• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penambahan dan Pengurangan Modal Negara Negara ke

BAB III ASPEK HUKUM KEUANGAN NEGARA DALAM BADAN

B. Penambahan dan Pengurangan Modal Negara Negara ke

Penyertaan Modal Negara adalah pemisahan kekayaan Negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau penetapan cadangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai modal BUMN dan/atau Perseroan Terbatas lainnya, dan dikelola secara korporasi. Pengusulan adalah proses penyelesaian administrasi baik dari aspek teknis maupun yuridis penyertaan modal Negara dalam BUMN60. Dalam proses pengusulan PMN kegiatannya meliputi:

a. Pengusulan Penyertaan modal Negara dalam rangka pendirian, penambahan dan pengurangan penyertaan modal Negara pada BUMN dari Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan;

b. Penyelesaian pada Departemen Keuangan atas usulan penambahan pengurangan penyertaan modal Negara dan/atau usulan terkait dengan penyerataan modal Negara dalam rangka pendirian/pembubaran BUMN; c. Tindak lanjut penyelesaian dokumen legal penyertaan modal Negara

dimaksud dalam bentuk Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri Keuangan sebagai pelaksanaan atas Peratuan Pemerintah tentang penyertaan modal Negara (dalam hal diperlukan).

Dalam hal proses pengusulan untuk mendapatkan dokumen legal penyertaan modal Negara yang sesuai ketentuan yang berlaku tidak diperlukan adanya penetapan dalam Peraturan Pemerintah maka dokumen legal dimaksud diproses melalui mekanisme RUPS untuk mendapatkan keputusan RUPS.

60

Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada BUMN dan Perseroan Terbatas, Pasal 1 angka 7.

Adapun tujuan dari dilakukan penyertaan modal Negara dari Pemerintah Republik Indonesia kepada BUMN yaitu:

a. Optimalisasi Barang Milik Negara;

b. Mendirikan, mengembangkan/meningkatkan kinerja BUMN;

Sedangkan pertimbangan dilakukannya penyertaan modal Negara dari Pemerintah Republik Indonesia kepada BUMN yaitu:

a. Dalam rangka pendirian dan/atau mengembangkan/meningkatkan kinerja BUMN;

b. Dalam rangka mendukung BUMN, untuk menjalankan tugas Kewajiban Pelayanan Umum yang diberikan oleh Pemerintah;

c. Yang diusulkan merupakan proyek selesai kementerian/lembaga yang dari awal pengadaannya telah diprogramkan untuk diserahkan pengelolaannya pada BUMN,;

d. Kekayaan negara yang tidak dipisahkan tersebut menjadi lebih optimal apabila dikelola oleh BUMN;

Sedangkan subjek penyertaan modal Negara pada BUMN adalah Institusi- institusi yang terkait dengan penatausahaan dan pengusulan penyertaan modal Negara pada BUMN, dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing meliputi:

1. Kementerian Keuangan

Sesuai UU Nomor 17 Tahun 2003, Menteri Keuangan antara lain memiliki wewenang dan tanggung jawab sebagai pengelola fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan Kekayaan Negara yang dipisahkan. Di samping itu. kedudukan Menteri Keuangan berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004

adalah sebagai pengelola barang milik Negara. Namun demikian, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2003 sebagian kewenangan Menteri Keuangan terkait dengan kedudukannya sebagai wakil pemerintah pada BUMN dilimpahkan kepada Menteri Negara BUMN. Sedangkan kewenangan dalam rangka penatausahaan dan pengusulan penyertaan modal Negara pada BUMN tetap berada pada Menteri Keuangan. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, dan dengan pertimbangan bahwa penyertaan modal Negara tidak saja ada pada BUMN, tetapi terdapat pula pada perseroan terbatas, maka selanjutnya Menteri Keuangan mengatur pedoman lebih lanjut mengenai penatausahaan dan pengusulan penyertaan modal Negara pada BUMN dan perseroan terbatas.

