• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Keluarga yang tinggal di Rumah Tidak Layak Huni

Dalam dokumen PAPUA. Ask Me. Jurnal Kesejahteraan Sosial (Halaman 38-45)

B. Temuan dan Pembahasan

3. Penanganan Keluarga yang tinggal di Rumah Tidak Layak Huni

Selaras dengan prioritas pembangunan propinsi Papua tahun 2020-2024 yang mengutamakan pendekatan budaya dan kontektual Papua, serta pendekatan berbasis ekologi dan tujuh wilayah adat: Laa Pago, Saireri, Tabi, Mee Pago, Anim Ha, Bomberay, dan Domberay sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2008 tentang Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, yang mengamatkan penguatan dan pemberdayaan Orang Asli Papua berlandaskan budaya dan adat yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, pengembangan wilayah adat dalam mendukung perekonomian wilayah; dan pelaksanaan intruksi presiden nomor 9 tahun 2017 tentang percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat yang mengamatkan beberapa hal termasuk permukiman layak bagi masyarakat.

Untuk mewujudkan rumah yang layak huni, maka pemerintah melalui Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan Kementerian Sosial melaksanakan kegiatan Rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni sehingga tercipta kondisi rumah yang layak sebagai tempat tinggal. Upaya ini sejalan dengan Pasal 27 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak atas kehidupan yang layak, termasuk di dalamnya berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak huni. Yakni rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan estika, sehingga dapat memberikan suasana nyaman bagi penghuninya. Berbeda dengan rumah layak huni, rumah hampir tidak layak huni dan rumah tidak layak huni adalah rumah yang kurang baik atau tidak memenuhi syarat kesehatan dan estika. RS-RTLH bertujuan mengembalikan keberfungsian sosial fakir miskin melalui upaya memperbaiki kondisi Rutilahu baik sebagian maupun seluruhnya, yang dilakukan secara gotong royong agar tercipta kondisi rumah yang layak sebagai tempat tinggal. Kegiatan ini bertujuan juga meningkatkan kualitas tempat tinggal fakir miskin.

C. Penutup

Dari pembahasan sebelumnya dapat dibuat beberpa kesimpulan. Pertama, kemiskinan masyarakat Papua yang disebabkan oleh faktor dan kondisi alam dan lingkungan, sumber daya yang tidak merata, bencana yang sering terjadi, faktor penduduk, eksploitasi antarkelas, antarkelompok, antarwilayah dan antar negara, faktor kelembagaan dan struktural serta keterbatasan tehnologi telah berdampak pada kondisi rumah warga yang tidak layak huni. Misalnya, luas tanah perkapita

kurang dari 7,2 m2, jenis atap rumah terbuat dari daun atau lainnya, jenis dinding rumah terbuat dari bambu atau lainnya, jenis lantai tanah, sumber penerangan bukan listrik, tidak mempunyai fasilitas buang air besar sendiri serta jarak sumber air minum utama ke tempat pembuangan kotoran kurang dari 10 meter. Kedua, perlu dilakukan rehabilitasi rumah tinggal warga agar menjadi layak huni.

Daftar Kepustakaan

Adisasmita. 2015. Pembangunan Pedesaan Dan Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Bandiyono, Suko. 2004. Mobilitas Penduduk Di Perbatasan Papua­PNG, Sebuah

Peluang dan Tantangan. Jakarta: PPK-LIPI.

Damayanti, dkk. 2014. Faktor­Faktor yang Menyebabkan Kemiskinan di Provinsi

Papua: Analisis Spatial Heterogeneity Poverty-Causing Factors in Papua

Province: Spatial Heterogeneity Analysis. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia. Vol. 14 No. 2, Januari: 128-144

Data Susenas. 2015. Profil Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)

Indonesia. Jakarta: Kerjasama Kemneterian Sosial RI dengan Badan Pusat

Statistik

Departemen Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 2018. Pendataan Rumah

Tidak Layak Huni. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jalan, Perumahan, Permukiman Dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah.

Hadi, Syamsul dkk., 2007. Disintegrasi Pasca Orde Baru, Negara, Konflik Lokal

dan Dinamika Internasional. Jakarta: Centra for International Realations

Sudies Fisip UI bekerja sama dengan Yayasan Obor Indonesia.

Hikmawati, Eni dkk. 2016. Bedah Rumah Sebagai Bentuk Pengentasan. Jurnal PKS No. 15 Vol. 2 Juni: 133-144.

Kementerian Sosial RI. 2013. Pedoman Pelaksanaan Rahabilitasi Sosial Rumah

Tidak Layak Huni dan Sarana dan Prasarana Lingkungan. Jakarta.

Kementerian Sosial RI. 2015. Profil Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

(PMKS) Indonesia Berdasarkan Data Susenas Tahun 2015. Jakarta: Kerjasama

Kementerian Sosial RI dengan Badan Pusat Statistik.

