• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Pemutakhiran Data Pemilih

Pemutakhiran data pemilih adalah rangkaian kegiatan yang terencana yang dilakukan oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS) dibantu Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) dalam rangka penyusunan Daftar Pemilih Sementara (DPS), Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan (DPSHP) dan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Ada beberapa alasan mengapa perlu dilakukan pemutakhiran data pemilih Legislatif. Alasan tersebut antara lain:

1. Telah memenuhi syarat usia pemilih, yaitu sampai dengan hari dan tanggal pemungutan suara pemilih legislatif sudah genap berumur 17 (tujuh belas) Tahun atau lebih

2. Belum berumur 17 (tujuh belas) tahun, tetapi sudah/pernah kawin

3. Perubahan status anggota TNI/POLRI menjadi status sipil atau purna tugas, atau sebaliknya dari sipil menjadi anggota TNI/POLRI

4. Tidak terdaftar dalam data pemilih yang digunakan untuk penyusunan daftar pemilih dalam pemilu legislatif berdasarkan data kependudukan yang

disampaikan pemerintah daerah atau daftar pemilih pemilu terakhir 5. Telah meninggal dunia

6. Pindah domisili/sudah tidak berdomisili di Desa/Kelurahan tersebut 7. Pemilih yang terdaftar ganda pada domisili berbeda

8. Perbaikan penulisan identitas pemilih; atau

9. Pemilih yang sudah terdaftar tetapi sudah tidak memenuhi syarat pemilih.

Melakukan pemutakhiran data pemilih, pemerintah Daerah harus turut andil dalam menjalankan semua kegiatan sesuai dengan tanggung jawab yang sudah diberitahukan. Dalam hal ini, tanggung jawab Pemerintah Daerah atau Dinas Catatan Sipil yaitu menyiapkan data agregat kependudukan atau Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) per Kecamatan sebagai bahan KPU Kabupaten/kota dalam menyusun Daerah pemilihan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Disamping itu, Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) tersebut juga digunakan sebagai bahan bagi KPU dalam menyusun Daftar Pemilih Sementara (DPS). Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) dengan formulir model A-KPU harus sudah tersedia dan diserahkan paling lambat 16 (enam belas) Bulan sebelum hari pemungutan suara oleh Bupati/Walikota menyerahkan kepada KPU Kabupaten/Kota. Data kependudukan sebagaimana yang dimaksud di atas adalah Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang sekurang-kurangnya meliputi:

a. Nomor Induk Kependudukan (NIK) b. Nama lengkap

c. Tempat/tanggal lahir (umur)

d. Jenis kelamin e. Status perkawinan f. Alamat tempat tinggal g. Jenis cacat yang disandang

Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih, KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK dan PPS menyelenggarakan bimbingan teknis dan sosialisasi pemutakhiran data pemilih secara berjenjang sesuai dengan tingkatannya. Bimbingan teknis dan sosialisasi tersebut dilaksanakan sebelum verifikasi faktual data pemilih diselenggarakan oleh KPU Kabupaten/Kota. KPU Kabupaten/Kota melakukan pemutakhiran data pemilih berdasarkan formulir model A-KPU. Dalam melaksanakan pemutakhiran data pemilih, KPU Kabupaten/Kota dibantu oleh Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) atau Pantarli, PPS dan PPK. Dalam hal ini Petugas Pemutakhiran Data Pemilih terdiri atas perangkat Desa atau nama lain Kelurahan RT/RW atau nama lain, dan/atau warga Masyarakat. Petugas Pemutakhiran Data Pemilih berjumlah 1 (satu) orang disetiap TPS, diangkat dan diberhentikan oleh PPS. Petuga Pemutakhiran Data Pemilih memberikan kepada pemilih tanda bukti telah terdaftar sebagai pemilih, setelah semua kegiatan di atas terlaksana maka hasil dari pemutakhiran data pemilih akan digunakan sebagai bahan penyusun Daftar Pemilih Sementara (DPS).

1. Daftar Pemilih Sementara (DPS)

Daftar Pemilih Sementara atau disingkat DPS adalah daftar dari nama-nama warga yang bisa ikut pemilu, tetapi data-data yang ada dalam DPS masih

harus diperbaharui dan akan dibuat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Dalam menyusun DPS, PPK memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pemutakhiran data pemilih. Tugas dan wewenang tersebut adalah sebagai berikut:

a. Melaksanakan bimbingan teknis pemutakhiran data pemilih kepada PPS dan Petuga Pemutakhiran Data Pemilih di wilayah kerja PPK.

b. Membantu KPU Kabupaten/Kota melaksanakan sosialisasi pemutakhiran data pemilih

c. Menyampaikan data pemilih berbasis TPS (formulir model A0-KPU) beserta formulir dan perlengkapan pemutakhiran kepada PPS, dan

d. PPK menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dalam persiapan pemutakhiran data pemilih ini paling lambat 7 (tujuh) hari sejak diterimanya data pemilih dan perlengkapan pemutakhiran dari KPU Kabupaten/Kota.

