• Tidak ada hasil yang ditemukan

 

Sejumlah wisatawan berwisata di kawasan erupsi Gunung Merapi, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. (ANTARA/Noveradika)

Yogyakarta (ANTARA News) - Upaya pemulihan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta pasacaerupsi Gunung Merapi masih terus berlanjut, kata Kepala Dinas Pariwisata provinsi ini, Tazbir.

"Sampai saat ini pemulihan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pascaerupsi Merapi masih terus dilakukan," katanya ketika menerima kunjungan kerja pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) DIY di kantornya, Jalan Malioboro 56 Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, pemerintah pusat dalam upaya pemulihan pariwisata di provinsi ini mengendakan MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) nasional akan banyak dilaksanakan di wilayah DIY.

Oleh karena itu, agenda tersebut bisa menjadi peluang bagi anggota Iwapi DIY untuk bekerja sama menyukseskan agenda pariwisata nasional.

Untuk itu, pihaknya menyambut positif maksud kunjungan jajaran pengurus Iwapi DIY. Apalagi, kegiatan Dinas Pariwisata DIY pada dasarnya perlu didukung banyak pihak bahkan multisektor, termasuk para wanita pengusaha yang duduk dalam kepengurusan Iwapi.

"Iwapi dan Dinas Pariwisata DIY harus saling mengisi untuk mendukung keberhasilan pembangunan sektor pariwisata di provinsi ini," kata Tazbir. Pada kesempatan itu, Ketua DPD Iwapi DIY Tuti Fachrudin mengatakan tujuan kunjungannya untuk menjajaki kerja sama antara pengusaha wanita dengan Dinas Pariwisata.

"Iwapi DIY memiliki perhatian untuk terus membangun hubungan kerja sama yang sinergis dengan banyak kalangan, termasuk Dinas Pariwisata, sehingga kerja sama itu bisa memberi banyak manfaat di kemudian hari," kataTuti Fachrudin. (H008/M008/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

CitraPariwisataYogyakartaSegeraDipulihkan

Published on December 1, 2010     Penulis : _®Ëzå_   ∙   No Comments  

Citra pariwisata Yogyakarta pascaerupsi Gunung Merapi harus segera dipulihkan, bersamaan dengan pemulihan di segala aspek kehidupan masyarakat di provinsi ini.

“Citra Yogyakarta dan Merapi harus secepatnya dipulihkan, dan untuk itu kami akan segera mengundang sejumlah wartawan asing untuk menulis laporan mengenai Merapi pascaerupsi, sehingga masyarakat dunia tahu saat ini kondisi Yogyakarta aman dan sudah pulih kembali,” kata Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tazbir, di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, upaya lain yang ditempuh adalah Dinas Pariwisata Provinsi DIY merencanakan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman untuk menggelar berbagai acara di kawasan objek wisata Kaliurang. “Formatnya bisa Festival Kaliurang atau Recovery Merapi Festival, dan ini perlu dukungan banyak pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” katanya.

Saat ini, kata Tazbir, kondisi Yogyakarta sudah semakin normal kembali. Banyak wisatawan mancanegara termasuk rombongan wisatawan asal Singapura yang berkunjung ke beberapa lokasi di sekitar Gunung Merapi.

Selain itu, menurut dia, tidak ketinggalan juga dalam waktu dekat beberapa pelaku jasa pariwisata nasional akan diundang ke Yogyakarta untuk melihat dari dekat situasi Gunung Merapi terkini atau pascaerupsi.

Dinas Pariwisata DIY juga telah membekali para pemandu wisata dengan informasi mengenai kebencanaan dan kegunungapian.

Banyak pihak termasuk Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata juga mulai menggelar kegiatan di lapangan. “Upaya `recovery` ini akan terus digalang dengan berbagai komponen masyarakat khususnya pelaku jasa pariwisata, sehingga pariwisata DIY kembali normal seperti semula,” katanya.

Sementara itu, pembangunan “shelter” atau rumah hunian sementara bagi korban bencana letusan Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, masih menunggu hasil survei lokasi dari Balai Penyelidikan dan

Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.

“Di wilayah Kecamatan Cangkringan rencananya akan dibangun `shelter` di sejumlah lokasi, tetapi menunggu hasil survei BPPTK Yogyakarta,” kata Camat Cangkringan Samsul Bakri, di Sleman, Selasa.

