BAB II ATURAN PENANGANAN BILA TERJADI
D. Penanganan Keterlambatan Penerbangan
Kegiatan pengangkutan udara terdiri atas angkutan udara niaga dan angkutan udara bukan niaga.49 Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk
49 H.K. Martono dan Ahmad Sudiro, Hukum Angkutan Udara Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2009 , Jakarta, Penerbit Rajawali Pers, 2011, hlm 54
umum dengan memungut pembayaran. Angkutan udara bukan niaga adalah angkutan udara yang digunakan untuk melayani kepentingan sendiri yang dilakukan untuk mendukung kegiatan yang usaha pokoknya selain di bidang angkutan udara. Menurut Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang, kargo, dan/atau pos untuk satu perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara.
Angkutan udara niaga terdiri atas angkutan udara berjadwal (scheduled airlines) dan angkutan udara niaga tidak berjadwal (non-schelude airlines). Pada umumnya angkutan udara niaga berjadwal (scheduled airlines) mempunyai ciri-ciri antara lain angkutan udara tersebut disediakan untuk penumpang yang menilai waktu lebih berharga dibanding dengan nilai uang, pesawat udara tetap tinggal landas sesuai dengan jadwal penerbangan yang diumumkan walaupun pesawat udara belum penuh.50 oleh karena itu angkutan niaga berjadwal (scheduled airlines) banyak di minati oleh masyarakat.
Penumpang yang sudah membayar tiket sebenarnya memiliki hak yang dilindungi undang-undang sehingga maskapai penerbangan tidak bisa semena-mena melakukan delay. Jika dilihat dari faktor penyebab delay tersebut, selain dari faktor force majeure seharusnya maskapai bisa memprediksi keterlambatan dan menginformasikannya kepada penumpang beberapa jam sebelum keberangkatan atau mengubah jadwal penerbangan. Dengan adanya informasi
50 Ibid., hlm 54-55
keterlambatan atau jadwal baru tersebut, penumpang bisa memprediksi jam keberangkatan ke bandara dan tidak menunggu sia-sia di ruang tunggu. Untuk menghindari terjadinya keluhan penumpang, pihak maskapai penerbangan memberikan kompensasi berupa makanan ringan (snack), penggantian uang, penggantian maskapai jika pesawat batal berangkat. Namun ada juga beberapa maskapai pesawat yang tidak memberikan kompensasi dalam bentuk apapun.
Adapun bentuk kompensasi yang diberikan tidak mampu menghilangkan kekecewaan dan kemarahan penumpang.51
Menurut Bapak Bobby Pratama selaku HRD PT. Garuda Indonesia, PT.
Garuda Indonesia sampai saat ini menjalankan prosedur penanganan keterlambatan tetap sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 89 Tahun 2015.
Standar Operasional Prosedur PT. Garuda Indonesia adalah memang hanya mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 89 Tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management) Pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia.
Adapun dalam hal penanganan keterlambatan penerbangan, hal ini sangat jelas diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan (Delay Management) pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia sebagai berikut :
(1) Badan Usaha Angkutan Udara wajib menyampaikan informasi keterlambatan penerbangan melalui petugas yang berada di ruang tunggu
51 Sri Susanty, Op.cit., 2013
bandar udara yang ditunjuk secara khusus untuk menjelaskan atau memberi keterangan kepada penumpang.52
(2) Petugas sebagaimana dimaksud, harus melakukan koordinasi dengan Badan Usaha Angkutan Udara, penyelenggara bandar udara, dan pihak terkait keterlambatan.53
(3) Informasi kepada penumpang apabila terjadi keterlambatan penerbangan sebagaimana dimaksud, meliputi:
a. Adanya informasi yang benar dan jelas mengenai alasan keterlambatan penerbangan dan kepastian keberangkatan yang disampaikan kepada penumpang secara langsung melalui telepon atau pesan layanan singkat, atau melalui media pengumuman, selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) menit sebelum jadwal keberangkatan atau sejak pertama kali diketahui adanya keterlambatan.
b. Adanya informasi yang benar dan jelas mengenai pembatalan penerbangan dan kepastian keberangkatan yang disampaikan kepada penumpang secara langsung melalui telepon atau pesan layanan singkat, atau melalui media pengumuman, paling lambat 7 (tujuh) hari kalender sebelum pelaksanaan penerbangan.
