BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
6. Penarikan Kesimpulan
Penggunaan metode deduksi berpangkal dari pengajuan premis mayor (pernyataan yang bersifat umum). Kemudian diajukan premis minor (bersifat khusus), dari kedua premis itu kemudian ditarik suatu kesimpulan atau conclution.33 Kesimpulan merupakan hasil suatu proses penelitian. Setelah langkah-langkah diatas, maka langkah terakhir adalah menyimpulkan dari analisis data untuk menyempurnakan penelitian ini, sehingga mendapatkan kekuasaan ilmu khususnya bagi peneliti serta bagi pembacanya. Pada tahap ini peneliti
32 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Rajawali Pers,2007, hlm.10.
33Ibid hlm.47.
membuat kesimpulan dari keseluruhan data-data yang telah diperoleh dari kegiatan penelitian yang telah dianalisis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Tentang Konsep Green Constitution di Indonesia
Isu lingkungan hidup menjadi perhatian penting bagi kelangsungan hidup manusia istilah green dijadikan simbol atas keprihatinan tersebut. Istilah green economy, green paper, green politic, green party, green market, green festival dan green building, green office, green campus adalah beberapa istilah yang sudah mulai terdengar. Dalam perjalanan waktu, terlihat adanya peningkatan tekanan-tekanan yang dilakukan manusia terhadap lingkungan hidup dan hal ini juga disoroti sebagai green constitution.
Semua Negara pasti bergantung kepada sumber daya alam, baik yang dimiliki oleh Negara itu sendiri maupun yang terdapat di Negara lain. Sumber daya alam tersebut mencakup berbagai nomenklatur seperti sumberdaya yang terdapat di daratan, perairan, dan udara baik secara kewilayaan administrative maupun berupa hasil-hasil alam dan hasil rekaya atau buatan. Didalam konteks kekinian, tata kelola pemerintahan yang baik harus pula mencakup tata kelola yang baik bagi sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara.34
Green constitution pada prinsipnya diartikan sebagai melakukan konstitusionalisasi norma hukum lingkungan kedalam konstitusi melalui menaikkan derajat norma perlindungan lingkungan hidup ke tingkat konstitusi.
Dengan demikian, pentingnya prinsip pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dan perlindungan terhadap lingkungan hidup memiliki pijakan kuat dalam peraturan perundang-undangan.35 Suatu Konstitusi Negara sebagaimana halnya UUD NRI Tahun 1945 yang memuat prinsip atau
34 Ridwan, dkk, Laporan Penelitian DIPA FH Unsri, Optimalisasi Kebijakan Reklamasi Pascatambang Batubara Dalam perspektif Green Constitution, 2019, Hlm.1.
35 Jimly Asshiddiqie, Green Constitution Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Rajagrafindo Persada : 2009, Hlm 3
kebijakan oengelolaan lingkungan,dsebut juga konstitusi hijau (Green Constitution). Model pengaturan prinsip atau kebijakan lingkungan dalam
suatu konstitusi dapat dirumuskan secara spesifik, implicit, dan juga dapat dikaitkan dengan wewenang suatu konstitusi.36
Permasalahan lingkungan hidup terus berlangsung meskipun sudah banyak Negara yang membuat Undang-Undang Tentang Lingkungan Hidup termasuk Indoesia. Legalisasi lingkungan hidup dalam bentuk peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah dianggap belum cukup untuk menguatkan komitmen Negara dalam mengatasi persoalan lingkungan hidup.
Kegagalan ini juga terjadi karena masa jabatan pemerintah yang sangat singkat dan mudahnya dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang dan kebijakan pemerintah lainnya. Sedangkan persoalan lingkungan hidup adalah persoalan yang dampaknya terjadi dalam waktu yang panjang sehingga harus ditanggulangi dengan instrument yang berlaku lama pula. Karena legalisasi lingkungan hidup dianggap tidak cukup, maka perlu ditingkatkan penormaan lingkungan hidup pada level konstitusi Negara.
