• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Sistem pembagian Hasil Rompon

1. Pembagian Hasil Individu

Pola kepemilikan rumpon yang paling banyak ialah rumpon laut dangkal. Jenis rumpon menetap dengan kepemilikan individu Pola ini didasari oleh beberapa faktor, berupa :

1) Modal yang digunakan dalam pembuatan rumpon sedikit.

2) Kurangnya konflik untuk masa mendatang.

3) Mudahnya dalam pengelolaan.

52 4) Kondisi alam yang mendukung.

Rata-rata nelayan rumpon laut dangkal jenis rumpon menetap memiliki lebih dari satu rumpon, dimana seorang nelayan memiliki 2 hingga 10 rumpon dengan kisaran harga satuan rumpon ialah Rp.150.000,- sampai dengan Rp.1.500.000,-, tergantung dari kualitas bahan hingga banyaknya bahan yang dipergunakan. Contohnya semakin banyak pelepah daun kelapa yang digunakan sebagai pemikat/atraktor dan semakin bagus kualitas bahan yang digunakan untuk komponen rumpon maka semakin tahan lama pula rumpon tersebut.

Kedalaman rumpon perairan laut dangkal ialah 25m-30m. Jarak rumpon dengan rumpon lainnya, dengan satu pemilik ialah 50-200m.

Sedangkan jarak antara rumpon satu dengan rumpon lainnya yang berbeda kepemilikan ialah 1 hingga 3 mil.

Khusus untuk rumpon perairan laut dangkal jenis rumpon menetap, tidak berlakunya penguasaan perairan di sekitar rumpon. Sehingga jika nelayan lain yang bukan pemilik rumpon ingin mengambil hasil dengan memancing di daerah sekitar rumpon milik nelayan pemilik rumpon adalah hal yang tidak melanggar, selama tidak mengambil komoditas bernilai tinggi yaitu cumi-cumi. Apabila nelayan lain mendapatkan cumi-cumi di rumpon nelayan pemilik, maka ada beberapa ketentuan yang dapat dipilih yaitu, mengembalikan kembali cumi-cumi tersebut ke laut, memberikan cumi-cumi hasil tangkapan ke pemilik rumpon atau membayar sejumlah uang untuk cumi-cumi yang didapat.

53 2. Pembagian Hasil Kelompok

1) Kelompok yang terbentuk didasari sebagai pemenuh syarat untuk mendapat bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan.

Dalam pengelolaannya jika terjadi kerusakan kecil, maka nelayan yang mendapati kerusakan tersebut berinisiatif untuk segera memperbaiki rumpon. Dan jika kerusakan dinilai besar maka akan berkordinasi dengan nelayan lain sehingga kerusakan dapat diperbaiki bersama. Perawatan rumpon yang rutin dilakukan ialah mengganti pelampung yang biasanya telah banyak ditumbuhi karang-karang dan daun kelapa dalam kurun waktu 2 (dua) kali musim barat.

Pembentukan kelompok yang pada dasarnya hanya sebagai pemenuh syarat formil untuk mendapat bantuan, prakteknya rumpon tersebut dapat dimanfaatkan oleh seluruh nelayan. Dengan kata lain terbentuknya kelompok tersebut untuk mewakili nelayan di Pulau Sarappo Lompo. Selanjutnya tidak dipermasalahkan jika salah satu atau lebih nelayan yang menjadi anggota kelompok tidak mengambil manfaat dari rumpon tersebut. Jika terjadi kerusakan pada rumpon, apabila diperlukan secara suka rela masyarakat akan turut membantu.

Pembagian hasil yang berlaku untuk kelompok ini sama halnya dengan pemilikan individu, siapa-siapa yang mengambil hasil dari rumpon tersebut maka hasil tersebut dinikmati sendiri.

