• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Penanggulangan Anak Jalanan

D. Penanggulangan anak jalanan

Dari hasil wawancara kepala seksi dan staf seksi rehabilitasi, dapat di peroleh informasi bahwa, disamping itu model institutional (lembaga) ini melindungi anak jalanan dari kekerasan dan eksploitasi baik yang dilakukan oleh orang tua/keluarganya sendiri maupun oleh preman jalanan.

1. Pendekatan berbasis keluarga

Di Kota Makassar model pendekatan ini dilakukan oleh Dinas sosial Kota Makassar pada keluarga/orang tua anak jalanan. Undang-Undang No. 4 tahun l979 pasal 20 diamanatkan “orang tua adalah yang pertama-tama

berpengaruh atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara jasmani maupun rohani”.

Untuk mewujudkan amanat undang-undang tersebut Dinas Sosial Kota Makassar melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada keluarga/

orang tua anak jalanan, kegiatan ini dinamakan “penguatan fungsi keluarga”,

Dari hasil wawancara dari anak jalanan di dapatkan informasi bahwa mereka turun di jalan dengan penyebab utama atas dorongan keluarga/orang tuanya.

Kalau dilihat dari nilai-nilai budaya yang ada pada mereka para anak jalanan ini adalah anak-anak yang taat dan patuh pada orang tunya atau orang yang lebih tua dari mereka, apapun yang diperintahkan dipatuhi termasuk perintah untuk mencari nafkah di jalanan dengan cara mengemis, mengamen dan menjual koran.

Penekanan pada model pendekatan berbasis keluarga ini adalah merubah pola pikir para orang tua anak jalanan, bagaimana aspirasi orang tua terhadap anaknya, apa yang diinginkan dari anaknya.

Kegiatan pelayanan yang diberikan oleh para pekerja sosial adalah memberikan bimbingan mental kepada orang tua anak jalanan berupa pengajian dan ceramah agama yang berkaitan dengan peran dan tanggung jawab orang tua terhadap anak sebagai tujuan utama model pendekatan ini.

Disamping itu diberikan bantun sembako dan modal untuk usaha ekonomi produktif dalam rangka penguatan fungsi keluarga/orang tua agar anak mereke tidak turun di jalan untuk mencari nafkah.

2. Pendekatan berbasis masyarakat.

Model pendekatan ini menggunakan masyarakat sebagai basis pelayanan, sasaran pelayanan model pendekatan ini adalah anak jalanan usia balita 0-5 tahun, anak jalanan usia sekolah 6- 15 tahun,anak jalan usia produktif 15-20 tahun.

Dalam memberikan pelayanan kepada anak secara holistik – komprehensif setidaknya terdapat tujuh strategi pelayanan yaitu:

a. Strategi ini menempatkan anak sebagai basis penerima pelayanan.

b. Anak yang mengalami masalah ditempatkan dalam lembaga/panti.

c. Keluarga dijadikan sasaran dan medium utama pelayanan.

57

...

d. Strategi yang menggunakan masyarakat sebagai pusat penanganan, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat agar ikut aktif dalam penanganan masalah anak

e. Pelayanan yang diberikan di lokasi anak mengalami masalah. Strategi ini biasanya diterapkan pada anak jalanan, anak yang bekerja di jalan dan pekerja anak.

f. Strategi ini disebut juga strategi semi panti yang lebih terbuka dan tidak kaku. Strategi ini berbentuk rumah singgah, rumah terbuka untuk berbagai aktifitas, rumah belajar, rumah persinggahan anak dengan keluarganya, rumah keluarga pengganti, atau tempat anak yang mengembangkan sub kultur tertentu.

g. Palayanan dalam strategi ini bersifat makro dan tidak langsung Pekerja sosial merupakan salah satu profesi dibidang kemanusiaan, yang bertugas untuk menolong manusia yang mengalami permasalahan dalam dirinya sehingga tidak dapat berfungsi sosial/social disfungtion pada lingkungan dimana manusia itu tinggal. dalam melakukan pertolongan kepada manusia. Pekerja sosial anak yaitu, pekerja sosial yang bekerja dengan anak dalam hal membantu mengatasi permasalahan yang ada dalam lingkungan anak.

