BAB II LABUHAN BILIK SEBELUM PENETRASI BELANDA
2.2 Pemerintahan
2.2.1. Sejarah Singkat Kerajaan Panai
Pada awal abad ke-16 berangkatlah rombongan dari Pagaruyung11 melalui Tapanuli Selatan menuju arah pesisir Sumatera Timur. Rombongan ini dipimpin oleh Batara Sinomba dan adiknya Batara Guru Pinayung12. Bersama rombongan juga ikut adik perempuan mereka Puteri Lenggani13. Di dekat Gunung Malea14, Batara Guru Pinayung memisahkan diri karena menikah di Mandailing dan diangkat menjadi Raja di sana yang serta merta bermarga Nasution15. Rombongan B. G. Sinomba melanjutkan perjalanan sampai di Otang Momok atau Kuala Teritis yang oleh marga Tambak Dasopang yang berada di situ, B. G. Sinomba diangkat menjadi raja. Puteranya sekaligus penggantinya hanya disebut “Marhom Mangkat Di Jambu”16
11
Sebab keberangkatan rombongan ini tidak diketahui secara pasti. Dari beberapa kisah diceritakan bahwa sebab keberangkatan adalah pertentangan antara mereka bertiga dengan orang tua mereka sendiri. Karena kecantikan adik perempuan mereka yaitu Puteri Lenggani membuat ayah mereka ingin mempersuntingnya sebagai isteri. Kedua kakak dari Puteri Lenggani menentang hal itu yang kemudian melarikan diri dengan membawa sekaligus adik mereka.
12
Menurut teromba Kota Pinang, Batara Guru Pinayung bernama Sutan Kumala Yang Dipertuan. Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II, Bangun Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, Medan: tanpa penerbit, tanpa tahun, hlm. 143
13
Menurut teromba Kota Pinang, Puteri Lenggani bernama Puteri Legen. Lihat juga Ibid
14
Menurut teromba Panai, gunung ini berada didekat Si Longganan. Lihart juga Ibid
15
Dalam catatan lain dikatakan Batara Guru Pianyung bermarga Lubis. Lihat, J. B. Neumann, Schets Der Afdeeling Laboean Batoe, Residentie Sumatra’s Ooskust, 1878, hlm. 50
16
Nama asli dari “Marhom Mangkat Di Jambu” tidak diketahui dan alasan ia digelar demikian karena ia meninggal tepat di bawah sebuah pohon jambu.
yang mendirikan Kampung Aer Merah dan dimakamkan di Pinang Awan. Marhom Mangkat Di Jambu (menurut teromba Panai) mempunyai tujuh orang anak yaitu:
1. Raja Indar Alam17
2. Raja Segar Alam (nama Suman), turunannya ke Kampong Raja bergelar “Marhom Mangkat di Sungai Toras”.
(nama asli Kain), menurut Teromba Bilah bernama Tohir (Marhom Mangkat Di Kumbul) dan dia inilah cikal bakal raja-raja di Bilah dan Panai.
3. Maharaja Awan bergelar “Marhom Mangkat di Tasik”, turunannya menjadi Raja-raja Kota Pinang.
4. Siti Onggu alias Siti Meja (pr) dibawa oleh rombongan Aceh dan menikah dengan raja Aceh.
5. Siti Kuning (pr), menikah dengan Raja Muda Pidie.
6. Maharaja Hulubalang, menjadi raja di Rantau Binuang (Rokan-riau). 7. Siti Putih (pr), menikah dengan Yang Dipertuan Tambusai18
Raja Indar Alam atau Raja Tohir menikah dengan boru Dalimunthe Poldung dan membuka Kampung Sungai Abal. Puteranya sekaligus penggantinya Raja Yunus (Marhom Mangkat di Gunung Suasa) memiliki empat orang putera yaitu:
.
1. Raja Nulong (Marhom Mangkat di Si Pege). 2. Raja Laut, tinggal di Bandar Kudoh.
3. Raja Mashor, tinggal di Air Bilah.
4. Raja Jumahat gelar Sutan Bidar Alam, pendiri Kampung Negeri Lama dan Tanjung Pagus, setelah meninggal digelar “Marhom Mangkat di Aloban”19
17
Dalam catatan lain ada tercatat namanya Raja Indra Alam. Lihat, J. C. F. Vigelius, “Memorie van Overgave van het Bestuur over Afdeeling Panei en Bila”, dalam Tijdschrift voor Indische Taal, Land, en Volkenkunde van Bataviasch Genootschap, jilid XVII, 1866.
18
Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II, op. cit., hlm. 145.
19
Ibid
Ke empat anak Raja Yunus, masing-masing mempunyai wilayah kekusaan. Demikianlah Raja Nulong mempunyai kekuasaan di daerah Si Pege yang kemudian menjadi penguasa dan mendirikan Kerajaan Panai sekaligus menjadi raja pertama dari kerajaan itu. Raja Laut mempunyai kekuasaan di Bandar Kudoh, Raja Mashor mempunyai kekuasaan di Air Bilah dan Raja Jumahat mempunyai kekuasaan di Negeri Lama.
