• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemungutan suara (voting) adalah salah satu tahap pelaksanaan pemilihan umum. Secara umum, di banyak negara, pemungutan suara dilaksanakan secara rahasia pada tempat yang khusus dipersiapkan untuk pelaksanaan pemungutan suara. Proses pemungutan suara di Indonesia masih menggunakan cara manual, yaitu menggunakan kertas suara. Berikut ini adalah urutan proses pada saat pemungutan suara di Indonesia.

1. Calon pemilih datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara). TPS adalah tempat melakukan pemungutan suara yang disediakan oleh panitia pemilihan umum.

2. Calon pemilih memberikan kartu pemilih. Kartu pemilih ini digunakan sebagai tanda bahwa calon pemilih telah terdaftar sebagai calon pemilih.

3. Calon pemilih mengambil kertas suara (ballot) dan kemudian melakukan pencoblosan di dalam bilik suara.

4. Kertas suara dimasukkan ke dalam kotak suara (ballot box).

5. Salah satu jari pemilih diberi tanda dengan tinta sebagai penanda bahwa pemilih tersebut telah melakukan pemungutan suara.

II-6

6. Setelah waktu untuk memasukkan suara selesai, maka kemudian dilakukan perhitungan suara.

7. Kertas suara dikeluarkan dari kotak suara dan kemudian dihitung bersama-sama dengan diawasi oleh saksi dari berbagai pihak antara lain panitia dan perwakilan partai politik.

8. Hasil perhitungan tersebut kemudian dikirimkan ke kantor KPU untuk dilakukan rekapitulasi hasil pemungutan suara.

Proses pemungutan suara secara manual menggunakan kertas suara sampai saat ini masih digunakan di Indonesia dan negara-negara lain yang belum menggunakan sistem e-voting. Berikut ini adalah beberapa alasan yang mungkin mendasari suatu negara tetap menggunakan sistem pemungutan suara secara manual.

1. Belum ada sistem e-voting yang keamanannya sudah benar-benar teruji.

2. Tingkat pendidikan masyarakat secara umum masih cukup rendah sehingga penerapan teknologi baru membutuhkan biaya dan waktu yang cukup besar untuk melakukan sosialisasi agar masyarakat mampu menggunakannya.

3. Pemerintah perlu melakukan sosialisasi sistem baru agar masyarakat mau mengadopsi sistem baru.

4. Konversi dari sistem lama (manual) ke sistem baru (e-voting) membutuhkan usaha yang cukup besar.

Selain beberapa alasan di atas, ada prasangka negatif mengenai keengganan pemerintah mengadopsi sistem e-voting. Prasangka negatif tersebut khususnya terkait dengan transparansi atau keterbukaan. Pada beberapa negara dengan tingkat korupsi yang cukup tinggi seperti Indonesia masalah transparansi merupakan hal yang sering dihindari oleh para aparat pemerintah yang korup. Mereka tidak senang apabila penggunaan sistem e-voting akan menjadikan proses pemilihan umum semakin transparan sehingga kedudukan mereka di pemerintahan akan terancam.

II.4 E-Voting

Seiring dengan perkembangan jaman, sudah banyak penelitian pemanfaatan elektronik pada proses pemungutan suara menggantikan proses pemungutan suara secara manual. Teknologi tersebut disebut e-voting. E-voting adalah proses pemungutan suara yang

II-7

memanfaatkan elektronik. Penelitian mengenai e-voting telah berlangsung cukup lama. Sebagai contoh, pada 1 Juni 1869 Thomas A. Edison menerima paten dari pemerintah Amerika untuk sebuah “electronic vote recorder” yang akan digunakan pada Kongres, tetapi teknologi tersebut tidak pernah digunakan karena anggota Kongres belum siap untuk menggunakannnya [13].

