BAB XI SUNGAI DAN DANAU
C. Penanggulangan Pencemaran Sungai dan Danau
Pencemaran air sungai dan danau yang sangat merugikan tersebut harus dicarikan jalan keluar. Lembaga di Jawa Timur yang memiliki kewenangan dan komitmen tinggi dalam menanggulangi pencemaran air sungai dan danau adalah BLH Jatim dan Perum Jasa Tirta I Malang. Upaya penanggulangan pencemaran bertujuan agar air sungai dan danau senantiasa dalam kondisi bersih, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menopang kehidupan penduduk secara berkelanjutan. Beberapa cara penanggulangan dapat dilakukan dengan melakukan pengendalian antara lain:
1. Pengendalian Pencemaran Di Masyarakat (IPAL Kolektif)
Pengendalian pencemaran air di masyarakat penting digalakkan karena kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini kepedulian masyarakat yang masih rendah. Rendahnya kepedulian masyarakat pada
Bab XI Sungai dan Danau 78
pengelolaan limbah dan sampah selain disebabkan oleh rendahnya kesadaran hidup bersih, juga kurangnya dorongan dan perhatian dari pemerintah. Pemerintah Kabupaten Gresik telah mencoba mengatasi masalah tersebut dengan program pengolahan sampah di Desa Driyorejo. Program itu diawali dengan kegiatan pelatihan pengolahan sampah. Dalam kegiatan pelatihan tersebut, para peserta pelatihan harus menyusun program untuk diimplementasikan selama setahun. Contoh hasil kegiatan tersebut adalah peserta berhasil mencetuskan Program Desi atau Desa Bersih Hijau lestari di Desa Cangkir dan Proyek Dadar Guling atau Desa Sadar dan Peduli Lingkungan di Desa Driyorejo. Kabupaten Gresik.
2. Pengendalian Pencemaran Industri (Pabrik)
Pengendalian pencemaran yang berasal dari pabrik harus dilakukan karena pabrik merupakan sumber pencemar sungai dan danau yang sangat membahayakan. Pembuangan limbah dalam jumlah besar oleh pabrik benar-benar sangat merusak kualitas air dan lingkungan sungai/danau. Pengendalian pencemaran dari pabrik bersifat wajib karena hal ini sudah diatur dalam UU Lingkungan Hidup dan berbagai Kepmen LH, bahkan Perda Gubernur juga mengatur tentang tata cara pembuangan limbah dan berbagai sangsi pelanggarannya.
Untuk mengendalikan pencemaran sungai/danau, setiap pabrik wajib memiliki dan mengoperasikan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL). Pembangunan IPAL ini merupakan suatu bentuk upaya pengelolaan limbah yang wajib dilakukan oleh setiap industri yang potensial menimbulkan pencemaran lingkungan hidup. Selain itu pabrik juga wajib melakukan pemantauan atas pencemaran yang mereka lakukan. Untuk melaksanakan hal itu setiap pabrik wajib memiliki dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan dokumen UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan).
Bab XI Sungai dan Danau 79
3. Pengurangan Penggunaan Pupuk dan Isektisida
Limbah pertanian yang berasal dari pupuk kimia dan obat pemberantasan hama sangat mengganggu lingkungan sungai/danau. Gangguan pencemaran yang sering timbul berupa kelebihan nutrisi (N,P,K) pada air sungai/waduk. Kelebihan nutrisi ini berdampak pada terjadinya pertumbuhan gulma air seperti enceng gondok yang sangat cepat. Hal ini merugikan karena banyaknya enceng gondok sangat mengganggu pemanfaatan sungai/danau untuk transportasi/rekreasi/ estetika dan sebagainya; disamping itu enceng gondok juga mengakibatkan proses pendangkalan sungai/danau berlangsung lebih cepat. Contoh pertumbuhan enceng gondok adalah di hilir Kali Brantas yaitu di Kali Mas Surabaya.