Pengaturan tersebut menyangkut dokumen-dokumen yang diperlukan dalam rangka penatausahaan penyertaan modal Negara, institusi yang terlibat, proses dokumentasi dokumen legal penyertaan modal Negara, pencatatan penyertaan modal Negara, dan pelaporan penyertaan modal Negara, serta kegiatan-kegiatan terkait dalam pengusulan penyertaan modal negara. Terdapat beberapa Eselon I yang terkait dengan pegelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan, yaitu:61

a. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (Direktorat Barang Milik Negara II) terkait dengan pelaksanaan Penyertaan Modal Negara;

b. Badan Kebijakan Fiskal sekarang Pusat Pengelolaan Risiko Fisal terkait dengan risk management Penyertaan Modal Negara;

c. Direktorat Jenderal Anggaran (Direktorat Anggaran III) terkait dengan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

61

RT. Sutandya R. Hadikusuma dan Sumatoro, Pengertian Pokok Perusahaan, Bentuk- bentuk Perusahaan yang Berlaku di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), hal. 211

d. Direktorat Jenderal Perbendaharan sekarang:

1) Direktorat Pengelolaan Kas Negara terkait dengan pencairan Dana Penyertaan Modal Negara;

2) Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan terkait dengan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.

e. Kementerian yang Ditunjuk dan/atau Diberi Kuasa Dalam Pembinaan BUMN.

Kementerian Negara BUMN memiliki wewenang dan tanggung jawab sebagai wakil pemerintah selaku RUPS pada Persero dan pemegang saham pada Perseroan Terbatas, serta pemilik modal pada Perum. Dalam kaitannya dengan penatausahaan dan pengusulan penyertaan modal Negara ini, Kementerian Negara BUMN bertanggung jawab untuk menyampaikan kepada Menteri Keuangan dokumen penyertaan modal Negara yang tidak memerlukan penerbitan Peraturan Pemerintah, berupa keputusan RUPS dan penerbitan.62

Semua keputusan terkait dengan PMN, serta konfirmasi dan klarifikasi atas penyertaan modal Negara pada BUMN dan Perseroan Terbatas yang ada pada kewenangannya. Terkait dengan kegiatan pengusulan penyertaan modal Negara , Kementerian Negara BUMN mengusulkan penambahan / pengurangan penyertaan modal Negara pada batas-batas kewenangannya. Terdapat beberapa Eselon I yang terkait dengan pegelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan, yaitu:

a. Sekretariat Kementerian Negara BUMN; b. Deputi Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi.

62

f. Kementerian Negara/Lembaga Teknis Terhadap PMN yang berasal dari proyek selesai dan kekayaan negara yang tidak dipisahkan yang berada pada penguasaan departemen/lembaga, Menteri/Pimpinan Lembaga bertanggungjawab dalam pengusulan PMN dimaksud kepada Menteri Keuangan untuk diproses izin prinsip penghapusannya dengan tindak lanjut disertakan pada BUMN melalui mekanisme sesuai ketentuan yang berlaku, sebelum dilakukan pengusulan dokumen legal PMN berupa PP BUMN/Perseroan Terbatas terkait. 4. BUMN Setiap BUMN (Persero dan Perum) berwenang untuk mengelola dan mengadministrasikan penyertaan modal Negara yang diterimanya, dan selanjutnya bertanggung jawab dalam menvampaikan pelaporan secara periodik kepada Menteri. Keuangan terkait dengan penyertaan modal Negara yang ada pada BUMN bersangkutan dengan menggunakan format laporan seperti terlampir, dan disertai dengan Laporan Keuangan Perusahaan sebagai informasi tambahan untuk memperjelas kedudukan penyertaan modal Negara dimaksud dalam laporan keuangan. Sedangkan mengenai tata cara penyertaan modal Negara terdapat dalam BAB II PP Nomor 44 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara Pada BUMN dan Perseroan Terbatas. 1. Penyertaan Modal Negara yang Bersumber dari Fresh Money APBN

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, salah satu sumber penyertaan modal Negara adalah fresh money yang bersumber dari APBN. Adapun tatacara penyertaan modal Pemerintah adalah sebagai berikut:63

63

a. Menteri Negara BUMN dan/atau Menteri Teknis menyampaikan usulan penyertaan modal Negara kepada Menteri Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan sebelum tahun anggaran bersangkutan yang dilengkapi dengan kajian aspek bisnis dan aspek terkait lainnya.

b. Menteri Keuangan melakukan kajian atas usulan dimaksud. Untuk pengkajian tersebut Menteri Keuangan dapat membentuk Tim yang anggotanya terdiri dari unsurunsur Departemen Keuangan, Kementerian Negara BUMN, Departemen Teknis, dan BUMN bersangkutan. Tim tersebut mempunyai tugas antara lain sebagai berikut:

1) Melakukan penelitian data administratif dan fisik.