Seiring dengan perkembangan jaman, ada pergeseran makna terkait e-voting. E-voting saat ini lebih dikhususkan pada pemanfaatan teknologi informasi khususnya jaringan internet pada pelaksanaan pemungutan suara. Penelitian terkait e-voting yang memanfaatkan teknologi informasi mulai banyak bermunculan pada tahun 1990an. Pemanfaatan e-voting sudah mulai dilakukan pada beberapa negara. Berikut ini adalah beberapa contoh negara yang telah memanfaatkan teknologi e-voting.

1. Brazil

Brazil adalah salah satu negara yang masuk sepuluh besar jumlah penduduk terbesar di dunia selain Indonesia. Brazil telah mulai memperkenalkan sistem e-voting pada awal tahun 1990an pada kota-kota dengan penduduk sekitar 200.000 orang. Kemudian pada tahun 1998, sistem e-voting telah digunakan pada proses pemilihan umum dengan skala yang lebih tinggi. Pada tahun 2002, lebih dari 100 juta penduduk Brazil memasukkan suara mereka menggunakan mesin e-voting yang berjumlah lebih dari 400.000 yang tersebar di seluruh bagian negara [6]. Keberhasilan Brazil tersebut menunjukkan bahwa negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar juga telah mampu memanfaatkan sistem e-voting.

2. Jepang

Jepang mulai memanfaatkan e-voting secara resmi pada tahun 2002 pada pemerintah lokal kota Niimi. Penggunaan e-voting tersebut cukup sukses karena diikuti oleh 96% warga kota tersebut dari total 25.000 penduduk kota. Pelaksanaan e-voting di kota tersebut serupa dengan pelaksanaan e-voting di Brazil dengan menggunakan mesin e-voting pada setiap TPS [12].

3. Estonia

Estonia adalah sebuah negara di Eropa dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa. Estonia telah berhasil memanfaatkan teknologi e-voting berbasis internet pada tahun 2005 pada Pemilu lokal dengan jumlah warga yang memanfaatkan teknologi tersebut sebanyak 9.317 orang. Pada tahun 2007, Estonia telah menjadi negara pertama di dunia yang berhasil memanfaatkan teknologi e-voting berbasis internet

II-8

untuk melakukan Pemilu secara nasional. Jumlah warga negara yang memanfaatkan teknologi tersebut adalah 30.275 orang. Pada saat pemanfaatan teknologi e-voting berbasis internet, pemerintah Estonia juga tempat pemungutan suara (TPS) seperti biasa. Jadi warga bebas memilih akan melakukan pemungutan suara menggunakan teknologi e-voting berbasis internet maupun menggunakan TPS.

Selain ketiga negara di atas, sebenarnya masih banyak negara lain yang sudah mulai memanfaatkan e-voting dalam proses pemungutan suara antara lain India, Irlandia, Amerika, Perancis, dan lain-lain. Seperti halnya negara Jepang, hampir semua negara tersebut memanfaatkan teknologi e-voting masih dalam tingkat pemilihan umum lokal, belum bersifat nasional. Masih ada kekhawatiran yang cukup besar terkait dengan keamanan sistem e-voting. Brazil dan Estonia adalah contoh negara yang telah berani memanfaatkan teknologi e-voting untuk pemilihan umum nasional.

Penelitian terkait e-voting masih terus dilakukan sampai sekarang. Ada bermacam-macam teknologi yang digunakan dalam mengembangkan e-voting tersebut. Berikut ini beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam suatu sistem e-voting.

1. Accuracy (akurasi) yaitu ketepatan hasil perhitungan suara. Ketepatan ini meliputi tidak ada satupun pihak yang diperbolehkan mengubah suara yang telah masuk, semua suara yang valid dihitung dengan tepat, dan suara yang tidak valid tidak boleh dihitung.

2. Democracy (demokrasi) yaitu hanya calon pemilih yang memenuhi syarat berhak untuk memilih dan setiap pemilih hanya berhak untuk memasukkan suaranya satu kali.

3. Privacy (privasi) yaitu tidak seorang pun yang dapat menghubungkan seseorang dengan hasil pilihannya.

4. Robustness yaitu tidak ada gangguan yang menghalangi pelaksanaan pemungutan suara. Jadi aspek ini berkaitan erat dengan aspek security (keamanan).