52 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan (Delay Management) pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia, Bab IV, pasal 7 ayat 1
53 Ibid. pasal 7 ayat 2
c. Dalam hal keterlambatan penerbangan yang disebabkan oleh faktor cuaca, informasi dapat disampaikan kepada penumpang sejak diketahui adanya gangguan cuaca, dan
d. Adanya informasi yang benar dan jelas mengenai perubahan jadwal penerbangan (reschedule) yang disampaikan kepada penumpang secara langsung melalui telepon atau pesan layanan singkat, atau melalui media pengumuman, paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sebelum pelaksanaan penerbangan.54
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan (Delay Management) pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia, Bab IV, pasal 8 juga menyebutkan :
(1) Badan Usaha Angkutan Udara wajib menyediakan petugas setingkat General Manager, Station Manager, staf lainnya atau pihak yang ditunjuk dan diberikan kewenangan penuh dalam mengambil keputusan di lapangan dalam menangani penumpang yang mengalami keterlambatan penerbangan.55
(2) Petugas sebagaimana dimaksud, harus memastikan bahwa dalam memberikan pelayanannya harus56:
a. Bersikap empati serta adanya perhatian dan kepedulian
54 Ibid. pasal 7 ayat 3
55 Ibid. Pasal 8 ayat 1
56 Ibid. Pasal 8 ayat 2
b. Memberikan kemudahan bagi penumpang yang akan menyusun ulang rencana perjalanan, dan
c. Membantu penumpang termasuk pemesanan pulang atau melakukan pemindahan ke penerbangan atau Badan Usaha Angkutan Dalam Negeri lainnya.
BAB III
TANGGUNG JAWAB PT. GARUDA INDONESIA TERHADAP PENUMPANG YANG MENGALAMI KETERLAMBATAN
A. Bentuk-bentuk Kerugian yang Diderita Penumpang Karena Keterlambatan Penerbangan pada PT. Garuda Indonesia
Menurut Abdulkadir Muhammad, Pengangkutan berasal dari kata dasar
“angkut” yang berarti angkat dan bawa, muat dan bawa atau kirimkan.
Mengangkut artinya mengangkat dan membawa, memuat dan membawa atau mengirimkan. Pengangkutan artinya pengangkatan dan pembawaan barang atau orang, pemuatan dan pengiriman barang atau orang, barang atau orang yang diangkut. Jadi, dalam pengertian pengangkutan itu tersimpul suatu proses kegiatan atau gerakan dari satu tempat ke tempat lain,57 apabila dirumuskan dalam definisi, maka Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat angkut, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan, dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan.58
Kegiatan pengangkutan tidak lepas dengan masalah keterlambatan penerbangan yang mengakibatkan kerugian bagi penumpang. Pengangkut dalam hal ini PT. Garuda Indonesia bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang
57 Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Darat, Laut, dan Udara, Bandung, Penerbit PT Citra Aditya Bakti, 1991, hlm 19
58 Ibid
diakibatkan oleh keterlambatan penerbangan. Tanggung Jawab tersebut bertujuan memberikan perlindungan hukum bagi penumpang.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan menyatakan bahwa: Pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita karena keterlambatan pada angkutan penumpang, bagasi, atau kargo berada dalam pengawasan pengangkut59.
Keterlambatan penerbangan berakibat penumpang mengalami kerugian waktu untuk menunggu keterlambatan penerbangan, penumpang juga mengalami kerugian waktu untuk menunggu keterlambatan penerbangan dan penumpang merasa tidak mendapatkan pelayanan dari pelaku usaha dengan semestinya.
Pengangkut harus mengganti kerugian yang dialami oleh penumpang karena pelaku usaha dalam hal ini tidak memenuhi prestasinya.
Ada juga dimana pihak perusahaan penerbangan dibebaskan dari tanggung jawab jika memenuhi syarat-syarat limitatif sebagaimana dimaksud di dalam pasal 13 Peraturan Menteri Nomor 92 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara menjelaskan bahwa:
1. Pengangkut dibebaskan dari tanggung jawab atas ganti kerugian akibat keterlambatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a yang disebabkan oleh faktor cuaca dan/atau teknis operasional.
59 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan Pasal 146
2. Faktor cuaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain hujan lebat, petir, badai, kabut, asap, jarak pandang di bawah standar minimal, atau kecepatan angin yang melampaui standar maksimal yang mengganggu keselamatan penerbangan.
