D Penangkapan Menurut Hukum Acara Pidana
1. Penangkapan biasa atau Penangkapan dalam hal tidak tertangkap tangan
1. Penangkapan biasa atau Penangkapan dalam hal tidak tertangkap tangan.
a) Pengertian penangkapan
Pengertian penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini (Pasal 1 butir 20 KUHAP).
b) Alasan dilakukan Penangkapan
Alasan dilakukannya penangkapan antara lain guna mendapatkan waktu yang cukup untuk mendapatkan informasi yang akurat. Seseorang ditangkap apabila diduga keras melakukan tindak pidana dan ada dugaan kuat yang didasarkan pada permulaan bukti yang cukup.Hal ini menunjukkan perintah penangkapan tidak dapat dilakukan dengan sewenang-wenang.29 Ketentuan mengenai penangkapan dalam KUHAP amat berbeda dengan ketentuan dalam HIR, dahulu penangkapan dilakukan tanpa adanya bukti sehingga tidak terdapat kepastian hukum.30 Syarat lain untuk melakukan penangkapan harus didasarkan pada kepentingan penyelidikan atau
29 Rusli Muhammad, Op Cit, hal.26..
30 Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penarapan KUHAP: Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hal.158
49
penyidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 16 KUHAP. Dalam hal kepentingan penyelidikan tetap harus ada dugaan keras terhadap tersangka sebagai pelaku tindak pidananya yang berdasarkan bukti permulaan yang cukup.31
Mengenai bukti permulaan yang cukup, KUHAP tidak mengaturnya, melainkan diserahkan kepada penyidik untuk menentukannya.Menurut Kapolri dalam SKEP/04/I/1982 tanggal 18 Februari 1982, bukti permulaan yang cukup merupakan keterangan dan data yang terkandung dalam laporan polisi; berkas acara pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP); laporan hasil penyelidikan; keterangan saksi/ahli dan barang bukti.32 Sedangkan menurut Yahya Harahap pengertian “bukti permulaan yang cukup”
hampir serupa dengan apa yang dirumuskan dalam Pasal 183 KUHAP, yakni berdasarkan prinsip batas minimal pembuktian yang minimal terdiri dari dua alat bukti.33 Sedangkan menurut Rapat Kerja Makehjapol tanggal 21 Maret 1984 menyimpulkan bukti permulaan yang cukup minimal laporan polisi ditambah salah satu alat bukti lainnya.34
c) Prosedur Penangkapan
31 Ibid., hal.159
32 Ahmad Zakaria, “Kode Sumber (Source Code) Website Sebagai Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Terorisme di Indonesia (Studi Kasus Website Anshar.net)”, (Skripsi Fakultas HukumUniversitas Indonesia, Depok 2007), hal.103
33 Yahya Harahap, op.cit, hal.158. 56. 57.
34 Darwan Prints, Hukum Acara Pidana Dalam Praktik, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1998,hal. 54
50
Mengenai cara pelaksanaan penangkapan, terdapat dua pembahasan yakni petugas yang berwenang melakukan penangkapan serta syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan penangkapan. Petugas yang berwenang melakukan penangkapan adalah Polisi Republik Indonesia (Polri) sebagaimana diatur dalam Pasal 18 KUHAP.Jaksa penuntut umum tidak berwenang melakukan penangkapan kecuali dalam kedudukannya sebagai penyidik.35Petugas keamanan seperti satpam atau hansip juga tidak berwenang melakukan penangkapan, kecuali dalam hal tangkap tangan, sebab dalam kasus tangkap tangan setiap orang berhak melakukan penangkapan.36
Pelaksanaan penangkapan menurut Drs.DPM Sitompul, SH dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:37
i. Penangkapan Tanpa Surat Perintah Pada dasarnya setiap orang dapat melakukan penangkapan dengan syarat dalam keadaan tangkap tangan. Tangkap tangan menurut Pasal 1 butir 19 KUHAP adalah tangkapnya seseorang saat sedang melakukan tindak pidana; dengan segera setelah dilakukannya tindak pidana; sesaat setelah masyarakat meneriaki pelaku tindak pidana; dan setelah ditemukan benda yang diduga keras digunakan untuk melakukan tindak pidana, dimana benda tersebut menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau melakukan tindak pidana tersebut. Setelah dilakukan penangkapan tanpa surat perintah, polisi harus memperhatikan hal-hal ketentuan dalam Pasal 111, Pasal 18 ayat (2), Pasal 5 ayat (2) KUHAP. 2.