2) Melakukan kajian aspek finansial, aspek resiko fiskal, aspek yuridis, aspek administratif dan aspek bisnis serta aspek terkait lainnya.

3) melakukan kajian kelayakan Penyertaan Modal Negara.

4) menyusun dan menyampaikan rekomendasi hasil kajian kepada Menteri Keuangan.

c. Dalam hal usulan penyertaan modal Negara dinyatakan layak untuk diteruskan, Menteri Keuangan menyampaikan rencana penyertaan modal Negara kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai bagian dari pembahasan Rancangan UndangUndang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Persetujuan DPR terhadap rencana penyertaan modal Negara tertuang dalam Undang-Undang APBN.

d. Atas dasar persetujuan DPR tersebut, Menteri Keuangan menyiapkan: 1) usulan Penyertaan Modal Negara kepada Presiden dengan

2) penerbitan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Penyiapan rancangan Peraturan Pemerintah dikoordinasikan oleh Direktur Jenderal Kekayaan Negara. Sedangkan Penyiapan penerbitan DIPA dilakukan oleh Direktur Jenderal Anggaran untuk selanjutnya memperoleh pengesahan dari Direktur Jenderal Perbendaharaan. Menteri Keuangan (Direktur Jenderal Perbendaharaan) melakukan pencairan DIPA setelah ditetapkannya Peraturan Pemerintah mengenai penyertaan modal Negara bersangkutan.

3) Penyertaan Modal Negara Dari Barang Milik Negara Pada Kementerian Keuangan

Selain bersumber dari fresh money, penyertaan modal Negara dapat juga bersumber dari Barang Milik Negara (BMN). BMN yang akan menjadi penyertaan modal Negara dapat dikelompokan dalam beberapa jenis, yaitu:

a. BMN yang dibeli dengan dana APBN yang sejak semula

diperuntukkan sebagai penyertaan modal negara

b. BMN yang dibeli dengan dana APBN namun semula tidak

iperuntukkan sebagai penyertaan modal Negara c. BMN yang berasal Dari Perolehan Lainnya Yang Sah

a. Penyertaan modal Negara yang bersumber dari BMN yang diperoleh dari APBN yang sejak semula diperuntukkan sebagai Tata Cara Penyertaan Modal Negara atas BMN penyertaan modal Negara adalah sebagai berikut:

1) Menteri Keuangan melakukan kajian atas rencana penyertaan modal Negara yang bersumber dari BMN, yang pengadaannya berasal dari

APBN dan sejak semula diperuntukkan sebagai penyertaan modal Negara. Dalam rangka pelaksanaan pengkajian, Menteri Keuangan dapat membentuk Tim yang anggotanya terdiri dari unsurunsur Departemen Keuangan, Kementerian Negara BUMN, Departemen Teknis, dan BUMN bersangkutan.

2) Menteri Keuangan dapat menunjuk penilai independen guna melakukan penilaian atas nilai BMN yang akan dijadikan penyertaan modal Negara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Menteri Keuangan dapat meminta masukan dari Menteri Negara BUMN dan Menteri Teknis terhadap rencana penyertaan modal Negara .

3) Dalam hal rencana penyertaan modal Negara dinyatakan layak untuk diteruskan, Menteri Keuangan menyampaikan usulan rencana penyertaan modal Negara kepada Presiden dengan melampirkan rancangan Peraturan Pemerintah.

4) Dalam hal Peraturan Pemerintah mengenai penyertaan modal Negara dimaksud telah ditetapkan oleh Presiden, Menteri Keuangan (Direktur Jenderal Kekayaan Negara) melakukan serah terima BMN yang telah menjadi penyertaan modal negara kepada BUMN.

b. Dari APBN Yang Semula Tidak Diperuntukkan Sebagai Penyertaan Modal Negara

Menteri Keuangan melakukan kajian atas rencana penyertaan modal Negara yang bersumber dari BMN, yang pengadaannya berasal dari APBN dan pada awalnya tidak diperuntukkan sebagaipenyertaan modal negara. Dalam

rangka pelaksanaan pengkajian, Menteri Keuangan dapat membentuk Tim yang anggotanya terdiri dari unsu-runsur Departemen Keuangan, Kementerian Negara BUMN, Departemen Teknis, dan BUMN bersangkutan. Tim tersebut mempunyai tugas antara lain sebagai berikut:

1) Melakukan penelitian data administratif dan fisik.

