• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.8. Penatalaksanaan Hipertensi

Pengobatan hipertensi bersifat individualistis dan sepanjang masa dengan tetap memperhatikan gaya hidup. Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologi dan farmakologi. Target dari terapi hipertensi adalah menjaga hipertensi tetap terkontrol seumur hidup pasien

Ketika hipertensi terdeteksi, intervensi terapetik dapat mengurangi perjalanan dan keparahan penyakit ini. Pengaturan diet, termasuk penurunan berat badan, disertai berbagai obat yang memanipulasi penanganan air dan garam atau aktivitas otonom pada sistem kardiovaskular dapat digunakan untuk mengobati hipertensi. Selain itu, olahraga secara teratur dapat dilakukan untuk membantu mengurangi tekanan darah tinggi (Sherwood, 2010; PERKI, 2015; Weber et al, 2010).

2.1.8.1. Tatalaksana Farmakologi

Terapi farmakologi dimulai pada pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan setelah >6 bulan menjalani

pola hidup sehat dan pada pasien hipertensi derajat ≥2. Salah

satu prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek samping adalah dengan melakukan pemantauan efek samping obat secara teratur (PERKI, 2015). Pada tahun 2013, Joint National Committee (JNC) 8 mengeluarkan guideline terbaru mengenai tatalaksana hipertensi. Secara umum, JNC memberikan 9 rekomendasi terkait target tekanan darah dan rekomendasi golongan obat hipertensi (James et al, 2013).

14

14 Gambar 4. Algoritma Pedoman Manajemen Hipertensi (James et al, 2013)

Rekomendasi 1. Pada populasi yang secara umum berusia ≥60 tahun, terapi farmakologi inisiasi dimulai untuk menurunkan

tekanan darah pada saat sistolik ≥150 mmHg atau diastolik ≥90

mmHg menjadi sistolik <150 mmHg dan diastolik <90 mmHg (Strong recommendation-Grade A).

Corollary Recommendation. Pada populasi yang umumnya berusia ≥60 tahun, jika terapi farmakologi untuk tekanan darah tinggi mencapai sistolik yang lebih rendah (missal <140 mmHg) dan terapi masih ditoleransi dengan baik dan tanpa efek samping terhadap kesehatan dan kaulitas hidup, terapi tidak perlu disesuaikan (Expert opinion-Grade E).

Rekomendasi 2. Rekomendasi kedua dari JNC 8 adalah pada populasi umum berusia ≤60 tahun, terapi farmakologi

dimulai ketika diastoliknya ≥90 mmHg untuk untuk

menurunkan tekanan darah diastolik <90 mmHg. (Untuk pasien berusia 30-59 tahun, Strong recommendation-Grade A; Untuk pasien berusia 18-29 tahun, Expert opinion-Grade E).

Rekomendasi 3. Pada populasi <60 tahun, terapi farmakologi

inisiasi dimulai saat sistolik ≥140 mmHg untuk mencapai

sistolik <140 mmHg (Expert opinion-Grade E).

Rekomendasi 4. Pada populasi berusia ≥18 tahun dengan Gagal Ginjal Kronis (GGK), terapi farmakologi inisiasi untuk

16

16

menurunkan tekanan darah dari sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mm Hd menjadi sistolik <140 mmHg dan diastolik <90 mmHg (Expert opinion-Grade E).

Rekomendasi 5. Pada populasi berusia ≥18 tahun dengan diabetes, terapi farmakologi inisiasi untuk menurunkan tekanan

darah dari sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg

menjadi sistolik <140 mmHg dan diastolik <90 mmHg (Expert opinion-Grade E).

Rekomendasi 6. Pada populasi umum non kulit hitam (negro), termasuk pasien dengan diabetes, terapi antihipertensi inisial sebaiknya menyertakan diuretic tipe tiazid, Calcium Channel Blocker (CCB), Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB)

(Moderate recommendation-Grade B).

Rekomendasi 7. Pada populasi kulit hitam, termasuk mereka dengan diabetes, terapi inisial hipertensi sebaiknya menggunakan diuretik tipe tiazid atau CCB. (Rekomendasi untuk populasi kulit hitam secara umum: Moderate recommendation-Grade B; sedangkan populasi kulit hitam dengan diabetes: Weak recommendation-Grade C).

Rekomendasi 8. Pada populasi berusia ≥18 tahun dengan GGK, ACEI atau ARB sebaiknya digunakan dalam terapi inisial atau

terapi tambahan untuk meningkatkan outcome pada ginjal. Hal ini berlaku pada semua pasien GGK dalam semua ras maupun status diabetes (Moderate recommendation-Grade B).