35 Pasal 18 KUHAP
36 Ibid., Pasal 111
37 DPM Sitompul, Polisi dan Penangkapan, Bandung: Tarsito, 1985, hal.10
51
Penangkapan Dengan Surat Perintah Syarat penangkapan dengan surat perintah adalah sebagaimana syarat penangkapan pada umumnya yang dinilai sah apabila memenuhi syarat yang telah ditentukan peraturan perundang-undangan sebagai berikut:38
ii. Petugas yang diperintahkan melakukan penangkapan harus membawa surat perintah penangkapan. Surat perintah penangkapan merupakan syarat formal yang bersifat imperatif. Hal ini demi kepastian hukum dan menghindari penyalah gunaan jabatan serta menjaga ketertiban masyarakat.
iii. Surat perintah penangkapan harus diperlihatkan kepada orang yang disangka melakukan tindak pidana. Surat tersebut berisi :
i) Identitas tersangka, seperti nama, umur, dan tempat tinggal. Apabila identitas dalam surat tersebut tidak sesuai, maka yang bersangkutan berhak menolak sebab surat perintah tersebut dinilai tidak berlaku
ii) Alasan penangkapan, misalnya untuk pemeriksaan atas kasus pencurian dan lain sebagainya.
iii) Uraian singkat perkara kejahatan yang disangkakan terhadap tersangka, misalnya disangka melakukan kejahatan pencurian sebagaimana diatur dalam Pasal 362 KUHP.
iv) Tempat pemeriksaan dilakukan. Salinan surat perintah penangkapan harus diberikan kepada keluarga tersangka segera setelah penangkapan dilakukan, pemberitahuan tidak dapat diberikan secara lisan. Apabila salinan surat perintah penangkapan tidak diberikan kepada pihak keluarga, mereka dapat mengajukan pemeriksaan Praperadilan tentang ketidakabsahan penangkapan sekaligus dapat menuntut ganti kerugian.39 Selain surat perintah penangkapan, aparat yang bersangkutan harus dilengkapi dengan surat perintah tugas yang ditandatangani oleh kepala polisi atau pejabat yang ditunjuk selaku penyidik. Isi surat perintah tugas antara lain,
38 Yahya Harahap, op.cit., hal.159-160.
39 Pasal 18 ayat (1) dan (3)
52
pertimbangan dan dasar penangkapan; nama, pangkat, nrp, jabatan dan kesatuan tugas; tugas yang harus dilakukan; batas waktu berlakunya perintah tugas serta keharusan untuk membuat laporan hasil penangkapan bagi aparat yang diberi surat perintah tugas.40 Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana yang diatur dalamPasal 17 KUHAP.Mengenai bukti permulaan yang cukup, KUHAP tidak mengaturnya, melainkan diserahkan kepada penyidik untuk menentukannya.Menurut Kapolri dalam SKEP/04/I/1982 tanggal 18 Februari 1982, bukti permulaan yang cukup merupakan keterangan dan data yang terkandung dalam laporan polisi; berkas acara pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP); laporan hasil penyelidikan; keterangan saksi/ahli dan barang bukti.41Sedangkan menurut Rapat Kerja Makehjapol tanggal 21 Maret 1984 menyimpulkan bukti permulaan yang cukup minimal laporan polisi ditambah salah satu alat buktilainnya.42
d) Berakhirnya Penangkapan
Batas waktu penangkapan ditentukan dalam Pasal 19 ayat (1) KUHAP, yaitu dilakukan untuk maksimum satu hari.Berdasarkan ketentuan ini seseorang hanya dapat dikenakan penangkapan tidak boleh lebih dari satu hari.Lebih dari satu hari, berarti sudah terjadi pelanggaran hukum dan dengan sendirinya penangkapan dianggap tidak sah. Konsekuensinya tersangka harus dibebaskan
