BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Penanganan Kasus Tindak Pidana Terorisme Yang Dilakukan Oleh
menggunakan cara bimbingan pembelajaran, pemikiran dan semangat kebangsaan, penyuluhan bahaya terorisme, penyembuhan serta pendampingan sosial.
Anak Pelaku terorisme sejatinya korban delik, bukan pelaku delik, seharusnya dilindungi, bukan malah diadili dan dipenjara. Maka, ketentuan hukum diatas tidak boleh diterapkan kepada anak yang teribat dalam kejahatan terorisme, karena bertentangan dengan UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014, khususnya Pasal 69B yang menyebutkan, Perlindungan Khusus Anak Korban terorisme melalui upaya: edukasi pendidikan, ideologi, dan nasionalisme; konseling bahaya terorisme; rehabilitasi dan pendampingan social
C. Penanganan Kasus Tindak Pidana Terorisme Yang Dilakukan Oleh
melakukan deradikalisasi. Hal ini terjadi karena dalam UU Tindak Pidana Terorisme belum terdapat pasal yang khusus membahas tentang anak.
Dalam hal ini, anak masih diposisikan sebagai pihak bersalah yang telah melakukan kejahatan teror. Sehingga penanganannya diposisikan sama dengan orang dewasa yang melakukan kejahatan yang serupa. Padahal seharusnya juga dilihat,keterlibatan anak dalam kasus tindak pidana terorisme merupakan korban dari jaringan, doktrin, propaganda, ajakan oleh orang dewasa. Hal ini nampaknya belum menjadi pertimbangan sehingga bukan posisi anak yang terlihat dalam penanganan kasus ini namun upaya membalas setimpal kejahatan teror yang dilakukan oleh anak.
Selain itu, penanganan bagi anak-anak yang ada di dalam jaringan terorisme lainnya, juga belum sepenuhnya berjalan sesuai mandat Undang-Undang No. 35 tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Dalam pasal 69B disebutkan, bahwa “Perlindungan khusus bagi anak korban jaringan terorisme sebagaimana dimaksud Pasal 59 ayat (2) huruf k dilakukan melalui upaya: a.
Edukasi tentang pendidikan, ideologi dan nilai nasionalisme; b. Konseling tentang bahaya terorisme; c. Rehabilitasisosial; dan d. Pendampingan sosial.
Kasus anak dan radikalisme/terorisme merupakan persoalan yang membutuhkan fokus khusus karena sering kali terjadi salah tafsir terhadap peran anak dalam radikalisme/terorisme. Keterlibatan anak-anak dalam kelompok atau gerakan tersebut tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Banyak hal yang perlu dilihat dan dijadikan bahan pertimbangan. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun harus dengan pendekatan berbeda. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), mengenai anak-anak yang terlibat dalam tindak pidana terorisme,
menunjukkan bahwa saat ini pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap anak-anak yang terlibat kasus terorisme masih disamakan dengan perlakuan terhadap orang dewasa yang terkena kasus terorisme.
Proses penangkapan terhadap anak-anak ini disamakan dengan pola penangkapan orang dewasa, dimana proses penangkapan itu disertaidengan persenjataan yang lengkap. Kemudian proses penyidikan terhadap anak-anak tersebut juga dilakukan seperti halnya penyidikan terhadap dewasa, yang di dalamnya terdapat proses interogasi yang biasanya dilakukan dengan adanya tindakan kekerasan dari para penyidik Densus 88. Seperti yang dialami oleh IH, FL, AS ketika mereka melakukan proses penyidikan soal keterkaitan mereka dalam aksi terorisme. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh penyidik ini, menurut mereka, memberikan trauma tersendiri bagi mereka. Trauma ini kemudiantidak menutup kemungkinan adanya rasa dendam terhadap aparat negara yang melakukan tindakan kekerasan.
Proses persidangan anak-anak yang terkena kasus terorisme tidak mendahulukan upaya diversi dengan pendekatan keadilan restoratif sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 pasal 5 ayat (1), pasal 7 tentang SPPA. Dalam Undang-Undang tersebut upaya diversi melalui pendekatan keadilan restoratif menjadi hal yang wajib. Keadilan restoratif merupakan penyelesaian tidak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku atau korban dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada kondisi semula dan bukan pembalasan.
