• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

E. Penanganan Tebing Sungai dengan Konvensional Murni

Pelindung tebing sungai adalah bangunan untuk melindungi tebing sungai secara langsung terhadap kerusakan akibat serangan arus, pelindung tebing (revetments) merupakan struktur perkuatan yang ditempatkan di tebing sungai untuk menyerap energi air yang masuk guna melindungi suatu tebing sungai atau permukaan tebing tanggul terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping)

kedarat dan secara khusus berperan meningkatkan stabilitas alur sungai atau tubuh tanggul yang dilindungi.

1) Perlindungan tebing sungai secara langsung (revetment).

Revetment yang berfungsi sebagai perkuatan lereng adalah bangunan yang ditempatkan pada permukaan suatu lereng guna melindungi suatu tebing sungai terhadap serangan arus yang dapat mengakibatkan terjadinya gerusan pada tebing sungai. Dan beberapa jenis revetment yang biasa dipakai adalah sebagai berikut :

a) Bronjong kawat silinder b) Pasangan batu

c) Perkerasan dengan beton

2) Perlindungan tebing secara tidak langsung (krib)

Dalam dekade pembangunan sungai berjalan 1 sampai 3 abad secara simultan menunjukkan dampak negatif yang sangat besar. Dampak negatif dari pembangunan sungai tersebut dapat di bedakan menjadi dampak abiotik dan dampak biotik.dampak abiotik diartikan fisik non-hayati akibat pembangunan.

Sedangkan biotik adalah segala dampak yang berhubungan dengan lingkungan ekologi. Perlu di tekankan bahwa antara abiotik dan biotik adalah saling berpengaruh. Dampak abiotik dan biotik antara lain:

a) Perubahan drastis marfologi sungai

Dekade pembangunan sungai yang berlangsung sekitar 150 sampai 300 tahun telah menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat ekstrim pada sebagian besar wilayah sungai di dunia dan khususnya di Indonesaia. Di Indonesia selama

65 tahun pembangunan sangat banyak menyebabkan perubahan derastis seperti pada sungai Citarum, Ciliwung, Cimeneng, kali Madiun, sungai Bengawan Solo, sungai Saddang, sungai Cenranae, sungai Jeneberang dan lalai-lain merupakan contoh kongkrit perubahan marfologi sungai akibat rekayasa hidraulik wilayah sungai di Indonesia.

b) Penurunan tahanan aliran

Dengan adanya koreksi sungai, pelurusan, sudetan, pengerukan dan pembetonan tebing sungai menyebabkan seluruh potensi retensi marfologi dan ekologi dikiri dan kanan sungai hilang. Sungai dengan perilaku sebuah kanal (saluran) dengan retensi yang sangat rendah. Retensi ekologi (biotik) sungai alamiah di wakili oleh tumbuh-tumbuhan yang ada disepanjang alur sungai.

Sedangkan retensi abiotik (marfologi) ditimbulkan oleh tampang melintang dan tampang memanjang sungai. Dengan di ubahnya tampang melintang dan tampang memanjang sungai menjadi sangat teratur (dengan sudetan dan normalisasi), maka otomatis retensi sungai akan berkurang.

c) Meninggikan slope memanjang sungai dan memendekkan panjang alur sungai.

Koreksi sungai berupa pelurusan, sudetan dan tanggul, normalisasi sungai, maka akan mengakibatkan kemiringan memanjang sungai (slope memanjang) akan meningkat. Hal ini disebabkan karena beda tinggi antara hulu dan hilir sebelum dan sesudah koreksi sungai tetap, sementara setelah koreksi panjang sungai dari hulu sampai ke hilir memendek. dengan beda tinggi yang

sama dan panjang alur yang lebih pendek akan menghasilkan kemiringan yang lebih besar.

d) Meningkatkan debit air di hilir dan memendekkan waktu debit puncak

Kecepatan aliran meningkat ke hilir, maka debit mencapai hilir akan lebih cepat dan tinggi. Dapat ilustrasikan volume air dari hulu ke hilir sama, tapi karena kecepatan air lebih besar dan jarak tempuhnya pendek, sehingga debit yang sampai ke hilir akan lebih tinggi di bandingkan dengan sebelum di adakan pelurusan/sudetan/pengerukan.

e) Meningkatkan kemungkinan kejadian banjir

Dengan semakin tingginya debit aliran dan memendeknya waktu mencapai puncak, sengingga kemungkinan banjir di hilir akan semakin tinggi.

