BAB VIII PANDANGAN KHALAYAK TENTANG SOSOK
A. Pandangan dari Kalangan Pesantren
Sebelum mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 18.45 WIB Rabu (30/12/2009) kemarin, Gus Dur sempat mengunjungi kolega lawasnya, K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), di Rembang, Jawa Tengah.
Bagi seorang Gus Mus, Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Dalam bukunya berjudul Membuka Pintu Langit (2007)
http://pustaka-indo.blogspot.com
166
terbitan Penerbit Buku Kompas, Gus Mus menulis tentang cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) K.H. Hasyim Asy’ari itu. Dalam tulisannya itu sangat tampak bagaimana penghargaan Gus Mus terhadap sosok Gus Dur. Gus Mus menjuluki sobatnya itu sebagai
‘tokoh paling populer abad ini.’
“Lahir dengan nama Abdurrahman Ad-Dakhil, nama yang sama dengan seorang tokoh Dinasti Umayyah yang berhasil menaklukkan Andalusia, pada 4 Agustus 1940, secara nasab Gus Dur memang tak tertandingi,” demikian tulis Gus Mus.
Ayah Gus Dur adalah K.H. A. Wahid Hasyim , putra dari K.H.
Hasyim Asy’ari , pendiri NU. Baik Wahid Hasyim maupun Hasyim Asy’ari merupakan pahlawan nasional. Ibu Gus Dur bernama Sholehah, putri K.H. Bisri Syansuri yang juga merupakan salah satu pendiri NU.
“Mereka semua adalah pejuang nasional yang diakui tidak hanya di kalangan NU. Jadi, kalau gus merupakan panggilan atau gelar anak kiai, Gus Dur boleh dikatakan adalah gusnya gus,” tulis Gus Mus.
Selain keistimewaan dari segi nasab (keturunan) itu, Gus Dur juga dikarunia banyak keistimewaan lain yang sulit dicari duanya, antara lain kecerdasan yang luar biasa serta bacaan dan pergaulannya yang sangat luas. Tidak aneh jika di pedesaan banyak orang menyebutnya sebagai wali, sedangkan di perkotaan orang menjulukinya sebagai genius.
“Seandainya Tuhan tidak mengurangi potensi kekuatan hamba-Nya yang satu ini dengan mengurangi kemampuan fi siknya, entah apa jadinya. Mungkin akan lebih hebat pengaruh buruk bagi dirinya maupun bagi yang lainnya,” lanjut Gus Mus.
Dengan berbagai kelebihannya itu, menurut Gus Mus, tak heran jika nama Gus Dur identik dengan NU, organisasi yang
http://pustaka-indo.blogspot.com
pernah dipimpinnya selama 15 tahun. NU adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah NU. Ini mirip dengan Bung Karno yang pada tempo dulu identik dengan Indonesia. Indonesia adalah Bung Karno dan Bung Karno adalah Indonesia. Bahkan, ada kalanya nama Gus Dur melebihi NU.
Karena kebesarannya itulah, menurut Gus Mus, Gus Dur terlalu besar untuk ditampung di NU maupun PKB, partai yang didirikan oleh kalangan nahdliyin. Bahkan, Gus Mus memperkira-kan karena dinilai terlalu besar inilah para kiai tak setuju saat Gus Dur didorong untuk menjadi presiden pada 1999 lalu.
“Pendek kata, Gus Dur sudah menjadi lembaga tersendiri yang agak repot bila masuk ke lembaga lain,” tulis Gus Mus.
Namun kebesaran ini bukan tanpa risiko. Gus Dur sebagai lembaga ini sering dimanfaatkan oleh mereka yang tidak punya akses ke lembaga lain.
“Mereka yang tidak punya akses ke NU, misalnya, bisa masuk lewat Gus Dur. Yang tidak punya akses ke PKB bisa melewati Gus Dur. Bahkan, dukun-dukun yang kepingin laku dan tidak cukup mu’tabar di kalangan masyarakat bisa melalui Gus Dur,” kata Gus Mus.
Dalam doa usai pemakaman Gus Dur di Komplek Tebu Ireng Jombang, Jatim, Gus Mus memberikan doa yang paling halus dan iba kepada Allah agar mengampuni salah dah khilaf Gus Dur selama hidup di dunia. Gus Mus pun berdoa agar Gus Dur di dalam kubur mendapat rahmat dan pengampunan Allah serta mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Amin.80
80. “Gus Mus: Gus Dur Tokoh Paling Populer Abad Ini”, Dalam www.detik.com, atau http://www.dpp-pkb.or.id/, Diakses Kamis, 31 Desember 2009 15:16.
http://pustaka-indo.blogspot.com
168
Sementara itu, ada satu peristiwa yang tidak bisa dilupakan AGH Sanusi Baco terhadap sosok almarhum K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Menurut Sanusi, sekitar 1970-an, saat Gus Dur baru menjabat sebagai ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), dia ke Makassar dan menginap di salah satu hotel. Sanusi pun menjemputnya di hotel.
Pada saat itu, kata Sanusi, dirinya belum memiliki mobil sehingga Gus Dur dia jemput naik motor. “Jadi saya bonceng beliau dengan motor dari hotel ke Jalan Pongtiku. Begitu sampai di Cumi-Cumi, ban motor saya kempes, akhirnya beliau turun mendorong. Dia bilang ini motormu motor apa,” ungkap Sanusi sambil terkekeh.
Sanusi dan Gus Dur saling kenal sejak di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 1963–1967. Menurut Sanusi, dia dan Gus Dur tinggal satu asrama di Asrama Mahasiswa Asia. Menurut Sanusi, setiap bertemu dengan Gus Dur, cucu pendiri PB NU itu selalu membawa buku. “Di mana saja saya bertemu dengan dia, selalu saja ada buku yang dia pegang,” ungkap Sanusi.
Gus Dur, lanjut ulama karismatik Sulsel ini, adalah orang yang dalam keadaan apa pun selalu membuat suasana jadi santai.
Selalu pintar memancing suasana agar selalu riang. “Gus Dur itu sama dengan orang Lise (nama sebuah kampung di Sidrap, red) tidak ada satu perkataan yang tidak ada jawabannya. Itu membuat beliau gampang akrab dengan orang,” tutur Sanusi.
Sesepuh NU Sulsel ini mengaku terakhir bertemu Gus Dur pada saat Muktamar NU di Solo empat tahun lalu. Dia menambahkan, wafatnya Gus Dur membuat warga Nahdliyin di Makassar maupun di seluruh Indonesia merasa sangat kehilangan.
http://pustaka-indo.blogspot.com
Menurut agama kita, almarhum adalah manusia paling baik.
Ciri-cirinya tambah panjang umurnya, tambah banyak amalnya, dan Gus Dur sampai akhir hayatnya masih memikirkan agama, bangsa dan negara,” papar Sanusi. 81