• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan dan Pengendalian a.1. Kasus Pertama

Dalam dokumen Profil Kabupaten Tangerang (Halaman 189-200)

PENANGANAN DAN PENGENDALIAN COVID-19

A. Penanganan dan Pengendalian a.1. Kasus Pertama

Pandemi Covid-19 yang melanda nusantara, tak pelak menimpa warga Kabupaten Tangerang. Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Tangerang, kasus Corona pertama muncul

di Kabupaten Tangerang menimpa warga Bencongan, Keca-matan Kelapa Dua. Berdasarkan penelusuran Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Tangerang, pria tersebut memiliki riwayat berpergian ke Malaysia untuk berlibur.

Tiga hari sebelum Kejadian Luar Biasa (KLB) Covid-19 ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Banten, atau tepatnya 11 Marett 2020, publik di Tangerang, terutama yang tinggal di sekitar kawasan Lippo Karawaci, digegerkan beredarnya pesan berantai melalui aplikasi WhatsApp. Kendati demikian Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang belum mendapat kepastian dari Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI soal pasien dimaksud.

Pasalnya, jika ada yang positif terpapar Covid-19, Balitbangkes (Kementerian Kesehatan RI) akan memberikan informasi ke Dinkes Provinsi Banten dan Dinkes Kabupaten Tangerang.

Kendati belum menyatakan ada pasien positif, Dinkes Kabu-paten Tangerang telah menetapkan lima pasien masuk kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Kelima pasien itu berada di sejumlah rumah sakit. Perlu diketahui, PDP adalah mereka yang memiliki gejala panas badan dan gangguan saluran pernapasan.

Gangguan saluran pernapasan itu bisa ringan atau berat, serta pernah berkunjung ke atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan Covid-19. Tidak hanya itu, PDP ini juga memiliki indikasi atau diketahui pernah berkontak dengan langsung dengan kasus yang terkonfirmasi atau probabel Covid-19.

Selain lima pasien dalam pengawasan itu, Dinkes Kabupaten Tangerang juga menetapkan 25 orang lainnya masuk kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP). Mereka memiliki riwayat interaksi dengan negara terjangkit yakni Malaysia. ODP adalah mereka yang memiliki gejala panas badan atau gangguan salu-ran pernapasan ringan, dan pernah mengunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus

tersebut. Selain itu, bisa juga orang sehat yang pernah kontak erat dengan kasus terkonfirmasi Covid-19.

a.2. Penerapan PSBB

Pada Sabtu, 14 Maret 2020, Gubernur Banten Wahidin Halim menetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa) atas wabah virus Corona di Provinsi Banten. Penetapan status KLB ini tertu-ang dalam Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 443/

Kep.114-Huk/2020 tentang Penetapan Kejadian Luar Biasa Corona (Covid-19) di Wilayah Provinsi Banten.

Status KLB di Provinsi Banten ini meliputi Kabupaten Tan-gerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Penetapan KLB sebagai salah satu upaya Pemprov Banten dalam mem-batasi kecepatan sebaran/paparan Covid-19 terhadap warga masyarakat dan wilayah di Provinsi Banten.

Bersamaan dengan penetapan KLB itu, Gubernur juga mengin-struksikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi agar meliburkan Siswa SMA/K Negeri dan Swasta maupun SKH untuk melakukan kegiatan pembelajaran di rumah selama dua (2) pekan sejak 16 sampai dengan 30 Maret 2020, dan akan dibuka kelas maya (online), terkecuali bagi siswa klas 12 tetap melakukan kegiatannya sesuai jadwal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang telah ditetapkan.

Selain itu Gubernur juga tidak melaksanakan upacara dan apel bersama, membatasi berbagai kegiatan-kegiatan yang melibatkan kehadiran orang yang banyak, membatalkan kunjungan kerja dan tidak menerima kunjungan kerja dari luar Banten hingga batas waktu KLB ini dinyatakan berakhir.

Gubernur juga menghimbau masyarakat agar menghindari tempat-tempat pertemuan dan keramaian umum. Diusahakan sedapat mungkin tidak melakukan perjalanan ke daerah yang

terkena wabah virus Corona. Dan masyarakat tetap waspada dan tidak panik. Selalu menjaga kesehatan, mencuci tangan dengan sabun, konsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, dan berolah raga.