Sedangkan Diversi merupakan Pengalihan pe-nyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Pelaksanaan diversi dan
keadilan restoratif bagi Anak Berhadapan Hukum (ABH) dilaksanakan oleh Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani dibawah naungan Kementerian Sosial. Dalam penanganan anak-anak berkasus tindak pidana terorisme PSMP Handayani tidak dilibatkan. Bahkan pengakuan PSMP Handayani, mereka tidak tahu jika ada anak-anak yang berkasus tindak pidana terorisme.Selama ini anak-anak tersebut mendapatkan vonis hukum dan men-jalani masa hukuman di dalam penjara seperti halnya orang dewasa yang berkasus tindak pidana terorisme. Meskipun mereka ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), namun mereka belum mendapatkan pembinaan yangsesuai dengan konsep dan standar LPKA. Misalnya tidak semua anak-anak ini mendapatkan fasilitas melanjutkan sekolah, dan mengembangkan minat bakatnya. Ini dialami oleh GA, PR, SK dan GD saat mereka di LPKA Kelas II Jakarta.
Tidak hanya pada proses penyidikan, pendekatanyang kurang tepat juga terjadi ketika mereka menjalani vonis, terutama soal manajemen pe-nempatan lapas yang masih dirasa kurang tepat. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh YPP, beberapa anak yang terlibat dalam kasus teror-isme ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang meskipun secara administrasi berbeda dengan LP dewasa, tetapi secara struktur bangunan fisik mereka mendiami bangunan fisik yang sama dan berada dengan satu komplek LP dewasa.
Seperti yang dialami oleh IH, GA, RP, SK, DG, dan FL yang sebelum dipindahkan mereka sempat berada di LPKA Kelas II Jakarta, yang berada satu kompleks dengan LP Kelas II A Salemba, selama kurang lebih enam bulan. Manajemen penem -patan yang masih kurang tepat ini menyebabkan anak-anak ini sempat cukup intensif berinteraksi dengan napi teroris (napiter) dewasa yang mempunyai pemahaman
radikal cukup kuat. Bahkanmenurut pengakuan dari IH, para napiter dewasaini juga sempat memberikan pengaruh buruk kepada dirinya terkait dengan pemahaman radikal.
para anak yang terlibat dengan kasus terorisme ini juga seringkali ditempatkan jauh dari orang tua atau keluarga mereka yang rata-rata tidak berasal dari Jabodetabek.
Ini tentu menyulitkan bagi orang tua mereka untuk menjenguk anak mereka. Hal ini menjadi penting karena keluarga terdekat seperti orang tua, sudah selayaknya diberikan akses yang besar untuk menjenguk anak-anak mereka. Tidak hanya itu, peran keluarga dan orangtua juga bisa untuk “menderadikalisasi” para anak ini, karena tidak semua anak-anak ini berasal dari keluarga yang juga mempunyai pemahaman radikal.
Penahanan anak-anak yang masih di satukan dengan narapidana teroris dewasa ini menjadi kerawanan tersendiri. Karena adanya potensi rekrutmen ke jaringan baru atau pengkristalan radikalisasi dari orang dewasa ke anak-anak saat di dalam penjara.
Seorang anak yang melakukan suatu tindak pidana, untuk penyelesaian perkara pidananya maka yang akan diberlakukan adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang menjadi dasar pemidanaan terhadap anak. Dalam Pasal 71 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur jenis sanksi terhadap anak yang melakukan tindak pidana, yang terdiri atas pidana pokok dan pidana tambahan.
1. Pidana Pokok terdiri atas:
a. Pidana peringatan;
b. Pidana dengan syarat:
1) Pembinaan di luar Lembaga;
2) Pelayanan masyarakat;
3) Pengawasan c. Pelatihan kerja
d. Pembinaan dalam lembaga; dan e. Penjara
2. Pidana tambahan terdiri atas:
a. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; atau2) Pemenuhan kewajiban adat.
Jika anak yang melakukan suatu tindak pidana kemudian diancam penjatuhan pidana kumulatif berupa pidana penjara dan pidana denda, maka pidana denda akan diganti dengan pidana pelatihan kerja, karena pidana denda tidak berlaku bagi terpidana anak. Penjatuhan pidana penjara terhadap anak merupakan upaya terakhir, dan apabila keadaan serta perbuatan anak membahayakan bagi masyarakat. Anak yang usianya dibawah 14 (empat belas) tahun yang kemudian melakukan suatu tindak pidana, maka dia tidak dapat dijatuhkan sanksi pidana melainkan anak hanya dikenai tindakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 69 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Untuk pemberian sanksi berupa pemberian tindakan terhadap anak, dapat diberikan jika tindak pidana yang dilakukan oleh anak diancam dengan pidana penjara paling singkat atau dibawah dari 7 (tujuh) tahun, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Pasal 82 dan Pasal 83 UndangUndang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yaitu sebagai berikut:
a) Pengembalian kepada orang tua/ wali.
