• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran Pendidikan Klasik

Dalam dokumen Ilmu Pendidikan: Konsep, Teori Dan Aplikasinya (Halaman 176-182)

Bab VII Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan

A. Pemikiran Pendidikan Klasik

Aliran klasik merupakan pemikiran-pemikiran tentang pendidikan yang telah dimulai pada zaman Yunani kuno, dan dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya, akhirnya berkembang dengan pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Aliran-aliran klasik meliputi aliran, nativisme, naturalisme, empirisme dan konvergensi merupakan benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikran poendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang.

1. Aliran Empirisme

Empirisme berasal dari bahasa latin, asal katanya empiri, yang berarti pengalaman. Aliran ini dipelopori oleh John Locke (1632-1704), filosof kebangsaan Inggris, yang terkenal dengan teorinya “Tabularasa” artinya meja berlapis lilin yang belum ada tulisan di atasnya. Dengan kata lain, sesorang dilahirkan seperti kertas kosong yang belum ditulisi maka pendidikanlah yang akan menulisnya. Perkembangan seseorang tergantung seratus persen pada pengaruh lingkungan atau pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam kehidupannya. Oleh karena itu pendidikan memegang peranan penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman.

Menurut konsepsi empirisme ini pendidikan adalah maha kuasa dalam membentuk anak didik menjadi apa yang didinginkannya. Pendidikan dapat berbuat sekehendak hatinya, seperti ahli patung yang memahat patung dari kayu, batu atau bahan lainnya menurut sesuka hatinya. Contoh lain misalnya, anak kembar yang dipisahkan oleh orang tuanya sejak kecil pada lingkungan keluarga yang berbeda. Oleh karena itu aliran ini dinamakan aliran optimis dalam pendidikan.

Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph, 2006: 98).

Menurut John Locke hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah:

a. Pendidikan harus diberikan sejak awal mungkin

b. Pembiasaan dan latihan lebih penting daripada peraturan, perintah atau nasehat

c. Anak didik harus diamati dari dekat untuk melihat:

1) Apa yang paling tepat bagi anak itu sesuai dengan umurnya (tingkat perkembangannya).

2) Hasrat-hasratnya yang amat kuat.

3) Kecenderungannya mengikuti orang tua tanap merusaak semangat anak itu.

4) Anak harus dianggap sebagai makhluk rasional, dalam hal ini kepada anak harus diberikan alasan tentang hal-hal yang dituntut darinya.

5) Pelajaran di sekolah jangan sampai menjadi beban bagi anak, namun hendaknya menyenangkan dan merupakan suasana bermain yang membuka seluas-luasnya berbagai kemungkinan yang dapat timbul.

Jadi, aliran empirisme bertolak dari loacken tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Menurut pandangan empirisme pendidikan memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Aliran empiris dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan.

2. Aliran Nativime

Nativisme berasal dari bahasa latin, asal katanya “natives” berarti terlahir, aliran ini dipelopori oleh Sckophenhauer seorang filosof kebangsaan Jerman yang hidup dalam tahun 1788-1880. Dia berpendapat “pendidikan ialah membiarkan seseorang bertumbuh berdasarkan pembawaannya”. Seseorang akan berkembang berdasarkan apa yang dibawanya sejak lahir. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia ditentukan oleh pembawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu manusia akan berkembang dengan pembawaan baik maupun pembawaan buruk yang dibawanya dari lahir.

Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan dan pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Penddidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang, tidak akan ada gunanya untuk perkembangannya. Dalam kenyataan sehari-hari sering ditemukan anak mirip orang tuanya secara fisik dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada orang tuanya. Sebaagi contoh orang tua yang menginginkan anaknya menjadi pelukis.

Ia berusaha mempersiapkan alat-alat untuk melukis dan mendatangkan guru yang mengajar melukis, tetapi gagal karena dalam diri anak tidak ada bakat melukis. Oleh karena itu aliran ini merupakan aliran pesimis dalam pendidikan.

Jadi aliran Nativisme bertolak dari leibnitzian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Hasil pendidikan tergantung pada pembawaan.

Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak itu pembawaannya baik maka dia akan menjadi baik. Pembawaan baik dan buruk ini tidak diubah oleh kekuatan dari luar.

