BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.4 Sistem Persampahan
2.4.2 Penanganan dan Pengolahan Sumber Sampah
- Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau
- Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
2.4.2 Penanganan dan Pengolahan Sumber Sampah
Penanganan di sumber sampah memerlukan pewadahan, dimana wadah sampah digunakan sebagai tempat penampungan sampah dari sumber-sumber sampah. Kapasitas dan jenis wadah yang digunakan tergantung dari karakteristik sampah yang ditampung, frekuensi pengumpulan dan ketersediaan lahan untuk menempatkan wadah. Sistem pewadahan sampah terdiri dari :
1. Pewadahan Individual dan atau; 2. Pewadahan Komunal.
Sehubungan dengan pewadahan sampah tersebut, Undang-undang RI No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah juga mengatur agar pengelola kawasan permukiman wajib menyediakan fasilitas pemilahan sampah (pasal 13) dan setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan (pasal 12).
Sementara itu, Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya No. 273 Tahun 1991 tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pengumpulan Sampah secara Terpisah antara Sampah Basah dan Sampah Kering dalam Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya telah menjelaskan sampai pada penerapan di lapangan bahwa semua sampah rumah tangga, usaha, pertokoan, dan lain-lain harus dipisahkan menjadi dua bagian, antara sampah basah dan sampah kering, sebelum dibuang/dimasukkan ke dalam tong/bak sampah di masing-masing persil (pasal 3). Kemudian pasal 4 menjelaskan bahwa tong/bak sampah basah menggunakan warna kuning, dan tong/bak sampah kering menggunakan warna biru. Selanjutnya yang dimaksud dengan sampah basah adalah sampah yang berupa daun-daun, buah-buahan, sayur-sayuran, sisa makanan, dan lain-lain yang mudah membusuk. Sampah kering adalah
sampah-25
sampah berupa kertas, kain, tekstil, karet, kulit, kayu, gelas, kaca, dan sejenisnya (pasal 2). Untuk pelaksanaannya, menjadi kewajiban para pemilik/pemakai persil dan seluruh warga Kota Surabaya (pasal 5).
Selanjutnya pengolahan yang dilakukan di sumber-sumber sampah bertujuan untuk :
1. Mereduksi volume sampah.
Hal ini dilakukan dengan cara mengurangi pemakaian, meningkatkan masa pakai, atau menghilangkan kebutuhan suatu produk.
2. Mengubah bentuk fisik/mendaur ulang.
Secara teoritis, banyak material yang dapat didaur ulang. Permasalahannya adalah tidak semua orang dapat mengidentifikasi material berdasarkan karakteristik atau jenisnya dengan mudah, terutama jenis sampah plastik. Identifikasi sampah plastik dapat dilakukan dengan memperhatikan kode yang ada pada material tersebut. Sebagai contoh, kode yang digunakan untuk membedakan jenis material plastik dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Nama Saran
Senyawa Penanganan
PET Botol minuman, tray Jernih (tembus Hati-hati dengan Polyethylene biskuit, wadah selai pandang), kuat, tahan kemasan dengan Terephthalate 1 peanut butter , pelarut, kuat terhadap kode No. 1. Didesain
wadah kosmetik. gas dan cairan, hanya untuk single melembek pada suhu use. Penggunaan 80ºC. lebih dari sekali
meningkatkan resiko leaching dan pertumbuhan bakteri.
HDPE Tas plastik belanja Keras sampai semi Sejauh ini dianggap High Density (grocery bags ), fleksibel, tahan aman. (appears to Polyethylene 2 botol pengemas susu terhadap bahan kimia be safe)
cair dan juice, dan cairan, permukaan shampoo, sabun cair berlilin (waxy), buram, dan wadah ice cream dan melembek pada
suhu 75ºC, mudah diwarnai, diproses dan dibentuk.
Kode Penggunaan Sifat Bahan
26
Nama Saran
Senyawa Penanganan
PVC Pembungkus pangan, Kuat, Keras, Jernih Sebaiknya dihindari Polyvinyl botol minyak sayur, (tembus pandang), Memiliki julukan
Chloride 3 kantung darah. dapat diubah bentuk "the poison plastic" dengan pelarut dan mengandung melembek pada suhu sejumlah racun 80ºC. berbahaya.
LDPE Tas plastik belanja Lunak, fleksibel, Sejauh ini dianggap Low Density toko dan department permukaan berlilin aman. (appears to Polyethylene 4 store , kantong roti (waxy ), tidak jernih be safe)
dan bahan pangan tapi tembus sinar, segar, pembungkus melembek pada suhu pangan.Botol yang 70ºC, mudah tergores. dapat ditekan
(squeezable bottles )
PP Botol obat, kantong Keras tapi fleksibel, Sejauh ini dianggap Polypropylene chips kentang, krat permukaan berlilin, aman. (appears to
5 cereal , sedotan, pita (waxy ), softlens at be safe) perekat kemasan. 140ºC, tidak jernih tapi
tembus sinar, tahan pelarut.
PS CD, pisau plastik, Jernih, berkaca Sebaiknya dihindari. Polystyrene kemasan foam , (glassy ), kaku, mudah Dapat melepaskan
6 karton telur. patah, buram, styrene, senyawa melembek pada suhu yang diduga 95ºC, terpengaruh oleh karsinogen dan lemak dan pelarut. pengganggu
hormon (endocrine disruptor)
OTHER Botol bayi, botol Mencakup semua resinDapat dipergunakan
Huruf-huruf pendingin air, suku lain dan material dengan hati-hati. dibawah logo 7 cadang mobil. majemuk (contoh : Yang dikhawatirkan menunjukkan laminates ). Sifat adalah pelepasan
kode ISO tergantung pada plastik(leaching ) untuk jenis atau kombinasi plastik Bisphenol A plastik, seperti yang digunakan. yang diduga
SAN, ABS, memicu kerusakan
PC, Nylon. kromosom.
Kode Penggunaan Sifat Bahan
27
Daur ulang sampah juga dapat dilakukan dengan cara menimbun sampah yang mudah terurai/membusuk atau memanfaatkannya menjadi kompos melalui proses composting. Dalam suatu penelitian dikatakan bahwa pemakaian bahan organik mampu meningkatkan hasil gabah padi kering panen secara nyata (Thamrin dalam Iqbal, 2008).
3. Memanfaatkan kembali material yang masih berguna.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara memakai kembali barang-barang bekas, seperti kantong plastik bekas belanja dipakai untuk membungkus sampah, botol bekas sebagai wadah atau vas bunga, dan lain-lain.
Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu, baik dengan pengangkutan langsung maupun tidak langsung. Penanganan sampah yang sembarangan terutama dalam hal pembuangannya, akan mengakibatkan lingkungan kotor dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
Menurut SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan terdapat beberapa pola pengumpulan sampah, yaitu :
a) Pola Pengumpulan Individual Langsung
Kegiatan pengambilan sampah dari rumah-rumah/sumber-sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan.
b) Pola Pengumpulan Individual Tidak Langsung
Kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing sumber sampah dibawa ke lokasi pemindahan untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. c) Pola Pengumpulan Komunal Langsung
Kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing titik komunal dan diangkut ke lokasi pembuangan akhir.