b) Penyerahan kepada seseorang, dalam hal ini dimaksudkan kepada orang dewasa yang dinilai cakap, berkelakuan baik, dan bertanggung jawab oleh hakim serta dipercaya oleh anak.
c) Perawatan di rumah sakit jiwa. Tindakan ini diberikan kepada anak yang pada waktu melakukan tindak pidana menderita gangguan jiwa atau penyakit jiwa.
d) Perawatan di LPKS (Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial)
e) Kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta
f) Pencabutan surat izin mengemudi
g) Perbaikan akibat tindak pidana, misalnya dengan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh tindak pidana dan memulihkannya sesuai dengan keadaan sebelum terjadi tindak pidana.
Untuk tindakan pada huruf d, huruf e, dan huruf f seperti yang disebutkan diatas, dapat diberikan pada anak paling lama 1 (satu) tahun.Pengaturan tentang tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh anak berbeda dengan pengaturan tentang tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh orang dewasa, perbedaan tersebut terletak pada ketentuan sanksi pidana yang akan diberikan. Pada Pasal 19 UndangUndang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme mengatur bahwa ketentuan penjatuhan pidana minimum khusus dalam Pasal 6, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 15, Pasal 16 dan ketentuan penjatuhan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup sebagaimana dalam Pasal 14, tidak berlaku pada pelaku tindak pidana terorisme yang usianya di bawah 18 (delapan belas) tahun.
Selain Pasal 19, pengaturan sanksi terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana terorisme juga diatur dalam Pasal 24 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 bahwa ketentuan penjatuhan pidana minimum khusus dalam Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 22, tidak berlaku bagi pelaku tindak pidana terorisme yang usianya di bawah 18 (delapan belas) tahun. Dari kedua pasal diatas yaitu Pasal 19 dan Pasal 24
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, penulis dapat menyimpulkan bahwa terhadap anak yang melakukan tindak pidana terorisme maka penjatuhan sanksi pidana yang diberikan dapat lebih rendah atau lebih singkat dari minimum khusus yang telah diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, kemudian penulis juga menyimpulkan bahwa penjatuhan pidana mati dan pidana penjara seumur hidup terhadap anak tidak diberlakukan atau dapat diartikan bahwa anak yang melakukan tindak pidana terorisme (pelaku) tidak dapat diberikan pidana mati ataupun pidana penjara seumur hidup.
Karena belum adanya pengaturan khusus yang mengatur mengenai anak sebagai pelaku tindak pidana terorisme baik dari tata cara persidangan, hak-hak bagi anak pelaku terorisme, sanksi pidana, dan hal lainnya yang menyangkut tentang anak yang melakukan tindak pidana terorisme, maka dapat diartikan bahwa dapat diberlakukan ketentuan-ketentuan lain yang diatur di luar undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme untuk mengatur penjatuhan sanksi pidana dan tata cara persidangan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana terorisme, dan hal lain yang menyangkut keterlibatan anak baik sebagai pelaku tindak pidana terorisme maupun anak korban jaringan terorisme. Dimana ketentuan tersebut adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Pengaturan sanksi pidana terhadap anak pelaku terorisme yang diatur dalam Pasal 19 dan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme telah sesuai dengan Pasal 79 ayat (3) dan Pasal 81 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak. Pasal 79 ayat (3) mengatur bahwa minimum khusus pidana penjara tidak berlaku terhadap anak. Kemudian Pasal 81 mengatur bahwa pidana penjara terhadap anak hanya diberikan paling lama 10 (sepuluh) tahun, jika anak dijatuhkan pidana penjara seumur hidup atau pidana mati. Anak dapat diberikan pidana penjara paling lama ½ (satu perdua) dari maksimum pidana penjara orang dewasa, dan juga pidana penjara terhadap anak merupakan upaya paling terakhir.
Terdapat 1 (satu) pasal yang mengatur mengenai pemberatan sanksi pidana terhadap seseorang yang melibatkan anak dalam tindak pidana terorisme yaitu pada Pasal 16A Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme bahwa setiap orang yang melibatkan anak untuk melakukan tindak pidana terorisme ancaman pidananya akan ditambah 1/3 (satu per tiga).