3. Pendekatan berbasis rumah semi panti sosial

Model pendekatan ini digunakan oleh Rumah Perlindungan Sosial Anak Baruga Sayang Anak II Makassar milik Yayasan Anak Mandiri Makassar yang membina 500 anak usia sekolah melalui program “ back to school ”

yaitu:

a. Menyekolahkan 200 anak yang belum bersekolah dan putus sekolah pada beberapa SD maupun SMP di Kota Makassar.

b. Membina 100 anak usia produktif melalui program “ live skill” yaitu memberikan pelatihan keterampilan menjahit, tata rias, perbengkelan dan service HP pada lembaga-lembaga kursus.

c. Untuk 600 keluarga/orang tua anak jalanan melalui program

“pemberdayaan keluarga” yaitu diberikan bantuan sembako dan modal

usaha produktif.

Rumah Perlindungan Sosial Anak Kota Makassar adalah rumah persinggahan anak jalanan dan kelurga/orang tuanya untuk berkonsultasi dengan para pekerja social mengenai perkembangan pendidikan di sekolah maupun lembaga kursus dan para keluarga/orang tuanya mengemukakan permasalahannya baik tentang anaknya maupun usahanya. Rumah semi panti in juga dijadikan tempat bertemunya anak-anak jalanan sekaligus mencegah mereka untuk tidak turun ke jalan lagi.

59

...

B. Fungsi dan Peran Pekerja Sosial Anak

Fungsi-fungsi dasar pekerjaan sosial erat kaitannya dengan keberfungsian sosial dari orang yang ditolong, dalam hal ini adalah keberfungsian anak yang berusia belum 18 tahun termasuk anak yang masih ada dalam kandungan sesuai dengan batasan pengertiannya. Keberfungsian sosial anak menyangkut aktivitas mereka sehari-hari, khususnya aktivitas dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, aktivitas dalam menjalankan peranan dan aktivitas dalam berusaha mengatasi permasalahan yang mereka alami dalam kehidupan. Pertolongan yang diberikan kepada anak jalanan ditujukan untuk membantu terhadap permasalahan yang dialami anak tersebut serta meningkatkan kemampuan anak dan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan baik jasmani, rohani maupun sosial yang dapat mempengaruhi anak dalam melaksanakan peranan sosialnya.

Pekerja sosial dalam program kesejahteraan sosial anak di bagi menjadi 5 (lima) kluster (www.pksa-kemensos.com, Rabu 23/02/11 ), yaitu :

1. Pekerja sosial pendamping Anak yang Berhadapan Dengan Hukum (ABH) Pekerja sosial pendamping ABH membantu klien menangani tekanan situasional dan transisional, Strategi-strategi khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: pemberian harapan, dan pengaturan perasaan-perasaan, pengidentifikasian dan pendorongan kekuatan-kekuatan personal, pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan.

2. Pekerja sosial pendamping Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK)

Pekerja sosial pendamping AMPK bertugas memberikan pelayanan dan dukungan terhadap akses rehabilitatif dan reintegrasi bagi anak yang membutuhkannya, melindungi anak dalam melaksanakan tugas-tugasnya kembali sebagai anak baik di rumah, sekolah maupun situasi kehidupan sosialnya. Memulihkan kondisi fisik, mental akibat tekanan yang dialami anak, mengembangkan relasi sosial untuk anak dengan orang-orang yang ada disekitarnya dan mewujudkan situasi lingkungan yang mendukung keberfungsian sosial anak serta mencegah terulangnya tindak kekerasan, perlakuan salah dan eksploitasi anak.

3. Pekerja sosial pendamping Anak yang Mengalami Kecacatan (AMK)

Yaitu menolong klien dengan cara menyediakan atau memberikan kesempatan dan fasilitas yang diperlukan untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhannya dan mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya

4. Pekerja sosial pendamping anak Jalanan dan Terlantar (AT-AJ)

Pekerja sosial pendamping AT-AJ berperan dalam melindungi dan memberdayakan anak jalanan dan anak terlantar. Melindungi anak jalanan dan anak terlantar dengan cara berpartisipasi aktif dalam meningkatkan peran lembaga-lembaga sosial dan lembaga-lembaga pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap anak jalanan dan anak terlantar. Sedangkan dalam hal

61

...

memberdayakan ialah meningkatkan kemampuan skill anak jalanan dalam bidang tertentu, dengan tujuan para anak jalanan tersebut dapat mandiri secara ekonomi.