Rekomendasi 9. Tujuan utama terapi hipertensi adalah untuk mencapai dan mempertahankan target tekanan darah. Jika target tekanan darah tidak tercapai dalam waktu satu bulan pengobatan, meningkatkan dosis obat awal atau menambahkan obat kedua dari satu kelas direkomendasi sesuai rekomendasi 6. Seorang klinisi harus terus mengontrol tekanan darah dan menyesuaikan rejimen pengobatan sampai target tekanan darah tercapai. Jika target tekanan darah tidak dapat tercapai dengan 2 obat, menambah dan titrasi obat ketiga dari daftar yang tersedia diperbolehkan. Jika target tekanan darah tidak tercapai karena pasien memiliki kontraindikasi terhadap obat yang sesuai rekomendasi 6, obat antihipertensi dari kelas lain dapat dipergunakan. Rujukan ke spesialis diindikasikan untuk pasien yang tidak dapat mencapai target tekanan darah dengan strategi di atas atau untuk manajemen pasien yang rumit dan memerlukan konsultasi tambahan (Expert opinion-Grade E).

18

18 Tabel 2. Kekuatan Rekomendasi Berdasarkan Grade (James et al, 2013)

Grade Kekuatan Rekomendasi

A Strong recommendation. Terdapat tingkat keyakinan yang tinggi berbasis bukti bahwa hal yang direkomendasikan tersebut memberikan manfaat atau keuntungan yang substansial.

B Moderate recommendation. Terdapat keyakinan tingkat menengah berbasis bukti bahwa rekomendasi yang diberikan dapat memberikan manfaat secara moderat. C Weak recommendation. Terdapat setidaknya keyakinan tingkat moderat berbasis

bukti bahwa hal yang direkomendasikan memberikan manfaat meskipun hanya sedikit.

D Recommendation against. Terdapat setidaknya keyakinan tingkat moderat bahwa tidak ada manfaat atau bahkan terdapat risiko atau bahaya yang lebih tinggi dibandingkan manfaat yang bisa didapat.

E Expert opinion. Bukti-butki belum dianggap cukup atau masih belum jelas atau terdapat konflik (misal karena berbagai perbedaan hasil), tetapi direkomendasikan oleh komite karena dirasakan penting untuk dimasukan dalam guideline.

N No recommendation for or against. Tidak ada manfaat yang jelas terbukti. Keseimbangan antara manfaat dan bahaya tidak dapat ditentukan karena tidak ada bukti-bukti yang jelas tersebut.

Tabel 3. Evidence-Based Dosing for Antihypertensive Drugs (James et al, 2013)

Antihypertensive Medications Initial Daily Dose (mg) Target Dose in RCTs Reviewed (mg)

No. of Doses per Day

ACE inhibitor

Captopril 50 150-200 2

Enalapril 5 20 1-2

Lisinopril 10 40 1

Angiotensin receptor blockers

Eprosartan 400 600-800 1-2 Candesartan 4 12-32 1 Losartan 50 100 1-2 Valsartan 40-80 160-320 1 Irbesartan 75 300 1 Β-Blockers Atenolol 25-50 100 1 Metoprolol 50 100-200 1-2

Calcium Channel Blockers

Amlodipine 2.5 10 1 Diltiazem extended release 120-180 360 1 Nitrendipine 10 20 1-2 Thiazide-type diuretics Bendroflumethiazide 5 10 1 Chlorthalidone 12.5 12.5-25 1 Hydrochlorthiazide 12.5-25 25-100a 1-2 Indapamide 1.25 1.25-2.5 1

2.1.8.2. Tatalaksana Nonfarmakologi

Terapi nonfarmakologi harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor risiko serta penyakit penyerta lainnya (Yogiantoro, 2009; Hadiyah dan Setiawan, 2006). Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan menjalani pola hidup sehat diantaranya dengan :

a. Menurunkan berat badan dapat dilakukan dengan mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayur dan buah (PERKI, 2015).

b. Mengurangi asupan garam dengan menghindari makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Dianjurkan asupan garam tidak melebihi 2 gram per hari (PERKI, 2015; Hikmaharidha, 2011).

c. Olahraga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit per hari minimal 3 hari per minggu dapat membantu menurunkan tekanan darah. Bila pasien tidak dapat melakukan olahraga secara khusus, dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktivitas rutin sehari-hari (PERKI, 2015).

d. Mengurangi konsumsi alkohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah. Konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita dapat meningkatkan tekanan darah (PERKI, 2015).

20

20 e. Merokok merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular, pasien hipertensi dianjurkan untuk berhenti merokok. Penting juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan mengendalikan stress (PERKI, 2015; Kementerian Kesehatan RI, 2014a).

2.1.9.Faktor yang Mempengaruhi Penatalaksanaan Hipertensi

Dokumen terkait