54 Penguasaan perairan untuk rumpon dengan bentuk kelompok (bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Pulau Sarappo Lompo tidak mengenal adanya penguasaan perairan. Sehingga jika ada nelayan lain yang ingin mengambil hasil dengan memancing di sekitar rumpon yang bukan miliknya merupakan hal yang lumrah dan sering ditemui.

2) Tipe kelompok yang kedua yaitu, terbentuk antara pemilik modal dan pengelola rumpon.

Adapun kelompok yang terbentuk antara pemilik modal dan pengelola, pada umumnya satu pemilik modal berkerjasama dengan dua hingga tiga pengelola. Pembagian hasil yang diterapkan ialah satu banding dua, satu bagian untuk pemodal dan dua bagian untuk pengelola.

Praktek pembagian hasil tersebut telah terjadi secara turun-temurun dan hanya kesepakatan lisan atau tidak tertulis. Perjanjian bagi hasil yang berlaku dikelompok ini selaras dengan yang tertulis menurut hukum negara kita yaitu, mengikuti Undang-undang Nomor 16 tahun 1964 tentang perjanjian bagi hasil, dimana perjanjian dilakukan berdasarkan kebiasaan dalam masyarakat oleh seseorang atau beberapa orang nelayan.

Diketahui bahwa pemilik modal hanya memberikan dana dan nelayan pengelola yang bertugas untuk menyiapkan bahan sebagai komponen rumpon dan membuat rumpon yang akan dikelola oleh kelompok nelayan pengelola. Setelah rumpon jadi dibutuhkan waktu satu bulan agar rumpon dapat dimanfaatkan, hal tersebut bertujuan untuk

55 menunggu lumut-lumut tumbuh di pemikat/ atraktor sehingga memancing ikan-ikan untuk berkumpul. Dari hasil wawancara dengan pemilik modal yaitu Bapak Durusi (14 Juni 2017) yang memiliki 10 rumpon dan di kelola oleh 3 orang yang merupakan kerabat dan tetangga. Pengelola memiliki pembagian rumpon tersendiri, dengan jumlah rumpon 10 maka setiap orang mengelola 3-4 rumpon, pembagian tersebut merupakan kesepakatan dari pengelola dan tidak bersifat pasti yang berarti suatu saat rumpon yang telah ditetapkan pengelolanya dapat berubah sesuai kesepakat pengelola rumpon.

Untuk pengambilan hasil dari rumpon yang telah ada, bahan bakar minyak ditanggung sendiri oleh pengelola rumpon. Maka satu bagian untuk pemodal dan dua bagian untuk kelompok pengelola merupakan hasil bersih dari tangkapan tanpa dikurangi akomodasi bahan bakar minyak. Sehinga apabila terdapat satu orang pemodal dan 2 orang pengelola maka dengan jumlah pendapatan Rp.200.000,- maka pemodal mendapatkan Rp.50.000,- dan Rp.150.000,- di bagi dua oleh pengelola rumpon. Setelah mendapatkan tangkapan, hasil yang didapat oleh pengelola disetor kepengepul Pulau Sarappo Lompo untuk selanjutnya dipasarkan di Makassar. Dari semua responden menyatakan belum pernah terjadi konflik yang didasari dari pembagian hasil

Untuk model kelompok ini berlaku penguasaan perairan, yang mana hanya pengelola rumpon yang dapat mengambil manfaat dari rumpon tersebut.

56 Dari segi pengamanan tidak terlalu diatur karena nelayan lain paham bahwa rumpon yang dibuat dengan sistem pemodal dan pengelola hanya dapat dimanfaatkan oleh kelompok tersebut. Namun apabila terjadi konflik maka pihak yang berkonflik akan meminta aparat desa untuk memusyawarahkan solusi secara bersama.

D. Masalah Terkait Rumpon

Dari hasil wawancara dengan 7 orang nelayan rumpon dan 2 kelompok nelayan rumpon, hampir tidak ditemukan adanya konflik yang terjadi antara pemilik rumpon individu ataupun dengan kelompok rumpon kelompok.