5. Verifiability yaitu setiap orang dapat membuktikan bahwa tidak ada manipulasi terhadap hasil perhitungan.

6. Uncoercibility yaitu tidak adanya paksaan kepada pemilih dalam menentukan pilihannya. Agar tidak terjadi maka pemilih harus tidak dapat membuktikan hasil pilihannya kepada orang lain (receipt freeness).

II-9

7. Fairness yaitu setiap orang tidak dapat mengetahui hasil pemilihan sebelum proses pemilihan selesai dan dilakukan perhitungan suara.

8. Verifiable participation yaitu mampu membuktikan apakah seseorang telah melakukan pemungutan suara atau belum [11].

Pada sub bab berikut akan dijelaskan mengenai beberapa contoh penelitian terkait dengan sistem e-voting.

II.4.1 E-Vox

E-Vox adalah sebuah sistem e-voting yang dikembangkan oleh Mark A. Herschberg pada tesis yang berjudul Secure Electronic Voting Over the World Wide Web tahun 1997 [8]. Sistem E-Vox mempunyai kelebihan dalam kemudahan akses oleh pemilih. Pemilih hanya membutuhkan username (identitas pemilih) dan password untuk dapat mengakses sistem tersebut. Pemilih tidak perlu menggunakan otentikasi lainnya. Penanganan keamanan sistem ditangani secara internal dan tidak menyulitkan calon pemilih dalam mengoperasikan sistem tersebut.

Sistem E-Vox secara umum mempunyai desain yang cukup sederhana. Sistem tersebut terdiri dari empat buah modul utama yaitu counter, administrator, anonymizer, dan voter applet. Counter digunakan untuk menghitung hasil pemungutan suara. Administrator memverifikasi data pemilih dan memberikan tanda bahwa surat suara yang telah masuk tersebut sah. Anonymizer adalah modul yang digunakan untuk menjaga kerahasiaan data pemilih. Dan terakhir adalah voter applet yang digunakan sebagai antar muka langsung ke pemilih. Desain proses sistem E-Vox dapat dilihat pada gambar II-2. Berikut ini penjelasan proses yang dilakukan pada sistem E-Vox tersebut.

1. Pemilih memilih kandidat yang diinginkan yang telah dienkripsi menggunakan voter applet.

2. Surat suara kemudian dikirimkan ke administrator menggunakan jaringan yang aman.

3. Administrator memverifikasi bahwa pemilih mempunyai hak untuk memilih. Administrator kemudian mengirimkan kembali surat suara tersebut ke pemilih setelah diberi tanda (setelah waktu pemungutan suara selesai, administrator

II-10

mempublikasikan daftar nama pemilih, surat suara yang telah dienkripsi, dan tanda dari administrator).

4. Pemilih memverifikasi tanda dari administrator dan kemudian membuka surat suara tersebut.

5. Surat suara tersebut kemudian dikirimkan ke anonymous server.

6. Semua surat suara diterima anonymous server sebelum waktu pemungutan suara selesai.

7. Surat suara yang terkumpul dihitung setelah mengkonfirmasi tanda yang diberikan oleh administrator.

8. Setelah selesai, counter memberikan tanda bahwa proses telah berhasil dilakukan ke modul anonymizer dan kemudian diteruskan ke voter applet.

Gambar II-2 Arsitektur Sistem E-Vox [8]

II.4.2 e-VOTE

Sistem e-VOTE adalah sebuah sistem voting berbasis internet. e-VOTE adalah sebuah proyek yang dilakukan oleh konsursium terdiri dari universitas-universitas dan perusahaan-perusahaan IT di Eropa pada tahun 2000. e-VOTE mempunyai tujuan untuk membuat desain, mengembangkan, dan melakukan validasi sebuah sistem e-voting berbasis internet. Sistem ini meliputi registrasi pemilih, validasi pemilih, mengumpulkan suara, dan melakukan perhitungan hasil suara.