5. Pekerja sosial pendamping Anak Balita (AB)

Peran Pekerja sosial sebagai pendamping AB adalah memberikan pelayanan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan balita.

Misalnya memfasilitasi adanya yayasan TPA (Tempat Penitipan Anak), serta arena belajar dan bermain anak terhadap masyarakat miskin agar anak-anak mendapatkan haknya sebagaimana anak-anak yang lain.

Pekerja sosial harus memiliki tiga pilar dalam melakukan intervensi sosial. adapun ketiga pilar tersebut diantarannya adalah:

a. Knowladge merupakan salah satu kerangka utama dalam kegiatan intervensi sosial. landasan ilmu pengetahuan menjadi salah satu syarat seorang pekerja sosial dalam menolong manusia, agar jenis pertolongan yang digunakan tepat dengan sasaran. kajian teori-teori tentang perilaku manusia (behaviour), Psikologi, Sosilogi terapan adalah salah satu syarat knowladge pekerja sosial. pemahaman pekerja sosial terhadap metode dan konsep-konsep pendekatan di teori harus dapat di mengerti. knowladge adalah pembeda antara profesi dibidang kemanusiaan seperti relawan/volunter dan lainnya, sedangkan pekerja sosial dalam melakukan

sistem pertolongan kepada manusia harus dilandasi oleh ilmu penetahuan sebagai basis ilmiah dan profesionalitas sebuah profesi.

b. Skill merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pekerja sosial dalam melakukan sistem pertolongan kepada manusia. kemampuan yang harus dimiliki diatarannya adalah bagaimana cara pekerja sosial dalam menerapkan metode intervensi pada berbagai jenis permasalahan manusia, seperti cara menerapkan intervensi pada anak-anak yang mengalami keterlantaran (child abuse), metode yang digunakan pun berbeda dalam menangani anak penngguna narkoba meskipun obyeknya sama-sama anak. biasannya pada anak-anak yang menagalami keterlantaran dilakukan melalui pendekatan play therapy dalam membangun mental dan psikologisnya karena tekanan sedangkan pada anak pengguna narkoba biasannya dilakukan dengan terapeutic community .Hal ini yang perlu di perhatikan bagaimana kemampuan pekerja sosial menerapkan metode pada permasalahan manusia yang mengalai perbedaan karakter, watak, dan latar belakang.

c. Values merupakan nilai dan etika seorang pekerja sosial dalam melakukan intervensi pada manusia. nilai-nilai tersebut muncul berdasarkan kode etik pekerja sosial seperti halnya; humanis, demokrasi, dan menghargai HAM.

nilai itu akan membatasi bagaimana seorang pekerja sosial melakukan intervensi sosial pada klien sehingga seorang pekerja sosial tidak

63

...

mengangap dirinya seperti superhero yang sok tahu dan berkuasa atas keselamatan hidup klien. kade etik inilah yang menjadi batasan intervensi tersebut.

Tingkat dan bentuk intervensi Pendamping berhubungan dengan kapasitas organisasional dari kelompok anak yang dikembangkan.

Dari hasil wawancara staf seksi rehabilitasi, Peranan pekerja sosial dalam mengembangkan program penanganan anak jalanan dapat dilihat dari berbagai segi. Kunci untuk mencapai efektifitas terletak pada kemampuan pendamping masyarakat untuk menganalisis dan menetapkan prioritas kebutuhan serta mencapai beberapa keseimbangan dalam melakukan tugas secara simultan.

Fungsi utama yang mencerminkan kegiatan pokok dalam rangka mencapai tujuan pendampingan masyarakat adalah :

1. Pengumpulan fakta: mengupayakan diperolehnya landasan kenyataan (fakta) yang memadahi untuk perencanaan dan kegiatan yang baik.