Semua responden menyatakan bahwa permasalah mengenai rumpon hanya timbulkan oleh adanya alat penangkap ikan lain yaitu cantrang.

Dalam permasalahan ini nelayan cantrang bukan hanya mengambil komoditas ikan yang ada di sekitar rumpon, tetapi juga turut menyeret rumpon sehingga rumpon terlepas dari pemberatnya.

Dalam penyelesaian permasalahan ini nelayan yang merasa dirugikan bisa langsung meminta ganti rugi berupa sejumlah uang atau dapat meminta agar diadakan pertemuan antar masing-masing pejabat setempat antara nelayan rumpon yang dirugikan dan nelayan cantrang.

Solusi tersebut dapat ditempuh jika nelayan menyaksikan langsung hal tersebut. Namun kenyataannya kapal cantrang menjaga jarak dengan rumpon pada saat pagi hingga sore hari dan mulai memasuki wilayah

57 penempatan rumpon pada malah hari, sehingga tidak ada saksi mata dan bukti yang dapat digunaka nelayan rumpon untuk meminta penggantian rugi terhadap rumpon yang rusak, hanyut, bahkan hilang.

Gambar 1. Rumpon laut dangkal.

Gambar 2. Rumpon laut dangkal.

Gambar 3. Nelayan yang menggunakan pancing ulur di sekitar rumpon

Gambar 4. Beberapa nelayan yang memancing di sekitar rumpon.

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Pemilikan 1. Pengertian Pemilikan

Apa yang dimaksud dengan hak milik itu diatur dalam pasal 570 KUH Perdata. Dalam pasal 570 KUH Perdata itu sekaligus diatur mengenai pembatasan-pembatasan terhadap penggunaan hak milik3.

Pasal 570 KUH Perdata : “Hak milik adalah hak untuk menikmati suatu benda dengan sepenuhnya dan untuk menguasai benda itu dengan sebebas-bebasnya, asal tak dipergunakan bertentangan dengan undang-undang atau peraturan umum yang diadakan oleh kekuasaan yang mempunyai wewenang untuk itu dan asal tidak menimbulkan gangguan terhadap hak-hak orang lain; kesemuanya itu untuk kepentingan umum, dengan pembayaran penggantian ganti kerugian yang layak dan menurut ketentuan undang-undang”.

Demikianlah perumusan mengenai hak milik menurut pasal 570 KUH Perdata. Dan dari situ dapat kita simpulkan bahwa hak milik adalah hak yang paling utama jika dibandingkan dengan hak-hak kebendaan yang lain. Karena yang berhak itu dapat menikmatinya dengan sepenuhnya dan menguasainya dengan sebebas-bebasnya4.

Pengertian dapat menguasai benda itu dengan sebebas-bebasnya itu bisa diartikan dalam dua arti. Pertama ialah dalam arti: dapat memperlainkan (vervreem den), membebani, menyewakan dan lain-lain.

Yaitu pokoknya dapat melakukan perbuatan hukum terhadap suatu zaak5.

3 Sri Soedewi, 2004, Hukum Perdata: Hukum Benda, Liberty., Yogyakarta, hlm.41-42.

4 Ibid.,hal. 42.

5 Ibid.,hal 42.

8 Kedua ialah dalam arti: dapat memetik buahnya, memakainya, merusaknya, memelihara dan lain-lain. Yaitu pokoknya dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang materiil6.

Hak milik itu merupakan “droit inviolable et secre” yaitu yang tak dapat diganggu gugat. Dan ini hanya tertuju pada orang lain yang bukan eigenaar tetapi juga tertuju pada pembentuk undang-undang ataupun penguasa, dimana mereka itu tak boleh sewenang-wenang membatasi hak milik, melainkan harus ada balasanya, harus memenuhi syarat-syarat yang tertentu7.

