• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Penelitian

1. Penambahan nya-

nya- Data

Saya pergi ke rumahnya nenek. (Sampel nomor 1) Bajunya Andi ketinggalan di kamar. (Sampel nomor 1) Uangnya Udin menghilang di dalam tas. ( Sampel nomor 1)  Analisis

Dalam bahasa Bugis terdapat enklitik na- yang mengandung makna sama dengan nya- dalam bahasa Indonesia. Enklitik na- dalam struktur bahasa Bugis merupakan unsur yang harus ada, misalnya:

Berdasarkan struktur dalam bahasa Bugis, penutur dwibahasawan BB : BI cenderung menambahkan enklitik nya- pada kata benda. Enklitik nya- pada kalimat-kalimat di atas seharusnya dihilangkna saja. Penambahan nya- dalam struktur kalimat BI seperti di atas mubassir karena untuk menyatakan milik dalam bahasa Indonesia. Kata benda akan diikuti dengan bentuk personal, atau nama orang.

Kalimat di atas dapat diperbaiki kalimat baku bahasa Indonesia, sebagai berikut :

Saya pergi ke rumah nenek. Baju Andi ketinggalan di kamar. Uang Udin menghilang di dalam tas. 2. Penghilangan prefiks

men- Data

Saya selalu tabrak tim lawan saya dalam bermain bola. (Sampel nomor 2) Saya akan jual sepeda motor kesayanganku asalkan kamu tidak memberitahukan ayah. (Sampel nomor 3)

Saya dan kakak tertawa lepas sambil tiru gaya turis itu. (Sampel nomor 4) Seharusnya kalimat di atas mendapat prefiks men- sehingga menjadi : Saya selalu menabrak tim lawan saya dalam bermain bola.

Saya akan menjual sepeda motor kesayanganku asalkan kamu tidak memberitahukan ayah.

 Analisis

Bentuk penghilangan prefiks men- merupakan pengaruh bahasa Bugis, ka-dan ku-, akibatnya siswa dwibahasawan menghilangkan prefiks men- sebagai petunjuk kata kerja, maka terjadinya interferensi bahasa Bugis terhadap penggunaan bahasa Indonesia.

Bentuk men muncul bila kata dasar berfonem awalan /d/ dan /t/, dan dasar ucapannya apikodetal karena karena bunyi-bunyi itu kita lafalkan, maka ujung lidah kita mencegah kaki gigi atas kita. Dwibahasawan yang menggunakan BB-BI seolah-olah tidak mengenal prefiks men- dianggap tidak perlu.

Penghilangan prefiks men-, pada kata kerja transitif pada kata tabrak, jual dan tiru merupakan pengaruh dari bahasa daerah. Penghilangan prefiks men-dalam tuturan BI disebabkan karena pemakaian bahasa tidak memiliki cita rasa yang baik sehingga tidak dapat merasakan kesalahan bahasa yang dibuatnya. Selain itu, dwibahasawan tidak mengenal prefiks men- dalam bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Bugis terdapat prefiks ka- dan ma- yang dapat disejajarkan dengan prefiks ma- dan ka- misalnya :

- Niga lao di bolana silonna. (BB) - Siapa pergi di rumah temannya. (BI)

Kalimat seperti di atas sering menyebabkan interferensi, oleh karena itu, kalimat diatas seharusnya mendapat prefiks ka- dalam bahasa Bugis..

- Iga kalao-lao di bolana silonna. (BB)

3. Penghilang prefiks

ber- Data

Saya latih terus supaya seperti Ronaldo. (Sampel nomor 2) Saya main bola sama paman saya. (Sampel nomor 4) Saya lari cepat agar tidak terlambat. (Sampel nomor 3) Bentuk yang benar adalah :

Saya berlatih terus supaya seperti Ronaldo. Saya bermain bola sama paman saya. Saya berlari cepat agar tidak terlambat.  Analisis

Kata kerja yang tidak berprefiks di atas merupakan pengaruh bahasa Bugis. Penghilangan prefiks ber- sebagai pengganti prefiks ma- yang dapat berfungsi sebagai pembentukan kata kerja (verbal). Justru itu, dwibahasa yang menggunakan bahasa Bugis - bahasa Indonesia tidak menggunakan prefiks ber-ketika menggunakan bahasa Indonesia.

