• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN DATA PAJAK HOTEL

D. Pemungutan Pajak Hotel

Sama dengan cara pemungutan pajak daerah lainnya, pemungutan Pajak Hotel jugaa tidak dapat diborongkan. Artinya bahwa seluruh proses kegiatan

pemungutan pajak tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dimungkinkan adanya kerja sama dengan pihak ketiga dalam rangka proses pemungutan pajak antara lain, pencetakan formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada wajib pajak, atau menghimpun data subjek dan objek pajak. Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakandengan pihak ketiga adalah penghitungan besarnya pajak terutang, pengawasan penyetoran pajak, dan penagihan pajak.

Dalam hal ini wajib Pajak Hotel yang terutang yang dipungut di wilayah daerah tempat hotel berlokasi.

Dalam hal tatacara pengenaan Pajak Hotel, Pajak Hotel dapt dipungut berdasarkan penetapan kepala daerah atau dibayar sendiri oleh wajib Pajak Hotel.

Cara pertama, pajak dibayar oleh wajib Pajak Hotel setelah terlebih dahulu ditetapkan oleh kepala daerah melalui Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau dokumen lain yang dipersamakan, antara lain berupa karcis atau nota perhitungan.

Cara kedua, pajak dibayar sendiri adalah pengenaan pajak yang memberikan kepercayaan kepada wajib Pajak Hotel untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri Pajak Hotel yang terutang dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTD).

Pada Dinas Pendapatan Kota Medan, wajib Pajak Hotel yang menggunakan sistem Self Assessment System adalah :

a, Hotel Bintang 5, misalnya Grand Angkasa Hotel

b. Hotel Bintang 4. misalnya Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan lain-lain

c. Hotel Bintang 3, misalnya Hotel Emerald Garden, Hotel Garuda, dan lain-lain d. Hotel Bintang 2, misalnya Danau Toba Cottage

e. Hotel Bintang 1, misalnya Hotel Sumatera, Hotel Pelangi, dan lain-lain f. Hotel Melati 3, misalnya Hotel Robinson, Hotel Lonari, daln lain -lain g. Hotel Melati 2, misalnya hotel Bandung, Hotel Antara, dan lain-lain

Sedangkan wajib Pajak Hotel yang pemungutan pajaknya dengan menggunakan Official Assessment System atau dipungut oleh fiskus Dinas Pendapatan Kota Medan adalah

semua Hotel Melati 1, seperti : Hotel Sibayak, Hotel Pondok Indah, Hotel Sinabung, dan lain-lain.

E. Pelaporan Pajak dan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (STPD)

Wajib Pajak Hotel wajib melaporkan kepada bupati/walikota, dalam praktiknya kepada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota, tentang penghitungan dan pembayaran Pajak Hotel yang terutang. Wajib pajak yang telah memiliki NPWPD setiap awal masa pajak wajib mengisi SPTPD. SPTPD diisi dengan jelas, lengkap dan benar serta ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya dan disampaikan kepada walikota/bupati atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Umumnya SPTPD harus disampaikan selambat - lambatnya lima belas hari setelah berakhirnya masa pajak.

Seluruh data perpajakan yang diperoleh dari daftar isian tersebut dihimpun dan dicatat atau dituangkan dalam berkas yang merupakan hasil akhir, yang akan

dijadikan sebagai dasar dalam perhitungan dan penetapan pajak yang terutang.

Keterangan dan dokumen yang harus dicantumkan dan atau dilampirkan pada SPTPD ditetapkan oleh bupati/walikota.

F. Penetapan Pajak Hotel

Berdasarkan SPTPD yang disampaikan oleh wajib pajak dan pendataan yang dilakukan oleh petugas Dinas Pendapatan Daerah, bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk oleh bupati/walikota menetapkan Pajak Hotel yang terutang dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD). SKPD harus dilunasi oleh w ajib pajak paling lama tiga puluh hari sejak diterimanya SKPD oleh wajib pajak atau jangka waktu lain yang ditetapkan oleh bupati atau walikota. Apabila setelah lewat waktu yang ditentukan wajib pajak tidak atau kurang membayar pajak terutang dalam SKPD, wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar dua persen sebulan dan ditagih dengan menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD).