Pemilikan menunjukkan hubungan antara seseorang dengan obyek yang menjadi sasaran kepemilikan, terdiri atas kompleks hak-hak yang semuanya di golongkan dalam ius in rem , karena ia berlaku terhadap semua orang, dan ius personam yang berlaku terhadap orang tertentu saja8.

Hubungan antara orang dengan benda dalam konsep hukum adalah hak. Makna dalam sebutan ini adalah kepemilikan atas suatu benda disebut hak milik atas benda itu yang oleh Chambers diartikan bahwa

“property right are right to things” 9.

6 Ibid.,hal.42

7 Ibid.,hal.43

8 Satjipto Rahardjo, 2006, Ilmu Hukum Cetakan Keenam, Citra Aditya Bakti., Bandung, hlm.64.

9 Farida Patitingi, 2009, Pengaturan Penguasaan Tanah Pulau-Pulau Kecil di Indonesia, Lanarka., Yogyakarta, hlm.92-93

9 Pengertian ownership dalam padanan bahasa Indonesia adalah kepunyaan atau kepemilikan atas suatu benda. Ownership biasanya termasuk di dalamnya hak untuk menguasai bendanya secara nyata atau seseorang yang mempunyai suatu benda, namun belum tentu menguasainya secara fisik. Dalam hal benda tidak berwujud, maka seseorang mempunyai bendanya namun tidak menguasainya secara nyata10.

Hak secara umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Black,1990:1324)11.

1) Hak sempurna (perfect) dan tidak sempurna (imperfect).

Pembagian ini berkaitan dengan penerapan dan cakupannya.

Dikatakan sempurna, apabila penerapan dan cakupannya jelas, tetap dan tertentu. Dikatakan tidak sempurna jika sebaliknya.

Rasjidi (1988:79) menyatakan, hak yang sempurna ialah hak yang ditandai oleh pemenuhan kewajiban yang bukan saja diatur, melankan juga dapat dipaksakan oleh hukum. Hak yang tidak sempurna adalah hak yang juga dikenal dan diatur oleh hukum, namun tidak dapat dipaksakan.

2) Hak in personam dan hak in rem.

Hak in personam meletakkan kewajiban pada orang tertentu, sedangkan hak in rem meletakkan kewajiban itu melekat pada bendanya. Rasjidi (1988:80) memberi contoh bahwa hak saya

10Ibid.

11 Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum (Jakarta , 2008) hal.138.

10 untuk secara aman dan damai mennyelenggarakan tanah pertanian saya merupakan hak in rem, sebab semua orang di dunia berkewajiban untuk tidak mengganggu kedaimaian tersebut. Akan tetapi, bila saya menyewakan tanah tersebut kepada seorang penyewa, hak saya untuk mendapatkan uang sewa darinya merupakan hak in personam. Dengan alasan yang sama, hak saya untuk memiliki dan mengunakan uang saya di dalam dompet saya merupakan hak in rem, tetapi hak saya untuk menerima uang dari seseorang yang berutang kepada saya merupakan hak in personam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hak in rem merupakan kepentingan yang dilindungi terhadap dunia pada umumnya, sedangkan hak in personam merupakan kepentingan yang dilindungi terhadap seorang tertentu.

3) Hak Preventif (preventive atau protective secondary) dan hak reparatif (remedial atau reparative secondary).

hak preventif adalah hak untuk mencegah pelanggaran atau kerugian dari hak primer. Hak preventif ini dapat dipaksakan oleh hukum (judicial), atau dapat seecara sukarela dilaksanakan oleh para pihak (extrajudicial), demikian juga dengan hak reparatif. Hak reparatif ini dapat dibedakan menjadi: (a) hak atas pemulihan ke keadaan semula, (b) hak untuk berbuat menurut hukum, dan (c) hak atas ganti kerugian.

11 4) Hak primer (primery) dan hak sekunder (secondari).