40 Sitompul, op.cit., hal.16.
41 Ahmad Zakaria, op.cit., hal.103.
42 Darwan Prints, op.cit., hal.51.
53
demi hukum.Jika batas waktu itu dilanggar, tersangka, penasehat hukumnya atau keluarganya dapat meminta pemeriksaan pada praperadilan tentang sah atau tidaknya penangkapan dan sekaligus dapat menuntut ganti rugi.43
Batasan lamanya penangkapan yang sangat singkat itu akan menjadi masalah bagi pihak penyelidik, terutama di tempat-tempat atau daerah yang transportasinya sangat sulit, apalagi jika daerah masih tertutup dari sarana komunikasi. Keadaan yang demikian tidak memungkinkan dalam waktu satu hari dapat menyelesaikan urusan penangkapan dan menghadapkan tersangka kepada penyidik.44
Berkaitan dengan batas waktu penangkapan tersebut yang berakibat pada susahnya proses peneyelidikan,maka adapun jalan kelauarnya sebagai berikut.:
i. Penangkapan dilakukan atau dipimpin oleh penyidik agar segera dapat dilakukan pemerikasaan di tempat yang terdekat;
ii. Jika penangkapan dilakukan oleh penyelidik, pejabat penyidik mengeluarkan surat perintah kepada penyelidik untuk membawa dan menghadapkan orang yang ditangkap kepada penyidik. Namun, beberapa jalan tersebut tetap mengalami kesulitan, terutama terkait kewajiban penyidik untuk menyampaikan Salinan surat perintah penangkapan kepada keluarga tersangka.45 Penangkapan hanya diberikan kepada pelaku kejahatan sementara terhadap pelaku pelanggaran tidak dapat dilakukan penangkapan, kecuali dalam hal ia telah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak memenuhi panggilan itu tanpa alasan yang sah.46
43 Pasal 1 angka 10 jo. Pasal 95 ayat (1) KUHAP
44 Rusli Muhammad, op.cit., hal.28.
45 Yahya Harahap, op.cit., hal.161. 662
46 Pasal 19 ayat (2) KUHAP
54 e). Konsekuensi penangkapan
Permasalahan yang ada (PP-KUHAP halaman 60-61) dalam soal ini antara lain adalah sebagai berikut:
1) Undang-undang tidak memberikan definisi/pengertian apa itu “bukti permulaan”. Keseragaman penafsiran ini perlu guna menghindar terjadinya hal yang tidak kita inginkan. Sebab bisa terjadi sesuatu hal oleh penyidik dianggap sebagai bukti permulaan, tetapi oleh hakim praperadilam yang memeriksa sah tidaknya penangkapan, sesuatu hal itu bukan atau belum dikategorikan sebagai bukti permulaan yang cukup untuk menduga seseorang bahwa ialah pelakunya. Sebab apabila kekuatan hukum pembuktian dari alat bukti pada tahap penyidikan gradasinya akan dipersamakan dengan alat pembuktian pada tahap penuntutan dan pengadilan, besar kemungkinan penyidikanakan mengalami hambatan. Sehubungan dengan hal tersebut perlu diartikan bahwa KUHAP menyerahkan kepada praktik, dengan memberikan kelonggaran kepada penyidik untuk menilai berdasarkan kewajaran apakah sesuatu hal itu merupakan alat bukti permulaan atau bukan . 2) Masa penangkapan satu hari sebagaimana ditentukan dalam Pasal 19
ayat 1 akan menimbulkan masalah dalam praktik, khususnya bagi sektor kepolisian yang jauh terpencil, hubungan sulit, sarana komunikasi dan telekomunikasi tidak ada/terbatas serta masih tradisional. Pemecahan terhadap masalah tersebut ada beberapa alternatif, antara lain sebagai berikut:
55
i. Bila penangkapan dilakukan oleh penyidik ,maka penyidik agar mengeluarkan surat perintah kepada penyelidik untuk membawa dan menghadapkan orang yang ditangkap, kepada penyidik. Bila orang itu melawan perintah dan diperlakukan sekali, bisa dilakukan pembatasan-pembatasan tertentu, misalnya dengan memaksa atau dengan diborgol. Jadi yang dikeluarkan oleh penyidik jangan perintah penangkapan, melainkan surat perintah membawa dan menghadapkan seseorang kepada penyidik (vide Pasal 5 ayat 1 huruf b angka 4).