Menurut dia, saat ini yang sudah mulai dikerjakan adalah di lokasi Dusun Punthuk Kowang, Desa Argomulyo, Cangkringan, sedangkan untuk lokasi lainnya belum dimulai.

Saat ini masih ada empat lokasi yang belum dimulai karena masih menunggu survei BPPTK mengenai tingkat keamanan lokasi yang akan dibangun dan untuk tahap perataan tanah belum bisa dilakukan.

“Ada empat lokasi yang sedang disurvei, yakni Argomulyo, Glagaharjo,

Wukirsari, dan Umbulharjo. Sebenarnya saat ini yang paling aman adalah lokasi di Argomulyo, sedangkan lokasi lain sudah dibuat `set plan` tetapi harus diteliti dulu tingkat keamanannya oleh BPPPTK termasuk jarak dari sungai dan ancaman lahar dingin,” katanya.

Ia mengatakan, penelitian tersebut meliputi struktur tanah, jarak dengan sungai terkait ancaman lahar dingin dan ketersediaan air.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan jika tidak memenuhi syarat lokasi yang sebelumnya ditunjuk untuk pembangunan `shelter` akan dipindah di lokasi lain,” katanya.

Samsul mencontohkan, rencana pembangunan “shelter” untuk warga Desa

Glagaharjo ada tiga alternatif yakni di Dusun Banjarsari, Jetis Sumur, dan Gading. “Dari tiga lokasi tersebut akan dipilih yang paling aman untuk didirikan `shelter`, sehingga jangan sampai terjadi sudah dibangun tetapi nanti justeru terkena lahar dingin,” katanya.

Ia mengatakan kebutuhan “shelter” di Kecamatan Cangkringan sebanyak 2.587 unit. “Jumlahnya memang berubah dibandingkan sebelumnya karena pendataan pada awalnya hanya untuk rumah yang rusak berat dan hancur, sementara untuk rumah yang masih berdiri di lokasi rawan bencana belum dimasukkan,” katanya. Kehabisan uang

Sejumlah pengungsi bencana Gunung Merapi meninggalkan tempat penampungan di Stadion Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, karena kehabisan uang sehingga mereka mencari pekerjaan serabutan.

“Hampir satu bulan berada di pengungsian rasanya jenuh, dan kami butuh uang untuk hidup serta biaya sekolah anak,” kata salah seorang pengungsi warga Dusun Kaliurang Timur, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Suradi, Selasa.

Menurut dia, dirinya sudah sekitar lima hari pulang ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari puncak Gunung Merapi.

“Kami mencoba mencari pekerjaan serabutan, dan kebetulan saat ini banyak pemilik pondok wisata di Kaliurang yang akan membersihkan tempat usahanya yang terkena abu vulkanik Merapi. Lumayan satu hari bisa memperoleh Rp40 ribu, sehingga dapat untuk biaya hidup dan biaya sekolah anak,” katanya. Hal yang sama juga dilakukan Ismunanto warga Kaliurang lainnya. Ia memilih pulang ke rumahnya karena merasa jenuh di pengungsian mandiri di kawasan Gentan, Kecamatan Ngaglik, Sleman.

“Kami bersama dengan 30 pengungsi mandiri lainnya memilih pulang ke rumah karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap posko mandiri. Logistik untuk keperluan makan di posko mandiri sudah habis. Daripada susah makan di posko pengungsian, lebih baik berada di rumah sendiri, dan saya akan mencoba mencari pinjaman uang di bank,” katanya.

Ia mengatakan untuk menata kembali hidup keluarganya, dirinya hanya akan mengandalkan uang pinjaman dari bank, karena sumber ekonomi keluarga selama ini yakni sapi perah sedang tidak menghasilkan karena stres akibat erupsi Merapi. “Sapi saya stres dan tidak menghasilkan susu, paling cepat tiga bulan lagi kondisi sapi baru normal, dan menghasilkan susu kembali,” katanya.

Tanggap darurat Code

Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan situasi tanggap darurat dalam penanganan banjir lahar dingin di Sungai Code.

“Saya rasa, kejadian luapan banjir lahar dingin Gunung Merapi yang akhirnya menimbulkan permasalahan yang lebih komplek, harus ditetapkan sebagai tanggap darurat,” kata Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto usai melakukan rapat koordinasi bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan muspida, di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, penetapan situasi tanggap darurat untuk penanganan Sungai Code itu bukan lantas diartikan bahwa kondisi di sungai tersebut sangat berbahaya bagi masyarakat.

