• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada umumnya para peneliti pemerolehan bahasa beranggapan bahwa pemerolehan sintaksis hanya bermula apabila kanak-kanak mulai menggabungkan dua atau lebih kata-kata (lebih kurang umur 2 tahun). Oleh karena itu, peningkatan satu kata atau holoprastik (Steinberg, 1982:157) pada umumnya dianggap hidup berkaitan dengan

23

perkembangan sintaksis sebab masa ini anak belum memiliki ciri penggabungan dengan kata lain untuk membentuk frasa atau klausa. Meskipun ahli-ahli seperti E.Clark (1977) dan Gagman (1979) dalam Simanjuntak (1987:199) mempunyai keyakinan bahwa peringkat satu kata (holoprastik) ini dapat memberikan gambaran dalaman mengenai perkembangan sintaksis dan karena itu ada baiknya diikutsertakan dalam teori pemerolehan sintaksis. Berikutnya berbicara mengenai penguasaan sintaksis ini akan dibagi dua bagian, yaitu pemerolehan sintaksis pada anak usia pra-sekolah (0-4 tahun) dan pada anak usia sekolah (5 tahun ke atas).

1. Pemerolehan Sintaksis Pada Anak Usia 0-4 Tahun

Di dalam perkembangan anak (normal), konstruksi sintaksis paling awal dapat diamati pada usia sekitar 8 bulan. Namun, pada beberapa anak tertentu sudah dapat ditemui pada usia sekitar 1 tahun, sedangkan pada beberapa anak yang lain pada usia dari dua tahun. Perkembangan penguasaan kosa kata.

Tahap perkembangan sintaksis pada anak secara singkat dapat dirangkum sebagai berikut (Ingram, 1989:3); ini pentahapan yang dikenal secara tradisional.

a) Masa “pra-lingual”, lahir sampai akhir usia 1 tahun. b) Kalimat satu kata, sekitar 1 tahun sampai 1,5 tahun. c) Kalimat dengan rangkaian kata - sekitar 1,5—2 tahun.

d) Konstruksi sederhana dan kompleks – 3 tahun. (Purwo,1991:121)

Usia 2 tahun anak mulai menguasai kaidah infleksi (deklinasi, konjungsi, dan perbandingan), dan pada usia 2,6 tahun ke atas terjadi pemunculan klausa sematan dan

24

kalusa subordinatif. Sebelum usia 3 tahun anak mulai menanyakan hal-hal yang abstrak, dengan kata tanya seperti mengapa?, kapan, (Stern, 1924 dikutip dari Ingran 1989 :39— 45 melalui Purwo, 1991:121).

Dalam hal ini, ada beberapa perbedaan pendapat diantara para peneliti. Nice (dikutip dari Ingram 1989:46), misalnya melaporkan bahwa anak usia 3 tahun baru dapat menguasai kalimat pendek atau kalimat tidak sempurna. Adapun kalimat lengkap dan kalimat kompleks baru dikuasai anak usia 4 tahun. Perbedaan ini menurut Bowerman (dikitip Ingram1989:48), antara lain karena perbedaan mengenai jenis-jenis kalimat yang didefinisikan sebagai kalimat “kompleks” dan perbedaan mengenai pengetahuan yang dimaksud sudah memiliki anak sehingga dapat menghasilkan “kalimat kompleks” itu. Akan tetapi, menurut Bowerman, kebanyakan penelitian berkesimpulan bahwa sebagian besar jenis-jenis kalimat kompleks sudah muncul pada anak usia 2 dan 4 tahun.

Pada paruh kedua usia 3 tahun muncul penggunaan konjungsi koordinatif dan subordinatif. Sebelum usia, klausa hanya disejajarkan saja, tanpa dirangkai dengan konjungsi. Pada usia ini, belum terdapat konstruksi dengan klausa yang menduduki fungsi subjek. Menurut Limber (dikutip dari Bowerman, 1981:288), keterlambatan “pengoperasian subjek” ini bukan karena kekurangtahuan anak, melainkan kebanyakan kalimat yang diucapkan oleh anak pada usia ini mengandung subjek yang berupa promina atau nama diri, yang memang tdak terbuka untuk mengalami perluasan konstruksi.