Hak primer dapat muncul tanpa mengacu pada hak-hak yang sudah ada saat ini. Hak sekunder hanya dapat muncul untuk tujuan melindungi atau menerapkan hak primer. Hak sekunder ini dapat mencakup baik hak preventif maupun hak reparatif.

Rasjidi (1988:82) membedakan hak primer ini dengan hak yang bersanksi. Hak yang disertai sanksi terjadi karena adanya suatu kesalahan, yaitu pelanggaran terhadap hak yang lain. Hak yang primer memiliki sumber yang berbeda dengan kesalahan. Hak ini dapat beruka hak in rem atau hak in personam. Akan tetapi, hak yang memiliki sanksi ini , yang bersumber dari hak yang primer, pada semua kasus akan merupakan hak in personam.

Hak terhadap orang tertentu sanksi itu dapat diberlakukan.

Jadi, harus merupakan hak in personam.

5) Hak mutlak (absolute) dan hak terbatas (qualified).

Hak mutlak memberikan kepada seseorang dalam hubungannya dengan suatu objek tanpa terikat oleh waktu dan dapat diperuntukkan terhadap semua tujuan. Hak terbatas adalah hak atas suatu objek yang diberikan kepada seseorang untuk tujuan-tujuan tertentu atau di bawah kondisi tertentu pula.

6) Hak berdasarkan hukum (legal rights) dan berdasarkan equity (equitable rights).

12 Perbedaan ini tidak dikenal dalam sistem hukun Indonesia, tetapi terdapat dalam sistem hukum negara-negara Common Law, dan hak berdasarkan equity adalah hak yang diakui pengadilan Chencery.

2. Ciri-Ciri Hak Milik

Fitzgerald mengemukakan ciri-ciri kepemilikan yang membedakanya dari penguasaannya sebagai berikut12:

a. Pemilik mempunyai hak untuk memiliki barangnya. Ia mungkin tidak memegang atau menguasai barang-barang tersebut, oleh karena barang tersebut telah direbut darinya oleh orang lain, tetapi tetap hak atas barang berada pada pemegang hak semula.

b. Pemilik biasanya mempunyai hak untuk menggunakan dan menikmati barang yang dimiliki untuk berbuat terhadap barangnya.

c. Pemilik mempunyai hak untuk menghabiskan, merusak atau mengalihkan barangnya kepada orang lain. Orang yang menguasai suatu barang tidak mempunyai hak untuk menglihkan pada orang lain.

Sedangkan ciri-ciri hak milik menurut Sri Soedewi ialah13 :

12 Sajipto Raharjo, Op.Cit, hlm.65.

13 Sri Soedewi, Op. Cit. hlm.48

13 a. Hak milik itu selalu merupakan hak induk terhadap hak-hak kebendaan lainnya yang bersifat terbatas itu berkedudukan sebagai hak anak terhadap hak milik.

b. Hak milik itu ditinjau dari kuantitetnya merupakan hak yang selengkap-lengkapnya.

c. Hak milik itu tetap sifatnya. Artinya tidak akan lenyap terhadap hak kebendaan yang lain. Sedang hak kebendaan yang lain dapat lenyap jika menghadapi hak milik.

d. Hak milik itu mengandung inti (benih) dari semua hak kebendaan yang lain itu hanya merupakan onderdeel (bagian) saja dari hak milik.

3. Memperoleh Hak Milik

Menurut pasal 584 KUHPerdata14 mengatur bahwa hak milik atas suatu barang dapat diperoleh dengan cara :

- Pemilikan karena perlekatan, - Daluwarsa,

- Pewarisan, baik menurut undang-undang maupun menurut surat wasiat, dan

- Penunjukkan atau penyerahan berdasar atas suatu peristiwa perdata untuk memindahkan hak milik, dilakukan oleh seorang yang berhak berbuat bebas terhadap kebendaan itu.