Kementerian PPN/Bappenas. 2018. Analisis Wilayah dengan Kemiskinan

Tinggi. Jakarta: Kedeputian Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Pahmi Iril. 2013. Implementasi Program Pengentasan Kemiskinan (Studi Kasus

Program Rumah Tidak Layak Huni di Kabupaten Karimun 2011), Skripsi.

Pekanbaru: Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Univ Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Rahab, Amiruddin Al. 2006. ”Operasi-operasi Militer Di Papua: Pagar Makan Tanaman”, dalam Jurnal Penelitian Politik, Vol. 3/No.1. Jakarta: LIPI. Sabarisman, Muslin. 2013. Perspektif Komitmen Tim Kerja Dalam Pengembangan

Rumah Layak Huni Bagi Keluarga Miskin di Bondowoso. Sosiokonsepsia:

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahateraan Sosial. Vol. 18. No. 01. Sen, Amartya. 1999. Development As Freedom. Oxford University Press.

Suharto, Edi.dkk.2009. Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Rumah

Tangga Miskin Di Indonesia. Bandung: STKS Press.

Sumule.2003. Mencari Jalan Tengah Otonomi Khusus Propinsi Papua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Suradi dkk. 2012. Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan: Studi Rahabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni Bagi Keluarga Minkin di Perkotaan. Jakarta : Puslitbang Kesejahteraan Sosial.

Pengelolaan Program Keluarga Harapan (PKH) Bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Di Kelurahan Trikora Distrik Jayapura Utara, Kota

Jayapura

Kasim Saleh

Widyaiswara Muda BBPPKS Jayapura

Selfiana Sagrim

Staf Dinas Sosial, Catatan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua)

Abstrak

Penelitian ini tentang pengelolaan Program Keluarga Harapan (PKH) bagi keluarga penerima manfaat (KPM) di Kelurahan Trikora Distrik Jayapura Utara Kota Jayapura, dengan rumusan masalah, “Bagaimana pengelolaan Program Keluarga Harapan (PKH) bagi Keluarga Sangat Miskin” dan “Apa saja kendala/hambatan dalam pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) bagi keluarga sangat miskin di Distrik Jayapura Utara”.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskripstif. Penelitian ini menemukan beberapa hal, yaitu Pada komponen Kesehatan, terdapat perubahan perilaku khususnya perilaku sehat bagi ibu hamil, melahirkan, perawatan bayi dan balita, pemahaman pentingnya layanan fasilitas kesehatan, pengetahuan tentang imunisasi dan vitamin serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Pada komponen Pendidikan, muncul kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak usia sekolah, standar kehadiran 85% sangat berdampak pada tingkat disiplin dan komitmen anak serta orang tua. Kendala pengelolaan PKH mencakup rendahnya pendidikan RTM dan sulitnya mengubah pola berfikir RTM untuk memandang pentingnya kesehatan dan pendidikan anak­anak mereka; Kurang adanya komunikasi dan koordinasi antara stakeholder secara intens; Masih rendahnya partisipasi dari RTM; Belum semua keluarga miskin memperoleh akses PKH.

Abstrak

The study tries to explore the management of Program Keluarga Harapan (PKH) and its impact on beneficiries family in Trikora Village, North Jayapura District, Jayapura. Some academic problems tobe answered are, “How was the implementation of PKH management, and What are the obstacles of PKH implementation in North Jayapura District, Jayapura?” By using descriptive­qualitative approach, this study found some points. In terms of health component, PKH beneficiaries show adaptive healthy behaviors concerning pregnancy, giving birth, baby and todlers care. They also indicate the good comprehension of the significance of using official health facilities, giving immunisation, vaccination and vitamin for babies and adopting hygenic and healthy daily life.

Relating to education compnent, PKH beneficiaries show the understanding of the significance of education for school­aged children, fulfilling 85% presence of school have positive impact on their commitment.

On the other hand, there are some obsctacles in implementing PKH. Majority beneficiares are from low level educational background, therefore it’s difficult to change the mindset about the significance of health and education factors for the children’s success. There is lack of coomunication and poor coordination among stakeholders, including Dinas Pendidikan, Dinas Sosial and Dinas Kesehatan, making PKH did’nt run well as well as the low participation of some PKH beneficiaries in fulfilling PKH conditions.

Keywords: poverty, Program Keluarga Harapan (Conditional Cash Transfer)

A. Pendahuluan

Pembangunan erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat agar tercipta sebuah kesejahteraan. Dalam mewujudkan sebuah kesejahteraan masyarakat, pemerintah harus juga memperhatikan masalah kemiskinan. Karena kemiskinan merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari masalah pemenuhan kebutuhan hidup. Kesejahteraan masyarakat dapat diukur dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Rendahnya kualitas hidup penduduk miskin berakibat pada rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan sehingga dapat mempengaruhi produktivitas. Dengan kondisi seperti ini menyebabkan dapat meningkatkannya beban

ketergantungan bagi masyarakat. Penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan mencakup mereka yang berpendapatan rendah, tidak berpendapatan tetap atau tidak berpendapatan sama sekali. Dengan demikian maka pengentasan dan penanggulangan kemiskinan yang diupayakan berbagai pihak diharapkan dapat mengangkat taraf hidup masyarakat miskin.