II-11

Sistem e-VOTE terdiri dari empat macam domain aplikasi yang berbeda yaitu pemilihan umum, pemilihan pada internal organisasi, referendum, dan jejak pendapat. Setiap domain aplikasi tersebut mempunyai requirement dan arsitektur sistem yang berbeda-beda. Pada dokumen tesis ini, sistem e-VOTE yang dibahas hanya pada modul pemilihan umum karena karakteristiknya paling sesuai dengan model yang dikembangkan pada tesis ini. Sistem e-VOTE mempunyai kelebihan mengenai banyaknya pilihan arsitektur sistem yang bisa digunakan. Misalnya, proses penanganan otentikasi calon pemilih ada banyak alternatif yang bisa digunakan, alternatif tersebut antara lain otentikasi dengan satu password, otentikasi dengan dua password, otentikasi menggunakan kartu chip, dan lain-lain. Pada contoh model yang digunakan sebagai perbandingan saat ini adalah salah satu bentuk umum arsitektur sistem e-VOTE. Gambar II-3 adalah contoh model arsitektur umum sistem e-VOTE.

Gambar II-3 Arsitektur Sistem e-VOTE [7]

Berikut ini adalah penjelasan setiap komponen dari Gambar II-3 Arsitektur Sistem e-VOTE.

1. Web browser adalah aplikasi untuk mengakses web server yang berisi aplikasi e-voting. Jadi web browser menjadi suatu e-voting front end yang berinteraksi langsung dengan pemilih.

2. Web server adalah aplikasi di sisi server yang mengelola aplikasi e-voting yang akan diakses oleh pemilih menggunakan web browser.

II-12

3. Certification Authority (CA) adalah modul yang berfungsi untuk memeriksa apakah calon pemilih mempunyai hak akses untuk memilih atau tidak.

4. Registration client adalah berisi daftar calon pemilih. Daftar calon pemilih tersebut akan dimasukkan ke modul CA dan modul Message board untuk membuktikan apakah calon pemilih yang masuk tersebut telah terdaftar atau belum.

5. Message board adalah bagian server yang berfungsi untuk mengumpulkan dan menghitung suara yang telah masuk.

6. Tally server adalah bagian server untuk melakukan dekripsi terhadap hasil pemungutan suara setelah proses pemungutan suara selesai dilakukan.

7. Administrative client adalah komputer client untuk kegiatan administratif yang hanya digunakan apabila kegiatan administratif tersebut tidak dilakukan otomatis pada Message board. Kegiatan adminstratif tersebut antara lain perhitungan suara secara manual, pemeriksaan daftar pemilih, dan pemeriksaan daftar suara yang telah masuk.

II.4.3 MarkPledge

MarkPledge adalah sistem e-voting yang dikembangkan oleh Andrew Neff sekitar tahun 2000. Secara umum, sistem MarkPledge mempunyai arsitektur seperti pada Gambar II-4.

Gambar II-4 Arsitektur Sistem MarkPledge [1]

Berikut ini adalah penjelasan setiap bagian pada arsitektur sistem MarkPledge sesuai gambar II-4.

1. Voting Machine adalah mesin yang digunakan untuk melakukan proses pemungutan suara.

II-13

2. Bulletin board adalah modul yang digunakan untuk mengumpulkan data suara yang telah masuk dan melakukan perhitungan hasil pemungutan suara.

3. Helper adalah bagian yang bertugas memverifikasi surat suara apakah surat suara yang masuk valid atau tidak.

Berikut ini adalah proses yang terjadi pada saat pelaksanaan pemungutan suara menggunakan sistem MarkPledge.

1. Pemilih masuk ke bilik pemungutan suara, sebuah tempat yang terjaga privasinya, dan kemudian mengaktifkan mesin voting (voting machine).