14 Lihat Pasal 584 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

14 B. Bagi Hasil Perikanan

1. Bagi Hasil Menurut Hukum Adat

Menurut Wignjodipoero, adat adalah pencerminan dari pada kepribadian suatu bangsa, merupakan salah satu penjelmaan dari pada jiwa bangsa yang bersangkutan dari abad ke abad dan adat adalah endapan kesusilaan dalam masyarakat yaitu bahwa kaidah-kaidah adat itu berupa kaidah-kaidah kesusilaan yang sebenarnya telah mendapatkan pengakuan umum dalam masyarakat itu15.

Sebagai negara yang majemuk masyarakat pesisir mengenal sistem bagi hasil perikanan secara adat. Pelaksanaan pola bagi hasil secara adat telah berlangsung secara turun-temurun dan masyarakat perikanan (nelayan dan pembudidayaan ikan) menganggap pola bagi hasil tersebut sudah sangat adil. Hal ini dikarenakan, pola bagi hasil perikanan secara adat lebih mengutamakan kepada pembagian yang sama antara pemilik dan penggarap yaitu 50:50 persen16.

Sistem bagi hasil ini juga ditemui pada masyarakat nelayan khususnya nelayan penjala berlaku aturan bagi hasil sebagai berikut : setelah dikeluarkan biaya operasi, hasil bersih dibagi dua bagian besar, yaitu pemilik produksi 50% (persen) dan tenaga kerja yaitu sawi 50%

(persen). Hubungan punggawa dengan sawi, punggawa kapal memiliki

15 Soerojo Wignjodipoero, 1994, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, Gunung Agung., Jakarta, hal.20.

16 Akhmad Solihin., Aspek Hukum Sistem Bagi Hasil Perikanan Dalam Rangka Menciptakan Keadilan, http://akhmad_solihin.staff.ipb.ac.id, (06 April 2017).

15 modal, ilmu pengetahuan dan kekuasaan sedangkan sawi tidak memiliki apa-apa kecuali tenaga, tetapi pada umumnya terjadi hubungan yang mempunyai motif pertama, sawi adalah keluarga atau kerabat punggawa yang bekerja sama diatas dasar kekeluargaan, kedua hubungan yang didasarkan karena motif tujuan yang sama. Dalam hal ini sawi adalah orang luar kerabat yang bebas tanpa ikatan17.

Hubungan atau ikatan-ikatan masyarakat nelayan dengan pihak lain seperti pemilik modal (pengusaha, pedagang, lembaga-lembaga keuangan) merupakan kebutuhan mutlak. Kebutuhan akan hubungan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor rentannya alat-alat produksi, (perahu, mesin, alat tangkap) terhadap resiko hilang atau rusak serta kebutuhan akan biaya-biaya operasional memerlukan investasi modal secara terus-menerus18.

2. Pengertian Bagi Hasil

Pengertian perjanjian bagi hasil terdapat di dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 1964 Pasal 1 huruf a, yang memberikan pengertian Perjanjian Bagi Hasil Perikanan sebagai berikut19:

Perjanjian bagi hasil ialah perjanjian yang diadakan dalam usaha penangkapan atau pemeliharaan ikan antara nelayan pemilik dan nelayan penggarap atau pemilik tambak dan penggarap tambak, menurut

17 Harma Satriana D, Perlindungan Hukum Terhadap Nelayan Tradisional Dalam Perjanjian Bagi Hasil Perikanan Di Kota Makassar, (SkripsiFakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, 2011), hal. 31

18 Ibid.

19 Lihat Undang-Undang Perjanjian Bagii Hasil Pasal 1.

16 perjanjian mana mereka masing-masing, menerima bagian dari hasil usaha tersebut menurut imbangan yang telah disetujui sebelumnya.

Sistem bagi hasil berdasarkan nilai investasi yang ditanam pada pemanfaatan sumber daya laut sebenarnya belum dikenal pada masyarakat yang masih menganut sistem pemilikan komunal. Sistem bagi hasil tangkapan yang mempertimbangkan aset produksi dengan orang yang bekerja dalam proses produksi mulai dikenal setelah sistem mata pencaharian berkembang dan mengakui adanya hak milik perorangan, serta mempertimbangkan investasi perorangan dalam usaha penangkapan ikan20.