Secara konstitusional, amanah bagi Negara Ksatuan Republik Indonesia, adalah wewenang dalam arti menguasai kekayaan sumber daya alam, yang berada dalam kedaulatan Negara.37 Konstitusionalisasi lingkungan hidup dalam konstitusi suatu Negara dianggap penting bukan saja karena konstitusi tidak mudah dirubah, tapi juga karena konstitusi merupakan supreme law of the land yang menjadi tujuan, pedoman dan alat ukur kehidupan berbangsa dan bernegara. Beberapa Negara sudah melakukan konstitusionalisasi lingkungan hidup, misalkan Portugal (1976), Spanyol
36 Ridwan,dkk Ibid.
37 Ibid
(1978), Polandia (1997), Prancis (2006) dan Ekuador (2008). Prancis bahkan merubah Preambule konstitusinya dengan memasukkan Environment Charter of 2004.38 Sedangkan Ekuador menegaskan di dalam konstitusinya bahwa lingkungan hidup merupakan fundamental rights sendiri yang harus disejajarkan dengan Hak Asasi Manusia.39 Konstitusionalisasi lingkungan hidup dalam konstitusi Indonesia sendiri sudah dilakukan dalam amandemen UUD 1945, Pasal 28 H ayat (1)40 dan Pasal 33 ayat (4)41 UUD 1945 merupakan bukti bahwa konstitusi Indonesia adalah Konstitusi Hijau (Green Constitution).42
Optimalisasi peran pemerintah dan legislatif dalam rangka mengahasilkan peraturan berbasis lingkungan (green legislation) merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam rangka percepatan implementasi tata kelola pemerintahan daerah yang baik terlebih dalam membuat kebijakan mengantisipasi dampak pemanasan global (climate change). Esty dan Porter dalam tulisannya di Journal of Environment and Development Economics berpendapat the empirical evidence hence suggests that a country can benefit environmentally not only from economic growth, but equally from developing the rule of law and strengthening its governance structure.43
Pengusung ide-ide lingkungan hidup harus menghadapi tantangan yang sangat tidak seimbang dari penguasa politik, dari panguasa dunia usaha, dan
38 I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani ,Green Constitution Sebagai Penguatan Norma Hukum Lingkungan Dan Pedoman Legal Drafting Peraturan Daerah Dalam Rangka Praktik-Praktik Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik Di Daerah, jurnal konstitusi vol 1, 2012, hlm 132.
39 Ibid
40 ibid
41 Didalam Pasal 33 angka (4) UUD 1945 menjelaskan bahwa Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan asas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan yang bearti bahwa disetiap kegiatan perekonomian haruslah berbasis memperhatikan lingkungan hidup.
42 Ibid
43 Esty C. and Porter M. 2005. National Environmental Performance: An Empirical Analysis of Policy Results and Determinants. Environmental and Development Economics Journal. Vol. 10, p. 391-434.
dari masyarakat sendiri. Kalahnya kepentingan lingkungan hidup dalam peraturan yang tidak seimbang melawan kepentingan-kepentingan lain tersebut terjadi tidak hanya di forum yang teknis eksekutif, tetapi juga di forum-forum politik, di lingkungan lembaga legislatif. Oleh karena itu, di samping ada Undang-Undang lingkungan hidup yang tentu saja berpihak kepada lingkungan, banyak pula produk undang-undang di bidang-bidang lain yang justru tidak ramah lingkungan.44 Hal demikian tentu harus diterima sebagai kenyataan yang ada di lingkungan lembaga perwakilan rakyat yang menjadi muara dari semua jenis kepentingan yang hidup dan saling bertarung dalam masyarakat.