Pasca penetapan KLB ini, Gubernur Banten menggelar rapat bersama dengan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah dan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar. Dalam pertemuan itu, para kepala daerah kepala daerah tersebut juga sepakat untuk menu-tup sementara semua aktivitas pendidikan. Baik untuk semua tingkatan pendidikan sekolah negeri maupun swasta.

Tak lama berselang setelah penetapan KLB, Gubernur Banten memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan penerbitkan Peraturan Gubernur Banten Nomor 16 Tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan tertanggal 15 April 2020, disusul dengan Keputusan Gubernur Banten Nomor 443/Kep. 140-Huk/2020

tentang Penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) tertanggal 15 April 2020.

Pemberlakuan PSBB ini menyusul telah dikeluarkannya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/249/2020 tentang Penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, dan Keputusan Gubernur Banten Nomor 443/Kep.114-Huk/2020 tentang Penetapan Kejadian Luar Biasa Corona (Covid-19) di Wilayah Provinsi Banten.

Pada 23 Agustus, Gubernur Banaten mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 383 Tahun 2020 Tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19. Dalam peraturan ini, pelanggaran terhadap peraturan ini dapat dikenakan sanksi berupa teguran lisan atau teguran tertulis, kerja sosial dan denda administratif bagi setiap orang yang tidak menggunakan masker dan/atau menjaga jarak di tempat/fasilitas umum.

Tanggal 21 September 2020, Gubernur Banten menetapkan perpanjangan Tahap II (kedua) PSBB di Provinsi Banten melalui Keputusan Gubernur Banten Nomor 443/Kep.241 - Huk/2020, tangga 21 Oktober 2020. Perpanjangan tahap II ini dimak-sudkan dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Provinsi Banten.

Dalam Perpanjangan PSBB se-Provinsi Banten pertama ini, Gubernur menetapkan perpanjangan selama satu bulan mulai 21 September 2020 hingga 20 Oktober 2020 mendatang. Hal ini berbeda dengan perpanjangan PSBB sebelumnya di wilayah Tangerang Raya yang berlaku selama dua (2) pekan atau 14 hari.

Usai perpanjangan PSBB selama 1 bulan yang berakhir 20 Oktober 2020, Gubernur Banten Wahidin Halim memutuskan untuk kembali memperpanjang penerapan PSBB di Provinsi Banten berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 443/Kep.241-Huk/2020. PSBB jilid ke II diperpanjang selama satu bulan kedepan sejak tanggal 21 Oktober hingga 19 Novem-ber 2020.

Apa yang dilakukan oleh Provinsi Banten, sudah barang tentu diikuti oleh pemerintah Kabupaten/kota di bawahnya, termasuk di Kabupaten Tangerang.

Menyusul pernyataan Gubernur Banten yang menyatakan Banten dalam kondisi KLB Covid-19, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar juga menetapkan Kabupaten Tangerang sebagai daerah tanggap darurat bencana wabah penyakit Covid-19. Keputusan Bupati Tangerang itu tertuang dalam SK Bupati bernomor 440/ Kep 273/ huk 2020 tertanggal 23 Maret 2020.

Berkaitan dengan tanggap darurat bencana wabah penya-kit akibat virus Corona, Bupati dalam SK-nya tertanggal 23 Maret 2020 itu memutuskan empat hal yakni; 1.Status tang-gap darurat bencana wabah penyakit Corona Desease 2019 (Covid-19) Kabupaten Tangerang terhitung mulai 23 Maret hingga 23 Mei 2020; 2. Perpanjangan status tanggap darurat bencana wabah penyakit Corona Desease 2019 (Covid-19); 3 Biaya yang diperlukan untuk tanggap darurat bencana wabah penyakit Corona Desease 2019 (Covid-19) dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dan atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kabupaten Tangerang pun dalam kondisi tanggap darurat telah menyiapkan ruang khusus pemantau Gugus Tugas COVID-19.

Kabupaten Tangerang sendiri telah ditunjuk Provinsi Banten

menyiapkan satu rumah sakit rujukan penanganan Corona, yakni RSUD Kabupaten Tangerang. Namun demikian, di Kabupaten Tangerang ada 26 rumah sakit baik negeri dan swasta yang siap menangani pasien terkait Covid-19 diantaranya RSUD Balaraja dan RS Siloam Kelapa Dua.