2) Melakukan kajian aspek finansial, aspek resiko fiskal, aspek yuridis, aspek administratif dan aspek bisnis serta aspek terkait lainnya.

3) Melakukan kajian kelayakan Penyertaan Modal Negara.

4) Menyusun dan menyampaikan rekomendasi hasil kajian kepada Menteri Keuangan. Menteri Keuangan dapat menunjuk penilai independen guna melakukan penilaian atas nilai BMN yang akan dijadikan penyertaan modal Negara sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. Menteri Keuangan dapat meminta masukan dari Menteri Negara BUMN dan Menteri Teknis terhadap rencana Penyertaan Modal Negara.

Dalam hal rencana Penyertaan Modal Negara dinyatakan layak untuk diteruskan, Menteri Keuangan menyampaikan usulan rencana penyertaan modal Negara kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan tembusan kepada Presiden. Apabila usulan penyertaan modal Negara tersebut disetujui DPR, Menteri Keuangan menyampaikan usulan penyertaan modal Negara kepada Presiden dengan melampirkan rancangan Peraturan Pemerintah. Dalam hal Peraturan Pemerintah mengenai penyertaan modal negraa dimaksud telah ditetapkan oleh Presiden, Menteri Keuangan (Direktur Jenderal Kekayaan Negara)

melakukan serah terima BMN yang telah menjadi penyertaan modal negraa kepada BUMN.64

c. Dari Perolehan Lainnya Yang Sah Menteri Keuangan melakukan kajian atas rencana penyertaan modal Negara yang bersumber dari perolehan lainnya yang sah, antara lain:

1) barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; 2) barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; 3) barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau 4) barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap.

Dalam rangka pelaksanaan pengkajian, Menteri Keuangan membentuk Tim yang anggotanya terdiri dari unsur-unsur Departemen Keuangan, Kementerian Negara BUMN, Departemen Teknis, dan BUMN bersangkutan. Menteri Keuangan menunjuk penilai independen guna melakukan penilaian atas nilai BMN yang akan dijadikan penyertaan modal Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Menteri Keuangan dapat meminta masukan dari Menteri Negara BUMN dan Menteri Teknis terhadap rencanapenyertaan modal negara. Dalam hal rencana penyertaan modal Negara dinyatakan layak untuk diteruskan:

a. bagi rencana penyertaan modal Negara yang bernilai diatas Rp100 miliar dan/atau berupa tanah dan bangunan yang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan DPR, dengan ketentuan sebagai berikut:

64

Achmad Ichsan, Dunia Usaha Indonesia, (Jakarta: PT Pradnya Paramita, 2000), hal. 475

1) Menteri Keuangan mengajukan permohonan persetujuan penyertaan modal Negara kepada DPR dengan tembusan kepada Presiden;

2) berdasarkan persetujuan dari DPR, Menteri Keuangan menyampaikan usulan penyertaan modal Negara kepada Presiden dengan melampirkan rancangan Peraturan Pemerintah.

b. bagi rencana penyertaan modal Negara yang bernilai dari Rp10 miliar sampai dengan Rp100 miliar, dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Menteri Keuangan mengajukan permohonan persetujuan prinsip pelaksanaan penyertaan modal Negara kepada Presiden;

2) berdasarkan persetujuan prinsip dari Presiden, Menteri Keuangan (Direktur Jenderal Kekayaan Negara) mengkoordinasikan penyiapan rancangan Peraturan Pemerintah untuk selanjutnya disampaikan kepada Presiden guna memperoleh penetapan.

c. bagi rencana penyertaan modal Negara yang bernilai dibawah Rp10 miliar, Menteri Keuangan menyampaikan rancangan Peraturan Pemerintah kepada Presiden guna memperoleh penetapan.