G. Penagihan Pajak Hotel

Apabila pajak restoran yang terutang tidak dilunasi setelah jatuh tempo pembayaran, walikota atau pejabat yang ditunjuk akan melakukan tindakan

penagihan pajak. Penagihan pajak dilakukan terhadap pajak terutang dalam SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan Putusan dan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.Penagihan pajak dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pajak Surat Teguran dikeluarkan tujuh hari sejak saat jatuh tempo pembayaran pajak dan dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk oleh bupati/walikota.

Selanjutnya, bila jumlah pajak terutang yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis akan ditagih dengan Surat Paksa. Tindakan penagihan pajak dengan Surat Paksa dapat dilanjutkan dengan tindakan penyitaan, pelelangan. Terakhir, apabila dilakukan penyitaan dan pelelangan barang milik wajib pajak yang disita, pemerintah kabupaten/kota diberi hak mendahulu untuk tagihan pajak atau barang - barang milik wajib pajak atau penanggung pajak.

H. Pembetulan, Pembatalan, Pengurangan, Ketetapan, dan Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administrasi

Atas permohonan wajib pajak atau karena jabatannya, bupati/walikota

SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung dan atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang - undangan perpajakan daerah . Selain itu bupati/walikota dapat :

1. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga, denda, dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundang - undangan perpajakan daerah, dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya;

2. mengurangkan atau membatalkan SKPD,SKPDKB, SKPDKBT atau STPD, SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar;

3. Mengurangkan atau membatalkan STPD;

4. Membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan; dan

5. Mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar wajib pajak atau kondisi tertentu objek pajak.

Ketentuan ini dimaksudkan untuk menjaga kepentingan wajib pajak dalam hal penetapan pajak oleh kepala daerah akibat adanya kesalahan, baik yang dilakukan oleh wajib pajak maupun oleh kepala daerah atau pejabat yang ditunjuknya.

I. Pemeriksaan Pajak Hotel

Bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk berwenang untuk melakukan pemeriksaan untuk meguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan tujuan lain dalam rangka melaksanakan peraturan daerah tentang Pajak Hotel.

Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh bupati/walikota atau pejabat yang berwenang. Dalam praktiknya, yang ditunjuk dalam hal pmeriksaan Pajak Hotel ini adalah Dinas Pendapatan Kota Medan.

Proses pemeriksaan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan Kota Medan diatur pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 173 Tahun 1997 tentang tatacara Pemeriksaan Pajak di bidang Pajak Daerah.

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. Target dan Realisasi Pajak Hotel Pada Dinas Pendapatan Kota Medan Selama Tahun 2015

Bagi Kota Medan, kegiatan perdagangan bersama aktivitas hotel menjadi salah satu motor penggerak roda perekonomian kota.Pertumbuhan industri kepariwisataan di Sumatera Utara belakangan ini sangat menggembirakan. Hal tersebut dapat dilihat dari maraknya pertumbuhan hotel berbintang di Kota Medan. Menurut Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), kenyataan itu muncul karena tingkat pertumbuhan ekonomi dan membaiknya investasi kota sehingga membuat banyak investor dari luarnegeri berdatangan ke Medan dan menuntut munculnya hotel-hotel. Meningkatnya penanaman modal asing, terutama investasi perhotelan merupakan contoh bahwa Sumatera Utara masih kondusif. Medan dinilai layak bagi investasi perhotelan bahkan secara Internasional

Berdasarkan data dari Dispenda Kota Medan, jumlah Hotel yang ada di Kota Medan selama tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 mengalami perubahan.

Perubahan dalam arti bahwa semakin majunya dan berkembangnya pengusaha Hotel di Kota Medan.