Kartasasmita (1996 : 241) menyebutkan bahwa kebijakan penanggulangan kemiskinan dapat tertuang dalam tiga arah kebijakan. Pertama, kebijakan tidak langsung yang diarahkan pada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya penanggulangan kemiskinan; kedua, kebijakan langsung yang ditujukan kepada golongan masyarakat berpenghasilan rendah; dan ketiga, kebijakan khusus yang dimaksudkan untuk mempersiapkan masyarakat miskin itu sendiri dan aparat yang bertanggung jawab langsung terhadap kelancaran program, dan sekaligus memacu dan memperluas upaya penanggulangan kemiskinan. Gambaran mengenai kemiskinan di Indonesia dapat dilihat pada grafik sebagai berikut

Gambar. Data Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia 1970 – 2013

Sumber :Data BPS

Data diatas menggambarkan bahwa kurun waktu 1970-2013 prosentase penduduk miskin menurun dari sisi jumlah dan prosesntase penduduk miskin, namun penurunannya tidak signifikan hanya dari 70 juta pada tahun 1970 menjadi 30 juta pada tahun 2013 artinya rata-rata selama 43 tahun jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 40 juta. Hal ini disebabkn oleh banyak hal diantaranya kurangnya program pembangunan yang bertujuan mengentaskan kemiskinan (fokus pembangunan).

Program-program yang dilaksanakan dalam upaya pengentasan kemiskinan selama ini belum mampu memberikan dampak besar sehingga sampai saat ini tujuan dari pembanguanan nasional terkait dengan masalah pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat masih menjadi masalah yang berkepanjangan. Oleh karena itu, dalam rangka penanggulangan kemiskinan berbasis rumah tangga, Pemerintah meluncurkan program khusus yang diberi nama Program Keluarga Harapan (PKH). (Kemsos, 2010).

Tahun 2007 Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH), program bantuan dana tunai bersyarat pertama di Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas manusia dengan memberikan bantuan dana tunai bersyarat bagi keluarga miskin dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan tertentu. PKH membantu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga yang sangat miskin (dampak konsumsi langsung), seraya berinvestasi bagi generasi masa depan melalui peningkatan kesehatan dan pendidikan (dampak pengembangan modal manusia). Kombinasi bantuan jangka pendek dan jangka panjang ini merupakan strategi pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan bagi para penerima PKH. PKH dikelola oleh Kementerian Sosial (Kemensos), dengan pengawasan ketat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Program ini mulai beroperasi pada tahun 2007 sebagai program rintisan (pilot) yang disertai unsur penelitian di dalamnya. Di awal kebijakan, pelaksanaan program rintisan ini menunjukkan kemajuan yang lamban, terlihat pada terbatasnya cakupan program (dalam pengertian jumlah keluarga maupun wilayah penerima manfaat). Sejak tahun 2010 Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), di Kantor Wakil Presiden, mulai mendorong perluasan cakupan PKH, yang berdampak pada penyelenggaraan program yang lebih efisien dan berdampak positif bagi penduduk miskin (Reserch Brief No. 42 Tahun 2013).

Program Keluarga Harapan (PKH) dirancang untuk membantu penduduk miskin kluster terbawah berupa bantuan bersyarat. Berkaitan dengan pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) banyak daerah – daerah yang telah tersentuh oleh program ini salah satunya adalah Kota Jayapura. Dari 5 kecamatan yang ada di Kota Jayapura seluruhnya telah memperoleh/mendapatkan program Keluarga Harapan. Pelaksanaan PKH di Kota Jayapura berjalan dengan baik, salah satu kecamatan yang telah menjalankan program ini adalah Distrik Jayapura Utara. Di Distrik ini Program Keluarga Harapan telah mampu berjalan dengan baik. Dari

8 kelurahan dan kampung yang tersebar di Distrik Jayapura Utara untuk tahun 2017 ini terdapat 1.665 penerima Program Keluarga Harapan dengan rincian sebagai berikut:

Tabel. Sebaran Penerima PKH di Distrik Jayapura Utara

No Nama Kelurahan/Kampung Jumlah Keterangan

1 Kayu Batu 23 Baru 2 Tanjung Ria 333 3 Angkasa 65 4 Imbi 417 5 Trikora 59 6 Bhayangkara 220 7 Mandala 106 8 Gurabesi 447

(Sumber : UPPKH Provinsi Papua, 2017).

Dalam dokumen PAPUA. Ask Me. Jurnal Kesejahteraan Sosial (Halaman 38-45)