Dengan adanya pertambahan debit dan kecepatan air di bagian hilir akan meningkat level muka air di hilir. Disamping itu juga meningkatkan kecepatan air menuju hilir, terjadi peningkatan sedimen di hilir yang akan berakibat terjadinya peningkatan tendensi banjir hilir.

f) Meningkatkan erosi dan transportasi sedimen

Meningkatkan kecepatan aliran akibat pelurusan dan sudetan akan meningkatkan sudetan akan meningkatkan erosi di bagian hulu, sehingga dapat memicu peningkatan transportasi sedimen ke bagian hilir. Keseimbangan erosi dan sedimentasi (degradasi dan adegradasi) akan berubah mengaran ke semakin banyaknya erosi di bagian hulu dan di bagian tengah. Erosi akibat pelurusan dan sudetan sungai ini debenarnya tidak terbatas pada hulu dan hilir saja, akan tetapi juga terjadi di sepanjang sungai.

g) Kerusakan struktur dasar sungai

Struktur tanah alamiah pada umumnya relatif stabil. Struktur dasar tersebut berubah bersiklus dan secara reguler akan kembali ke bentuk semula, sehingga struktur semacam ini akan di katakan relatif tidak berubah atau kostan.

Hanya material penyusun dasar tersebut yang bergerak menggelinding (rolling) ke hilir di ganti dengan material dari hulu. Dengan aktifitas pelurusan dan sudetan, maka merugbah karakteristik aliran baik arah, kecepatan dan frekuensi debit serta tinggi muka air. Hal ini akan menyebabkan perubahan struktur dasar sungai secara derastis yang sebelumnya relatif stabil.

h) Menurunnya daya dinamis sungai

Dengan sungai yang lurus maka di sepanjang alur sungai tidak didapat kondisi dinamik yang cukup. Kondisi dinamik yang tinggi jika di sepanjang alaur sungai frekuensi genangan dan pengatusan (pasang surut muka air), tinggi, kecepatan di sepanjang sungai beragam. Kondisis dinamis yang seperti itu akan sangat mendukung kehidupan flora dan fauna di daerah tersebut, karena denga dinamisasi wilayah aliran sungai tinggi, maka semakin tinggi pula diversifikasi flora dan fauna di aliran sungai tersebut.

i) Meningkatkan temperatur air

Dengan pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, pengerukan sungai, dan lain-lain akan terjadi peningkatan temperatur air secara simultan dari huku ke hilir. Pada sungai alamiah biasanya temperatus di hulu lebih rendah kemudian meningt sampai ke hilir. Kenaikan temperatur ini akan berpengaruh terhadap berbagai jenis biota yang ada. Di daerah tropis kenaikan temperatur sungai ini

tidak begitu berpengaruh, namun di daerah beriklim dingin kenaikan temperatur air sungai ini akan menyebabkan kematian berbagai jenis biota air. Kenaikan temperatur ini kan mudah diamati pada sungai-sungai di dataran tinggi atau di daerah dingin seperti Kanada, Jerman, Selandia Baru dan sebagainya.

j) Penurunan muka air tanah

Dengan pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, pengerukan sungai, sehingga pada musim hujan air akan cepat mengalir ke hilir sehigga pada musim kemarau simpanan air pada bagian hulu turun derastis. Pelurusan dan sudetan pada hakekatnya adalah pengatur air di wilayah sungai ke arah hilir. Olek karena itu kekeringan akan semakin intensif setelah di lakukan rekayasa sungai.

Gambar 5. Ilustrasi sungai dengan konsep ekohidrolik (atas) dan hidrolik murni (bawah).

(http://bebasbanjir2025.wordpress.com)

Dokumen terkait