2. Pemilih memasukkan suara pilihannya ke mesin voting.

3. Mesin membuat surat suara dijital berisi hasil pilihan pemilih yang telah dienkripsi. 4. Suara yang masuk akan diverifikasi oleh bagian helper untuk menentukan valid atau

tidaknya surat suara tersebut. Jika surat suara tersebut valid maka proses akan dilanjutkan ke bagian berikutnya. Dan jika tidak, maka pemilih harus kembali memasukkan suara pilihannya.

5. Pemilih memasukkan sebuah password yang digunakan untuk membuka surat suara yang telah dienkripsi.

6. Mesin menampilkan password tersebut dan juga menambahkan data dummy yang digunakan untuk melindungi privasi pemilih.

7. Suara yang telah ditambahkan data dummy tersebut kemudian dikirimkan ke modul bulletin board. Modul ini bertugas untuk mengumpulkan surat suara dijital dan kemudian menghitungnya setelah waktu pemungutan suara berakhir.

8. Mesin mengirimkan surat suara yang telah dienkripsi dan kemudian pemilih menerima receipt (bukti hasil pilihan) [4].

Pada paper yang ditulis oleh Ben Adida [1] membahas mengenai jaminan terhadap hasil penghitungan suara pada skema voting system MarkPledge. Salah satu bagian yang sangat penting pada sebuah sistem pemungutan suara (voting) adalah verifikasi terhadap hasil pemungutan suara. Ada dua hal yang penting yang harus diverifikasi. Pertama adalah memastikan bahwa tidak ada manipulasi terhadap pilihan yang sudah masuk pada surat suara. Dan yang kedua adalah memastikan bahwa surat suara yang masuk dihitung dengan benar sesuai pilihan yang ada pada surat suara.

II-14

Ada dua macam metode yang digunakan dalam memastikan terhadap hasil penghitungan suara. Metode pertama adalah universal verifiability. Pada metode ini semua orang dapat memverifikasi bahwa hanya pemilih yang terdaftar yang memasukkan suara dan suara yang masuk dihitung dengan benar. Setelah semua suara masuk ke bulletin board maka semua orang dapat memastikan bahwa data orang yang telah memasukkan pilihan sesuai dengan data suara yang masuk.

Metode kedua adalah ballot casting assurance. Pada metode ini hanya pemilih yang dapat memverifikasi sendiri bahwa surat suara yang dimasukkan dihitung sesuai dengan pilihan yang dia masukkan. Cara yang dilakukan adalah pada saat memilih pemilih memperoleh receipt. Receipt tersebut berisi bukti bahwa suara yang telah dimasukkan tidak dimanipulasi dan pemilih dapat melakukan pengecekan pada bulletin board.

II.4.4 Sistem E-Voting Terpusat

Sistem E-Voting Terpusat adalah sistem yang dikembangkan oleh Philip Anderson Hutapea pada tahun 2009 sebagai bagian dari tugas akhir program studi Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung [8]. Sistem yang dikembangkan tersebut membahas lebih mendalam mengenai cara menangani faktor keamanan data khususnya terkait masalah kerahasiaan data. Metode yang digunakan untuk mengatasi faktor tersebut adalah dengan melakukan kriptografi. Sistem ini menggunakan kartu pemilihan, yaitu sebuah kartu kecil yang mempunyai chip memory dan digunakan sebagai media penyimpanan suara yang dapat digunakan untuk perhitungan suara secara manual.

Gambar II-5 berisi mengenai arsitektur sistem e-voting terpusat. Berikut ini adalah penjelasan alur pada skema pelaksanaan sistem e-voting tersebut.

1. Secara umum sistem dibagi menjadi dua bagian utama yaitu sistem yang berada di TPS (Tempat Pemungutan Suara) dan sistem di KPU (Komisi Pemilihan Umum). 2. Sistem di TPS dibagi menjadi beberapa proses sebagai berikut.

a. Pemilih melakukan pendaftaran ulang pada bagian registrasi di TPS.

b. Pemilih memperoleh kartu suara yang datanya telah dienkripsi dan kemudian melakukan inisiasi kartu.

II-15

Dokumen terkait