Sistem bagi hasil yang diterapkan biasanya ditentukan dari jenis teknologi yang dikembangkan dan besarnya kontribusi modal yang ditanam. Besar bagi hasil tangkapan juga bisa didasarkan pada faktor kontribusi yang diberikan masing-masing anggota penangkapan (Zerner, 1995). Pada masyarakat nelayan yang masih menggunakan peralatan sederhana, kontribusi anggota kelompok penangkapan masih dimungkinkan terjadi. Namun, pada usaha perikanan yang padat modal agak sulit terjadi. Menurut Zerner kecenderungan setiap investor pada usaha perikanan tangkap melakukan monopoli keuntungan melalui penguasaan mesin kapal, perahu, dan alat tangkap, yang selanjutnya akan mempengaruhi sistem pembagian hasil tangkapan, dan ini

20 Mulyadi S, 2005, Ekonomi Kelautan, PT.Raja Grafindo Persada., Jakarta, hlm.75-76.

17 merupakan potensi terjadinya konflik antara pemilik saarana alat tangkap dan buruh nelayan21.

Pada umumnya, model relasi antara pemilik modal dan buruh nelayan yang saling menguntungkan kedua belah pihak merupakan fenomena sosial yang terjadi pada setiap komunitas nelayan dan terikat dalam kepentingan ekonomi antara kedua belah pihak (pemilik modal dan nelayan). Hubungan antara pemilik modal dan nelayan yang berlangsung selama ini, bergerak dalam bentuk, “saling bergantungan antara kedua belah pihak”, meskipun dalam kenyataanya diberbagai komunitas nelayan memperlihatkan bahwa pihak anak buah kapal (ABK) berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Hal ini terjadi karena pendapatan dari para ABK sangat kecil22.

3. Pola Bagi Hasil Tangkapan

Menurut Mulyadi23, pola bagi hasil adalah alternatif yang dikembangkan rata-rata masyarakat nelayan untuk mengurangi risiko.

Mempergunakan pola bagi hasil serta tidak memberikan upah secara riil, pada kenyataanya lebih dapat meningkatkan motivasi diantara awak dalam bekerja laut. Pola bagi hasil juga akan dapat mengurangi risiko bagi pemilik kapal serta menjaminnya, tidak memberi upah yang tidak sepadan bilamana hasil tangkapannya sedang buruk. Hal ini terjadi karena

21 Ibid.,hal.78

22 Ary Wahyono, Konflik Bagi Hasil Tangkapan Purse Seine Di Prigi, Trenggalek, Jawa Timur (Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 5 No.1, Jawa Timur, 2003)

23Op.Cit.,hal.79.

18 penghasilan nelayan yang tidak dapat ditentukan kepastiannya, tergantung dari jumlah ikan yang ditangkap dan hasil penjualan yang dilakukannya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi pendapatan dari pola bagi hasil tangkapan sangatlah timpang diterima antara pemilik dan awak kapal. Secara umum bagi hasil bagi bersih yang yang diterima awak kapal dan pemilik adalah separuh-separuh. Akan tetapi, bagian yang diterima awak kapal harus dibagi lagi dengan sejumlah awak yang terlibat dalam aktifitas kegiatan dikapal. Semakin banyak jumlah awak kapal, semakin kecil bagian yang diperoleh setiap awaknya.