Menurut penulis pasal diatas mempertegas bahwa sebenarnya anak yang melakukan tindak pidana terorisme hanya merupakan korban sebab pikiran anak telah diberikan doktrin-doktrin yang bersifat radikalisme oleh orang dewasa ataupun orang tuanya sendiri, sehingga anak melakukan tindak pidana terorisme. Penulis berpendapat bahwa penerapan sanksi yang tepat bagi anak yang melakukan tindak pidana terorisme adalah pidana dengan syarat atau pembinaan dalam lembaga, ataupun berupa pidana
pengawasan terhadap anak. Karena pada dasarnya, anak yang melakukan tindak pidana terorisme merupakan korban eksploitasi pikiran ataupun korban propaganda baik dari ajakan orang tuanya ataupun orang dewasa lainnya.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka kesimpulan dari penelitin ini adalah sebagai berikut :
1. Modusataucaraparapelakutindakpidanaterorismedalammeneror terkhususwilayahSumatraUtarasaatinibermacam-macammulai daripenembakan,perampokan,penganiayaantokoh,penyerangan
anggota&MakoPolri,pengancaman menggunakan senpi,sampai dengan pengebomandan rata-rata menggunakan media sosial sebagai sarana untuk
mempelancar aksi kejahatannyaserta melahirkan bentuk pola barudidalammelakukanaksi terorismeseperti phantomcell network, leaderless resistance, dan lone wolf.Kejahatanterorismemerupakanhasildariakumulasi dari beberapa faktor, bukan hanya oleh faktor psikologis, tetapi juga faktor ekonomi, politik, sosial, faktorlemahnya pendidikan, faktor hukum, faktor balas dendam,faktorstruktural,faktorfasilitator,faktormotivasional,dan faktor-faktor pendukung lainnya
2. Anakyangterlibat(pelaku) tindakpidanaterorismetidakberlaku stafminimal khusus yang tercantum dalam pasal-pasal 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 15, 16, 20, 21, 22 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003TentangPemberantasanTindak Pidana Terorisme.Dengan demikian, seorang anak pelaku tindak pidana terorisme tidak dapat dihukum mati dan tidak dapat dihukum pidana penjara seumur hidup atau ketentuan pidana mati dan pidana penjara seumu rhidup seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Terorisme tersebut tidak berlaku bagi anak sebagai pelaku teror. Pengaturan tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh anak terdapat dalam Undang-UndangNo.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.Peraturan tindak pidana terorisme bagi anak tidak dibedakan dengan pengaturan tindak pidana terorisme bagi orang yang telah dewasa,namun ketentuan sanksi pidana yang diterima oleh anak sebagai pelaku terorisme berbeda dengan sanksi yang diterima oleh dewasa sebagai pelaku terorisme
3. Jika anak yang melakukan suatu tindak pidana kemudian diancam penjatuhan pidana kumulatif berupa pidana penjara dan pidana denda, maka pidana denda akan diganti dengan pidana pelatihan kerja, karena pidana denda tidak berlaku bagi terpidana anak. Penjatuhan pidana penjara terhadap anak merupakan upaya terakhir, dan apabila keadaan serta perbuatan anak membahayakan bagi masyarakat. Anak yang usianya dibawah 14 (empat belas) tahun yang kemudian melakukan suatu tindak pidana, maka dia tidak dapat dijatuhkan sanksi pidana melainkan anak hanya dikenai tindakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 69 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
B. Saran
1. Kiranya, perlu ada peningkatan kemampuan aparatur terhadap seluruh instansiterkaitdan pengamanan yang extra ketat terhadap objek-objek vitaluntuk meminimalisir dan mempersempit celah-celah maupun ruang gerak para pelaku terorisme untuk melakukan modus-modus baru terkait kejahatan yang akan dilakukannya.
2. Perlu adanya peran dari pemerintah dalam meningkatkan keadilan serta kesejahteraan terhadap masyarakatmelalui berbagaisektoragartidak menimbulkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejahatan terorisme di masa yang akan datang.
3. Kiranya,upaya pencegahan serta penanggulangan kejatahan terorisme harus terus dilakukan secara terus menerus guna mencapai keberhasilan yang optimal dalam memberantaskejahatannya.Maka dari itu penanganannya pun perlu dilakukan secara khusus, terencana, terarah, terpadu, dan berkesinambungan, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Abintoro Prakoso. 2021. Kriminologi Hukum Pidana. Yogyakarta: Laksbang Andi Sofyan & Abd Asis. 2017. Hukum Acara Pidana. Jakarta: Prenamedia Grup Bambang Sunggono. 2011. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Hartono. 2012. Penyidikan dan Penegakan Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika Lilik Muliyadi. 2006. Hukum Acara Pidana. Bandung: Cita Bakti
Peter Mahmud Marzuki. 2005. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana
Idan Hanifah, dkk. 2018. Pedoman Penulisan Tugas Akhir Mahasiwa. Medan: UMSU Press
R. Wiyono. 2016. Sistem Peradilan Anak di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika