernah lepas dari Baginda dalam membasmi musuhnya, disertai dengan pasukan angkatan perang Baginda yang disebut “Dulungmangap” mempunyai anggota pasukan inti sebanyak 1600 orang, yang menjadikannya semakin tangguh dalam peperangan.
Dikisahkan pula Kyayi Gusti Pegatepan putra dari Kyayi Arya Pegatepan, diutus untuk meleraikan permusuhan Kyayi Ngurah Toya Anyar dengan adiknya Kyayi Ngurah Kaler, cucu Sirarya Gajah Para, bentrok antara saudara kakak adik di Toya Anyar, sebab terdapat kesalah fahaman antara mereka berdua, ketika suatu upacara ngaben, mengabenkan jenazah datuknya. Tetapi telah ditakdirkan oleh Hyang Kuasa. Keduanya menemui ajalnya, sama-sama meningalkan anak sedang kanak-kanak, serta meninggalkan istri sedang hamil. Adapun Gusti Pegatepan menetap di Tianyar, kemudian berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Ki Gusti Gede Pegatepan, seperti nama ayahnya, adiknya Ki
3 9
Sejarah Sira Arya Kanuruhan -Wayan Adiartayasa
Penulis menyadari seperti halnya salah satu pepatah mengatakan tiada gading yang tak retak, demikian pula apa yang disajikan dalam sejarah ini sudah tentu ada pro dan kontra, penulis menghormati adanya perbedaan tersebut, namun perbedaan tersebut jangan kita biarkan terus sampai melebarkan dan memisahkan persemetonan kita. Perbedaan sebaiknya diwujudkan dalam kebersamaan berdasarkan data sejarah,agar dapat memahami, menyamakan dan menyatukan pendapat dan pandangan mengenai perjalanan Sejarah Semeton Pratisantana Sira Arya Kanuruhan.
Pada buku ini masih ada banyak semeton yang belum terungkap atau diceritakan.
Penulis masih memerlukan pertimbangan dan persetujuan dari semeton bersangkutan, sebab informasi yang didapatkan melalui buku babad dan prasasti, masih ada yang belum singkron setelah dikaji berdasarkan fakta sejarah dan kejadiannya.
Sekiranya terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam penulisan buku ini, penulis mohon semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Ida Betara Hyang Leluhur/ Kawitan mengampuni segala kesalahan atau kekeliruan dan telah berani menyebut nama beliau serta mengungkap kembali pelelintihan beliau. Muduh-mudahan penulis dijauhkan dari segala bahaya, kutukan dan tulah, karena apa yang ditulis dalam buku ini mempunyai tujuan mulia yaitu agar keturunan beliau kelak kemudian hari dapat digunakan sebagai pegangan atau pedoman dalam membina persaudaraan, kerukunan, kebersamaan dan hubungan baik antar keturunan beliau maupun dengan masyarakat pada umumnya. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Ida Betara Hyang Leluhur/Kawitan, berkenan memberkati, memberkahi dan melindungi seluruh keturunan Nya.
Buku sejarah ini masih jauh dari sempurna, untuk penyempurnaan penulis mengharapkan adanya kritikan, saran, tegur sapa dan masukan berupa informasi data keberadaan semeton pada masing-masing desa, sebagai penunjang kelengkapan dan perbaikan penulisan Sejarah Sira Arya Kanuruhan edisi berikutnya. Demikian juga apabila seandainya dalam pembahasan sejarah ini ada yang kurang berkenan bagi pihak keluarga dan para pembaca, penulis mohon maaf dan terimakasih atas semuanya.
Om Santhi Santhi Santhi Om
Denpasar, 27 Maret 2015 Penulis
iv
warga yang lebih agung atau lebih rendah berdasarkan keturunan. Apabila in-gin menguji kebenaran buku ini, seharusnya dilihat dari disiplin ilmu babad dan sejarah. Pro-kontra tentu saja terjadi, akibat adanya pandangan dari kaca mata berbeda. Masyarakat Bali memegang teguh semboyan Rwa Binedha yang menghormati perbedaan. Namun perbedaan tersebut seharusnya dalam keber-samaan, untuk menyatukan pandangan dan pikiran guna mencapai kesatuan dan kebersamaan para semeton Pratisantana Sira Arya Kanuruhan.
Mudah-mudahan harapan menjadi kenyataan, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru arah. Semoga Ida Bhatara Hyang Sira Arya Kanuru-han, Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu membimbing kita menuju hari esok yang lebih baik.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om
Amlapura, 31 Maret 2015 Ketua Umum
I Wayan Geredeg, SH., MAP.
vi
DAFTAR PUSTAKA
Babad Arya Kanuruhan, 1997. Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali Denpasar
Babad Arya Kanuruhan, 2008. Kasurat Olih Drs I Wayan Djapa Panglingsir Warga Tangkas Kori Agung Kabupaten Tabanan Warsa 2008
Babad Arya Kepakisan, 1998. Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali Denpasar
Babad Arya Kutawaringin , 1980. Diterjemahkan oleh Cokorda Gede Catra.
Untuk Kepentingan Warga
Babad Arya Pinatih, 1998. Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali Denpasar
Babad Ki Bendesa Gerih, 2001. Pengurus Pusat Warga Bendesa Tangkas Kori Agung Pusat Gerih Desa Gerih Abiansemal, Badung Bali
Babad Pasek, 1956. I Gusti Bagus Sugriwa. Penerbit Toko Buku dan Alat-alat Tulis. Balimas. Denpasar.
Babad Pasek Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi, 2003. Disusun oleh Jro Mangku Gde Ketut Soebandi. Penyunting Wayan Supartha
Babad Prasasti Dalem, 1995. Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali Jl. Ir Juanda No.1 Telepon 228593. Denpasar.
Babad Tangkas Koriagung, 1996. Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali Jl. Ir Juanda No.1 Telepon 228593. Denpasar.
Diterjemahkan leh Dri I Wayan Djapa.
Bancangah Arya Tangkas, 1999. Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi
Bancangah Arya Tangkas, 1999. Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi