BAB IV ANALISIS KEWENANGAN LEMBAGA PENEGAK HUKUM
B. Analisa Sistem Kerja, Kewenangan, Kepastian Hukum Dan
2. Penanganan dan kewenangan Lembaga Penegak Hukum
Kejadian-kejadian teror yang selama ini terjadi di Indonesia merupakan sinyal bahwa Indonesia telah merupakan salah satu target operasi terorisme baik internasional maupun domestik. Meningkatnya kewaspadaan secara
81 Muladi, Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia, Makalah disampaikan pada seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis ke-40 Universitas Pancasila, Jakarta 07 Desember 2006, h. 11-12
fisik semata-mata tidaklah cukup untuk menghadapi oraganisasi terorisme internasional karena secara organisatoris kelompok-kelompok tersebut sudah memiliki perencanaan dan persiapan yang sangat diperhitungkan baik segi operasional, personil, maupun dukungan infrastuktur dan pendanaannya.
Bagi Indonesia, pencegahan dan pemeberantasan terorisme memerlukan adanya kecermatan pengamat atas kultur, kondisi masyarakat, dan stabilitas politik pemerintah. Ketiga faktor tersebut sangat mempengaruhi efektifitas undang-undang terkait. Konsep barat dan negara Islam tentang definisi terorisme sangat sulit diterima oleh Indonesia karena kondisi politik yang terjadi di negara-negara yang berbasis Islam berbeda secara mendasar baik sisi latar belakang dan perkembangannya dengan yang terjadi di Indonesia. Begitu pula masyarakat baik dari negara-negara tersebut maupun dari negara barat berbeda dengan kultur masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia mengakui eksistensi multi agama dan multi etnik dan hidup berdampingan secara damai.
Strategi penanggulanagan terorisme yang dilakukan oleh pemerintah diimplementasikan melalu upaya preventif, preemtif dan represif, yang dijelaskan sebagai berikut :
a. Upaya Preventif
Mengingat keterbatasan dari upaya penal82 maka perlu adanya penanggulangan kejahatan yang tidak hanya bersifat penal, akan tetapi juga dapat mengunakan sarana-sarana atau kebijakan yang sifatnya non-penal.
Upaya non-penal ini merupakan suatu pencegahan kejahatan, dimana dilakukan sebelum kejahatan itu terjadi sehingga upaya yang sifatnya preventif atau pencegahan. Ini seharusnya harus lebih
82 Penal (Penal Policy) adalah yaitu kebijakan dengan memberdayakan sistem pradilan pidana atau Criminal Justice System (penegakan hukum pidana)
diutamakan daripada upaya yang sifatnya represif. Ada pendapat yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Demikian pula WA. Bogner mengatakan, dilihat dari efisiensi dan efektifitas upaya pencegahan lebih baik daripada upaya yang bersifat represif. Dalam dunia kedokteran kriminal telah disepakati suatu pemikiran bahwa mencegah kejahatan adalah lebih baik daripada mencoba mendidik penjahat menjadi baik Kembali, lebih baik disini juga berarti lebih mudah, lebih murah dan lebih mencapai tujuannya.83
Pengunaan sarana non-penal sebagai upaya untuk menanggulangi kejahatan dapat dilakukan misalnya dengan penyantunan dan Pendidikan sosial dalam rangka mengembangkan tanggung jawab sosial warga masyarakat penggarapan kesehatan jiwa melalui pendidikan formal, agama dan sebagainya; Peningkatan usaha-usaha kesejahteraan anak dan remaja; Kegiatan patrol dan usaha-usaha pengawasan lainya dan sebagainya.
Tujuan dari usaha-usaha non-penal adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu, namun secara tidak langsung mempunyai pengaruh preventif terhadap kejahatan. Secara umum pencegahan kejahatan dapat dilakukan dengan beberapa metode. Metode pertama adalah cara moralistic yang dilaksanakan dengan penyebarluasan ajaran-ajaran agama dan moral, perundang-undangan yang baik dan sarana-sarana lain yang dapat mengekang nafsu untuk berbuat kejahatan. Sedangkan cara kedua adalah cara abiliosinistik yang berusaha untuk memberantas sebab-musababnya. Umpamanya kita ketahui bahwa faktor tekanan ekonomi (kemelaratan) merupakan salah satu faktor penyebab, maka usaha untuk mencapai kesejahteraan untuk mengurangi kejahatan yang disebabkan oleh faktor ekonomi merupakan cara
83 W.A Bonger, Pengantar Tentang Kriminologi Pembangunan, (Jakarta : Pembangunan, 1995). h. 167
abiliosinistik. Adapun pencegahan kejahatan melalui pendekatan kemasyarakatan dalam mengurangi kejahatan dengan jalan meningkatkan control social informal.84
Langkah preventif yang diambil oleh pemerintah dalam rangka penanggulangan terhadap tindak pidana terorisme, yaitu :
1) Peningkatan pengamanan dan pengawasan terhadap senjata api;
2) Peningkatan pengamanan terhadap sistem transportasi 3) Peningkatan pengamanan sarana public;
4) Peningkatan pengamanan terhadap sistem komunikasi 5) Peningkatan pengamanan terhadap VIP;
6) Peningkatan pengamanan terhadap fasilitas diplomatic dan kepentingan asing;
7) Peningkatan kesiapsiagaan menghadapi serangan teroris; 8) Peningkatan pengamanan terhadap fasilitas internasional; 9) Pengawasan terhadap bahan peledak dan bahan-bahan
kimia yang dapat dirakit menjadi bom;
10) Pengetatan pengawasan perbatasan dan pintu-pintu keluar-masuk;
11) Pengetatan pemberian dokumen perjalanan (paspor, visa dan sebagainya);
12) Harmonisasi kebijakan visa dengan negara tetangga; 13) Penerbitan pengeluaran kartu tanda penduduk dan
administrasi kependudukan;
14) Pengawasan kegiatan masyarakat yang mengarah pada asksi teror;
15) Intensifikasi kegiatan pengamanan swakarsa;
16) Kampanye anti-terorisme melalui media masa yang meliputi:
a) Peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap aksi teroris;
b) Sosialisasi bahaya terorisme dan kerugian akibat Tindakan teror;
c) Penggunaan public figures terkenal untuk mengutuk aksi teroris;
d) Pemanfaatan mantan pelaku teroris yang telah sadar dalam kampanye anti-terorisme;
e) Penggunaan wanted poster dan dipublikasikan; f) Pemanfaatan mantan korban aksi terorisme untuk
menggugah empati dan solidaritas masyarakat agar bangkit melawan terorisme;
17) Penyelenggaran pelatihan pers yang meliputi berita tentang aksi terorisme;
18) Pelarangan penyiaran langsung wawancara dengan teroris. b. Upaya Preemtif
Upaya preemtif dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut: 1) Pencerahan ajaran agama oleh tokoh-tokoh kharismatik dan kredibilitas tinggi di bidang keagamaan untuk mengeliminir eksrimisme dan radikalisme pemahaman ajaran agama oleh kelompok-kelompok fundamentalis garis keras.
2) Penyesuaian kebijakan politik dan pemerintahan sebagai berikut :
a) Merespon tuntutan politik teroris dengan kebijakan politik yang dapat mengakomodir aspirasi kelompok radikal.
b) Pelibatan kelompok-kelompok radikal yang potensial mengarah kepada tindakan teror dalam penyelesaian konflik Tindakan terror dalam
penyelesaian konflik secara damai melalui dialog, negosiasi dan sebagainya.
c) Penawaran konsesi politik bagi kelompok-kelompok yang bergerak di bawah tanah menjadi Gerakan formal secara konstitusional.
3) Pelibatan partai politik dan organisasi kemasyarakat atau lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai kesamaan atau kemiripan visi dan ideologi dalam dialog dengan kelompok-kelompok radikal.
4) Penetapan secara tegas organisasi teroris dan organisasi terkait sebagai organisasi terlarang dan membubarkannya. 5) Program di bidang social-ekonomi, antara lain:
a) Pengentasan kemiskinan.
b) Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. c) Penciptaan lapangan kerja.
d) Pengembangan ketenagakerjaan.
e) Pengendalian krurikulum Pendidikan terutama di bidang keagamaan untuk mencegah disusupkannya ideologi-ideologi ekstrim-radikal dalam proses Pendidikan.
6) Pemberlakuan hukum anti terhadap pelaku terorisme di Indonesia
c. Upaya Represif
Upaya penanggulangan kejahatan pada hakekatnya merupakan suatu usaha untuk pengamanan masyarakat (social defence) agar masyarakat dapat terhindar dari kejahatan atau setidak-tidaknya mengendalikan kejahatan yang terjadi agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat.
Terhadap masalah kemanusiaan dan masalah kemasyarakatan ini telah banyak usaha-usaha yang dilakukan untuk menanggulanginya. Salah satu usaha penanggulangan kejahatan
terorisme yang dilakukan adalah dengan menggunakan sarana penal yaitu menggunakan hukum pidana dengan sanksinya yang berupa pidana.
Penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana merupakan cara yang paling tua, setua peradaban manusia itu sendiri.85 Akan tetapi ini tidak berarti bahwa penggunaan pidana sebagai salah satu cara untuk menanggulangi kejahatan.
Langkah represif yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka melakukan penanggulangan terhadap tindak pidana terorisme adalah sebagai berikut :
1) Pembentukan badan penanggulangan tindak pidana terorisme, serta pembentukan satuan khusus sebagai Langkah pemberantasan tindak pidana terorisme.
2) Penyerbuan terhadap tempat persembunyian pelaku terorisme.
3) Penjatuhan sanksi pidana yang tegas terhadap pelaki tindak pidana terorisme yang telah terbukti bersalah berdasarkan bukti-bukti yang ada
Menyadari pentingnya peran personil dalam mengimbangi kemajuan teknologi dan modus operandi berbagai jenis kejahatan termasuk terorisme, Polri berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dengan cara memperbaiki kualitas pendidikan di lingkungan Polri, termasuk pendidikan reserse dan intelijen di mana fungsi penyelidikan dan analisis diajarkan. Polri juga mengadakan kerjasama pendidikan dan latihan dengan luar negeri seperti, AS, Inggris, Australia, Jepang, Jerman dan lain-lain serta meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa asing dalam rangka mempermudah berkomunikasi dengan pihak asing guna
85 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Bandung : Alumni, 1992), h. 149
pertukaran informasi untuk meningkatkan kemampuan deketeksi dini.
Dalam melakukan penegakan hukum, faktor manusia (aparat) penegak hukum menempati posisi penting. Berhasil tidaknya proses penyelesaian perkara sangat bergantung pada manusianya, Aparat penegak hukum yang melaksanakan tugas dengan dibarengi dedikasi yang tinggi, rasa pengabdian yang tinggi, dan adanya kemampuan profesional yang memadai akan lebih mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas. Semakin professional, semakin mempunyai wawasan yang luas dan mengantisipasi rasa keadilan yang ada dalam masyarakat dan lebih bisa mengatasi permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan tugas. Pada akhirnya pelaksanaan tugas akan membawa hasil yang optimal.
Sebaliknya, bila kurangnya kemampuan teknis dibidang penegakan hukum, justru akan menghambat pelaksanaan penegakan hukum. Dengan kurangnya kemampuan dari aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya, akan membawa dampak negatif. Semakin kurangnya kemampuan, semakin kurang tingkatkeberhasilan dalam pelaksanaan tugas, seperti yang disampaikan pada hadist berikut :
اَذِإ َلاَق ِ َّاللَّ َلوُس َر اَي اَهُتَعاَضِإ َفْيَك َلاَق َةَعاَّسلا ْرِظَتْناَف ُةَناَمَ ْلأا ْتَعِ يُض اَذِإ
َةَعاَّسلا ْرِظَتْناَف ِهِلْهَأ ِرْيَغ ىَلِإ ُرْمَ ْلأا َدِنْسُأ
Artinya : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan? 'Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (Bukhari-6015)
Prof. Dr. Baharudin Lopa (alm.) berpendapat bahwa jelas akan menjadi penghambat apabila aparatur penegak hukum kurang mengawasi ketentuan-ketentuan yang mengatur batas tugas dan wewenang, belum lagi jika kurang
mampu menafsirkan dan menerapka peraturan hukum menjadi tugas pokok. Apalagi kalau mentalnya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun peraturan-peraturan hukum sudah memadai, aparat dalam pelaksanaanya masih kurang memahami peraturan hukum. Dengan demikian, penegakan hukum akan mengalami kegagalan.86
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merupakan inisiatif yang dimunculkan oleh menkopolhukam RI Djoko Suyanto (kala itu). Badan ini resmi dibentuk setelah dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010. Badan ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari DKPT yang sebelumnya ada di kemenkopolhukam RI. Meskipun badan ini mempunyai deputi dan pelatihan, BNPT tidak mempunyai kewenangan menangani langsung, karena hal ini menjadi kewenangan Kepolisian RI. Lembaga ini juga menjadi jawaban terhadap masalah pemberantasan terorisme yang selama ini seolah-olah berada hanya ditangan Kepolisian. Peran serta TNI yang telah sekian lama diabaikan dalam penanggulangan terorisme dapan diakomodasi melalui BNPT. Bahkan BNPT mempunyai ruang lingkup yang lebih luas lagi dalam masalah pecegahan terorisme dengan cara mengikutsertakan Kementrian Pendidikan Nasional dan Kementrian Agama serta lembaga-lembaga masyarakat.
Walau sudah ada Densus 88, semua unit khusus yang berkaitan dengan penanggulangan terorisme tidak dihapus. Asumsi dasar yang muncul adalah lebih banyak adalah lebih baik jika dapat saling bersinergi dalam mengatasi terorisme. Akan tetapi kenyataan yang muncul dilapangan berbeda. Ego sektoral lebih sering terjadi dilapangan karna minimnya koordinasi pada level atas. Banyak lembaga atau institusi yang dibentuk pemerintah, apakah itu yang lama maupun yang baru sesungguhnya tidak menjadi masalah asalkan masing-masing mempunyai fungsi dan peranan yang jelas dan spesifik. Sayangnya dalam pelaksanaan tugasnya, lembaga-lembaga ini
86 Alfitra, Hapusnya Hak Menuntut dan Menjalankan Pidana, (Jakarta : Raih Asa Sukses, 2012), h. 26-27
kerap berada dalam posisi yang tumpah tindih. Hal ini bukan saja karena ketidakjelasan peran tapi juga berkaitan dengan ego sektoral dan tumpah tindihnya perangkat aturan hukum yang melingkupinnya.
Konteks aturan hukum disini yang ingin lebih digali sebenarnya mengenai otoritas unit-unit dalam menjalankan operasinya. Didalam kepolisian sendiri terdapat empat unit yang berkaitan dalam pemberantasan terorisme, belum lagi adanya kementrian-kementrian yang berkaitan dengan masalah terorisme. Didalam Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Presiden tidak terlihat bagaimana mekanisme kerja sama antar lembaga ini diatur.
Begitu seriusnya masalah kejahatan terorisme dibuktikan dengan adanya pihak yang mengusulkan agar dibentuk badan baru yang dapat menjalin koordinasi dan tindakan intelijen dibawah satu atap. Semua usulan lebih bersifat perubahan bentuk formal yuridis.87Permasalahan tentang siapa yang berwenangan mengatasi masalah terorisme juga muncul setelah masih maraknya aksi pemboman yang terakhir di J.W. Marriot dan Ritz-Carlton pada bulan juli 2009. Presiden SBY (kala itu) kemudian memunculkan kembali wacana tentang keterlibatan TNI dalam penanggulangan terorisme dalam mebantu Densus 88. Perubahan modus operandi kelompok teroris dengan sasaran penyerangan terhadap presiden dan simbol-simbol negara yang lain juga menjadi pertimbangan khusus presiden terhadap keterlibatan TNI.
Ancaman terorisme adalah ancaman terhadap negara dan keamanan negara yang membutuhkan partisipasi lebih besar dari aparat, termasuk TNI. Yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat sipil dengan seruan presiden SBY ini adalah absennya payung hukum dalam pemberantasan terorisme serta pelibatan TNI akan memunculkan kekisruhan dalam pelaksanaannya.
87Abdul Wahid, Sunardi dan Muhammad Imam Sidik, Kejahatan Terorisme Perspektif
Tanpa kerangka hukum, koordinasi dan kewenangan hukum akan muncul persaingan antara TNI-Polri.
Argument dalam pelibatan TNI juga merupakan amanah dari Undang-Undang tepatnya Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Operasi Militer selain Perang. Menurut panglima TNI Djoko santoso (kala itu) pengaktifan Desk Anti-Teror ini tidak akan bertentangan dengan aktivitas Densus 88 karena sifatnya lebih kepada pendeteksian, pencegahan bersifat persuasif selain penindakan. Fungsi pencegahan dan penindakan ini sebetulnya mengembalikan fungsi TNI sebagai kekuatan sosial.
Agus Widjoyo (akademisi CSIS kala itu) diperlukan peraturan pemerintah yang lebih rinci dalam menjelaskan kewenagan TNI dalam mengatasi terorisme. Sehingga tumpah tindih dengan polri serta kekhawatiran masyarakat diredam. Dadi Susanto, mantan Dirjen Strathan Kemhan RI juga menyatakan untuk mensinkronkan tugas TNI-Polri perlu Surat Kesepakatan Bersama (SKB) antara TNI dan Polri sehingga koordinasi operasional dapat berjalan selaras.88
Jika ingin mensingkronkan kewenangan agar dapat selaras dalam mengatasi terorisme ini, dibutuhkan adanya kepastian hukum, peran kepastian hukum disini sebagai perangkat hukum suatu negara yang menjamin hak dan kewajiban warga Negara.89Mengutip pendapat Sudikno Mertokusumo, kepastian hukum merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum. Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu.90 Masyarakat berharap adanya kepastian hukum, karna dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib dan hukum
88 Agus Widjoyo dan Dadi Susanto dapat dilihat di idsps.orgloption,com_docman/task,
doc_download/gid.181/Itemid.15/
89 Fernando M. Manulang, Menggapai Hukum Berkeadilan, (Jakarta : Buku Kompas, 2007), h. 92
akan lebih mudah dicerna masyarakat, karna jelas substansi yang terkandung didalam hukum. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum untuk tujuan ketertiban masyarakat.