3. Teknis Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain:
a. Bandar udara untuk keberangkatan dan tujuan tidak dapat digunakan operasional pesawat udara.
b. Lingkungan menuju bandar udara atau landasan terganggu fungsinya misalnya retak, banjir, atau kebakaran.
c. Terjadinya antrian pesawat udara lepas landas (take off), mendarat (landing), atau alokasi waktu keberangkatan (departure slot time) dibandar udara; atau
d. Keterlambatan pengisian bahan bakar (refuelling).
Seperti kita ketahui dalam angkutan udara faktor kecepatanlah yang menjadi daya tarik digunakannya alat angkutan ini dibanding dengan alat angkutan yang lain. Tetapi dalam praktek sering terjadi keterlambatan pengangkutan dimana waktu tempuh yang telah ditetapkan tidak dapat dipenuhi. Memang meskipun terjadi keterlambatan pengangkutan, waktu tempuh yang dicapai alat angkutan udara ini tetap tidak dapat disaingi oleh alat angkutan yang lain. Atau dengan kata lain selisih waktu tempuh alat angkutan udara sangat jauh bila dibandingkan alat angkutan yang lain.
Terlepas dari keunggulan alat angkutan udara dalam kecepatannya, terjadinya keterlambatan meskipun beberapa menit atau beberapa jam tentunya menimbulkan kerugian dan rasa tidak senang pada penumpang. Hal ini karena para pemakai jasa angkutan udara biasanya sangat memperhitungkan waktu. Ada dua bentuk kerugian yang diderita oleh penumpang akibat keterlambatan pesawat, yaitu:
1. Kerugian Materiil
Kerugian materiil yang diderita oleh penumpang karena terjadinya keterlambatan pengangkutan adalah kerugian yang menimpa bagasi penumpang baik bagasi tercatat maupun bagasi tangan yang dibawa penumpang. Di dalam prakteknya, hal ini jarang sekali terjadi yaitu kerugian yang menimpa bagasi penumpang.
Ini disebabkan karena keterlambatan pesawat terbang secara keseluruhan paling lama empat atau lima jam. Lebih dari itu biasanya penerbangan tersebut dibatalkan atau diganti dengan pesawat udara yang lain. Dalam waktu yang demikian itu tentu jarang ada barang baik itu dalam bentuk bagasi tercatat ataupun bagasi tangan yang akan mengalami kerusakan atau kemusnahan. Kemungkinan besar hanya dapat terjadai pada buah-buahan atau makanan yang dibawa penumpang.
2. Kerugian Moril
Kerugian moril merupakan kerugian yang diderita penumpang dalam posisinya sebagai manusia dan kerugian ini biasanya tidak dapat diukur
dengan uang. Misalnya rasa kesal akibat menunggu terlalu lama, tidak dapat masuk kantor atau mengikuti rapat tepat pada waktunya atau gagalnya transaksi bisnis karena terlambat datang sesuai dengan kesepakatan yang telah dijanjikan. Dan ada juga penumpang yang tidak merasa dirugikan meskipun pesawat terbang mengalami keterlambatan, misalnya penumpang yang bertujuan untuk berlibur atau rekreasi. Mereka pada umumnya tidak begitu mempermasalahkan meskipun pesawat udara terlambat karena mereka tidak terburu-buru sampai di tempat tujuan.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa untuk menilai kerugian moril yang diderita penumpang karena keterlambatan pengangkutan ditentukan oleh tujuan penumpang tersebut dalam melakukan perjalanan dengan menggunakan angkutan udara. Jika penumpang tersebut bertujuan untuk melakukan perjalanan bisnis atau seorang businessman juga seorang pejabat yang sedang melaksanakan tugas maka ia akan merasa sangat dirugikan bila terjadi keterlambatan pengangkutan.
Pada dasarnya dalam kegiatan pengangkutan udara niaga terdapat dua pihak, yaitu pengangkut dalam hal ini adalah PT. Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan dan pihak pengguna jasa atau konsumen.
Para pihak tersebut terikat oleh suatu perjanjian, yaitu perjanjian pengangkutan. Sebagaimana layaknya suatu perjanjian yang merupakan manifestasi dari hubungan hukum yang bersifat keperdataan maka didalamnya terkandung hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan dan dipenuhi.