Misalnya :

- Iyya malllati tuttu supaya mappada Ronaldo. - Iyya maccule golo silong a’mureu.

- Iyya lari magatti supaya de’ kute’la.

Dalam tata bahasa Bugis ma- yang sepadam dengan ber- dalam bahasa Indonesia dapat dihilangkan pemakaiannya dan tidak mengubah gramatikal kalimat, misalnya :

2. Saya latih terus supaya seperti Ronaldo. (BI) 3. Saya berlatih terus supaya seperti Ronaldo. (BI).

Apabila kata dasarnya berupa kata benda, maka penggunaan prefiks ber-tidak dapat dihilangkan (untuk menunjukkan kata kerja) bahkan penghilangan prefiks ber- dapat mengakibatkan kalimat gramatikal, misalnya :

- Saya berlatih terus supaya seperi Ronaldo. - Saya latih terus supaya seperti Ronaldo. - Saya bermain bola bersama paman saya. - Saya main bola bersama paman saya. - Saya berlari cepat agar tidak terlambat. - Saya lari cepat agar tidak terlambat.

Penghilangan prefiks ber- pada kalimat di atastidak dibenarkan karena tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku.

Setelah melihat perbandingan data tersebut, di atas terlihat bahwa penghilangan prefiks ber-, sehingga verbal dibumbuhi prefiks ber- ketika menggunakan bahasa Indonesia, terjadilah interferensi dibidang morfologi.

4. Penggunaan partikel

ki- Data

Kak bangunki lihat turis lewat di depan rumah. (Sampel nomor 4) Anti pulangki di rumah. (Sampel nomor 5)

Pada kata di atas seharusnya diganti dengan partikel lah- seperti pada kalimat berikut ini :

Kak bangunlah lihat turis lewat didepan rumah. Anti pulanglah di rumah.

Datanglah diulang tahunku.  Analisis

penggunaan kata ki- pada kata kerja (verba) sebagai pengganti kesungguhan dwibahasawan yang menggunakan BI-BB, sudah menjadi kebiasaan menggunakan partikel ki- sebagai pengganti lah- ketika mereka menggunakan BI.

Partikel ki- mengandung makna sebagai berikut: Sebagai partikel penegas lah- dalam BI

Contoh

- Bangunki (BB) = pergilah (BI) - Pulangki (BB) = pulanglah (BI) - Datangki (BB) = datanglah (BI)

Karena ada penggunaan partikel ki- dalam bahasa Bugis, maka penutur dwibahasawan BI-BB cenderung menggunakan partikel ki- dalam bahasa Indonesia sebagai pengganti partikel lah-.

5. Penggunaaan partikel

pa- Data

Sayapa beli sapi. (Sampel nomor 7)

Oleh karena itu pengguna partikel pa- pada kata di atas seharusnya diubah menjadi kalimat baku yakni :

Saya saja yang beli sapi. Kakak saja yang memancing.  Analisis

Partikel pa- dalam BB cenderung digunakan oleh dwibahasawan BB-BI pada waktu menggunakan bahasa Indonesia penggunaan partikel pa- merupakan pengganti kata.

Dalam penggunaan bahasa Indonesia tidak ada bentuk kata seperti pada kata yang bergaris miring di atas. Dengan demikian, siswa dwibahasawan BB-BI memunculkan gejala penyimpangan dalam tuturan bahasa Indonesia. bentuk-bentuk itu hanya ditemukan dalam bahasa Bugis, partikel pa- sering digunakan seperti kata berikut :

- Iyyappa (BB) = sayapa (BI)

- Memancingpa = memancing saja (BI)

Kebiasaan ini yang menyebabkan dwibahasawan BB-BI cenderung menggunakan partikel pa- berfungsi menegaskan arti kata yang berikutnya, mengatakan saja, bila dilihat penggunaanya dalam kalimat di atas dapat diartikan saja, hanya, atau jiga dalam bahasa Indonesia.