25

Sampai dengan tahun 1960-an orang beranggapan bahwa anak sudah dapat menguasai sintaksis bahasa ibunya pada usia 5 tahun, dan perkembangan selanjutnya hanyalah penambahan kata-kata canggih. Disertai Carol Chomsky (1968 terbit 1969) melawan anggapan ini. Di dalam penelitian itu ditelusuri perbedaan antara tata bahasa anak usia 5 sampai 10 tahun dan tata bahasa orang dewasa, dan tersingkaplah bahwa ada sejumlah sintaksis bahasa Inggris yang belum dikuasai dengan sempurna pada anak usia sekolah dasar. Pendapat ini didukung oleh pengetahuan mengenai perkembangan kognitif anak. Pada anak usia antara 5 dan 14 masih terjadi perubahan kognitif yang mendasar. Kalau kita menganut pandangan Piaget, yaitu bahwa perkembangan bahasa berkaitan dengan perkembangan bahasa erat berkaitan dengan perkembangan kognitif, maka masih akan terjadi pula perkembangan bahasa pada anak usia 5 tahun.

3. Teori Tata Bahasa Pivot

Kajian mengenai pemerolehan sintaksis oleh kanak-kanak dimulai oleh Braence (1963), Bellugi (1964), Broern dan Fraser (1964), dan Miller dan Ervin (1964). Menurut kajian awal ini ucapan dua kata kanak-kanak ini terdiri dari dua jenis kata menurut posisi dan frekuensi munculnya kata-kata itu di dalam kalimat. Kedua jenis kata ini kemudian dikenal dengan nama kelas Pivot dan kelas terbuka. Kemudian berdasarkan kedua jenis kata ini lahirlah teori yang disebut teori tata bahasa Pivot. Pada umumnya kata-kata yang termasuk kelas pivot adalah katap-kata fungsi (function words) atau kata penuh (full

26

words) seperti kata-kata berkategori nomina dan verba. Ciri-ciri umum kedua jenis kata ini adalah berikut ini.

Kelas Pivot Kelas Terbuka

1. Terdapat pada awal atau akhir kalimat.

2. Jumlahnya terbatas, tetapi sering muncul.

3. Jarang muncul anggota baru (kata baru).

4. Tidak pernah muncul sendirian. 5. Tidak pernah muncul bersama

dalam satu kalimat

6. Tidak punya rujukan sendiri; tetapi selalu merujuk pada kata-kata lain dari kelas terbuka.

1. Dapat muncul pada awal dan akhir kalimat.

2. Jumlahnya tidak terbatas, sehingga tidak begitu sering muncul.

3. Sering muncul angora baru (kata baru)

4. Bisa muncul sendirian.

5. Bisa muncul bersama dalam satu kalimat; atau juga dari kelas pivot. 6. Mempunyai rujukan sendiri.

4. Teori Hubungan Bahasa Nurani

Tata bahasa generative transformasi dari Chomsky (1957,1965) sangat terasa pengaruhnya dalam pengkajian perkembangan sintaksis kanak-kanak. Menurut Chomsky hubungan-hubungan tata bahasa tertentu seperti “subjek-of, predicate-of, dan direct

object-of)” adalah bersifat universal dan dimiliki oleh semua bahasa yang ada di dunia

ini.

Berdasarkan teori Chomsky tersebut, Mc. Neil (1970) menyatakan bahwa pengetahuan kanak-kanak mengenai hubungan-hubungan tata bahasa universal ini adalah bersifat “nurani”. Maka itu, akan langsung mempengaruhi pemerolehan sintaksis kanak-kanak sejak tahap awalnya. Jadi, pemerolehan sintaksis ditentukan oleh hubungan-hubungan tata bahasa universal ini.

27

Menurut teori generative transformasi Chomsky hubungan subject-of dapat dirumuskan seperti bagan berikut:

K = FN + FV Keterangan:

K = kalimat FN = frase nomina FV = frase verbal

Sejalan dengan teori hubungan-hubungan bahasa nurani ini, Menyuk (Simanjuntak, 1987) menyarankan satu teori pemerolehan sintaksis yang ditentukan oleh sistem linguistik generatif transformasi yang telah menajdi sebagian pengetahuan kanak-kanak. Pengetahuan yang telah diperoleh sejak lahir ini mengenai rumus-rumus struktur dasar tata bahasa dan rumus-rumus transformasi dan fonologi mennetukan bentuk-bentuk ucapan kanak-kanak. Jadi menurut Menyuk, tanpa konteks ekstra linguistik, ucapan awal kanak-kanak akan menunjukan hubungan atau urutan S + V (subjek + verba) dengan posisi O (objek) sebagai opsional. Dengan demikian, kalimat-kalimat berurutan OSV dan SOV pun akan muncul di samping kalimat-kalimat SVO.