Terkait dengan penerapan PSBB di wilayah Kabupaten Tan-gerang, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan oleh Pemerintah Provinsi Banten, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar pun mendandatangani Peraturan Bupati (Perbup) Tangerang Nomor 20 Tahun 2020, tentang Pedoman Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) dalam Pencepatan Penanganan Corona Virus Disesase 2019 (Covid-19) di wilayah Kabupaten Tangerang.

Peraturan Bupati tersebut sebagai pedoman pelaksanaan PSBB dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 di wilayah Kabupaten Tangerang. Peraturan Bupati itu ditandatangani Jumat 17 April 2020. Jangka waktu pelaksanaan PSBB ditetap-kan selama 14 hari dan dapat diperpanjang selama 14 hari.

Ada 47 pasal yang tercatum dalam Perbup Nomor 20 Tahun 2020 itu. Perbup PSBB tersebut meliputi pembatasan kegiatan tertentu dan pergerakan orang dan atau barang untuk mencegah penyebaran Covid-19, meningkatkan antisipasi perkembangan eskalasi penyebaran Covid-19, memperkuat upaya penanganan kesehatan akibat Covid-19 dan menangani dampak sosial dan ekonomi penyebaran Covid-19.

Adapaun pembatasan aktivitas meliputi pembatasan proses belajar mengajar di sekolah atau instansi pendidikan lainnya, pembatasan proses bekerja di tempat kerja/kantor, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegia-tan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiakegia-tan sosial budaya dan pembatasan penggunaan moda transportasi untuk pergerakan orang dan barang.

Ruang lingkup Perbup dalam Pelaksanaan PSBB meliputi hak dan kewajiban, pemenuhan kebutuhan dasar penduduk selama PSBB, sumber daya penanganan Covid-19, satuan tugas siaga Covid-19 tingkat RT/RW, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan;

sanksi dan pembiayaan.

Pelaksanaan PSBB Kabupaten Tangerang diberlakukan diseluruh wilayah Kabupaten Tangerang, dan lebih diperketat di beberapa kecamatan, dalam bentuk pembatasan aktivitas luar rumah yang dilakukan oleh yang berdomisili atau kegiatan di wilayah daerah.

Selama PSBB setiap warga harus menjaga jarak antar ses-ama (physical distancing) sejauh 1-2 meter. Masyarakat juga diminta untuk membatasi kegiatan di luar rumah jika tidak ada keperluan yang mendesak, serta tidak menjalankan kegiatan keagamaan atau beribadah di rumah ibadah. Yang tidak kalah penting adalah berprilaku hidup bersih.

Setelah 14 hari perberlakukan PSBB di Kabupaten Tangerang, Bupati Tangerang kembali keluarkan Peraturan Bupati Tangerang Nomor 24 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan

Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Tangerang.

Peraturan tersebut dibuat sebagai payung hukum kebijakan perpanjangan PSBB di Kabupaten Tangerang mulai 2 Mei–

17 Mei 2020. Serta dibuat tertuang dalam Keputusan Bupati Tangerang Nomor 360/Kep.426-Huk/2020 tentang Penera-pan Jangka Waktu PerPenera-panjangan Pelaksanaan PSBB Dalam Percepatan Penanganan Covid-19.

Selanjutnya Bupati mengeluarkan Perbub Nomor 31 Tahun 2O2O tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Percepatan Penanganan COVID-19 di Wilayah Kabu-paten Tangerang. Perbub ini berisi perpanjangan penerapan PSPB di wilayah Kabupaten Tangerang.

Namun untuk melaksanakan Peraturan Gubernur Banten Nomor 24 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Penanganan Covid menjelang Penerapan Tatanan Normal Baru di Kabupaten Tangerang. Bupati Tangerang menge-luarkan Perbub No 34 tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Tangerang Nomor 31 Tahun 2O2O tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Percepatan Penanganan COVID-19 di Wilayah Kabupaten Tangerang.

Perbup ini diteken terkait perpanjangan PSBB tahap tiga.

Dalam Perbub No 34 tahun 2020 ini Pemerintah Kabupaten Tangerang memberlakukan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) bagi warga yang tidak memiliki KTP Jabodetabek dan Banten.

