• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL SOSIO-DEMOGRAFI PENDUDUK

3.4. Kesejahteraan

3.4.1. Pemilikan dan Penguasaan Asset

Dari hasil sensus rumah tangga diketahui bahwa jumlah perahu tanpa motor dengan perahu bermotor (katinting dan tempel) baik di Kampung Friwen – Yenbeser maupun Mutus dalam keadaan berimbang. Perahu bermotor di Friwen-Yenbeser lebih banyak lima unit dibandingkan perahu tanpa motor yang berjumlah 44 unit, sedangkan di Mutus perahu tanpa motor lebih banyak dua unit dibandingkan perahu motor yang berjumlah 37 unit.

Pemilikan asset produksi berupa perahu bermotor seperti dikemukakan di atas mengindikasikan adanya kemampuan secara

ekonomi masyarakat nelayan di Friwen, Yenbeser dan Mutus untuk membeli alat produksi yang relatif “mahal” untuk ukuran masyarakat

yang bermukim di pulau-pulau terpencil. Apakah kemampuan finansial tersebut sepenuhnya diperoleh dari usaha penangkapan ikan? Informasi dari narasumber, rata-rata motor yang mereka miliki

berumur lima sampai dengan delapan tahun. Beberapa informan mengakui katinting atau motor tempel diperoleh dari usaha penangkapan ikan kerapu dengan menggunakan potasium. Informan lain menimpali bahwa: “mustahil bisa beli motor kalau

hanya dari memancing”. Tabel 3.9.

Rumah Tangga Berdasarkan Pemilikan Alat Produksi Perikanan, Kampung Friwen-Yenbeser dan Mutus, 2006

Alat produksi perikanan Kampung Friwen+Yenbeser N= 79 Kampung Mutus N= 55 Perahu katinting 33 (41,8 %) 25(45,5 %) Perahu tempel 16(20,3 %) 12 (21,8 %)

Perahu tanpa motor

44 (55,7 %) 39 (61,0 %)

Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang indonesia, Coremap-LIPI, 2006

Fungsi utama perahu di ketiga lokasi penelitian digunakan untuk menangkap ikan, namun ada kalanya juga digunakan untuk pergi ke kebun yang terletak di Pulau Mutus Kecil untuk bertani atau ambil hasil pertanian berupa ubi/batatas bagi masyarakat Mutus. Sekali waktu perahu bermotor digunakan juga untuk transportasi ke Saonek atau Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat oleh masyarakat nelayan di ketiga lokasi penelitian.

Perahu motor 15 PK

Dari ketiga jenis perahu, dimensi perahu tanpa motor paling kecil, yakni sekitar tiga sampai dengan empat meter panjang dan setengah meter lebar. Kemudian disusul perahu katinting kapasitas 5,5 PK , panjangnya sekitar lima sampai dengan enam meter dan perahu dengan motor tempel kapasitas 15 PK ukuran panjang sembilan meter.

Perahu motor 5 PK (ketinting)

Alat tangkap utama di Friwen, Yenbeser dan Mutus adalah pancing. Hasil observasi menunjukkan, tidak ada satu rumah tanggapun yang profesinya nelayan tidak memiliki alat tangkap pancing. Alat tangkap lain adalah tombak/kalawai yang digunakan untuk mengambil teripang atau sebagai alat bantu untuk menjinakkan ikan dalam ukuran besar yang ditangkap dengan pancing.

Nelayan Friwen dan Yenbeser menggunakan dua jenis pancing yang berbeda, yaitu pancing dasar dipakai untuk menangkap ikan kerapu, kakatua, kakap dan gutila, sedangkan pancing tonda digunakan untuk menangkap sumber daya permukaan, seperti bobara/kuwe, tenggiri, tongkol dan cakalang. Nelayan Mutus lebih banyak menggunakan pancing dasar dibandingkan dengan pancing tonda. Hal itu dilakukan karena menurut pengalaman mereka, sumber daya ikan karang di perairan sekitar Mutus jauh lebih banyak daripada jenis ikan permukaan.

Memperhatikan kepemilikan alat produksi perikanan di ketiga lokasi penelitian, tampak bahwa nelayan hanya mengoperasikan alat tangkap yang sangat sederhana dan ramah lingkungan. Dengan alat semacam itu mestinya sumber daya laut di perairan mereka tidak pernah dalam kondisi tangkap lebih/over fishing, namun apa yang dirasakan lima tahun terakhir adalah semakin sedikit ikan karang yang bisa ditangkap dan itupun membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan masa-masa awal ikan kerapu dan napoleon memiliki nilai ekonomi tinggi pada awal 90-an.