Berkembangnya tuntutan yang meluas agar kebijakan-kebijakan resmi negara yang pro-lingkungan dapat tercermin dalam bentuk perundang-undangan yang mengingat untuk ditaati oleh semua pemangku-kepentingan (stakeholders). Law enforcement menjadi sangat penting saat ini. Tak terkecuali, Indonesia juga menghadapi tuntutan yang sama, yaitu perlunya disusun suatu kebijakan yang dapat dipaksakan berlakunya dalam bentuk undang-undang tersendiri yang mengatur mengenai lingkungan hidup. Secara parsial sudah ada kebijakan yang mengakomodasinya, namun demikian, political will pemerintah baik pusat maupun daerah perlu didorong terutama dalam ranah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan leading sector di daerah.45
Lembaga legislatif daerah penyusunan sebuah policy dimusyawarahkan DPRD bersama Pemerintah daerah dalam rumusan hukum yang berbentuk Perturan daerah (Perda). Menurut data sampai dengan bulan September 2006
44 Ibid
45 Ibid
terdapat 5550 Perda yang disampaikan ke Departemen alam Negeri, dari jumlah tersebut terdapat 4088 perda yang layak untuk dilaksanakan, 201 perda dilakukan revisi, 1291 perda layak dibatalkan dan 42 perda masih dalam taraf evalusi. Saat ini sudah diterbitkan 600 Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Pembatalan Perda dan 619 perda masih dalam proses pembatalan. Dari perspektif yuridis baik secara implisit maupun eksplisit landasan hukum untuk membuat green policy semakin menguat.46
Atas dorongan kesadaran yang semakin luas di seluruh dunia mengenai pentingnya upaya melindungi lingkungan hidup dari ancaman pencemaran dan perusakan, kebijakan lingkungan hidup dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan secara resmi. Dengan demikian, timbul gelombang di seluruh dunia, yaitu gelombang legalisasi atau legislasi kebijakan lingkungan hidup. Setelah ditetapkannya begitu banyak peraturan-peraturan itu tidak efektif untuk mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.47
Pasal 28H ayat (1) dan Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 dikatakan bahwa hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat serta pelayanan kesehatan yang baik, merupakan hak asasi manusia. Oleh karena itu, UUD 1945 jelas Sangat pro-lingkungan hidup, sehingga dapat disebut sebagai konstitusi hijau (green constitution). Dengan demikian, segala kebijakan dan tindakan pemerintahan dan pembangunan haruslah tunduk kepada ketentuan mengenai hak asasi manusia atas lingkungan hidup yang baik dan sehat itu.
Tidak boleh ada lagi kebijakan yang tertuang dalam bentuk undang-undang
46 Koesnadi Hardjasoemantri. 2005. Hukum Tata Lingkungan 2005. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
47 Op.Cit I Gusti Ayu
ataupun peraturan di bawah undang-undang yang bertentangan dengan ketentuan konstitusional yang pro-lingkungan ini.
Indonesia sendiri merupakan satu negara kepulauan yang sangat rentan dan rawan bencana alam. Jika lingkungan hidup tidak dilindungi, pada saatnya kerusakan alam yang terjadi justru akan merugikan bangsa Indonesia sendiri.
Mulai dari ranah konstitusi UUD 1945, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan mengatur dengan jelas betapa pentingnya filosofi nilai-nilai hijau termasuk Peraturan Daerah.48 Sebagaimana diketahui bahwa Perda merupakan kebijakan daerah yang bersifat strategis yang memiliki kekuatan hukum tertinggi di daerah maka diharapkan setiap Perda sebagai payung hukum di daerah yang dihasilkan tidak merusak lingkungan.
Hal ini juga tidak cukup dengan hanya dengan terapatnya Perda sebagai bentuk perlindungan oleh pemerintah tentang lingkungan tetapi dalam Perda tersebut harus mempunyai nilai-nilai hijau/green seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945 dan Pasal 14 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan sehingga masing-masing Perda akan responsif terhadap lingkungan dan harus pula diiringi dengan kesadaran masyarakat akan lingkungan yang baik dan sehat.