2. Pengembangan Program: yaitu merintis, mengembangkan, menyempurnakan dan mengakhiri program-program dan pelayanan-pelayanan.

3. Standar (pembakuan) : yaitu menentukan, memelihara dan meningkatkan standar serta meningkatkan keefektifan, efisiensi dan keharmonisan pelaksanaan kegiatan kelompok-kelompok, organisasi-organisasi masyarakat, bagian-bagian dari masyarakat dan satuan-satuan penduduk lainnya.

4. Kooperasi dan koordinasi: yaitu meningkatkan dan memperlancar saling hubungan dan meningkatkan kerjasama dan koordinasi upaya-upaya antar perseorangan-perseorangan, kelompok-kelompok serta organisasi-organisasi.

5. Pendidikan : yaitu melaksanakan pendidikan (pendidikan orang dewasa, pendidikan tentang kesejahteraan keluarga, pelatihan ketrampilan, pelatihan administrasi praktis dan sebagainya) untuk kepentingan pencapaian tujuan bimbingan sosial, dan untuk tujuan meningkatkan serta mengembangkan potensi anak jalanan dalam hal kualitas (mutu) kesadaran pada diri sendiri, kemampuan mengatasi masalah, kemampuan mengatur dan mengendalikan diri sendiri, kemampuan bekerjasama dan kepemimpinan.

6. Hubungan masyarakat: yaitu mengembangkan pemahaman yang lebih baik dari anak jalanan secara keseluruhan tentang kebutuhan-kebutuhan, sumber-sumber, tujuan-tujuan yang akan dicapai, pelayanan-pelayanan, metode-metode yang digunakan dan standar (ukuran-ukuran) yang seharusnya.

7. Peningkatan: yaitu meningkatkan dan mengupayakan agar tujuan-tujuan khusus yang akan dicapai atau usulan-usulan program pemecahan masalah disepakati secara resmi atau diinginkan/disenangi oleh anak jalanan.

8. Partisipasi: mengerahkan dan memelihara keikutsertaan secara aktif dari perseorangan-perseorangan atau kelompok-kelompok dalam berbagai kegiatan dan organisasi-organisasi yang berkaitan dengan anak.

65

...

9. Pemberian dukungan: yaitu mengembangkan dan mengupayakan kelangsungan dukungan keuangan secara memasahi dari organisasi-organisasi dan orang-orang yang terlibat terkait dengan upaya-upaya kesejahteraan sosial.

10. Organisasi massa : yaitu mengembangkan dan mengupayakan kelangsungan kerja organisasi massa agar bertindak secara efektif dalam kaitannya dengan usaha-usaha menumbuhkan kemandirian, usaha-usaha untuk mencapai tujuan-tujuan kegiatan sosial dan usaha-usaha untuk meningkatkan atau menyempurnakan saling hubungan antar organisasi atau kelompok.

Tujuan akhir dari program pendampingan Pembinaan terhadap anak adalah untuk membantu mereka agar mampu membuat keputusan sendiri. Kunci agar pelayanan berjalan efektif terletak pada kemampuan Pekerja Sosial untuk menganalisis dan menetapkan prioritas kebutuhan serta mencapai beberapa keseimbangan dalam melakukan tugas secara berkesinambungan. Dan membantu dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) anak jalanan.

C. Kendala Yang diHadapi Dalam Meningkatkan SDM anak Jalanan diKota Makassar

Adapun faktor penghambat atau kendala-kendala yang dihadapi Dinas Sosial dalam meningkatkan kualitas SDM anak jalanan doKota Makassar yaitu:

a. Kurangnya tenaga sosial

b. Kurangnya koordinasi antara instansi terkait yang menangani anak jalanan

c. masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghilangkan budaya char ity dalam menanggulangi anak jalanan di Kota Makassar.

d. Selain itu, dirasakan belum didapatkan model dan pendekatan yang tepat dan efektif, sehingga terkesan penanganan anak jalanan masih bersifat charitatif saja.

e. Arah pengentasan berbasis hak hidup, hak tumbuh kembang, hak mendapatkan perlindungan dan hak berpartisipasi belum tampak.

f. Demikian juga, gagasan untuk menetapkan Kota Makassar sebagai Kota Layak Anak masih dalam wacana.

