DITINDAK LANJUTI KPU
2. Penanganan Pelanggaran Pidana:
Untuk melihat pelanggaran yang bersifat pidana dalam pelaksanaan Pemilukada Tahun 2010, maka dapat dikemukakan bahwa selama beberapa tahapan Pemilukada terdapat pelanggaran pidana seperti: pada tahap pemutakhiran data Pemilukada ditemukan sebanyak 4 kasus pelanggaran. Pada tahap Pencalonan ditemukan sebanyak 71 pelanggaran. Pada masa Kampanya dan Masa tenang, ditemukan sebanyak 377 kasus pelanggaran. Pada tahap Pemungutan dan Perhitungan Suara ditemukan sebanyak 128 kasus pelanggaran. Total pelanggaran pidana selama tahapan Pemilukada yaitu sebanyak 572 kasus pelanggaran pidana. Dari jumlah tersebut terdapat 532 (93, 1 %) yang diteruskan ke Kepolisian. Sedangkan yang dihentikan di Kepolisian sebanyak 168 kasus atau (29, 37 %). Untuk l52ebih jelasnya mengenai pelanggaran pidana selama pelaksanaan Pemilukada 2010, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
51Lihat Ibid.
Tabel III: Rekapitulasi Data Pelanggaran Pidana Pemilukada
TAHAPAN PEMILUKADA
PELANGGARAN PIDANA PEMILU
KET LAPORAN/TEMUAN
TINDAK PIDANA PEMILU
DITERUSKAN KE KEPOLISIAN DIHENTIKAN KEPOLISIAN Pemutakhiran Data Pemilih 4 4 ( 100 % dari laporan/temuan) 4 ( 100 % dari laporan/temuan) Pencalonan 71 60 (84,51 % dari laporan/temuan) 20 (28.17 % dari laporan/temuan) Masa Kampanye/Masa Tenang 377 344 (91,25 % dari laporan/temuan) 113 (29,97 % dari laporan/temuan) Pemungutan dan Penghitungan Suara 128 124 ( 96,88 % dari laporan/temuan) 31 (24,22 % dari laporan/temuan) Penetapan Hasil Pemilu Pengucapan
Sumpah/Janji TOTAL 572 532 (93,01 % dari laporan/temuan) 168 (29,37 % dari laporan/temuan)
Sumber: Dikutip dari Data Jumlah pelanggaran Pemilukada dari Bawaslu RI. Berdasarkan Tabel di atas, dapat dipahami bahwa pelanggaran bersifat pidana, terlihat ada beberapa kecenderungan antara lain sebagai berikut:
a. Kecenderungan Pelangggaran Pidana
Berdasarkan data pelanggaran pidana Pemilukada, disampaikan bahwa jumlah laporan/temuan tindak pidana Pemilu adalah sejumlah 572 laporan/temuan. Sedangkan dari laporan/temuan tersebut yang diteruskan ke kepolisian adalah sejumlah 532 laporan/temuan atau 93,01 % dari laporan/temuan. Kemudian dari laporan/temuan yang diteruskan ke kepolisian tersebut diperoleh data bahwa 168 laporan/temuan di antaranya dihentikan oleh kepolisian atau sejumlah 29,37 % dari laporan/temuan yang diproses pengawas Pemilu.
Berdasarkan data pada tabel di atas, trend pelanggaran pidana Pemilukada, yang paling banyak terdapat laporan/temuan pelanggaran adalah masa kampanye/masa tenang sebanyak 377 laporan/temuan (65,91 % dari total laporan/temuan). Sedangkan tahapan Pemilukada yang juga cukup banyak terdapat laporan/temuan pelanggaran pidana adalah masa
pemungutan dan penghitungan suara yaitu sejumlah 128 laporan/temuan (22,38 % dari total laporan/temuan).
Secara garis besar dapat diuraikan trend pelanggaran pidana Pemilu dalam setiap tahapan adalah berikut :
1. Tahapan Pemutakhiran Data Pemilih.
a. Menghilangkan hak pemilih yang terdapat di DPS namun tak tercantum di DPT : Kab. Kendal.
2. Tahapan Pendaftaran dan Penetetapan Pasangan calon
a. Tidak terpenuhinya persyaratan administratif (keterangan pailit dari pengadilan niaga, persyaratan LKHPN), masalah dukungan calon (dukungan parpol bermasalah). Misalnya di Provinsi Kepri, Kab. Bintan, dan Kab.Bantul
b. Verifikasi dukungan tidak dilakukan/belum jelas sudah dilakukan atau belum. Misalnya di Kab. Raja Ampat, Kab.Simalungun
c. Dukungan palsu untuk pencalonan misalnya di Kab.Bulukumba (dukungan Partai Merdeka)
d. Pencalonan Dengan Dukungan Ganda Parpol misalnya di Kab. Membramo Raya, Kab. Supiori, Kota Depok,
3. Tahapan Kampanye dan Masa Tenang
a. Politik Uang untuk mempengaruhi pemilih: Kab. Tanjungbalai, Kab. Karo, Kab. Tanjung Jabung Barat, Kab. Pemalang, Kota Tanjung Balai, Kab.Keerom, Kab.Kaimana,
Kab. Bandung, Kab. Indramayu, Kab.Bulukumba, Kab.Manokwari, Kab.Teluk Bintuni, Kab.Bovendigu, Prov. Bengkulu, Kab.Bengkulu Selatan, Kab.Seluma, Kab.Rejang Lebong, Kab.Lebong, Kab. Kepulauan Sula, Kab. Berau, Kota Pasuruan, Kab. Bone Bolango, Kab. Gorontalo, Kab. Konawe Selatan dan Kab. Pahuwato , Kota Cilegon, Kab.Serdang Bedagai, Kab.Kutai Kartanegara, Kab.Toba Samosir, Kab.Karang Asem, Kota Semarang, Kab.Sumbawa Barat, Kab.Boyolali, Kab.Buton Utara.