Hotel ini terbagi dalam kelas-kelas yang penggolongannya berdasarkan fasilitas yang disediakan hotel. Jumlah dan penggolongannya terbagi seperti pada tabel berikut :

TABEL 4.1

Banyaknya Hotel dan Penggolongan Hotel di Kota Medan

Tahun Anggaran 2011-2015

Pajak Hotel Mempunyai potensi yang cukup besar dalam penerimaan pajak daerah bila dilihat dari jumlah hotel yang ada. Tetapi dalam kenyataannya, penerimaan Pajak Hotel selama tahun 2011-2015 belum maksimal. Karena realisasi penerimaan Pajak Hotel ini belum bisa memenuhi target yang telah ditentukan. Namun pada tahun 2014, Dispenda dapat mencapai target bahkan melebihi target yang ditetapkan yaitu target di tetapkan 100% tetapi terealisasi 100,17%. Persentase pencapain target yang tertinggi adalah pada tahun 2014 dimana tergetnya sebesar 81.500.000.000,00 dan telah terealisasi sebesar 81.642.581.350.74 dengan persentase 100,17%. Namun dapat dilihat dalam tahun 2011,2012,2013,dan 2015, target yang ditetapkan tidak terealisasi . Persentase terkecil dari lima tahun tersebut adalah di tahun 2015 hanya terealsasi 78,94 % sangat jauh dari target yang ditetapkan. Penyebab utama atau faktor yang menyebabkan tidak terealisasi target tersebut dikarnakan Wajib Pajak Hotel banyak yang tidak membayar pajaknya. Bahkan Wajib Pajak yang membayar atau menyampaikan SPTPD nya pun sering juga melakukan tindakan untuk memperkecil pajaknya dengan cara segala hal, terutama memberikan laporan keuangan yang tidak sesuai. Sehingga dengan adanya maslah ini, Dispenda melakukan beberapa hal yaitu seperti melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Hotel.

Hal ini bisa dilihat pada table dibawah ini :

TABEL 4.2

Target dan Realisasi Pajak Hotel Tahun Anggaran 2011-2015

TAHUN TARGET REALISASI PERSEN (%)

2011 66.903.789.500,00 54.668.966.646,09 81,71 2012 81.000.000.000,00 64.574.093.185,88 79,72 2013 81.000.000.000,00 76.063.892.503,06 93,89 2014 81.500.000.000,00 81.642.581.350,74 100,17 2015 87.980.801.593,00 82.404.995.232,53 78,94 Sumber : Dinas Pendapatan Kota Medan

Sistem pemungutan pajak yang diterapkan atas jenis pajak ini adalah self assessment system. Sistem ini memberikan kepercayaaan kepada Wajib Pajak

untuk memenuhi dan melaksanakan kewajiban perpajakannya sendiri, khususnya dalam menghitung sendiri jumlah pajak yang terutang, menyetorkan pajak tersebut ke kas daerah, dan kemudian melaporkannya kepada petugas pajak.

B. Prosedur Pemriksaan yang Dilakukan Oleh Dispenda Terhadap Wajib Pajak Hotel di Kota Medan

Pemeriksaan Pajak Daeah yang selanjutnya disebut Pemeriksaan, adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, dan mengolah data dan atau

keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

Tujuan pemeriksaan adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

1. Norma Pemeriksaan

Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada norma pemeriksaan yang memuat batasan terhadap pemeriksa dan wajib pajak.

a. Pemeriksaan lapangan berpedoman pada norma pemeriksaan berikut :

1) Pemeriksa harus memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksa

2) Pemeriksa wajib memberitahukan secara tertulis tentang apa yang dilakukan pemeriksaan terhadap wajib pajak

3) Pemeriksa wajib memperlihatkan tanda pengenal pemeriksa dan surat perintah pemeriksaan terhadap wajib pajak

4) Pemeriksa wajib membuat laporan pemeriksaan

5) Pemeriksa wajib menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksa kepada wajib pajak

6) Pemeriksa wajib memberitahukan secara tertulis terhadap wajib pajak tentang hasil pemeriksaan beru pa hal-hal yang berbeda antara Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTD) dengan hasil pemeriksaan

7) Pemeriksa wajib mengembalikan buku-buku, catatan, dan dokumen pendukung lainya yang dipinjam dari wajib pajak paling lama 14 hari setelah pemeriksaan.