Tugas dan tanggung jawab PPS dalam persiapan pemutakhiran data pemilih adalah:

a. PPS melakukan sosialisasi pemutakhiran data pemilih ditingkat Desa/Kelurahan dan memberikan supervise serta membantu Petugas Pemutakhiran Data Pemilih dalam melakukan verifikasi faktual.

b. PPS setelah menerima data pemilih, formulir dan alat kelengkapan pemutakhiran data pemilih maka PPS wajib memeriksa kesesuaian jumlah formulir dan alat kelengkapan pemutakhiran sesuai dengan yang diperlukan.

c. PPS menyerahkan data pemilih yang berbasis TPS (dengan formulir model A0-KPU), formulir data pemilih baru (A.A-KPU), formulir bukti telah terdaftar (formulir model A.A1-KPU), stiker pemutakhiran (formulir

A.A2-KPU), dan alat kelengkapan lainnya kepada Petugas Pemutakhiran Data Pemilih, dan

d. PPS menyerahkan data pemilih berbasis TPS, formulir pemutakhiran dan kelengkapan lainnya kepada Petugas Pemutakhiran Data Pemilih paling lama 7 (tujuh) hari sejak di terimanya data pemilih berbasis TPS, formulir pemutakhiran dan kelengkapan lainnya dari PPK.

PPS setelah menerima data/daftar pemilih dari KPU Kabupaten/Kota melalui PPK sebagaimana yang dimaksud di atas, melakukan pemutakhiran daftar pemilih, dengan kegiatan-kegiatan mengumpulkan hasil pemutakhiran data pemilih dengan formulir model A.0-KPU dan model A.A-KPU beserta formulir lainnya dari seluruh Petugas Pemutakhiran Data Pemilih di wilayah kerja PPS.

Dari hasil tersebut akan digunakan oleh PPS untuk menyusun Dafatr Pemilih Sementara (DPS) dengan menggunakan formulir model A.1-KPU. Dalam menyusun DPS, PPS dibantu oleh PPDP dengan menggunakan formulir yang berbasis RT/RW. PPDP sebagai mana yang dimaksud terdiri dari 1 (satu) orang untuk setiap TPS. PPDP/Pantarlih dapat berasal dari perangkat Kelurahan/Desa atau RT/RW atau sebutan lain warga masyarakat setempat, diangkat dan diberhentikan dengan keputusan PPS yang bersangkutan. Kegiatan penyusunan Daftar Pemilih Sementara dilaksanakan selama 1 (satu) Bulan sejak diterima hasil verifikasi faktual dari PPDP. Penetapan DPS dilakukan dalam rapat pleno PPS yang dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh ketua dan anggota PPS. Setelah DPS ditetapkan dan ditandatangani oleh Ketua PPS maka DPS tersebut diserahkan kepada KPU Kabupaten/Kota melalui PPK. Jika PPK tidak

dapat mengumpulkan DPS dalm bentuk hardcopy dan softcopy, maka pengumpulan hardcopy dan softcopy dapat dilakukan oleh KPU Kabupaten/Kota.

Daftar Pemilih Sementara dibuat dalam 3 (Tiga) rangkap dan di bagikan kepada : a. 1 (satu) salinan untuk diumumkan di kantor PPS

b. 1 (satu) salinan untuk arsip PPS

c. 1 (satu) salinan untuk diumumkan di Sekretariat Kantor/Lingkungan RT/RW yang memuat TPS terkait.

Daftar Pemilih Sementara diumumkan oleh PPS pada tempat-tempat yang mudah dijangkau masyarakat dan disampaikan oleh ketua Rukun Tetangga/

Rukun Warga atau sebutan lainnya untuk mendapat tanggapan masyarakat. Daftar Pemilih Sementara diumumkan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. Dalam jangka waktu pengumuman pemilih atau anggota keluarga atau pihak yang berkepentingan dapat mengajukan usul perbaikan mengenai penulisan Nama dan/

atau identitas lainnya kepada PPS. Selain usul perbaikan pemilih atau anggota keluarga atau pihak yang berkepentingan dapat memberikan informasi tentang pemilih kepada PPS, yaitu berkenaan dengan pemilih:

a. Yang telah memenuhi syarat pemilih

b. Yang sudah kawin di bawah umur 17 (tujuh belas) tahun.