B. Kajian Tentang Teori Kewenangan Pemerintahan Daerah Terkait Lingkungan 1. Pengertian Kewenangan
Kata “wewenang” berasal dari kata “competence” dala bahasa Inggris dan
“gezag” dalam bahasa Belanda. Dari kedua istilah tersebut jelas terdapat perbedaan makna dan pengertian sehingga dalam penempatan kedua istilah tersebut haruslah dilakukan ecara cermat dan hati-hati. Penggunaan atau
48 Ibid
pemakaian kedua istilah tersebut nampaknya terlalu dipermasalahkan dalam realitas penyelenggaraan peerintahan kita, hal itu memberikan kesan dan indikasi, bahwa bagi sebagian aparatur dan pejabat penyelenggara Negara atau pemerintahan kedua istilah tersebut tidaklah begitu penting untuk dipersoalkan.
Padahal dalam konsep hukum administrasi Negara keberadaan wewenang pemerintahan memiliki kedudukan yang sangat penting.Pentingnya kedudukan wewenang pemerintahan tersebut disebutkan oleh F.A.M Storoink fan J.G Steenbeek sebagai konsep inti dalam hukum tata Negara dan hukum administrasi “het begrip bevoegdheid is dan ook een kernbergip in het staat en adinistrative recht”.49
Dalam literatur ilmu hukum sering ditemukan istilah kekuasaan, kewenangan dan wewenang. Kekuasaan sering disamakan begitu saja dengan kewenangan, dan kekuasaan sering dipertukarkan dengan istilah kewenangan, demikian pula sebaliknya. Bahkan kewenangan sering disamakan pula dengan wewenang. Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan dalam arti bahwa “ada satu pihak yang memerintah dan pihak lain yang di perintah (the rule and the ruled)”.50
Kata kewenangan berasal dari kata dasar wewenang yang diartikan sebagai hal berweanng, hak dan kekuasaan yang dipunyai untuk melakukan sesuatu.51 Kewenangan adalah apa yang disebut dengan kekuasaan formal, yaitu kekuasaan yang berasal dari kekuasaan legislatif (dberikan oleh Undang-Undang) atau dari kekuasaan eksekutif administrative. Kewenangan yang biasanya terdiri dari beberapa wewenang adalah kekuasaan terhadap golongan orang tertentu atau kekuasaan terhadapsuatu bidang pemerintahan.52
49 Sadjijono, Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi, Pradnya Paeamita: Jakarta, 1983, Hlm.50
50 Miriam Budiarjo, Ibid., hlm 35-36.
51 Ibid, hlm 40.
52 Prajudi Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia: Jakarta. 2001, hlm.78.
Wewenang bila diartikan secara yuridis yaitu merupakan kemampuan yang dierikan oleh peraturan Perundang-Undangan untuk meniimbulkan akibat-akibat hukum.53 Sehingga dapat disimpulkan bahwa kewenangan merupakan kekuasaan formal yang berasal dari Undang-Undang, sedangkan wewenang adalah suatu spesifikasi dari kewenangan, artinya barang siapa (subyek hukum) yang diberikan kewenangan oleh Undang-Undang, maka juga berwenang untuk melakukan sesuatu yang tersebut dalam kepentingan itu.
Wewenang menurut Bagir Manan dalam bahasa hukum tidaklah sama dengan kekuasaan (macle). Kekuasaan hanya enggambarkan hak untuk berbuat atau tidak berbuat. Didalam kaitannya dengan otonomi daerah, hak mengandung pengertian kekuasaan untuk mengatur sendiri (zelfregelend), sedangkan kewajiban secara horizontal berarti kekuasaan untuk menyelenggarakan pemerintahan sebagaimana mestinya. Vertikal berarti kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan dalam suatu tertib ikatan pemerintahan Negara secara keseluruhan.54 2. Kekuasaan dan Kewenangan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah-lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah-laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu. Sedangkan Kekuasaan dalam Pemerintahan adalah “kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum oleh pemerintah baik terbentuknya maupun akibatakibatnya sesuai dengan tujuan-tujuan pemegang kekuasaan itu sendiri”.55
53 Indoharto, Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik, dalam Paulus Efendie Lotulung, Himpunan Makalah Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik, Citra Adiya Abadi : Bandung, 1994.