5. Teori Hubungan Tata Bahasa Dan Informasi Situasi

Selanjutnya Bloom juga menyatakan bahwa suatu gabungan kata telah digunakan oleh kanak-kanak dalam suatu situasi yang berlainan. Juga dengan hubungan yang berlainan di antara kata-kata alam gabungan itu. Umpamanya, kedua kata benda dalam “momy sock” pada contoh yang lalu sangat jelas menunjukan hal itu. Pada situasi pertama

28

hubungan kedua kata benda itu adalah menyatakan hubungan subjek-objek, sedengkan dalam situasi kedua adalah hubungan pemilik-objek. Contoh lain “sweet chair” yang disajikan di atas kiranya dapat menyatakan tiga hubungan bergantung pada situasinya. Dalam bahasa Indonesia ucapan “ibu kue” dalam situasi yang berbeda-beda dapat diartikan:

a) anak itu meminta kue kepada ibunya b) anak itu menunjukan kue kepada ibunya. c) anak itu menawarkan kue kepada ibunya.

d) anak itu memberitahukan ibunya bahwa kuenya jatuh atau diambil orang lain, dan sebaginya.

6. Teori Komulatif Kompleks

Teori ini dikemukakan oleh Brown (1973) berdasarkan data yang dikumpulkannya. Menurut Brown, urutan pemerolehan sintaksis oleh kanak-kanak ditentukan oleh kumulatif kompleks semantik merfem dan kumulatif kompleks tata bahasa yang sedang diperoleh itu. Jadi, sama sekali tidak ditentukan oleh frekuensi munculnya morfem atau kata-kata itu dalam ucapan orang dewasa. Dari tiga orang kanak-kanak (berusia dua tahun) yang sedang memperoleh bahasa Inggris yang diteliti Brown, ternyata morfem yang pertama dikuasai adalah bentuk progressive-ing dari kata kerja; padahal bentuk ini tidak sering muncul dalam ucapan-ucapan orang dewasa.

29 7. Teori Pendekatan Semantik

Teori pendekatan semantik ini menurut Greenfield dan Smith (1976) pertama kali diperkenalkan oleh Bloom. Dalam hal ini Bloom (1970) mengintergrasikan pengetahuan semantik dalam perkembangan sintaksis ini berdasarkan teorif transformasinya Chosmky (1965).

Perbedaan antara pendekatan semantik ini dengan teoari hubungan tata bahasa nurani adalah bahwa kalau teori tata bahasa nurani menerapkan hubungan-hubungan sintaksis dalam menganalisis struktur ucapan kanak-kanak, maka teori pendekatan semantik menemukan strujtur ucapan itu berdasarkan hubungan-hubungan semantik. Jadi teori hubungan tata bahasa nurani menerapkan struktur sintaksis orang dewasa, yaitu: K = FN + FV

Pada ucapan-ucapan kanak-kanak, sedangkan teori pendekatan semantik menemukan struktur:

Agen + kerja + objek, atau Agen + kerja, atau

Objek + kerja

Pada ucapan kanak-kanak, yaitu struktur yang menggambarkan hubungan semantik. Namun, menurut Bowerman (1973) dan Brown (1973) hubungan-hubungan semantik ini tidak selalu sejalan atau sesuai dengan hubungan-hubungan-hubungan-hubungan sintaksis yang diterapkan.

30 I. Pemerolehan Semantik

Berbeda dengan pemerolehan fonologi yang banyak dipengaruhi oleh aspek fisiologi, pemerolehan makna lebih banyak ditentukan oleh kematangan gaya kognitif dan lingkungan. Proses menuju ke kedewasaan menambah kemampuan untuk mengamati dan menyerap fenomena alam sekitar, lingkungan memberikan bahan masukan untuk mengelompokkan atau memilah-milah satu fenomena dari yang lain. Dengan dasar seperti inilah anak sedikit demi sedikit memberikan makna bagi aktivitas, keadaan, dan benda-benda disekitarnya (Dardjowidjojo, 1991:71—72).