- Perikanan Budidaya

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dua tahun terakhir sedang bersemangat mendorong masyarakatnya untuk melakukan usaha budidaya sumber daya laut, terutama untuk rumput laut dan ikan kerapu. Dorongan semangat untuk berbudidaya tersebut dinamai “GERBANG DAPUR RAJA AMPAT” (Gerakan Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu dan Rumput Laut di Raja Ampat).

Menurut pengamatan Dinas Kelautan dan Perikanan, perairan di Raja Ampat sesuai untuk usaha budidaya sumber daya laut karena perairan teluk dan pulau-pulau kecil relatif tenang dan relatif belum tercemar. Budidaya sumber daya laut yang telah ada di Raja Ampat adalah kerang mutiara dan rumput laut, sedangkan budidaya lainnya yang akan dikembangkan adalah teripang dan ikan kerapu

Budi daya Rumput laut di Raja Ampat dimulai tahun 1999, yaitu di kawasan perairan Kepulauan Ayau. Pada saat penulis melakukan penelitian yang serupa tahun 2001 di Kepulauan Ayau, masyarakat petani rumput laut secara rutin setiap bulan telah menjual hasil panennya ke Sorong. Kondisi rumput laut pada saat itu relatif bagus, sehingga hasilnyapun cukup memadai.

Pengembangan budidaya rumput laut di kawasan Waigeo Selatan baru dilakukan awal tahun 2006 di Kampung Arborek dan Yenbeser. Sampai saat penelitian ini dilakukan (November 2006) petani Arborek telah menikmati hasil panen rumput laut berkali-kali dengan hasil yang lumayan. Sebaliknya petani rumput laut di Yenbeser hanya berhasil saat panen pertama, dan kemudian rumput laut mereka diserang hama yang membusukkan batang tanaman. Informasi yang diberikan langsung oleh petani di Yenbeser menyebutkan bahwa laporan tentang serangan hama telah berulang kali

dilaporkan ke Dinas Kelautan dan perikanan, namun belum ada respon yang positif, sehingga masyarakat membiarkan begitu saja rumput lautnya karena tidak tahu harus berbuat apa.

Budidaya kerang mutiara dilakukan oleh perusahaan besar yang padat modal dan memerlukan teknologi khusus agar dapat menghasilkan mutiara yang seragam dalam bentuk dan ukuran. Dari tanam bibit sampai dengan panen membutuhkan waktu empat tahun, suatu lompatan yang luar biasa bila budidaya mutiara dilakukan oleh nelayan yang biasa menangkap ikan. Budidaya kerang mutiara ada di empat distrik, yakni Distrik Waigeo Selatan, di Teluk Kabui, dua perusahaan di Waigeo Barat (Pulau Selpele), Samate dan Misool Timur Selatan. Total luas areal yang digunakan untuk budidaya ini 525 hektar.

Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa perusahaan mutiara yang beroperasi di Waigeo Selatan dan Waigeo Barat tidak banyak menyerap tenaga kerja lokal. Alasan klasik yang dikemukakan oleh perusahaan dalam kaitannya dengan tenaga kerja lokal adalah kurangnya ketrampilan untuk mengisi bidang kerja yang ada.

Budidaya ikan kerapu dan teripang direncanakan di beberapa tempat. Untuk budidaya ikan kerapu akan dikembangkan di Waigeo Barat, Ayau, Waigeo Utara dan Misool Timur Selatan, sedangkan budidaya teripang di Waigeo Selatan dan Teluk Mayalibit. Areal yang disediakan untuk budidaya kerapu dan teripang luasnya 130 hektar di Waigeo Selatan dan 200 hektar di Waigeo Barat. Ini adalah merupakan peluang yang bagus bagi nelayan Raja Ampat untuk meningkatkan pendapatannya tanpa harus merusak ekosistem terumbu karang. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan perlu sejak dini mempersiapkan nelayan yang akan berbudidaya kerapu atau teripang, karena budaya penangkapan berbeda jauh dengan budaya untuk budidaya, sehingga perlu adanya transformasi nilai-nilai dari penangkapan menuju budidaya.

Kesulitan utama yang akan ditemui dalam melakukan usaha budidaya ikan kerapu adalah penyediaan benih. Pengambilan bibit dari alam bisa saja dilakukan, namun akan sulit memenuhi permintaan, sementara bila pilihannya adalah membeli benih pun akan menemui kendala baru. Kendala yang dimaksud adalah risiko kematian waktu pengiriman sangat tinggi, mengingat harus didatangkan dari Lampung, Makassar dan Bali. Untuk itu, sambil mempersiapkan masyarakat yang ikut usaha budidaya akan lebih efisien Pemerintah Raja Ampat mempersiapkan pembenihan (hatchery)

sendiri, sehingga kebutuhan benih untuk keperluan budidaya tercukupi dengan baik, apalagi pasar ikan kerapu senantiasa kekurangan pasokan dari usaha penangkapan.