Hlm.65
54 Bagir Manan, Wewenang Provinsi, Kabupaten dan Kota Dalam Rangka Otonomi Daerah, hlm 1-2
55 Ibid
Pada dasarnya kekuasaan adalah kemampuan individu atau kelompok untuk memanfaatkan sumber-sumber kekuatan yang bisa menunjang sektor kekuasaannya dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Sumber-sumber tersebut bisa berupa media massa, media umum, mahasiswa, elit politik, tokoh masyarakat ataupun militer.56 Jenis-jenis kekuasaan yang kita ketahui pada umumnya sekiranya dapat dibagi beberapa jenis kekuasaan sebagai berikut :57
(a) kekuasaan eksekutif, yaitu yang dikenal dengan kekuasaan pemerintahan dimana mereka secara teknis menjalankan roda pemerintahan,
(b) kekuasaan legislatif, yaitu sesuatu yang berwenang membuat, dan mengesahkan perundang-undangan sekaligus mengawasi roda pemerintahan, (c) kekuasaan yudikatif, yaitu sesuatu kekuasaan penyelesaian hukum, yang didukung oleh kekuasaan kepolisian, demi menjamin law enforcement/
pelaksanaan hukum.
Unsur-unsur kekuasaan, ada tiga komponen dalam rangkaian kekuasaan yang akan mempengaruhi penguasa atau pemimpin dalam menjalankan kekuasaannya.
Komponen ini harus diikuti,dipelajari, karena saling terkait didalam roda kehidupan penguasa. Tiga komponen ini adalah pemimpin (pemilik atau pengendali kekuasaan), pengikut dan situasi. Perhatikan bagan berikut :
Bagan I : Tiga Komponen Kekuasaan58
Dari bagan tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut. Pemimpin, sebagai pemilik kekuasaan, bisa mempengaruhi pengikutnya. Bahkan menciptakan
56 Imam Hidayat, Teori-Teori Politik, Malang: SETARA press, 2009, 31
57 ibid, hlm 29
58 Bagan I. Tiga Komponen Kekuasaan, Imam Hidayat, Op.Cit
Pemimpin
Pengikut Situasi
pengikut, menggiring pengikut, menjadi provokator pengikut, sehingga kepengikutan si pengikut akan membabi buta, tidak rasional lagi. Pengikut sebaliknya juga bisa mempengaruhi pemimpin, bisa memberikan bisikan kepada pemimpin, bisa menyuruh untuk mempertahankan kekuasaan dan bahkan bisa menjatuhkan kekuasaannya. Pemimpin juga bisa menciptakan suatu situasi, merekayasa situasi. Akan tetapi perlu diketahui bahwa dari situasi itu juga maka sang pemimpin, bisa diuntungkan dan karena situasi itu pula sang pemimpin pada akhirnya akan jatuh dan menghabiskan riwayat kekuasaannya sendiri.59 Dalam hal ini dibutuhkan figur pemimpin yang benar-benar cerdas dalam memperhitungkan situasi yang diciptakannya.
Dari gerak tiga komponen diatas, maka kekuasaan juga mempunyai unsur influence, yakni menyakinkan sambil beragumentasi, sehingga bisa mengubah tingkah laku. Kekuasaan juga mempunyai unsur persuation, yaitu kemampuan untuk menyakinkan orang dengan cara sosialisasi atau persuasi (bujukan atau rayuan) baik yang positif maupun negatif, sehingga bisa timbul unsur manipulasi, dan pada akhirnya bisa berakibat pada unsur coersion, yang berarti mengambil tindakan desakan, kekuatan, kalau perlu disertai kekuasaan unsur force atau kekuatan massa, termasuk dengan kekuatan militer.60 Dengan begitu penjelasan tentang kekuasaan diatas para kandidat bisa menggunakan tiga komponen yaitu diantara influence, persuation, dan coercion.