ii. Masalah masa penangkapan satu hari (Pasal 19 ayat 1 KUHAP). Maksud ketentuan bahwa masa penangkapan paling lama adalah satu hari (dalam Pasal 19 ayat 1), ialah agar setelah diadakan penangkapan terhadap tersangka, penyidik segera dapat memeriksa dan dalam satu hari telah dapat diperoleh hasilnya untuk ditentukan apakah penangkapan tersebut akan dilanjutkan dengan penahanan atau tidak.
Berhubungan dengan itu khusus bagi daerah-daerah yang terpencil yang jauh dari tempat kedudukan penyidik sehingga tidak mungkin untuk mengadakan pemeriksaan dalam satu hari, maka perlu dikeluarkan 2 macam surat perintah, yakni:
56
1) Surat perintah dari penyidik kepada penyelidik untuk membawa dan menghadapkan tersangka kepada penyidik.
2) Surat perintah penangkapan yaitu yang diberikan setelah tersangka sampai di tempat kedudukan penyidik untuk segera dapat disusul dengan pemeriksaan oleh penyidik, sehingga dalam satu hari telah diperoleh hasilnya untuk penetuan tindakan lebih lanjut.
Berdasarkan Pasal 19 ayat 2, pelaku pelanggaran tidak diadakan penangkapan, kecuali dalam hal ia telah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak memenuhi panggilan tanpa alasan yang sah, ia dapat dibawa kekantor polisi dengan paksa guna dilakukan pemeriksaan. Bila hal ini dihubungkan dengan Pasal 21 ayat 4 khusus untuk pelanggaran Pasal 506 KUHP justru dapat dikenakan penahanan. Dengan demikian ada kekurang serasian, sehingga dalam pelaksanaannya nanti perlu ada keseragaman pendapat atau pengertian bersama bahwa itu adalah ketentuan Undang-Undang.
Permasalahan lain dari penangkapan ialah persyaratan/keharusan adanya bukti permulaan yang cukup untuk menduga seseorang itu pelaku tindak pidana, kemungkinan yang harus dipertimbangkan bersama adalah timbulnya keresahan masyarakat karena merasa tidak aman dan tenteram sehubungan dengan berkeliarannya penjahat-penjahat di dalam masyarakat, sedangkan penyidik tidak mempunyai cukup bukti permulaan untuk menangkapnnya, misalnya dalam kasus-kasus jambret, todong, pembunuhan sadis, masalah kebut-kebutan, dan lain-lain.
2. TertangkapTangan
57 a) Pengertian Tertangkap Tangan
Berdasarkan rumusan Pasal 1 butir 19 KUHAP tersebut maka dapat kita lihat bahwa tertangkap tangan adalah tertangkapnya seseorang pada waktu:
i. Sedang melakukan tindak pidana atau tengah melakukan tindak pidana, pelaku dipergoki oleh orang lain
ii. Atau dengan segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu dilakukan;
iii. Atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya;
iv. Atau sesaat kemudian pada orang tersebut ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau membantu melakukan tindak pidana itu.
Sedangkan menurut Pasal 1 butir 18 RUU KUHAP, tertangkap tangan didefinisikan sebagai: Tertangkap tangan adalah tertangkap sedang melakukan, atau segera sesudah melakukan tindak pidana atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukan tindak pidana, atau apabila padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana atau hasil tindak pidana.