Namun, lanjut dia, dengan penetapan situasi tanggap darurat untuk penanganan Sungai Code, maka pemerintah lebih fleksibel dalam menggunakan anggaran. Melalui penetapan situasi tanggap darurat tersebut, Herry berharap pemenuhan kebutuhan dasar untuk masyarakat atau pembangunan infrastruktur guna mengantisipasi luapan banjir lahar dingin akan bisa dilakukan dengan cepat, karena ada beberapa prosedur yang tidak perlu dilalui. “Seperti tidak perlu melakukan kontrak untuk pengadaan barang,” katanya.

Salah satu kondisi yang mendasari penetapan situasi tanggap darurat untuk penanganan Sungai Code adalah kondisi material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi yang ada di Kali Boyong.

Badan Geologi memperkirakan volume material vulkanik yang dilontarkan Gunung Merapi selama fase erupsi mencapai 140 juta meter kubik, dan 20 persen di antaranya mengendap di Kali Boyong. Kali Boyong adalah hulu dari Sungai Code yang mengalir di tengah Kota Yogyakarta.

“Sebanyak 20 persen dari total material vulkanik itu, 25 juta hingga 30 juta meter kubik yang akan mengalir ke Sungai Code, sehingga perlu dilakukan antisipasi. Agar antisipasi bisa dilakukan lebih baik, maka tanggap darurat perlu

diberlakukan,” katanya, dengan menyebutkan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari dan Februari 2011.

Herry mengatakan masyarakat masih bisa menempati rumah di sepanjang

bantaran Sungai Code, karena tidak ada rumah yang mengalami kerusakan parah, hanya ada endapan lumpur di dalam rumah yang perlu dibersihkan.

Sementara itu, menanggapi usulan untuk pembangunan hunian sementara bagi warga di bantaran Sungai Code seperti yang dilontarkan Komandan Kodim 0734 Yogyakarta Letkol Infantri Arudji Anwar, wali kota mengatakan usulan tersebut akan menjadi masukan, karena ada faktor sosial budaya dari masyarakat yang perlu dipertimbangkan.

“Masyarakat juga diminta untuk tidak mengabaikan potensi banjir lahar dingin di Sungai Code, sehingga tidak jatuh korban akibat kurangnya kewaspadaan dari masyarakat,” katanya.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan dengan penetapan status tanggap darurat untuk penanganan Sungai Code, maka pemerintah daerah memiliki kemampuan untuk mengubah pemanfaatan anggaran pendapatan dan belanja

daerah (APBD) 2010, serta melakukan perubahan pada rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) 2011 yang belum disahkan.

“Dengan penetapan tanggap darurat, pemerintah kota bisa memanfaatkan dana-dana yang belum terpakai oleh SKPD (satuan kerja perangkat daerah) selama 2010 untuk dimanfaatkan sebagai dana tanggap darurat,” katanya.

Sultan juga meminta Pemerintah Kota Yogyakarta dapat menghubungi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) agar pemanfaatan dana tanggap darurat itu tidak menjadi temuan di kemudian hari.

Sementara itu, untuk penanganan jangka pendek, gubernur mengatakan

masyarakat perlu dibantu untuk melakukan pembersihan rumah dan lingkungan, misalnya dengan bantuan sekop dan masker, serta penggunaan alat berat untuk mengeruk sungai.

Ia juga meminta Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta segera melakukan identifikasi di lapangan mengenai kondisi bantaran sungai, sehingga diketahui tempat yang memerlukan bronjong atau perbaikan fisik lainnya.

Jembatan akan dibongkar

Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Yogyakarta akan membongkar enam jembatan yang melintas di Sungai Code yang menghubungkan permukiman penduduk di sisi barat dan timur sungai agar tidak menjadi penghalang saat terjadi banjir lahar dingin.

“Keenam jembatan antarpermukiman itu justru menghalangi material yang ikut terbawa aliran lahar dingin pada Senin (29/11) malam, dan karena itu sesegera mungkin dibongkar,” kata Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharsono, di Yogyakarta, Selasa. Ia menjelaskan enam jembatan yang akan dibongkar tersebut adalah jembatan antarpermukiman yang berada di Kelurahan Terban, Jembatan Jogobaru di Kampung Jogoyudan Kelurahan Gowongan, Jembatan di Kampung Ledok Macanan Kecamatan Danurejan.

Kemudian jembatan antarpermukiman yang berada di dekat Rusunawa

Juminahan, dan jembatan antarpermukiman yang berada di sisi utara dan selatan Jembatan Sayidan.