Dalam kekuasaan ini, dilihat dari teori kekuasaan Max Weber dan teori fungsional struktural talcoot parsons. weber mendefinisikan kekuasaan
59 Imam Hidayat, Op.Cit.
60 Imam Hidayat, Op.cit
sebagai kemungkinan bagi seseorang untuk memaksakan orang-orang lain berperilaku sesuai dengan kehendaknya.61 Politik demikian dapat kita simpulkan pada instansi pertama berkenaan dengan pertarungan untuk kekuasaan.62
Bentuk wewenang manusia yang dikemukakan oleh Max Weber menyangkut juga kepada hubungan kekuasaan. Yang dimaksudkannya dengan wewenang (authority) adalah kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang diterima secara formal oleh anggota– anggota masyarakat.63 Jenis authority yang disebutnya dengan rational legal authority sebagai bentuk hierarki wewenang yang berkembang didalam kehidupan masyarakat modern. Wewenang sedemikianini dibangun atas dasar legitimasi (keabsahan) yang menurut pihak yang berkuasa merupakan haknya.64
Dalam politik kekuasaan diperlukan untuk mendukung dan menjamin jalannya sebuah keputusan politik dalam kehidupan masyarakat.
Keterkaitan logis antara politik dan kekuasaan menjadikan setiap pembahasan tentang politik, selalu melibatkan kekuasaannya didalamnya.
Itulah sebabnya membahas sekularisasi kekuasaan. Sekularisasi politik secara implisit bertujuan untuk mendesakralisasi kekuasaan untuk tidak dilegimitasi sebagai sesuatu yang bersifat sakral atau suci. Kekuasaan sebagai aktivitas politik harus dipahami sebagai kegiatan manusiawi yang diraih, dipertahankan sekaligus direproduksikan secara terus menerus.65
61 Rafael Raga Maran, Pengantar Sosiologi Politik Jakarta : Rieneka Cipta, 2001 hlm.190
62 A.Hoogerwerf, Politikologi Jakarta : Penerbit Erlangga,1985 hlm 44
63 Op.Cit
64 George Ritzer & Douglad J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta : Kencana, 2007) hal, 37.
65 Op.cit teologi politik gus dur hal.169
Kekuasaan (power) digambarkan dengan berbagai cara kekuasaan diartikan sebagai kemungkinan mempengaruhi tingkah laku orang–orang lain sesuai dengan tujuan–tujuan sang aktor.66 Contohnya dalam hal politik tanpa kegunaan kekuasaan tidak masuk akal, yaitu selama manusia menganut pendirian politik yang berbeda–beda, apabila hendak diwujudkan dan dilaksanakan suatu kebijakan pemerintah, maka usaha mempengaruhi tingkah laku orang lain dengan pertimbangan yang baik.67 Kekuasaan senantiasa ada didalam setiap masyarakat baik masih bersahaja maupun yang sudah besar dan rumit susunannya. Akan tetapi selalu ada kekuasaan tidak dapat dibagi rata kepada semua anggota masyarakat.68
Kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan atau mempengaruhi sesuatu atau apapun. Kekuasaan dalam konteks ini berhubungan dengan agency, bahawa hal itu untuk kemampuan seseorang melakukan perubahan/perbedaan di dunia. Kekuasaan adalah kemampuan yang legal, kapasitas atau kewenangan untuk bertindak, khususnya pada proses mendelegasikan kewenangan. Kekuasaan dalam pemahaman ini merujuk pada kewenangan atau hak yang oleh sebahagian orang harus mendapatkan pihak lain untuk melakukan segala yang mereka anggap sebagai wewenang.69
3. Sumber-Sumber Kewenangan
Sesuai dengan salah satu prinsip Negara hukum, bahwa kewenangan yang dimiliki haruslah berdasarkan hukum atau sesuai dengan prinsip
66 Op.cit, politikologi hal 144
67 Ibid hal 145-146
68 Soerjono soekanto, sosiologi suatu pengantar Jakarta: Rajawali pers, 1994 hal, 265
69 Jurnal Komunikasi Malaysian Journal of Communication Jilid 29 (1) 2013 hlm 73- 97
legalitas. Dalam negara hukum, wewenang pemerintahan itu berasal dari peraturan Perundang-Undangan.70
Berkaitan dengan sumbernya maka wewenang yang dimiliki seseorang dapat diperoleh dari beberapa cara-cara yaitu sebagai berikut.