Untuk mengendalikan pencemaran yang berasal dari limbah pertanian, maka sekarang tengah digalakkan pemakaian pupuk organik dan obat pemberantasan hama yang ramah lingkungan. Pupuk organik terutama berupa pupuk kompos dan pupuk kandang, sedangkan obat pemberantasan hama tanaman dibuat dari tumbuhan tertentu. Pupuk dan insektisida buatan ini pada beberapa kasus cukup dapat dihandalkan, tetapi masih perlu upaya pengembangan secara terus-menerus. Oleh karena penggunaan pupuk dan insektisida ini belum maksimal, maka upaya pengembangan dan pemasyarakatannya perlu terus dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah, agar penggunaan pupuk dan insektisida yang ramah lingkungan bisa menjadi kebiasaan para petani.
D. Rangkuman
Pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitasnya di berbagai bidang kehidupan yang ditopang dengan teknologi tinggi, telah berakibat pada terjadinya kerusakan dan pencemaran sungai dan danau. Sumber pencemaran sungai dan danau berasal dari limbah industri (industrial waste), limbah rumah tangga (domestic waste), limbah pertanian (agriculture waste), dan limbah pertambangan (mining waste).
Bab XI Sungai dan Danau 80
Pencemaran sungai/danau kota-kota besar di Indonesia rata-rata 60 persen berasal limbah domestik, yakni dari sanitasi, sampah, dan detergen. Selain itu, industri juga turut menyumbang 30 persen pencemaran air melalui pembuangan limbah cair ke sungai, sedangkan 10 persennya berasal dari limbah lainnya seperti dari pertanian dan peternakan. Pencemaran tersebut dapat dikurangi melalui pengendalian sumber pencemaran di masyarakat, pabrik/industri, dan lahan pertanian.
E. Kasus/Permasalahan
Coba amati sungai/danau yang ada di sekitar tempat tinggal dan sekolahmu, kemudian renungkan!
1. Jelaskan apakah sungai/danau tersebut telah mengalami pence- maran? Ceritakan kondisinya!
2. Jelaskan sumber pencemar apa saja yang yang mencemari sungai/ danau tersebut?
3. Jelaskan apakah tingkat pencemarannya sudah sangat mempri- hatinkan ?
4. Jelaskan apa saran kalian untuk memperbaiki kondisi air sungai/danau tersebut!
5. Sebutkan 3 sungai yang mengalir di Jawa Timur? 6. Manfaat apa sajakah dari sumberdaya sungai itu?
7. Di manakah mata air sungai Brantas dan di manakah muaranya? 8. Kota/kabupaten mana sajakah yang dilewati sungai Brantas?
9. Bolehkah air sungai digunakan sebagai bahan baku air minum? Jika boleh bagaimana caranya dan jika tidak boleh apa sebabnya?
Daftar Pustaka 81
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Panduan Penge- nalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Leaflet Set. BAKORNAS PBP dan Gunungapi. Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi 2006).
http://staff.undip.ac.id/ (Online, diakses 15 Oktober 2009).
Kumar, A.D. 1986. Environmental Chemistry. India: Mohender Singh Sejwal.
Manahan, S.B. 1983. Environmental Chemistry. Boston: Willard Grant Press.
Maulana. 2009. Tsunami Asia Tenggara. http//:maul4n4.multiply. com/ journal/item) Diakses 14 Oktober 2009.
Moore, J.W., and Moore, E.A. 1976. Environmental Chemistry. New York: Academic Press.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Rahardjo, S., Dina, L., dan Suyono. 2006. Pengendalian Dampak Ling- kungan. Surabaya: Penerbit Airlangga.
Sutikno, 1985. Dampak Bencana Alam terhadap Lingkungan Fisik.
Makalah, disampaikan dalam acara Ceramah Ilmiah Lingkungan
dalam rangka HUT MAPA GEGAMA Fakultas Geografi UGM. Yogyakarata 1985.
Zuidam, van and Cancelado. F.I. 1979. Terrain Analisys. ITC-Enchede The Netherlands.