b. Netralitas PNS/Aparatur Pemda misalnya di Kab. Pemalang, Kota Tangerang Selatan, Kab.Karawang, Kab.Nduga, Kab.Halmahera Selatan, Kab.Purworejo, Kab.Rejang Lebong, Kab. Kepulauan Sula, Kab. Berau, Kota Pasuruan, Kab. Seram Bagian Timur
c. Kampanye di luar Jadwal misalnya di Kab.Ogan Komering Ulu, Kab.Tanjung Jabung timur. Provinsi Bengkulu, Kab. Kedirib dan KIab. Luwu Timur.
4. Tahapan Pemungutan dan Penghitungan Suara
a. Politik uang, misalnya di Kab.Kebumen, Kota Cilegon, Kab.Serdang Bedagai, Kab.Kutai Kartanegara, Kab.Toba Samosir, Kab.Karang Asem, Kota Semarang, Kab.Sumbawa Barat, Kab.Boyolali, Kab.Buton Utara, Kab.Bengkayang, Kab.Ketapang, Kab.Sintang, Kab.Sleman, Kab.Lamongan, Kab.Bantul, Kab.Gunung Kidul, Kab.Blitar, Kab.Gresik, Kab.Lingga, Kab.Kebumen, Kota Cilegon, Kab.Serdang
Bedagai, Kab.Kutai Kartanegara, Kab.Toba Samosir, Kab.Karang Asem Kota Semarang, Kab.Sumbawa Barat, Kab.Boyolal, Kab.Buton Utara, Kab.Bulungan, Kab.Muna, Kab.Situbondo, Kab.Labuhan Batu, Kab.Luwu Timur, Kab.Luwu Utara, Kab.Muna, Kab.Tana Toraja, Kab.Maros, Kab.Gowa, Kab.Barru, Kab.Bulukumba, Kab Batanghari, Kab.Kerinci, Provinsi Jambi, Kab.Muara Jambi, Kab.Merangin, Kab.Bungo, Prov. Bengkulu, Kab.Bengkulu Selatan, Kab.Seluma, Kab.Rejang Lebong, Kab.Lebong, Kab. Kepulauan Sula, Kab. Berau, Kota Pasuruan, Kab. Bone Bolango, Kb. Gorontalo, Kab. Konawe Selatan dan Kab. Pahuwato
b. Menggunakan Surat Undangan (Form C-6) orang lain,
misalnya di Kab.Anambas, Kab.Luwu Timur,
Kab.Wumenep.
c. Mencoblos lebih dari 1 kali: Luwu Timur, Lingga, kab. sintang
d. KPPS buka segel/kotak suara, misalnya di Kab.Lamongan, Kab.Luwu Utara;
e. Manipulasi atau Penggelembungan Suara, Misalnya di Kab.Ketapang, Kab.Gresik, Kab.Bulukumba,
b. Pelaku Terjadinya Pelanggaran Pidana
Merujuk pada data yang diterima Bawaslu, terjadinya pelanggaran pidana Pemilukada di berbagai wilayah disebabkan oleh tindakan pelanggaran yang dilakukan tim kampanye, masyarakat, Pegawai Negeri
Sipil, serta penyelenggara Pemilu. Berikut ini beberapa di antara data pelanggaran yang menunjukkan variasi pelaku pelanggaran pidana:
1) Tim Kampanye/ Pasangan Calon
Untuk tindak pidana Pemilu yang dilakukan oleh tim kampanye di antaranya adalah pelanggaran yang diproses Panwaslu Kota Jambi terkait kampanye di tempat ibadah dan di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan yang tidak seusai dengan peraturan perundang-undangan. Di Kabupaten Kerinci, Di Karawang salah satu pasangan calon Pemilu Gubernur melakukan kampanye di luar jadwal, Mengenai pelanggaran money politics yang dilakukan oleh masyarakat contoh kasusnya adalah di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu yang terjadi sebanyak 17 (tujuh belas) pelanggaran pemberian sejumlah uang tertentu yang kemudian kasus-kasus tersebut oleh Panwaslu Kabupaten Seluma dilimpahkan kepada Polres. Telah dilimpahkan ke kepolisian juga oleh Panwaslu Keerom, kasus pemilih diberikan uang sebesar 100.000 dan pemilih diminta untuk mencoblos salah satu pasangan calon di TPS 1 Kampung Workwana, Distrik Arso Kabupaten Keerom.
2) Pegawai Negeri Sipil
Salah satu contoh pelibatan PNS dalam masa kampanye terjadi di Desa Sumuranja kec. Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Kabupaten Buton Utara PNS Mengikuti kampanye pada jam kerja dan memakai atribut kampanye.
3) Penyelenggara Pemilu
penyelenggara Pemilu yang dilaporkan menjadi pelaku tindak pidana Pemilu di antaranya adalah terjadi di Kabupaten Lamongan yaitu oleh Ketua PPS Desa Tambakrigadung.