1) Wewenang Atribusi;
2) Wewenang Delegasi;
3) Wewenang Mandat.
Wewenang atribusi lazimnya digariskan melalui pembagian kekuasaan Negara oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945.71 Menurut Rosjidi Ranggawidjadja pengertian atribusi adalah pemberian kewenangan kepada badan/ lembaga/ pejabat Negara tertentu yang diberikan oleh pembentuk UUD NRI 1945 maupun pembentuk Undang-Undang. Dalam hal ini berupa penciptaan wewenang baru untuk dan atas nama yang diberi wewenang tersebut.72
Legislator yang kompeten untuk memberikan atribusi wewenang pemerintahan itu dibedakan antara lain :73
1. Yang berkedudukan sebagai original legistator : dinegara Indonesia, ditingkatan pusat terdapat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai pembentuk konstitusi dan Presiden bersama DPR membentuk Undang-Undang, sedangkan di tingkat daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Pemerintahan Daerah.
2. Yang bertindak sebagai delegated legislator seperti presiden yag berdasarkan pada ketentuan Undang-Undang mengeluarkan suatu
70 Ridwan HR, Op. Cit., hlm.103.
71 Febrian, Hirarki Hukum di Indonesia, Univ. Airlangga : Surabaya, 2004, hlm245.
72 Jum Anggraini, Hukum Administrasi Negara, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2012, hlm 89.
73 Ibid., hlm 90.
Peraturan Pemerintah dimana menciptakan wewenang-wewenang pemerintah kepada badan atau pejabat tata usaha Negara.
Delegasi adalah kewenangan yang dialihkan dari kewenangan atribusi dari suatu organ (institusi) pemerintahan kepada organ lainnya sehingga delegator (organ yang telah memberikan kewenangan) dapat menguji kewenangan tersebut atas namanya, sedangkan pada mandate, tdak terdapat suat pemindahan kewenangan tetapi pemberi mandate (Mandator) memberikan kewenangan kepada orang lan (Mandataris) untuk membuat keputusan atau mengambil suatu tindakan atas namanya.74
Kewenangan atribusi dan delegasi mempunyai perbedaan mendasar.
Pada atribusi, kewenangan yang ada siap dilimpahkan, tetapi tidak demikian pada delehasi. Hal ini berkaitan jelas dengan azas legalitas, kewenangan tidak dapat didelegasikan secara besar-besaran, akan tetapi hanya mungkin dilaksanakan pada kondisi dimana peraturan hukum menentukan mengenai kemungkinan delegasi tersebut. Delegasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:75
1) Delegasi harus definitif, artinya delegasi tidak dapat lagi menggunakan sendiri wewenang yang teah dilimpahkan ini;
2) Delegasi harus berdasarkan pada ketentuan perundang-undangan, artinya delegasi hanya dimungkinkan jika ada ketentuan yang memungkinkan untuk itu dalam peraturan perundang-undangan;
3) Delegasi tidak kepada bawahan, artinya dalam hierarki kepegawaian tidak diperkenankan adanya delegasi;
74 Ridwan HR, Loc.Cit
75 Philpus M. Hadjon, Op.Cit., hlm 5.
4) Keajiban memberikan keterangan (penjelasan), artinya delegans berwenang untuk meminta penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut;
5) Peraturan kebijakan (beleidsregel), artinya delegans memberikan intruksi (petunjuk) tentang penggunaan wewenang tersebut.
Kewenangan harus dilandasi oleh ketentuan hukum yang ada
Kewenangan harus dilandasi oleh ketentuan hukum yang ada