c. Yang sudah pensiun dari Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau pemilih yang berubah status menjadi tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republic Indonesia

d. Yang terdaftar sudah meninggal dunia

e. Sudah tidak berdomisili di Desa/Kelurahan tersebut f. Yang terdaftar ganda pada domisili yang berbeda

g. Yang sudah terdaftar tetapi sudah tidak lagi memenuhi syarat sebagai pemilih Masukan dan tanggapan masyarakat dan peserta pemilu yang sudah terdaftar dalam Daftar Pemilih Sementara diterima oleh PPS paling lama 21 (dua puluh satu) hari sejak Daftar Pemilih Sementara diumumkan. Apabila terdaftar nama pemilih yang tidak tercantum dalam daftar pemilih sementara maka PPS wajib memperbaiki Daftar Pemilih Sementara berdasarkan masukan dan tanggapan masyarakat dan peserta pemilu paling lama 14 (empat belas) hari sejak berakhirnya masukan dan tanggapan masyarakat dan peserta pemilu. Perbaikan DPS oleh PPS disusun kedalam Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan (DPSHP) dengan menggunakan formulir model A.2-KPU. Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan diumumkan kembali oleh PPS selama 7 (tujuh) hari untuk mendapatkan masukan dan tanggapan masyarakat dan peserta pemilu.

Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan akhir dengan menggunakan formulir model A.2A-KPU disampaikan oleh PPS kepada KPU Kabupaten/Kota melalui PPK untuk menyusun Daftar Pemilih Tetap.

2. Daftar Pemilih Tetap (DPT) Dan Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) Daftar Pemilih Tetap (DPT) merupakan daftar pemilih yang diambil setelah Daftar Pemilih Sementara melakukan perbaikan. PPK menyusun dan menetapkan Daftar Pemilih Tetap dengan menggunakan formulir model A.3-KPU berdasarkan Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan akhir (DPSHP akhir) yang disampaikan oleh PPS. Daftar pemilih tetap disusun dalam satuan TPS dan ditetapkan dalam rapat pleno KPU dan ditandatangani oleh ketua KPU. DPT ditetapkan paling lama 7 (tujuh) hari setelah di terimanya DPSHP akhir dari PPS.

Daftar pemilih tetap disampaikan oleh PPK kepada KPU Kabupaten/Kota.

Penyampaian DPT kepada KPU dan KPU Provinsi dalam bentuk copy peranti lunak (softcopy) dan cakram padat (compact disc). DPT yang disampaikan oleh KPU Kabupaten/Kota kepada PPS melalui PPK sebanyak 2 (dua) rangkap untuk keperluan pengumuman di PPS dan yang akan digunakan oleh KPPS dalam melaksanakan pemungutan suara dan perhitungan suara di TPS. KPU Kabupaten/kota juga harus memberikan salinan DPT kepada partai politik peserta pemilu ditingkat kabuapaten/kota dalam bentuk copy peranty lunak (softcopy) dan cakram padat (compact disk). Salinan DPT atau fotocopy DPT dapat diperoleh di kantor KPU Kabupaten/kota. Dalam menyerahkan salinan DPT kepada partai politik peserta pemilu yang telah mendapat mandat secara tertulis dari partai politik peserta pemilu dan disertai dengan tanda serah terima.

DPT yang diterima dari PPK oleh PPS akan diumumkan sejak diterimanya sampai hari/tanggal pemungutan suara. PPS dalam mengumumkan DPT dengan cara menempelkan salinan DPT di papan pengumuman dan/atau di tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat atau peserta pemilu. DPT digunakan oleh KPPS untuk melaksanakan pemungutan suara. DPT dapat dilengkapi dengan daftar pemilih tambahan (DPTb) sampai dengan jangka waktu 3 (tiga) hari sebelum pemungutan suara. Daftar pemilih tambahan terdiri atas daftar pemilih yang terdaftar dalam DPT disuatu TPS, tetapi karena keadaan tertentu tidak dapat menggunakan haknya untuk memilih di tempat TPS yang bersangkutan terdaftar karena menjalankan tugas pada saat pemungutan suara atau karena kondisi tidak terduga di luar kemauan dan kemampuan yang bersangkutan, misalnya karena

sakit, menjadi tahanan, tertimpa bencana alam sehingga tidak dapat menggunakan hak suaranya di TPS yang bersangkutan. Untuk dapat dimasukan dalam daftar pemilih tambahan (DPTb) seseorang harus menunjukan bukti identitas diri dan bukti yang bersangkutan telah terdaftar sebagai pemilih dalam DPT di TPS asal.