8) Pemeriksa dilarang memberitahukan kepada pihak lain yang tidak berhak, segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh wajib pajak dalam rangka pemeriksaan

9) Pemeriksa wajib memberi petunjuk kepada wajib pajak mengenai penyelenggaraan pembukuan atau pencatatan dan petunjuk lainnya mengenai pemenuhan kewajiban perpajakan sehubungan dengan pemeriksaan yang dilakukan

b. Pelaksanaan pemeriksaan berpedoman pada norma pemeriksaan sebagai berikut :

1) Pemeriksa dapat dilakukan oleh seseorang atau lebih pemeriksa 2) Pemeriksa dilakukan di kantor pemeriksa, di kantor wajib pajak,

atau ditempat usaha atau di tempat lain yang diduga ada kaitannya dengan kegiatan usaha atau kegiatan pekerjaan wajib pajak atau tempat lain yang ditentukan oleh kepala daerah atau pejabat

3) Pemeriksaan dilakukan pada saat jam kerja dan dapat dilakukan diluar jam kerja, jika dipandang perlu

4) Hasil pmeriksaan dituamgkan dalam laporan pemeriksaan

5) Hasil pemeriksaan yang dilakukan seluruhnya disetujui oleh wajib pajak. Dibuatkan surat pernyataan tentang persetujuan dan ditandatangani oleh wajib pajak yang bersangkutan

6) Terhadap temuan dalam pemeriksaan yang tidak mau atau yang tidak seluruhnya disetujui oleh wajib pajak, dilakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan

7) Berdasarkan hasil laporan pemeriksaan, diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) dan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) sepanjang tidak dilakukan dengan tindakan penyidikan

c. Wajib Pajak saat diperiksa berpedoman pada norma pemeriksaan sebagai berikut:

1) Wajib pajak wajib memenuhi pelaksanaan pemeriksaan baik di lapangan maupun di kantor sesuai ketentuan waktu yang ditentukan 2) Wajib pajak berhak meminta kepada pemeriksa untuk

memperlihatkan Surat Perintah Pemeriksaan dan Tanda Pengenal Pemeriksa

3) Wajib pajak berhak meninta penjelasan kepada pemeriksa tentang maksud dan tujuan pemeriksa

4) Wajib pajak berhak meintta kepada pemeriksa rincian uang yang berkenaan dengan hal-hal yang berbedaan antara hasil pemeriksan dengan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTD)

5) Wajib pajak wajib menandatangani surat pernyataan persetujuan apabila seluruh hasil pemeriksa disetujui

6) Wajib pajak menandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan (BAHP) apabila hasil pemeriksaan tersebut tidak atau seluruhnya disetujui

7) Wajib pajak wajib memenuhi permintaan peminjaman buku-buku, catatan, dan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kelancaran pemeriksaan

8) Wajib pajak wajib memberikan ijin untuk memasuki tempat atau urusan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan

9) Wajib Pajak memberikan keterangan yang diperlukan.

2. Pedoman Pemeriksaan

Pelaksanaan pemeriksaan terhadap wajib pajak didasarkan kepada pedoman pemeriksaan yang meliputi pedoman umum pemeriksaan, pedoman pelaksanaan pemeriksaan, dan pedoman pelaporan pemeriksaan.

a. Pedoman Umum Pemeriksaan adalah sebagai berikut :

1) Pemeriksaan dilakukan oleh pemeriksa yang telah memperoleh Pendidikan Teknis Pemeriksaan Pajak Daerah dan memiliki keterampilan sebagai pemeriksa

2) Pemeriksa harus bekerja dengan jujur, bertanggungjawab, penuh pengabdian, bersifat terbuka, sopan dan objektif, serta wajib menghindarkan diri dari perbuatan tercela

3) Pemeriksaan harus dilakukan oleh pemeriksa dengan menggunakan keahliannya secara cermat dan seksama serta memberikan gambaran sesuai dengan keadaan sebenarnya tentang wajib pajak

4) Temuan pemeriksaan harus dituangkan dalam kertas kerja sebagai bahan untuk menyusun laporan pemeriksaan

b. Pedoman Pemeriksaan adalah sebagai berikut :

1) pelaksanaan pemeriksaan harus didahului dengan program pemeriksaan, sesuai dengan tujuan pemeriksaan, sesuai dengan tujuan pemeriksaan dan dengan pengawasan yang seksama

2) Pendapat dan kesimpulan pemeriksaan harus didasarkan kepada bukti yang kuat dan berlandaskan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah

c. Pedoman laporan pemeriksaan

1) Laporan pemeriksaan harus disusun secara rinci, ringkas, dan jelas sesuai ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan, memuat kesimpulan pemeriksaan yang didukung dengan bukti yang kuat tentang ada atau tidaknya bukti penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan daerah dan memuat pula pengungkapan informasi lain yang diperlukan