Dalam hal Peraturan Pemerintah mengenai penyertaan modal Negara dimaksud telah ditetapkan oleh Presiden, Menteri Keuangan (Direktur Jenderal Kekayaan Negara) melakukan serah terima Barang Milik Negara (BMN) yang telah menjadi penyertaan modal Negara kepada BUMN.

2. Pengurangan

a. Tata Cara Pengurangan Penyertaan Modal Negara Dalam Rangka Pengalihan Aset BUMN Untuk Penyertaan Modal Negara Guna Pendirian BUMN Menteri Negara BUMN menyampaikan usulan rencana

pengurangan PMN dalam rangka pengalihan aset BUMN untuk PMN guna pendirian BUMN baru kepada Menteri Keuangan yang dilengkapi dengan dokumen antara lain sebagai berikut:

1) rísalah RUPS/rísalah Rapat Pembahasan Bersama dari BUMN yang akan dilakukan pengurangan PMN;

2) Anggaran Dasar dari BUMN yang akan dilakukan pengurangan PMN 3) Rancangan Anggaran Dasar dari BUMN yang akan didirikan;

4) laporan keuangan BUMN yang akan dilakukan pengurangan PMN, yang telah diaudit dalam 3 (tiga) tahun terakhir

5) laporan kinerja BUMN yang akan dilakukan pengurangan PMN, yang telah disahkan dalam 3 (tiga) tahun terakhir; dan

6) hasil kajian dari aspek bisnis dan aspek terkait lainnya, yang mendasari pertimbangan usulan rencana pengurangan PMN.

Menteri Keuangan melakukan kajian atas usulan dimaksud, dimana Menteri Keuangan dapat membentuk Tim yang anggotanya terdiri dari unsurunsur Departemen Keuangan, Kementerian Negara BUMN, Departemen Teknis, dan BUMN bersangkutan. Tim tersebut mempunyai tugas antara lain sebagai berikut: 1. Melakukan penelitian data administratif dan fisik. 2. Melakukan kajian aspek finansial, aspek resiko fiskal, aspek yuridis, aspek administratif dan aspek bisnis serta aspek terkait lainnya. 3. Melakukan kajian kelayakan Penyertaan Modal Negara. 4. Menyusun dan menyampaikan rekomendasi hasil kajian kepada Menteri Keuangan. Menteri dapat menunjuk penilai independen guna melakukan penilaian atas rencana pengurangan PMN sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Menteri dapat meminta masukan dari Menteri Teknis terhadap rencana pengurangan PMN. Dalam hal rencana pengurangan PMN dinyatakan layak untuk diteruskan, Menteri Keuangan mengajukan permohonan persetujuan pengurangan PMN dalam rangka pendirian BUMN baru kepada DPR dengan tembusan kepada Presiden. Persetujuan dari DPR terhadap rencana pengurangan PMN pada BUMN dalam rangka pendirian BUMN baru dituangkan dalam Undang-Undang APBN.5

Berdasarkan Undang-Undang APBN, Menteri Keuangan menyampaikan usulan pengurangan PMN pada BUMN dan PMN untuk pendirian BUMN baru kepada Presiden dengan melampirkan rancangan Peraturan Pemerintah. Dalam hal Peraturan Pemerintah dimaksud telah ditetapkan oleh Presiden, pelaksanaan selanjutnya dilakukan oleh Menteri Keuangan dan Menteri Negara BUMN sesuai bidang tugas dan kewenangannya masing-masing. Menteri Negara BUMN menyampaikan dokumen pelaksanaan pengurangan PMN kepada Menteri, antara lain sebagai berikut:65

a. Akta RUPS/Rapat Pembahasan Bersama;

b. Perubahan Anggaran Dasar dari BUMN yang telah dilakukan pengurangan Penyertaan Modal Negara;

c. Anggaran Dasar dari BUMN yang telah didirikan;

d. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mengenai pengesahan Anggaran Dasar; dan

e. dokumen terkait lainnya.