Pada prinsipnya kegiatan pengangkutan udara merupakan hubungan hukum yang bersifat perdata akan tetapi mengingat transportasi udara telah menjadi kebutuhan masyarakat secara luas maka diperlukan campur tangan pemerintah dalam kegiatan pengangkutan udara yaitu menentukan keijakan-kebijakan atau regulasi yang berhubungan dengan kegiatan pengangkutan udara sehingga kepentingan konsumen pengguna jasa transportasi udara terlindungi.60
Meskipun perjanjian pengangkutan pada hakikatnya sudah harus tunduk pada pasal-pasal dari hukum perjanjian Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), akan tetapi oleh Undang-Undang telah ditetapkan berbagai peraturan khusus yang bertujuan untuk kepentingan umum membatasi kebebasan dalam hal membuat perjanjian pengangkutan yaitu meletakkan kewajiban khusus kepada pihaknya pengangkut yang tidak boleh disingkirkan dalam perjanjian.61
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tidak semata-mata memberikan perlindungan kepada konsumen saja tetapi memberikan perlindungan masyarakat publik pada umumnya, mengingat setiap orang adalah konsumen.
Bentuk kerugian akibat keterlambatan pesawat terbang yang biasa dialami oleh pengguna jasa penerbangan ini adalah bentuk ketidak puasan terhadap pelayanan dari pihak maskapai. Contohnya dalam berita media cetak Koran Sinar Harapan pada tanggal 29 Oktober 2013 yang berjudul “Tampar Petugas Garuda
60 E. Saefullah Wiradipradja, Tanggung Jawab Perusahaan Penerbangan Terhadap Penumpang Menurut Hukum Udara Indonesia, Jakarta, Jurnal Hukum Bisnis Vol. 25, 2006, Hlm.
15 61
R. Surbekti, Aneka Perjanjian,Bandung, Citra Aditya, 1995, Hlm. 71
Wakil Ketua Ombusman Dipolisikan”. Adanya kasus tersebut dijelaskan bahwa penamparan berawal dari rasa kesal akibat pesawat yang akan ditumpangi mengalami penundaan keberangkatan.
Contoh kasus lainnya seperti yang terjadi kepada salah satu penumpang Garuda Indonesia bernama Jahmada Girsang pada tanggal 16 September 2013 yang boarding dari Bandara Sultan Hasanudin Makasar pukul 17.30 (Waktu Indonesia Tengah) namun pesawat tidak juga meninggalkan apron dikarenakan masih ada penumpang transit dari Papua belum naik ke pesawat Garuda Indonesia. Selanjutnya Jahmada Girsang berinisiatif memastikan dan bertanya kepada crew Pesawat Garuda Indonesia, dand crew Pesawat Garuda Indonesia mengatakan bahwa ada penumpang yang transit dari Papua tidak kembali ke pesawat di tengarai turun di Makassar dan tidak lanjut ke Jakarta.
Bahwa atas kejadian tersebut Jahmada Girsang beserta penumpang lainnya terheran-heran dan akhirnya dibutuhkan 2 (dua) jam pesawat barulah pesawat take off ke Jakarta (CGK), sehingga muncul suatu pertanyaan apakah karena keteledoran atau kesalahan yang dilakukan salah satu penumpang transit pesawat Garuda Indonesia menjadi alasan untuk mengorbankan kepentingan penumpang lainnya. Bahwa seharusnya Garuda Indonesia lebih mementingkan atau memprioritaskan kepentingan orang atau penumpang pesawat Garuda Indonesia yang lebih banyak, bukan malah memprioritaskan seorang penumpang transit yang tidak disiplin waktu atau membatalkan keberangkatannya tanpa konfirmasi.
Persoalan penumpang transit tidak kembali ke pesawat tidak menjadi alasan untuk menunggu penumpang tersebut berjam-jam lamanya sampai penumpang transit tersebut datang dan menaiki pesawat. Karena jika hal demikian terus menerus dibiarkan, pihak Garuda Indonesia akan mengecewakan banyak orang.
B. Dasar Hukum Pengaturan Tanggung Jawab PT. Garuda Indonesia Akibat Keterlambatan
Pengaturan tanggung jawab PT. Garuda Indonesia akibat keterlambatan diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pasal 1 angka 30 menjelaskan definisi keterlambatan sebagai62: “Terjadinya perbedaan waktu antara waktu keberangkatan atau kedatangan yang dijadwalkan dengan realisasi waktu keberangkatan atau kedatangan”.
