• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanggulangan .1 Pencegahan.1 Pencegahan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Remaja

7. Persalinan prematur, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan kelainan bawaan Kekurangan zat yang dibutuhkan saat pertumbuhan janin ketika dalam

2.2.5 Penanggulangan .1 Pencegahan.1 Pencegahan

Dengan memperhatikan faktor–faktor yang dapat menyebabkan kehamilan remaja maka langkah–langkah yang perlu dilakukan adalah :

1. Melakukan pendidikan seksual pada anak dan remaja

Penyampaian materi pendidikan seksual dapat dilakukan di rumah maupun di sekolah. Di sini peranan orang tua dan masyarakat sangat diharapkan, terutama untuk dapat memberikan informasi yang dibutuhkan para remaja mengenai kesehatan reproduksinya dan juga apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan reproduksinya. Sebelum usia 10 tahun pendidikan seksual bisa diberikan secara bergantian tetapi ibu umumnya lebih berperan, menjelang akil baligh, saat sudah terjadi proses diferensiasi jenis kelamin dan muncul rasa malu, sebaiknya ibu memberikan penjelasan kepada anak perempuan dan ayah kepada anak laki–laki (Rosa, 2012).

2. Meningkatkan pengetahuan agama bagi remaja.

Penegakan norma agama dan norma sosial lainnya juga harus diupayakan secara maksimal untuk mencegah para remaja untuk melakukan hubungan yang terlalu bebas yang dapat menyebabkan kehamilan. Pemberian pengetahuan agama pada anak sejak usia dini sampai akil baligh akan sangat besar pengaruhnya dalam mencegah terjadinya hubungan seksual pra nikah (Rosa, 2012).

3. Meningkatkan perhatian kedua orang tua terhadap anak–anaknya.

Pada saat ini hubungan antara orang tua dan anak mulai kurang karena keduanya sibuk bekerja dari pagi hingga sore, sehingga sedikit sekali waktu yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan anak. Untuk orang tua diharapkan

16

khususnya yang bekerja agar bisa menyisihkan waktunya dalam membina anak– anaknya, minimal pada waktu makan malam bersama dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi (Rosa, 2012).

4. Menunda hubungan seks bagi remaja yang terlibat pacaran.

Remaja juga harus dituntut untuk mengisi kegiatan sehari–harinya dengan kegiatan yang bermanfaat seperti olah raga, kesenian dan juga belajar. Selama pacaran remaja harus dihindarkan untuk bercumbu secara berlebihan, karena hal itu juga akan memancing mereka untuk melakukan tindakan yang lebih jauh lagi dan akhirnya melakukan persenggamaan (Rosa, 2012).

2.2.5.2 Pengobatan

Kehamilan yang dialami remaja adalah kehamilan yang beresiko tinggi. Karena itu remaja yang hamil harus memeriksakan kehamilannya secara intensif. Dengan demikian kelainan dan hal–hal yang menyulitkan nantinya dapat segera dicegah dan diobati, sehingga proses kehamilan dan persalinan dapat dilalui dengan baik (Rosa, 2012).

1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Menurut WHO, kehamilan remaja adalah kehamilan yang berlaku pada wanita yang berusia 11-19 tahun. Dalam beberapa dekade terakhir ini, kehamilan remaja telah menjadi masalah kesehatan yang penting bukan sahaja di kalangan remaja malah juga di sejumlah besar negara maju dan negara berkembang. Namun, kehamilan di usia remaja adalah bukan sebuah fenomena baru. Hal ini karena masyarakat di daerah besar dunia misalnya Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Utara mengikuti tradisi menikah pada usia muda secara turun-temurun (WHO, 2004).

MenurutWorld Health Organisation, telah ada penurunan tajam dalam tingkat kehamilan di kalangan remaja perempuan sejak tahun 1990, tetapi sebanyak 11% dari semua kelahiran di seluruh dunia masih terjadi pada perempuan berusia 15 sampai 19 tahun. Sebagian besar kelahiran ini (95%) terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan sedang. (WHO,2014)

2014 World Health Statistics menunjukkan bahwa angka kejadian kehamilan

remaja di dunia di kalangan wanita yang berusia 15 sampai 19 tahun adalah 49 per 1.000 perempuan. Angka kejadian kehamilan remaja di Indonesia adalah 48 per 1.000 perempuan. Angka kejadian kehamilan remaja di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan 6 di Malaysia dan 41 di Thailand (World Bank Group).