3. Aliran Naturalisme

Naturalisme berasal dari bahasa latin dari kata “nature” artinya alam, tabiat, dan pembawaan. Aliran ini dipelopori oleh J. J. Rousseau (1712-1778), filofof kebangsaan Perancis. Aliran ini dinamakan juga nativisme ialah aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang karena dia dilahirkan dengan pembawaan yang baik.

Aliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami, bukan lingkungna yang dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan diartikan sebagai usahan sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kea rah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadapperkembangan anak. Tetapi jika pendidikan

dengan lingkungan yang tidak dibuat-buat (alami) makan pendidikan yang dimaksud terakhir ini betrpengaruh positif terhadap perkembangan anak.

Ciri utama aliran ini ialah dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik itu tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain pembawaan yang baik itu supaya berkembang secara spontan. Kalau akan diberikan juga pendidikan hendaklah dikembangkan aturan-aturan masyarakat yang demokratis, sehingga kecenderungan alamiah anggota masyarakat dapat terwujud, untuk menjaga agar pembawaan seseorang yang baiik itu tidak dirugikan. Jangalah anak itu dianggap sebagai manusia yang kecil, akan tetapi dia mempunyai tahap-tahap perkembangan yang perlu pula dikembangkan secara alamiah.

Sebagai contoh, pada masa anak-anak pada masa perkembangan panca indera dilakukan melalui kegiatan anak itu sendiri. Untuk membimbing tingkah laku anak, buku tidak diperlukan, yang penting adalah pengembangan alam/lingkungan dan berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya. Pada masa remaja agama dan moral hendaklah diajarkan kepada mereka semata-mata dalam kaitannya dengan alasan alamiah, kemampuan berfikir harus dikembangkan dan fantasi tidak dibiarkan bekerja leluasa. Pengajaran yang tujuannya ingin menanamkan suatu aturan atau otoritas tertentu lebih baik ditunda pelaksanaannya.

Pelopor aliran ini menulis beberapa buah buku yaitu: La Nouvelle

Heloise, Le Constract Sosial, Emile ou de ‘L’ education dan’ Confession.

Gagasan dasar sebagai pandangan hidupnya terdapat dalam kalimat pertama bukunya yaitu “semua anak adalah baik dari tangan pencipta, semua menjadi buruk di tangan manusia”. Jadi Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan itu baik, dan akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan, dia juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan yang baik anak itu.

Aliran ini berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan.

Kesimpulan dari pandangan tersebut sebagai berikut: kodrat atau alam manusia adalah baik, masyarakat adalah buruk, dan untuk memperbaiki kesusilaan, kebiasaan dalam masyarakat orang wajib kembali ke alam atau kodrat.

4. Aliran konvergensi

Aliran konvergensi berasal dari bahasa Inggris, asal katanya

Convergency, artinya pertemuan pada suatu titik. Aliran ini dipelopori

oleh Willianm Stern, seorang ahli pendidikan bangsa Jerman (1871-1937), aliran ini mempertemukan atau mengawinkan dua aliran yang berlawanan di atas antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung kepada pembawaan dan lingkungannya. Dengan kata lain pembawaan dan lingkungan mempengaruhi perkembangan seseorang. Pembawaan seseorang baru berkembang karena pengaruh lingkungan. Hendaknya para pendidik dapat menciptakan suatu lingkungan yang tepat dan cukup kaya atau beraneka ragam agar pembawaan dapat berkembang semaksimal mungkin. Sebagai contoh: pada anak manusia ada pembawaan untuk berbicara seakan-akan dua garis yang menunjuk ke suatu titik pertemuan.

Willian Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju kesatu titik pertemuan sebagai berikut: (1) Pembawaan; (2) Lingkungan; dan (3) Hasil pendidikan/perkembangan. Jadi menurut teori konvergensi:

a. Pendidikan mungkin dilaksanakan.

b. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan pada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baikdan mencegah perkembangan potensi yang buruk.

c. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor mana yang paling menentukan tumbuh kembang itu. Variasi-variasi itu tercermin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, meodel atau teori mengajar,

Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan dari lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu.

Dalam dokumen Ilmu Pendidikan: Konsep, Teori Dan Aplikasinya (Halaman 176-182)