Juga sesuai wawancara dengan Pak Bobby sebagai salah satu HRD PT.
Garuda Indonesia Kantor Cabang Mongonsidi, Standart Operational Procedure (SOP) PT. Garuda Indonesia pada saat menangani keterlambatan penerbangan pesawat adalah mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 Tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management) Pada Badan Usaha Angkutan Niaga Berjadwal di Indonesia. Yang selengkapnya akan dijelaskan pada Bab IV Skripsi ini.
Selain dari pada itu pengaturan pengankutan udara juga terdapat dalam Ordonansi Pengangkutan Udara (OPU) Stb. 1939 No. 100 yang sebagian besar aturan-aturan tersebut mengacu pada Konvensi Warsawa tahun 1929.
62 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan Pasal 1 angka 30
Jika dilihat dari pengaturan dasar hukum pertanggung jawaban dalam perdata, menurut Mieke Komar, dasar hukum yang berhubungan dengan pertanggung jawaban industri pesawat udara di Indonesia didasarkan pada prinsip hukum pertanggungjawaban perdata yang dimuat dalam hukum perdata Indonesia63. Namun apabila pertanggungjawaban produsen pesawat udara hanya didasarkan pada ketentuan hukum perdata Indonesia dalam hal ini KUHPerdata pasal yang mungkin digunakan adalah Pasal 1365 tentang perbuatan melawan hukum. Sementara itu dalam keterlambatan penerbangan pada umumnya peristiwa tersebut terjadi bukan karena perbuatan melawan hukum oleh produsen pesawat udara, akan tetapi disebabkan faktor lain yang mungkin sama sekali tidak diinginkan atau tidak diketahui sebelumnya oleh produsen. Apabila tuntutan ini didasarkan pada prinsip perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata tentunya tidak akan tepat. Secara teoritis pertanggungjawaban terkait dengan hukum yang timbul antar pihak yang menuntut pertanggungjawaban dengan pihak yang dituntut untuk bertanggungjawab64.
Dalam hukum, setiap tuntutan pertanggungjawaban harus mempunyai dasar, yaitu hal yang menyebabkan seseorang harus (wajib) bertanggungjawab. Dasar pertanggungjawaban itu menurut hukum perdata adalah kesalahan dan resiko yang ada dalam setiap persitiwa hukum65.
63 Mieke Komar Kantaatmadja, Aircraft Manufacturer’s Liability; Law and Practice In Indonesia, dalam Hukum Angkasa dan Hukum Tata Ruang, Bandung, Mandar Maju, 1994 hlm. 46
64 Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 2006, hlm. 101
65 Ibid
S.B Marsh dan J.Soulsby mengatakan, ada 3 hal unsur pokok untuk menentukan pertanggungjawaban dalam kesalahan perdata66.
(1) Pelanggaran Hak
Hukum mengakui hak-hak tertentu baik mengenai hak-hak pribadi maupun hak-hak kebendaan, dan akan melindunginya dengan memaksa pihak yang melanggar hak itu supaya membayar ganti rugi kepada pihak yang dilanggar haknya.
(2) Unsur Kesalahan
Pertanggungjawaban dalam kesalahan perdata biasanya memerlukan suatu unsur kesalahan atau kesengajaan pada pihak yang melakukan pelanggaran itu, walaupun tingkat kesengajaan yang diperlukan biasanya lebih kecil. Jadi perbuatan lalai yang merugikan orang lain menimbulkan kesalahan perdata karena kelalaian tanpa menimbulkan pertanggungjawaban pidana.
(3) Kerugian Yang Diderita Oleh Penggugat
Suatu unsur yang esensial dari kebanyakan kesalahan perdata adalah bahwa penggugat harus sudah menderita kerugian fisik atau finansial sebagai akibat dari perbuatan tergugat. Jadi, jika seseorang mengendarai mobil kurang hati-hati, ia belum tentu melakukan kesalahan perdata karena kurang hati-hati terhadap seseorang. Hnya jika pengendara yang
66 S.B Marsh and J.Soulsby, Business Law, alih bahasa Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perjanjian, Bandung, Penerbit Alumni, 2006, hlm. 99-100
kurang hati-hati itu merugikan atau melukai seseorang berarti ia telah melakukan kesalahan perdata. Sebaliknya, juga kerugian dan kesalahan perdata tidak selalu terjadi bersamaan. Pertama masih ada kesalahan perdata apabila perbuatan salah dari tergugat itu sendiri cukup untuk menimbulkan kesalahan perdata tanpa penggugat yang harus membuktikan kerugiannya. Selanjutnya, haris ditekankan lagi bahwa menimbulkan kerugian semata-mata kepada seseorang belum tentu merupakan kesalahan perdata. Di sini boleh dikatakan tidak ada pelanggaran hak yang diatur oleh hukum. Dalam banyak situasi tidak berbuat tanpa merugikan orang lain.