“Saat terjadi banjir lahar yang cukup besar pada Senin malam, jembatan-jembatan itu justru `dilompati` air, dan banyak material yang tersangkut di sekitarnya, sehingga arus menjadi tidak lancar,” katanya.

Selain akan membongkar jembatan penghubung permukiman, Eko mengatakan pemerintah akan tetap menerapkan pola pembuatan talud dan pengerukan sedimen di Sungai Code untuk memberikan ruang kepada air yang akan melewatinya. “Pengerukan akan tetap jalan terus, kemungkinan dengan mengerahkan alat-alat berat seperti `backhoe` karena endapannya memang sangat tinggi,” katanya. Pada Selasa pagi, kata Eko, masyarakat mulai kembali ke rumah masing-masing dan melakukan kerja bakti pembersihan rumah serta lingkungan yang tertutup lumpur dan pasir.

Selain menggenangi rumah di sepanjang bantaran Sungai Code, banjir lahar dingin tersebut juga menyebabkan kerusakan talud dan tebing.

“Ada tujuh titik talud yang mengalami kerusakan, di antaranya di Kota Baru, di Kelurahan Tegalpanggung, sisi selatan Jembatan Sayidan bagian barat, sisi selatan Jembatan Tungkak bagian barat, dan sisi selatan Jembatan Wirosaban,” katanya. Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan belum mengetahui kerugian akibat banjir lahar dingin tersebut.

Ia mengatakan dari 66 Rukun Warga (RW) yang berada di sepanjang bantaran Sungai Code, ada 47 RW yang terkena luapan banjir lahar dingin dengan ketinggian bervariasi antara 30 centimeter (cm) hingga satu meter.

“Warga untuk sementara menyingkir ke lokasi yang lebih tinggi, tetapi ada sebagian yang sudah kembali ke rumah. Namun warga lansia, ibu-ibu dan anak-anak, untuk sementara berada di lokasi yang lebih tinggi,” katanya.

Meski demikian, Haryadi memastikan delapan jembatan besar yang melintang di Sungai Code yaitu Jembatan Sardjito, Gondolayu, Kewek, Jambu, Juminahan, Sayidan, Tungkak, dan Jembaran Wirosaban dalam kondisi baik.

“Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah telah melakukan pengecekan terhadap jembatan-jembatan itu, dan dinyatakan aman apabila kondisi normal, yaitu tidak ada arus deras di Sungai Code. Kami akan terus memantau kondisi jembatan,” katanya.

Ia berharap masyarakat terus waspada dan tidak menganggap ringan potensi banjir lahar tersebut, karena aliran air sebenarnya bisa diperkirakan, yaitu akan

memasuki wilayah Kota Yogyakarta dalam waktu 45-60 menit setelah adanya laporan dari Posko di Jembatan Ngentak Kali Boyong, Kabupaten Sleman. Terjadi awan panas

Sementara itu, pada Selasa siang terjadi awan panas dari puncak Gunung Merapi, setelah beberapa hari terakhir tidak pernah terjadi.

Awan panas yang muncul beberapakali tersebut mulai terlihat dari Dusun

Ngipiksari, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman sekitar pukul 10.45 WIB dan terus keluar sampai beberapakali yang mengarah ke timur atau Sungai Woro di Klaten, Jawa Tengah.

Warga Dusun Ngipiksari, Purwanto yang sudah tiga hari ini pulang ke rumah dari pengungsian mengatakan, kejadian ini merupakan salah satu awan panas dengan luncuran cukup besar setelah beberapa waktu Gunung Merapi terlihat diam. “Secara visual luncuran awan panas Merapi tersebut hanya dapat dilihat beberapa menit saja, karena setelah itu Gunung Merapi kembali tertutup kabut, bersamaan dengan turunnya hujan deras di puncak gunung disertai suara gemuruh,” katanya. Sejumlah petugas dan relawan dari tim SAR yang berada di Posko Pakem

langsung bergerak menyebar memantau kondisi sungai yang berhulu ke Merapi, setelah sebelumnya dari sinyal pesawat komunikasi “handy talky” (HT) yang diterima menunjukkan kondisi Merapi fluktuatif.

“Informasi yang kami terima dari petugas jaga di atas, memang terjadi awan panas, bersamaan dengan banjir,” kata salah seorang petugas di Posko Pakem, Kabupaten Sleman.

Sumber: antaranews.com

Dokumen terkait