Menurut teromba Bilah terjadi perang saudara antara 3 bersaudara yang di Bilah. Raja Jumahat menyerang adiknya Raja Laut hingga lari ke Somut dan mengalahkan Raja Mashor sehingga jadilah ia penguasa tunggal di Bilah sampai keturunannya. Selanjutnya Kerajaan Bilah dikuasai penuh oleh Raja Jumahat dan penggantinya adalah puteranya dan terus secara turun temurun. Berikut adalah silsilah dari raja-raja Bilah.
1. Raja Tohir (Marhom Mangkat di Gunung Suasa)………1630-1700 2. Raja Jumahat gelar Sutan Bidar Alam (Marhom Mangkat di Aloban)…1720-1760
3. Marhom Sakti………1760-1800
4. Sutan Indar Alam (Marhom Mangkat di Sei Abal)………...1800-1835 5. Tengku Musa Sutan Bidar Alam (Marhom Mangkat di Kota)…………..1835-1865 6. Sutan Adil Bidar Alamsyah (Marhom Mangkat di Negeri Lama)……….1865-20
Sementara itu, Raja Nulong tetap berkuasa dan menjadi Raja di Kerajaan Panai dan digantikan oleh keturunannya secara turun temurun. Berikut adalah silsilah raja-raja dari kerajaan Panai.
1. Raja Nulong (Marhom Mangkat di Si Pege I)……….1670-1700 2. Marhom Mangkat di Si Pege II………...1700-1720 3. Marhom Mangkat di Mesigit………...1720-1775
20
4. Marhom Saleh………..1775-1790 5. Marhom Sati (Marhom Mangkat di Negri Baru)……….1790-1813 6. Marhom Mangkat di Labuhan Bilik………1813-1856 7. Sutan Gagar Alam (Marhom Sakti)……….1856- ?21
2.2.2. Pusat Kerajaan Panai
Dari silsilah raja-raja kerajaan Panai dapat diperkirakan bahwa pada awalnya pusat Kerajaan Panai adalah di Si Pege. Ini terbukti bahwa raja pertama dan kedua dari kerajaan ini mangkat di situ. Sementara itu raja ketiga mangkat di Mesigit. Besar kemungkinan pusat pemerintahan dipindahkan ke Mesigit setelah mangkatnya raja kedua. Raja kelima diketahui mangkat di Negeri Baru. Di mana letak dari Negeri Baru ini tidak diketahui dan baru raja ke enam (1813-1856) mangkat di Labuhan Bilik. Jadi, pusat kerajaan Panai dipindahkan ke Labuhan Bilik diperkirakan pada 1810-an. Berdasarkan catatan John Anderson dalam ekspedisinya ke Sumatera Timur pada tahun 1823, Kerajaan Panai sudah berpusat di Labuhan Bilik22
Berpindah-pindahnya pusat kerajaan dapat dimaklumi karena berdasarkan kepercayaan pada zaman itu apabila raja mangkat di suatu daerah dan disemayamkan di situ dan selama pusat pemerintahan di daerah tersebut tidak memberikan suatu hal yang menguntungkan bagi kerajaan, maka daerah itu dianggap sial dan pusat kerajaan dipindahkan. Bertahannya Labuhan Bilik sebagai pusat Kerajaan Panai sampai penetrasi
.
21
Ibid
22
Raja
OK Muda OK Muda Bendahara OK Panai Datuk Paduka
Seundoro
Raja Muda
Bendahara
Rakyat Suku Panai Raja Rakyat Suku Panai Rakyat Suku Melayu Rakyat Suku Haru
Belanda, lebih disebabkan oleh strategisnya Labuhan Bilik terutama dalam hal perdagangan sebagai pendapatan utama dari Kerajaan Panai.
2.2.3. Sistem Pemerintahan Di Kerajaan Panai
Adapun sistem Pemerintahan di Kerajaan Panai adalah penguasa tertinggi yang menjalankan roda pemerintahan mempunyai keputusan mutlak, membuat dan atau mensahkan undang-undang atau suatu peraturan dan yang memutuskan untuk berdamai atau berperang adalah Raja. Dibawahnya sebagai pembantu ada Bendahara (Paman Raja) dan Raja Muda (Adik Raja) yang diangkat oleh Raja. Kemudian di bawahnya lagi ada kepala suku yang lebih dikenal Orang Besar Empat yaitu: Orang Kaya (O.K.) Muda yang mengepalai Suku Panai Raja, O.K. Muda Bendahara yang mengepalai Suku Panai, O.K. Panai yang mengepalai Suku Melayu dan Datuk Paduka Seundoro yang mengepalai Suku Haru. Masing-masing dari mereka mempunya bendera. Manakala raja mangkat, pemerintahan peralihan dipegang oleh O.K. Muda Bendahara dan Datuk Paduka Seundoro memimipin upacara adat pengankatan raja yang baru23
Bagan I : Bagan Sistem Pemerintahan Kerajaan Panai
. Berikut adalah bagan sistem pemerintahan kerajaan Panai:
23
2.3. Sarana Pendukung