Namun endala tersebut dapat di minimalisir melalui program-program yang telah diprogramkan oleh Dinas Sosial Kota Makassar, dalam meningkatkan Kualitas SDM anak jalanan.

67 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas maka dapat di simpulkan bahwa:

1. Peranan Dinas Sosial dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya manusia (SDM) anak jalanan sangat tinggi dan itu di lihat dari capaian program yang di bina menjadi anak yang terampil dan mampu mengurangi jumlah anak jalanan di Kota Makassar.

2. Kendala Dinas Sosial dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) anak jalanan yakni banyaknya pendatang baru dari luar Makassar menjadi anak jalanan di Kota Mnakassar.

B. SARAN

1. Diharapkan Pemerintah Kota Makassar dalam hal ini Dinas Sosial Kota Makassar lebih memperhatikan perencanaan program serta penajaman program sehingga ketika di berikan program pmbinaan maka akan sesuai dengan kebutuhan mereka.

2. Diharapkan Pemerintah Kota dalam hal ini Dinas Sosial Kota Makassar dapat meminimalisir kendala yang ada dan lebih mengkaji secara khusus mengenai anak jalanan walaupun hal tersebut membutuhkan jangka waktu yang lama.

Hasmaniati. 2014. Model Pembinaan Anak Jalanan di Kota Makassar. Makassar:

Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan UNM Makassar

Kementerian Sosial RI, 2011. Panduan Praktis Pendampingan dalam Rehabilitasi Sosial Gelandangan dan Pengemis. Jakarta

MA. SH. Soedjito S, Prof. 1987. Aspek Sosial Budaya dalam Pembangunan Pedesaan. Yogyakarta: PT. Tirta Wacana

Moleong, J.Lexy. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muhammad, Abdussalam Subhi. 2009. Langkah Mudah Gali Potensi si Buah Hati. Solo: Pustaka Iltizam

Rukminto, Isbandi Adi. 2008. Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Rajagrafindo Persada Sayogyo, Pudjawati. 1985. Peranan dalam perkembangan Masyarakat. Jakarta:

CV. Rajawali

Soerjono, soekamto.1986. Sosiologi Suatu Pengantar. Edisi ke-2. Jakarta:

Rajawali Pers

Soyomukti, Nurani. 2010. Pengantar Sosiologi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Sumantri, Iwan. 2004. Kepingan Mezaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan.

Penerbit: Ininnawa

Sugiono. 2013. Metode Penelitian Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikoligi Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada Sutrisno, Edy. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana

Prenada Media Group.

Tukijan, Eddy. 2009. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

UU RI No.3. 1997. Peradilan Anak. Jakarta: Sinar Grafika

http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/224/jiptummpp-gdl-s1-2007-ariffriant-11164 1.+PENDA-N.pdf

RIWAYAT HIDUP

Jumriani, dilahirkan di Bontorappo pada tanggal 19 Juli 1992, dari pasangan suami – istri Baharuddin dan Rohani. Penulis merupakan anak pertama dari Enam bersaudara. Agama yang dianut adalah agama islam.

Penulis memasuki jenjang pendidikan pada SD Negeri No.8 Bontorappo tahun 1998 dan tamat pada tahun 2004. Pada tahun yang sama yakni 2004 penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Menengah Pertama di MTS Sarappo Kemudian Pindah ke SLTP Negeri 1 Arungkeke dan tamat pada tahun 2007.

Dan pada tahun 2007 melanjutkan ke Sekolah Madrasyah MAN Binamu Jeneponto (Aliyah Romanga) di Kec.Binamu, Kab. Jeneponto dan tamat pada tahun 2010. Dan pada tahun yang sama 2010 penulis mendaftarkan diri disalah satu Perguruan Tinggi Swasta ( PTS ) yaitu Universitas Muhammadiyah Makassar dan diterima pada Jurusan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Pada tahun 2014 penulis berhasil menyelesaikan pendidikan pada program Strata Satu pada program Studi Sosiologi dengan skripsi yang berjudul “ Peranan Dinas Sosial Kota Makassar dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Anak Jalanan di Kota Makassar”.

Dokumen terkait