Aturan ini ditujukan bagi pelaku usaha atau warga yang ber-domisili diluar Jabodetabek dan Banten. Apabila tidak bisa menunjukkan SIKM, maka tidak diperkenankan memasuki wilayah Kabupaten Tangerang.

SIKM tidak diperlukan untuk kategori yang memiliki KTP

Jabodetabek dan Banten, orang asing yang memiliki izin ting-gal terbatas di Jabodetabek, pimpinan lembaga tinggi negara, korps perwakilan negara asing dan atau organisasi internasional, anggota TNI dan kepolisian, dan petugas jalan tol.

Pemberlakuan SIKM itu merupakan aturan penerapan PSBB yang kembali diperpanjang di Kabupaten Tangerang hingga 14 Juni 2020.

Setelah menerbitkan Perbub No 34 tahun 2020, Bupati Kembali menerbitkan Peraturan Bupati Tangerang Nomor 36 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Percepatan Penanganan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) Wilayah Kabupaten Tangerang.

Kemudian Bupati kembali meneken Peraturan Bupati Tan-gerang Nomor 47 Tahun 2020 tentang Pembahan Kedua atas Peraturan Bupati Tangerang Nomor 36 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Percepatan Penanganan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) Wilayah Kabupaten Tangerang. PSBB di wilayah Tangerang Raya kem-bali diperpanjang selama 14 hari, mulai Minggu (20/9) sampai tanggal 5 Oktober.

Bupati Tangerang A Zaki Iskandar mengatakan, penerapan PSBB memang akan diperpanjang terus oleh Gubernur Banten.

Namun dalam PSBB kali ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang merevisi sejumlah poin dalam surat edaran tentang pencegahan dan pengendalian Covid-19.

Ada beberapa aturan yang diubah pada pelaksanaan aktivitas pembatasan kegiatan masyarakat di tempat atau fasilitas umum dan pasar.

Berdasarkan Surat Edaran Nomor 443.2/2790-KSD/2020,

ter-dapat empat hal yang harus disesuaikan dalam kondisi saat ini, yakni; 1. Agar senantiasa memantau dan memperbarui perkem-bangan informasi kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pasar modern/tradisional tentang protokol kesehatan Covid-19 yang ketat ; 2. Melaksanakan monitoring pembatasan waktu operasional bagi kegiatan keagamaan, pusat perbelanjaan, toko, swalayan, pasar modern/tradisional, rumah makan, kafe, dan restoran siap saji, sampai dengan pukul 20.00 WIB; 3. Melanjutkan program Gebrak Masker secara menyeluruh, simultan dan berkelanjutan di semua level sampai dengan bulan Desember 2020, dan; 4.

Agar melaksanakan koordinasi dan aksi penanganan, pence-gahan Covid-19 lintas sektoral (Koramil, Polsek, Puskesmas, Kepala Desa/Lurah, PKK/Kader PKK, Rukun Warga, Rukun Tetangga, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat).

Dalam SE yang baru, Pemkab Tangerang lebih menegaskan penerapan PSBB dengan pemberian sanksi kepada para pelang-gar aturan. Diantaranya sanksi berupa teguran sampai sanksi penutupan tempat usaha. Untuk poin nomor 3, dalam program Gebrak Masker atau Operasi Yustisi, pelanggar aturan akan

disanksi sosial, seperti membersihkan jalan, hingga push-up.

Sesuai dengan keputusan Gubernur Provinsi Banten Nomor 443/Kep.241-Huk/2020 yang menetapkan PSBB di Provinsi Banten, termasuk Tangerang Raya, kembali diperpanjang selama satu bulan. Penerapan PSBB selama 1 bulan ini diberlakukan setelah masa perpanjangan PSBB ke-12 kali diberlakukan di wilayah Tangerang Raya. Perpanjangan PSBB selama 1 bulan ini berakhir 20 Oktober 2020.

Setelah keluarnya SK tersebut, maka tahap pembatasan sosial resmi diperpanjang hingga bulan depan, tepatnya sampai tanggal 19 November 2020. Tidak ada yang berbeda dengan aturan teknis terkait PSBB di Kabupaten Tangerang sebelum-nya dengan kali ini. Masyarakat diminta tetap harus disiplin terhadap protokol kesehatan dan tidak mengabaikan anjuran 4M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan menghindari kerumunan).

Dalam dokumen Profil Kabupaten Tangerang (Halaman 189-200)