Selain itu pola umum bagi hasil dibeberapa daerah (Teluk Lampung dan Pasuruan) menunjukkan bahwa pemilik selain mendapatkan separuh dari hasil bersih tangkapan juga memperoleh lima belas persen dari jumlah kotor hasil tangkapan sebagai cadangan jika ada kerusakan perahu ataupun jaring (Nadjib, 1993 dan 1998). Dengan demikian pemilik kapal (juragan darat) rata-rata menerima sekitar enam puluh lima persen dari keseluruhan hasil tangkapan. Sebaliknya rata-rata awak kapal akan mendapatkan hasil jauh lebih rendah dibandingkan yang diperoleh pemilik. Bagian untuk awak kapal tersebut dibagi berdasarkan porsi keterlibatannya secara khusus sebagai awak. Semakin banyak jumlah awak, semakin kecil yang diperoleh setiap awak24.

24 Ibid., hal.78.

19 Untuk mendapatkan hasil tangkapan pokok maupun hasil sampingannya, diperlukan suatu kerja sama yang erat dan kekompakkan diantara sesama awak (Pandega). Untuk itu seringkali pola penerimaan anak (recruitmen) lebih berdasarkan pada hubungan keakraban atau kekerabatan diantara para awaknya. Adapun yang bertanggung jawab menerima awak di kapal bukan berada di tangan pemilik kapal (juragan darat), tetapi pada nahkoda kapal (juragan laut). Dengan demikian sering kali ditemukan dalam setiap kali pelayaran bahwa awak kapal terdiri sesama teman, saudara atau tetangga dari juragan laut. Dalam pandangan nelayan, unsur primordial dan nepotisme ini lebih menjadi pertimbangan utama karena hubungan yang telah akrab di antara para awaknya sangat penting untuk pelayaran yang penuh risiko serta hasil yang belum dapat dipastikan. Pola penerimaan awak semacam itu ternyata sangat mengefektifkan kerja sama dalam suatu kelompok kerja, ketenangan kerja, dan keamanan semua pihak hal ini disebabkan oleh periode berlayar yang cukup panjang, risiko yang besar serta tidak adanya kepastian hasil menjadikan awak kapal senantiasa adanya kepastian hasil menjadikan awak kapal senantiasa dalam kondisi tekanan psikologi (psychological stress)25.

Pada umumnya, pendapatan para nelayan penggarap ditentukan secara bagi hasil dan jarang diterima sistemupah/gaji yang tetap yang diterima oleh nelayan. Sistem upah/gaji bulanan ternyata hanya diperoleh

25 Ibid

20 pada alat penangkapan dengan Jermal, hal mana mungkin disebabkan karena alat adalah bersifat pasif26.

Dalam sistem bagi hasil, bagian yang dibagi pendapatan setelah dikurangi ongkos-ongkos eksploitasi yang dikeluarkan waktu beroperasi ditambang dengan ongkos penjualan hasil. Jadi, di sini termasuk ongkos bahan bakar, oli, es dan garam, biaya makanan para awak kapal, dan pembayaran retribusi. Biaya lain yang masih termasuk ongkos eksploitasi seperti biaya reparasi dengan demikian adalah seluruhnya tanggungan dari pemilik alat dan boat27.

Dalam hal bagi hasil yang dibagi adalah hasil penjualan ikan hasil tangkapan. Caranya ialah ikan hasil tangkapan satu unit penangkapan dijual oleh pemilik kemudian barulah dilakukan perhitungan bagi hasil.

Waktu-waktu perhitungan bagi hasil juga dilakukan sekali sebulan hingga para nelayan penggarap menerima bagiannya sekali sebulan28.

4. Alat Bantu Penangkap Ikan Rumpon 1. Pengertian Rumpon

Penggunaan rumpon secara tradisional di Indonesia telah lama dilakukan terutama para nelayan dari Mamuju, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, sedangkan penggunaan rumpon secara modern baru dimulai pada tahun 1980 oleh Lembaga Penelitian Perikanan Laut (Monintja 1993). Untuk rumpon laut dalam telah berkembang di daerah Indonesia Bagian Timur seperti Sorong, Fakfak, Maluku

26 Ibid.,hal.90-91.

27Ibid.,hal.91.

28Ibid.,hal.91.

Dokumen terkait