6. Penggunaan partikel

mi- Data

Janganmi lama di rumah nenek. (Sampel nomor 7) Adi ambilmi buku di tasku. ( sampel nomor 3)

Biarmi libur lama-lama. (Sampel nomor 4)

Pengguaan partikel mi- pada data saharusnya dihilangkan sehingga kalimat di atas menjadi kalimat baku seperti :

Jangan lama di rumah nenek. Adi ambill buku di tasku. Biar libur lama-lama.  Analisis

Partikel mi- merupakan partikel yang menyatakan waktu, selain itu juga sebagai untuk mempertegas makna yang diikutinya, partikel ini dapat disejajarkan dengan kata saja dan juga dalam bahasa Indonesia, misalnya :

1. Janganmi (BB) = jangan saja (BI) 2. Ambilmi (BB) = ambil saja (BI) 3. Biarmi (BB) = biar saja (BI)

Karena kebiasaan menggunakan partikel mi- dalam BB-BI menyebabkan dwibahasawan cenderung menggunakan partikel mi- ketika berbahasa Indonesia.

Kata janganmi, ambilmi, dan biarmi pada data di atas merupakan gejala interferensi BB terhadap penggunaan kalimat BI.

7. Penggunaan partikel

ni- Data

Saya banyak teman-teman baruni. (Sampel nomor 9)

Kenapa kamuni tertawain adekmu yang jatuh. (Sampel nomor 10) Saya punya topi baruni. (Sampel nomor 7)

Bentuk-bentuk ni- seperti terdapat pada data di atas tidak benar penggunaanya dalam BI baku, seharusnya :

Saya banyak teman-teman baru juga.

Kenapa kamu juga tertawain adik mu yang jatuh. Saya punya topi baru juga

 Analisis

Penggunaan partikel ni- pada data di atas, merupakan pengaruh BB mengingat kebiasaan siswa kebiasaan siswa menggunakan partikel ni- dalam bahasa Bugis, maka penutur dwibahasawan BB-BI cenderung melakukan penyimpangan bentuk morfologis ketika bercakap-cakap. Kehadiran partikel ni-pada data di atas merupakan interferensi bentuk ni- ni-pada kalimat tersebut juga berfungsi menegaskan makna pada kata yang diikutinya. Selain itu, partikel ni-dapat disejajarkan dengan kata pembatasan saja dan sungguh dalam BI, misalnya :

Baruni (BB) = baru saja (BI) Ikotommini (BB) = kamu sja (BI)

Bentuk ni- dalam BB dapat menegaskan makna pada kata yang diikutinya. Misalnya :

1. Iyya maega silong-silong barukkuni.

2. Magai naikotommini micawaiki anrinnu meddung ngede. 3. Iyya funna songko baruni.

Penggunaan ni- seharusnya dihilangkan saja, karena tanpa bentuk tersebut pendengar atau lawan bicara telah mengerti maksud si pembicara, maka sudah jelas partikel ni- dalam struktur BI adalah pengaruh BB.

8. Penggunaan Sufiks –an

 Data

kalau tidak dikerjakan, ditanggung sendiri akibatnya. (Sampel nomor 9).  Analisis

Dalam KBBI (2008:1409) terdapat kata sendirian yang berarti seorang diri atau sendiri dengan contoh penggunannya: semua orang sudah pulang, tetapi ia tinggal sendirian menjaga anak yang sakit itu. Bentuk kata sendiri dalam posisi kalimat di atas merupakan penyimpangan dalam bahasa Indonesia. Bentuk kata ini seharusnya sendirian. Dalam bahasa Bugis terdapat kata ale-ale yang sama pengertiannya dengan sendirian dalam bahasa Indonesia.

B. Pembahasan 1. Penambahan

nya-Dalam penambahan kata nya- terdapat 5 buah kata terinterferensi dari dua siswa.

Dokumen terkait