Pemilih melaporkan kepada PPS asal untuk mendapatkan surat pemberitahuan daftar pemilih tambahan (DPTb) dengan formulir model A.5-KPU yang akan digunakan hak memilih di TPS lain. PPS berdasarkan laporan pemilih, akan meneliti apakah pemilih tersebut sudah terdaftar dalam daftar pemilih tetap atau belum terdaftar dalam pemilih tetap. Apabila pemilih tersebut telah terdaftar sebagai daftar pemilih tetap (DPT) maka PPS akan mencatat atau memberikan catatan dalam kolom keterangan pada daftar pemilih tambahan (DPTb) dengan formulir model A.5-KPU dan memberikan surat pemberitahuan daftar pemilih tambahan (formulir model A.5-KPU) dengan ketentuan lembar kesatu untuk pemilih yang bersangkutan dan lembar kedua sebagai arsip PPS. Pemilih tambahan menunjukan surat pemberitahuan DPTb kepada PPS/KPPS yang wilayahnya membawahi TPS dengantujuan dimana pemilih yang bersangkutan akan menggunakan haknya utnuk memilih di TPS lain. PPS/KPPS mencatat pemilih yang bersangkutan dalam daftar pemilih tambahan dengan formulir model A.4-KPU. Pemilih tambahan dapat langsung kepada KPPS pada hari/tanggal pemungutan suara, dengan menunjukan surat pemberitahuan DPTb dan KPPS mencatat Nama pemilih dalam DPTb. Dalam hal pada satu TPS terdapat pemilih tambahan, KPPS mencatat dalam DPTb (formulir model A.4-KPU) dan melaporkan kepada KPU Kabupaten melalui PPS/PPK.

Daftar pemilih khusus adalah daftar pemilih yang memuat pemilih yang tidak memiliki identitas kependudukan dan/atau pemilih yang memiliki identitas tetapi tidak terdaftar dalam DPS, DPSHP, DPT, dan DPTb maka pemilih tersebut di masukan dalam daftar pemilih khusus. Daftar pemilih khusus di susun dan di tetapkan oleh KPU provinsi dengan bantuan KPU kabupaten/kota, PPK dan PPS.

Daftar Pemilih Khusus menggunakan formulir model A.khusus. sebelum melakukan pendataan Daftar Pemilih Khusus, PPS terlebih dahulu melakukan verifikasi untuk memastikan bahwa pemilih tersebut telah memenuhi syarat sebagai pemilih. Dalam hal ini ketua dan anggota PPS akan memberikan paraf pada pemilih khusus yang telah disusun, kemudian PPS menyampaikan daftar pemilih khusus (A. Khusus) kepada KPU Provinsi melalui PPK dan KPU Kabupaten/Kota paling lama 1 (satu) hari setelah ketua dan anggota PPS memberikan paraf pada daftar pemilih khusus yang telah disusun. Penetapan Daftar Pemilih Khusus dilakukan oleh KPU Provinsi dalam rapat pleno terbuka dan ditandatangani oleh ketua dan anggota KPU Provinsi berdasarkan usulan PPS paling lama 3 (tiga) hari sebelum pemungutan suara.

KPU Kabupaten/kota melakukan rekapitulasi DPT di Kabupaten/Kota.

KPU Provinsi melakukan rekapitulasi di Provinsi. KPU melakukan rekapitulasi secara nasional. Bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten, Panwaslu Kecamatan dan pengawas pemilu lapangan melakukan pengawasan atas pelaksanaan pemutakhiran data pemilih, penyusunan dan pengumuman DPS, perbaikan dan pengumuman DPSHP, penetapan dan pengumuman DPT, DPTb dan Rekapitulasi DPT yang dilaksanakan KPU, KPU Provinsi,KPU

Kabupaten/kota, PPK dan PPS. Dalam hal pengawasan sebagaimana yang di maksud di atas adalah bila mana menemukan unsur kesengajaan atau kelalaian anggota KPU, KPU Provinsi, KPU kabupaten/kota, PPK dan PPS yang merugikan warga Negara Indonesia yang memiliki hak pilih maka bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten, Panwaslu Kecamatan dan pengawas pemilu lapangan menyampaikan temuan kepada KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten, PPK dan PPS. KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten, PPK dan PPS wajib menindak lanjuti temuan Bawaslu, panwaslu provinsi, panwaslu kabupaten/kota.

KPU Kabupaten/kota setelah menerima data kependudukan melakukan kegiatan survey yang hasilnya disampaikan kepada publik untuk mengetahui akurasi kelayakan dan kualitas data pemilih. Untuk keperluan mengetahui akurasi kelayakan dan kualitas data pemilih, KPU Kabupaten/Kota dapat memanfaatkan jaringan teknologi yang sudah terbangun. Rekapitulasi DPT digunakan sebagai bahan penyusunan rencana pengadaan kebutuhan surat suara, formulir-formulir dan alat kelengkapan pemilu serta pendistribusiannya.

E. Pemilu Legislatif

Dokumen terkait