2) Laporan pemeriksaan yang berkaitan dengan pengungkapan penyimpangan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah harus memperhatikan :

a. Faktor Pembanding

b. Nilai absolute penyimpangan

d. Pengaruh penyimpangan

e. Hubungan dengan permasalahan lainnya

Ada dua jenis pemeriksaan yang dilakukan Dispenda, yaitu :

1. Pemeriksaan Lapangan, dilakukan dengan cara :

a. memeriksa Tanda Pelunasan Pajak dan keterangan lainnya sebagai bukti pelunasan kewajiban perpajakan daerah.

b. memeriksa buku-buku, catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dari media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya.

c. meminjam buku-buku, catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dari media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya, dengan memberikan tanda terima.

d. Meminta keterangan lisan dan atau tertulis dari Wajib Pajak yang diperiksa.

e. Memasuki tempat atau ruangan yang diduga merupakan tempat menyimpan dokumen, uang, barang, yang dapat memberi petunjuk tentang keadaan usaha Wajib Pajak dan atau tempat-tempat lain yang dianggap penting serta melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tersebut.

f. Melakukan penyegelan tempat atau ruangan tersebut apabila Wajib Pajak atau Wakil atau Kuasanya tidak memberikan kesempatan untuk memasuki

tempat atau ruangan dimaksud, atau tidak ada di tempat pada saat pemeriksaan.

g. Meminta keterangan dan atau bukti yang diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang diperiksa.

2. Pemeriksaan Kantor, dilakukan dengan cara :

a. memberitahukan agar Wajib Pajak membawa tanda pelunasan pajak, buku-buku, catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dari media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya;

b. meminjam buku-buku, catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dari media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya dengan memberikan tanda terima.

c. memeriksa buku-buku, catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dari media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya.

d. Meminta keterangan lisan dan atau tertulis dari Wajib Pajak yang diperiksa.

e. Meminta keterangan dan atau bukti yang diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang diperiksa.

3. SOP (System Operating Procedure) Pemeriksaan di Dispenda Kota Medan

Pada tahap awal Staf Datap/Pmeriksaan meneliti berkas awal WP Hotel berupa SPTPD/SSPD setelah itu diberikan kepada Kepala Seksi (Kasi) Pemeriksaan. Kasi Pemeriksaan menyiapkan usulan Surat Tugas Pemeriksaan dan diserahkan ke Kasi Datap. Kepala Bidang ( Kabid) Datap menelaah draf usulan Surat Tugas Pemeriksaan . Setelah di setujui dan di tandatangani oleh Kasi Pengelolahan Data dan Informasi, Kasi Pendaftaran dan Pendataan, Kasi Penetapan, Kasi Pemeriksaan, Kabid Datap, dan sekretaris, maka Kadis Pendapatan menyetujui dan mengesahkan Surat Tugas Pemeriksaan. Setelah di setujui Kadis Pendapatan, maka Surat Tugas Pemeriksan dan Surat Pengantar Pemeriksaan diberi Nomor Surat oleh Staf Sub Bagian Umum. Selanjutnya diberikan kepada Tim Pemeriksa. Tim Pemeriksa mempersiapkan Surat Permintaan Dokumen dan Berkas Kelengkapan Pemeriksaan. Setelah di persiapkan, Tim Pemeriksa menyampaikan Surat Tugas dan Surat Pengantar Pemeriksaan dan Surat Permintaan Dokumen dan Kelengkapan Berkas kepada Wajib Pajak. Selanjutnya, setelah Wajib Pajak menerima Surat Tugas dan Surat Pengantar Pemeriksaan dan Surat Permintaan Dokumen dan Kelengkapan Berkas, maka Wajib Pajak menyerahkan buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen dokumen terkait pmeriksaan.

Apabila Wajib Pajak tidak menyerahkan Wajib Pajak menyerahkan buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen- dokumen terkait pmeriksaan, maka Tim Pemeriksa berhak mengluarakan Surat Peringatan ke pada Wajib Pajak

Setiap Hasil Pemriksaan harus hrus diberitahukan kepada WP secara tertulis dalam bentuk Laporan Pemeriksaan (DPD-O7), yaitu mengenai hal-hal yang berbeda antara isian SPTPD dari WP dengan hasil pemeriksaan dan selanjutnya untuk ditanggapi oleh WP.