Selain pengertian diatas, tertangkap tangan memilki makna sebagai berikut :
58
i. Tertangkap tangan adalah Kedapatan waktu melakukan kejahatan atau perbuatan yang tidak boleh dilakukan, tertangkap basah.47
ii. Penyidikan delik tertangkap tangan berasal dari Perancis, dimana sejak zaman Romawi telah dikenal delik tetangkap tanganya itu delik yang tertangkap sedang atau segera setelah berlangsung yang mempunyai akibat-akibat hukum yang berbeda dengan delik lain.48
iii. Dalam delik tertangkap tangan disebut oleh orang: i) Romawi delictum flagrans;ii) Jerman atau Belanda kuno handhaft (ig) e daet dan verschedaet; iii) Perancis flagrant delit; iv) Jerman frische tat.49 b) Alasan TertangkapTangan
Dilakukan tertangkap tangan dengan alasan sebagai berikut :
i. Bahwa tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana,
ii. Tertangkapnya dengan segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu di lakukan,
iii. Tertangkapnya sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukakannya,
iv. Tertangkapnya apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak
47 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Edisiketiga, 2005, hlm.1140
48 E. Bonn-Sosro dan ukusumo, Tuntutan Pidana, Siliwangi, Jakarta, hlm.124
49 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm.120
59
pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan tindak pidana itu.
c) Syarat Tertangkap Tangan
Syarat dari tertangkap tangan tidak berbeda jauh dari syarat penangkapan yaitu syarat tertangkap tangan adalah karena yang diduga keras melakukan tindak pidana dan dugaan melakukan tindak pidana harus didukung bukti permulaan yang cukup.50
d) Prosedur Tertangkap Tangan
Penjelasan tentang prosedur tertangkap tangan telah diatur di dalam Pasal 18 KUHAP yang berbunyi :Dalamhal tertangkap tangan penangkapan dilakukan tanpa surat perintah, dengan ketentuan bahwa penangkap harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu yang terdekat.51
Selanjutnya Prosedur tertangkap tangan diatur juga dalam Pasal 111 KUHAP yang menyatakan bahwa :
Ayat (1) Dalam hal tertangkap tangan setiap orang berhak, sedangkan setiap orang yang mempunyai wewenang dalam tugas
50 Yang dimaksud dengan “bukti permulaan yang cukup” dalam penangkapan tidak dijelaskan secara jelas dalam undang-undang, tetapi hal ini dapat kita lihat dalam penjelasan 17 KUHAP yang menyatakan “Pasal ini menunjukan bahwa perintah penangkapan tidak dapat dilakukan sewenang-wenang, tetapi di tunjukan kepada mereka yang betul-betul melakukan tindak pidana” meskipun dari penjelasan Pasal tersebut juga masih dapat diperdebatkan karena ada peluang untuk dilakukan penyalahgunaan. Sehingga untuk penafsiran “bukti permulaan yang cukup” dalam Pasal 17 KUHAP ini, penyidik diberi kewenangan yang luas dalam menentukan “bukti yang cukup” dalam sebuah dugaan tindak pidana, sehingga tersangka dapat dilakukan penangkapan luas dalam menentukan
“bukti yang cukup” dalam dugaan tindak pidana, sehingga tersangka dapat dilakukan penangkapan.
51 Pasal 18 KUHAP
60
ketertiban, ketenteraman dan keamanan umum wajib, menangkap tersangka guna diserahkan beserta atau tanpa barang bukti kepada penyelidik atau penyidik.
Ayat (2) Setelah menerima penyerahan tersangka sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) penyelidik atau penyidik wajib segera melakukan pemeriksaan dan tindakan lain dalam rangka penyidikan
Ayat (3) Penyelidik dan penyidik yang telah menerima laporan tersebut segera datang ke tempat kejadian dapat melarang setiap orang untuk meninggalkan tempat itu selama pemeriksaan di situ belum selesai.
Ayat (4) Pelanggar Iarangan tersebut dapat dipaksa tinggal di tempat itu sampai pemeriksaan dimaksud di atas selesai.52
e) Konsekuensi tertangkap tangan
Dalam hal tertangkap tangan maka konsekuensi yang ditimbulkan adalah penyidik dapat lansung melakukan proses penyidikan tanpa perlu melakukan proses penyelidikan terlebih dahulu, hal ini di karenakan penyidik telah memperoleh bukti permulaan yang cukup yang didapatkan pada diri pelaku pada saat tertangkap tangan sehingga menjadi hal yang mutlak bahwa peristiwa tindak pidana telah ada dan telah terjadi.
52 Pasal 111 KUHAP