Mengenai kerugian dalam konteks hukum perjanjian, menurut Pasal 1244, Pasal 1245 dan Pasal 1246 KUHPerdata dirinci dalam tiga unsur, yaitu biaya, rugi dan bunga. Yang dimaksud dengan biaya adalah67 segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata sudah dikeluarkan oleh salah satu pihak, sedangkan rugi adalah kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditur yang diakibatkan oleh wanprestasi debitur dan bunga adalah keuntungan yang diharapkan akan diperoleh kreditur dikemudian hari seandainya debitur melaksanakan kewajibannya dengan baik.
Dalam Pasal 1504 KUHPerdata dinyatakan bahwa sipenjual diwajibkan menanggung terhadap cacat tersembunyi pada barang-barang dijual, yang membuat barang itu tak sanggup untuk pemakaian yang dimaksud, atau yang demikian mengurangi pemakaian itu sehingga, seandainya sipembeli mengetahui
67 Subekti, Aneka Perjanjian, Bandung, Penerbit Alumni, 2004, hlm. 47
cacat itu, ia sama sekali tidak akan membeli barangnya atau tidak akan membelinya selain dengan harga yang kurang,
Kewajiban penjual terhadap jaminan atas cacat-cacat tersembunyi yang dimaksudkan dalam Pasal 1504 KUHPerdata tersebut di atas dapat digolongkan pada warranty, berupa janji atau jaminan dari pihak penjual tentang dapat dipergunakannya dengan baik. Di sini terkadang janji bahwa dengan memakai dan mengkonnsumsu produk tertentu yang dijualnya, penjual menjamin bahwa pembeli (konsumen) akan memperoleh kenikmatan, manfaat dan kegunaan tertentu dalam memenuhi kebutuhannya.
Prinsip tanggung jawab karena dalam hubungan kontraktual pada jual beli menunjukkan bahwa agar konsumen dapat memperoleh ganti rugi karena mengkonsumsi barang yang cacat dan sebaliknya produsen dapat dituntut pertanggungjawabannya, maka disyaratkan adanya hubungan kontrak antara penuntut (penggugat dalam hal ini konsumen) dan tergugat dalam hal ini produsen atau penjual. Dalam hal ini terlihat juga bahwa adagium no privity-no liability masih menguasai jalan pikiran di sini, termasuk juga jalan pikiran pembuat KUHPerdata. Konsekwensinya adalah bahwa pembeli harus berhati-hati dalam menentukan pilihannya atas barang yang dibelinya68.
Pola dan keadaan seperti ini dirasakan kurang adil karena dalam kenyataannya pihak pembeli tidak hanya mengkonsumsi atau memakai sendiri barang yang dibelinya, tetapi sangat mungkin sekali juga dipakai orang lain, misalnya anggota keluarga, tamu yang datang ke tempat pembeli. Oleh sebab itu
68 Hasim Purba, Op. cit., hlm. 359
prinsip privity of contract tidak dapat dipertahankan, karena itu maka adagium no privity-no liability di atas semakin ditinggalkan69.
Salah satu cara perselisihan yang dapat terjadi di dalam masyarakat adalah perbuatan yang merugikan anggota masyarakat lainnya. Menurut Pasal 1365 KUHPerdata bahwa tiap perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.
Selanjutnya dalam Pasal 1367 KUHPerdata diatur mengenai pertanggungjawaban khusus sehubungan dengan perbuatan melawan hukum, yaitu pertanggungjawaban atas barang sebagai berikut: seseorang tidak saja bertanggungjawab untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang tanggungannya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya.
Untuk dapat menuntut ganti rugi berdasarkan perbuatan melawan hukum,
Untuk dapat menuntut ganti rugi berdasarkan perbuatan melawan hukum,