C. Faktor –faktor yang Menghambat dalam Pemeriksaan Pajak Hotel Di Dispenda Kota Medan

Realita pemungutan pajak pasti akan menemui berbagai hambatan. Bagi sebagian orang dan pelaku dunia usaha, pajak merupakan sebuah beban yang akan mengurangi pendapatan mereka. Penghindaran dan perlawanan terhadap pemungutan pajak merupakan suatu bentuk hambatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya penerimaan kas suatu daerah khususnya daerah Kota Medan

Di Dispenda Kota Medan tercpainya target penerimaan pajak khusunya Pajak Hotel merupakan salah satu tindakan yang diakukan pihak Dispenda terutama tim pemeriksa yang gencar dalam memeriksadan mengawasi Wajib Pajak Hotel terutama wajib pajak yang bermasalah. Bermasalah dalam arti yaitu

mempengaruhi dalam pencapaian target ini adalah dikarenakan kepatuhan pengusaha hotel dalam menyelenggarkan kewajiban perpajakannya. Pengusaha hotel sering melakukan usaha-usaha untuk memperkecil pajaknya dengan cara melakukan penghindaran pajak dan penggelapan pajak. Beberapa contoh usaha pengusaha hotel umtuk memperkecil jumlah pajaknya :

1. pengusaha hotel meyembunyikan omset yang sebenarnya

2. Wajib pajak kurang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Dispenda Kota Medan, contohnya wajib pajak enggan memenuhi permintaan peminjaman buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen yang diperlukan. Selain itu wajib pajak kurang berkenan memberikan keterangan yang digunakan guna keperluan pemeriksaan. Hal ini menyebaabkan tim pemeriksa mengalami kesulitan menentukan omset penjualan sebenarnya dan besarnya pajak terhutang.

3. Wajib Pajak kurang berpartisipasi dalam proses pemeriksaan, sehingga proses pemeriksaan berjalan kurang maksimal dan akhirnya berakibat kurang lancarnya proses pemeriksaan. Misalnya adanya manipulasi data yang dilakukan oleh pengusaha hotel dan wajib pajak memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan fakta, misalnya pengusaha hotel menggunakan pembukuan ganda.

4. Wajib Pajak enggan membaayar pajaknya sesuai hasil pemeriksaan tim pemeriksa. Keengganan para wajib pajak untuk membayar pajak ini dapat

disebabkan banayk faktor, salah satunya adalah mereka beranggapan bahwa dengan membayar atau tidak mereka tidak merasakan manfaat bagi diri mereka sendiri. Dengan pola piker demikian maka tidaklah heran banyak terjadi pelanggaran dalam proses pemeriksaan pajak

5. menggunakan bill atau nota pembayaran yang belum diperporasi 6. nomor urut nota tidak urut dan tidak ada buku kas

7. pembayaran pajak yang tidak sesuai dengan tarif atau dengan menggunakan sistem patok harga

8. pajak terhutang yang tidak dibayar atau tunggakan pajak yang tidak segera dibayar

9. adanya kerja sama antara pengusaha hotel dengan petugas pajak untuk melakukan penipuan pajak mialnya, melakukan kerja sama dalam menghitung jumlah pajak yang harus dibayar di luar peraturan yang berlaku

D. Upaya Yang dilakukan Oleh Dinas Pendapatan Kota Medan dalam Mengatasi Hambatan dalam Pemeriksaan

Untuk mengatasi hambatan yang ditemui dalam proes pemeriksaan, maka pihak Dispenda melakukan beberapa upaya antara lain :

1. Tim pemeriksa memberikan petunjuk dan penjelasan kepada wajib Pajak Hotel

dengan lancar. Selain itu perlu dilakukan kegiatan penyuluhan bagi para wajib Pajak Hotel dan sosialisasi kepada wajib Pajak Hotel untuk meningkatkan

dengan lancar. Selain itu perlu dilakukan kegiatan penyuluhan bagi para wajib Pajak Hotel dan sosialisasi kepada wajib Pajak Hotel untuk meningkatkan

Dokumen terkait