Setiap anak meniliki cara untuk mengusai makna kata. Anak-anak menguasai makna kata dengan dua prinsip yaitu sini dan kini. Melalui dua prinsip tersebut dapat diketahui berapa banyak kata yanmg mampu dikuasai anak. kemampuan seorang anak yang tinggal di desa dalam menguasai kata dengan anak yang berada di kota akan berbeda. Hal ini terjadi karena perbedaan lingkungan kedua anak tersebut. Anak di pedesaan akan menguasai kosakata seperti pohon, daun, cangkul, atau sawah. Anak yang berada diperkotaan akan menguasai kosakata sepeeti game, mall, computer, dan kosakata lain yang ada di sekitarnya. Untuk menentukan sebuah makna merupakan hal yang tidak mudah bagi seorang anak. seorang naka harus menganalisis segala macam fiturnya sehingga makna yang diperoleh itu sama dengan makna yang diperoleh orang dewasa (Dardjowidjojo, 2008:260).

31

Menutur Glinkoff (Dardjowidjojo, 2008:264) anak tidak menguasai makna secara sembarangan. Ada strategi-strategi tertentu yang diikuti. Berikut ini keenam strategi tersebut.

1. Strategi Referensi

Strategi ini menganggap sebuah kata pastilah merujuk pada benda, perbuatan, proses, atau atribut. Dengan strategi ini seorang anak yang baru mendengarkan kosakata baru akan akan menempelkan makna kata itu pada salah satu dari referensi diatas. Bila kata itu gelas, dia akan meletakkan makna kata itu pada benda yang dirujuk pada makna kata itu.

Pada intinya, teori ini berdalih bahwa makna merupakan istilah yang merujuk kepada objek atau peristiwa yang ada di dunia nyata (rujukannya). Misalnya, nama yang mengacu pada orang tertentu, nama yang merujuk ke kelas objek, dan nama yang merujuk ke karakteristik objek atau peristiwa. Makna sebuah kata mengacu pada objek atau benda atau sifat yang dimiliki benda tersebut. Menurut teori ini, istilah yang berbeda untuk suatu objek yang sama akan memiliki makna yang sama pula. Misalnya nama Spongebob tokoh kartun berbentuk kotak dan berwarna kuning ini langsung merujuk pada tokoh kartun yang sama. Pandangan yang jelas tentang teori ini, dua kata yang memiliki makna yang idenntik dalam sebuah kalimat dapat saling menggantikan tanpa mengubah arti kalimat itu dan tentunya hal in tidaklah mudah. Permasalahan yang ada dalam teori ini adalah tidak semua kata memiliki rujukan yang jelas, seperti kata dan,

32 2. Strategi Cakupan Objek (Objeck Scope)

Pada strategi ini kata yang merujuk pada suatu objek merujuk pada objek itu secara keseluruhan. Jadi, kalau anak diperkenalkan kepada objek sepeda maka secara keseluruhan sepeda itulah yang akhirnya dikuasai. Pada awal pemerolehan bahwa anak hanya mengambil salah satu fiturnya saja, tetapi kemudian terbentuknya pengertian bahwa makna kata sepeda itu adalah sepeda secara keseluruhan.

3. Strategi Perluasan (Extandability)

Strategi ini mengasumsikan bahwa kata tidak merujuk pada objek aslinya saja, tetapi juga merujuk pada objek yang sama pada kelompok lainnya. Misalnya, ketika seorang anak dikenalkan pada seekor anjing berwanra hitam, maka dia akan tahu jika melihat anjing dengan wanra putih juga akan dikatakan anjing walaupun berbeda warna bulu.

4. Strategi Cakupan Kategorial (Categorical)

Strategi ini hampir sama dengan strategi perluasan, dalam strategi ini sebuah kata dapat diperluas objek-objek yang termasuk dalam kategori dasar yang sama. Misalnya anak diperkenalkan kata kobra yang kategori dasarnya sama dengan ular, maka jika dia dikenalkan juga dengan kata piton maka dia akan mengenalnya dengan ular juga.

33

5. Strategi “Nama Baru-kategori Tak Bernama (Novel name-nameless category)

Ketika seorang anak mendengar kata baru yang ternyata maknanya belum mereka temukan maknanya dalam deret leksikokn yang diingatnya, maka kata ini akan dianggap kata baru dan maknya akan ditempelkan pada objek, atribut, atau perbuatan yang dirujuk dari kata itu (Dardjowidjojo, 2008:263). Misalnya kata kancing yang baru didengar seorang anak, ternyata dalam deret leksikon anak tidak ditemukan, maka anak akan menganggap kata itu sebagai kata baru dan menempelkan makna katanya pada kancing itu. Strategi inilah yang membuat anak cepat sekali dalam menambah kosakatanya sejak umur 1 tahun.