Dalam hal inisiatif rencana pengurangan PMN dalam rangka pengalihan aset BUMN untuk PMN guna pendirian BUMN baru berasal dari Menteri

65

Keuangan, pelaksanaannya dilakukan berdasarkan tahapan sejak pengkajian oleh Menteri Keuangan. Sebagai bagian dari pelaksanaan pengkajian rencana pengurangan PMN yang inisiatifnya berasal dari Menteri Keuangan, Menteri Keuangan dapat meminta Menteri Negara BUMN untuk menyampaikan dokumen sebagaimana tersebut di atas.66

a. Pengurangan Penyertaan Modal Negara Dalam Rangka Dijadikan Kekayaan Negara Yang Tidak Dipisahkan

1) Menteri Negara BUMN atau Menteri Teknis menyampaikan usulan rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara dalam rangka dijadikan kekayaan Negara yang tidak dipisahkan kepada Menteri Keuangan.

2) Usulan dimaksud dilengkapi dengan dokumen antara lain sebagai berikut.

a) rísalah RUPS/rísalah Rapat Pembahasan Bersama dari BUMN yang akan dilakukan pengurangan Penyertaan Modal Negara; b) Anggaran Dasar dari BUMN yang akan dilakukan pengurangan

Penyertaan Modal Negara;

c) laporan keuangan BUMN yang akan dilakukan pengurangan Penyertaan Modal Negara, yang telah diaudit dalam 3 (tiga) tahun terakhir;

d) laporan kinerja BUMN yang akan dilakukan pengurangan Penyertaan Modal Negara, yang telah disahkan dalam 3 (tiga) tahun terakhir; dan

66

Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Ketiga, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003), 123.

e) hasil kajian dari aspek bisnis dan aspek terkait lainnya, yang mendasari pertimbangan usulan rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara.

3) Menteri melakukan kajian atas usulan tersebut.

4) Dalam rangka pelaksanaan pengkajian, Menteri Keuangan dapat membentuk Tim yang anggotanya terdiri dari unsurunsur Departemen Keuangan, Kementerian Negara BUMN, Departemen Teknis, dan BUMN bersangkutan.

5) Menteri dapat menunjuk penilai independen guna melakukan penilaian atas rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

6) Dalam hal rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara dinyatakan layak untuk diteruskan, Menteri Keuangan mengajukan permohonan persetujuan pengurangan Penyertaan Modal Negara untuk dijadikan sebagai kekayaan Negara yang tidak dipisahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dengan tembusan kepada Presiden.

7) Persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat terhadap rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara pada BUMN untuk dijadikan sebagai kekayaan Negara yang tidak dipisahkan dituangkan dalam Undang-Undang APBN.

8) Berdasarkan Undang-Undang APBN, Menteri menyampaikan usulan pengurangan Penyertaan Modal Negara pada BUMN kepada Presiden dengan melampirkan rancangan Peraturan Pemerintah.

9) Dalam hal Peraturan Pemerintah dimaksud telah ditetapkan oleh Presiden, pelaksanaan selanjutnya dilakukan oleh Menteri Keuangan, Menteri Negara BUMN, dan Menteri Teknis sesuai bidang tugas dan kewenangannya masingmasing.

10)Menteri Negara BUMN menyampaikan dokumen pelaksanaan pengurangan Penyertaan Modal Negara kepada Menteri, antara lain sebagai berikut.

a) Akta RUPS/Rapat Pembahasan Bersama;

b) Perubahan Anggaran Dasar dari BUMN yang telah dilakukan pengurangan Penyertaan Modal Negara;

c) Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mengenai pengesahan perubahan Anggaran Dasar sebagaimana tersebut pada butir 2); dan

d) dokumen terkait lainnya.

11)Menteri Teknis menyampaikan dokumen pelaksanaan penetapan status kekayaan Negara yang tidak dipisahkan kepada Menteri Keuangan. 12)Dalam hal inisiatif rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara

dalam rangka pengalihan aset BUMN untuk Penyertaan Modal Negara guna pendirian BUMN baru berasal dari Menteri Keuangan, pelaksanaannya dilakukan berdasarkan tahapan sejak butir d di atas. 13)Sebagai bagian dari pelaksanaan pengkajian rencana pengurangan

Penyertaan Modal Negara yang inisiatifnya berasal dari Menteri Keuangan, Menteri Keuangan dapat meminta Menteri Negara BUMN

untuk menyampaikan dokumen sebagaimana tersebut pada butir b di atas.

Dokumen terkait