Menurut laporan Riskesdas 2013, dikemukakan bahwa 2,6 persen perempuan di antara usia 10-54 tahun menikah pertama kali pada umur kurang dari 15 tahun dan 23,9 persen perempuan menikah pada umur 15-19 tahun. Salah satu masalah kesehatan reproduksi adalah menikah pada usia dini. Hal ini karena jangka masa seorang perempuan untuk bereproduksi lebih panjang jika menikah pada usia muda. Angka kehamilan penduduk perempuan 10-54 tahun adalah 2,68 persen.

2

Terdapat kehamilan pada umur kurang dari 15 tahun sebanyak 0,02% dan kehamilan pada umur 15-19 tahun sebesar 1,97 persen (Riskesdas, 2013). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa 12,8 persen perempuan usia 15-19 tahun sudah menikah. Pernikahan remaja terbanyak terjadi di pedesaan pada perempuan berstatus pendidikan rendah dan berasal dari keluarga berstatus ekonomi rendah.

Kehamilan dan komplikasi persalinan merupakan penyebab kematian remaja yang berusia antara 15 – 19 tahun. Cara aborsi tidak aman yang berlangsung setiap tahun di kangan remaja berusia 15 – 19 tahun memberi kontribusi dalam kematian ibu dan masalah kesehatan yang berterusan. Namun, terjadi penurunan yang signifikan dalam jumlah kematian sejak tahun 2000, terutama di Asia Tenggara di mana angka kematian remaja menurun dari 21 menjadi 9 per 100 000 perempuan. Hamil pada usia muda meningkatkan risiko pada kedua ibu dan anaknya. Bayi yang lahir pada ibu yang berumur kurang dari 20 tahun mempunyai 50 % risiko lebih tinggi untuk mati dalam beberapa minggu pertama dari bayi yang lahir pada ibu yang berumur lebih dari 20 tahun. Bayi yang lahir pada ibu remaja lebih cenderung mempunyai berat badan lahir rendah (BBLR) dengan risiko efek jangka panjang (WHO, 2014).

Angka kematian ibu (AKI) mengacu pada jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Sumatera Utara, 2012). Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, 2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan tahun 1991, yaitu sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan Direktorat Kesehatan Ibu (2013), penyebab terbesar kematian ibu selama 2010-2013 adalah tetap sama yaitu akibat perdarahan (Kemenkes, 2014).

3

Semakin muda usia seorang ibu ketika hamil, semakin besar risiko terhadap kesehatannya. Sebuah penelitian yang dilakukan di Latin America menunjukkan bahwa perempuan yang melahirkan sebelum usia 16 tahun, tiga hingga empat kali lebih mungkin menderita kematian dari wanita yang melahirkan pada usia 20 tahun (UNICEF, 2011). Komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan seperti gugur kandungan atau aborsi, pre eklampsia, eklampsia, dan berat bayi lahir rendah merupakan penyebab terjadinya kematian ibu hamil (BKKBN, 2012).

Bagi beberapa remaja, kehamilan dan persalinan telah direncanakan dan diinginkan terlebih dahulu, tetapi bagi kebanyakannya tidak. Kehamilan remaja lebih cenderung terjadi pada masyarakat miskin, tidak berpendidikan dan dari pedalaman. Di beberapa negara, kehamilan di luar nikah merupakan suatu hal yang tidak jarang. Sebaliknya, beberapa gadis mungkin menghadapi tekanan sosial untuk menikah dan, setelah menikah, untuk memiliki anak. Lebih dari 30% anak perempuan di negara-negara berpenghasilan rendah dan sedang menikah sebelum mereka berusia 18 dan sekitar 14% sebelum mereka berusia 15 (WHO, 2014).

Pendidikan seks yang kurang di kebanyakan negara menyebabkan beberapa gadis tidak tahu cara menghindari hamil. Mereka mungkin merasa terlalu malu untuk mencari layanan kontrasepsi, kontrasepsi mungkin terlalu mahal atau tidak banyak atau secara hukum tidak tersedia. Bahkan ketika kontrasepsi yang banyak tersedia, remaja perempuan yang aktif secara seksual cenderung menggunakannya daripada orang dewasa (WHO, 2014). Gadis mungkin tidak dapat menolak seks yang tidak diinginkan, yang cenderung tidak terlindungi karena kebanyakan orang memulai aktivitas seksual pada masa remaja, dimana anak laki-laki lebih awal dibandingkan anak perempuan (WHO,2012).

Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan peneliti di Puskesmas Padang Bulan Selayang II, didapati bahwa terdapat kasus kehamilan remaja, sehingga

4

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Kehamilan Remaja di Puskesmas Padang Bulan Selayang II pada Tahun 2015.

Dokumen terkait