6.Strategi Konvensionalitas

Strategi ini menggambarkan asumsi seorang anak bahwa pembicara memakai kata-kata yang tidak terlalu umum tetapi juga tidak terlalu khusus. Kemungkinannya adalah sangat kecil bagi orang dewasa memperkenalkan kata binatang untuk merujuk pada makna kata perkutut. Umumnya seorang anak akan menggunakan kata burung untuk merujuk makna perkutut karena kata burung tidak terlalu umum juga tidak terlalu khusus.

Pemerolehan semantik juga tidak terlepas dari pemerolehan makna, nonima, dan verba dalam setiap kata yang diujarkan. Makna inilah yang nantinya dapat berkembang dengan baik dan mengikuti waktu.

34 a. Pengembangan Makna

Pengembangan makna pada anak-anak mengikuti alur tertentu. Ada makna proporsional, yakni makna yang merujuk pada pelaku pembuatan makna itu sendiri, hal atau orang yang terkena perbuatan, lokasi, waktu, dan sebagainya. Dalam pertumbuhannya menyerap alam sekitar, anak lama-lama menemukan adanya perbedaan-perbedaan kategori semantik seperti ini. Alur ini adalah alur yang merujuk pada rasa ingin tahu, pertanyaan, perintah, penolakan dan sebagainya. Makna seperti ini adalah makna yang pragmatik. Alur yang ketiga adalah makna yang memang kodratnya ada pada masing-masing kata. Makna dalam kategori ini sangatlah kompeks. Karena anak harus dapat menyerap dan membuat hipotesis sendiri mengenai kemiripan ataupun perbedaan antara satu entitas dengan entitas yang lain sering pula bersifat relatif.

Apabila ada pelaku yang melakukan suatu terhadap suatu hal, anak harus dapat menyerap hubungan antara tiga elemen ini, meskipun wujud ajarannya mungkin barulah satu patah kata. Lebih kompleks lagi adalah kata-kata rasional yang mempunyai dimensi yang kontras, seperti besar versus kecil, tinggi versus rendah, panjang versusu pendek, dan sebagainya.

b. Pemerolehan Nomina

Penguasaan nomina pada anak ada dua pola yang saling bertentangan. Di satu pihak, anak melakukan generalisasi makna menjadi overextention atau mencakup pengertian yang lebih luas daripada semestinya. Dalam hal perluasan makna ini ada dua

35

pandangan yang menarik. Hipotesis fitur semantik yang diajukan oleh Eve de Clark (di de villers, 1982 : 126) menyatakan bahwa kita memiliki sekelompok fitur semantik, tetapi seorang anak kecil hanya menguasai sebagian dari fitur-fitur ini.

Teori lain (Browman, 1977, di de Vilers dan de Vilers, 1982:128) beranggapan bahwa anak tidak memetik makna parsial, tetapi secara kompleksif. Anak tidak memandang salah satu atau beberapa fitur semantik itu lebih relevan daripada yang lain. Anak pada umumnya memanfaatkan tangga yang di tengah sebagai titik tolak. Oleh karena itu, pengertian-pengertian yang umumlah yang pertama-tama (diberikan orang tua dan) dikuasai anak. Anak akan lebih dahulu mengenal mama, papa, sebelum kakek, nenek, paman, ipar dan sebagainya. Dengan kata lain, makna diciutkan ke arah suatu yang ada di tengah tangga abstraksi.

c. Pemerolehan Verba dan Kategori Lain

Seperti halnya nomina, verba pun diperoleh anak secara bertingkat dengan yang umum dikuasai terlebih dahulu dan yang kompleks dikuasai kemudian. Umumnya verba dan kategori lain seperti pronomina yang dikuasai awal adalah yang berkaitan dengan kehidupan anak sehari-hari misalnya jatuh, pecah, habis, dan bentuk. Pemerolehan lain seperti adjektif juga selaras dengan pemerolehan nomina atau verba. Salah satu hal yang menarik dalam hal ini adalah bahwa umumnya adjetif yang positif lah yang dikuasai terlebih dahulu. Seperti kita maklumi, banyak adjektif yang yang memiliki polaritas positif dan negatif, misalnya besar-kecil, tinggi-pendek, tebal–tipis, dan seterusnya. Dari

36

ketiga contoh ini, besar, tinggi, dan tebal merujuk pada pengertian yang positif. Tidak mustahil bahwa dalam proses penguasaan secara sempurna si anak tersandung-sandung secara semantik sehingga terjadilah kesimpangsiuran pengertian.

Dokumen terkait