• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penatalaksanaan Keperawatan Pada Halusinasi

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 21-36)

a. Terapi Generalis pada Klien Halusinasi

Menurut Keliat & Akemat (2009), tindakan keperawatan pada klien halusinasi adalah sebagai berikut:

a) Mengkaji isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, dan respons klien terhadap halusinasi (mengenal halusinasi)

Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan

mengobservasi perilaku klien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami oleh klien.

Kemudian perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh klien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk pencegahan terjadinya halusinasi. Kemudian untuk mengetahui dampak halusinasi pada klien dan apa respons klien ketika halusinasi itu muncul perawat dapat menanyakan pada pasien hal yang dirasakan atau dilakukan saat halusinasi timbul. b) Melatih klien mengontrol halusinasi

Untuk membantu klien agar mampu mengontrol halusinasi, perawat dapat mendiskusikan empat cara mengontrol halusinasi pada klien. Keempat cara tersebut meliputi:

1) Menghardik halusinasi

Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Klien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap

halusinasi yang muncul atau tidak memedulikan

halusinasinya. Kalau ini bisa dilakukan, klien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini klien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya. Tahapan tindakan meliputi: a. Menjelaskan cara menghardik halusinasi.

b. Memperagakan cara menghardik. c. Meminta klien memperagakan ulang.

d. Memantau penerapan cara, menguatkan perilaku klien.

2) Melatih bercakap-cakap dengan orang lain

Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Bercakap-cakap dengan orang lain dapat membantu mengontrol halusinasi. Ketika klien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi; fokus perhatian klien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain tersebut.

Sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain. 3) Melatih klien beraktivitas secara terjadwal

Libatkan klien dengan terapi modalitas. Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri melakukan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang sering kali mencetuskan halusinasi. Oleh karena itu halusinasi dapat dikontrol dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam. Tahapan intervensi sebagai berikut:

a) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi

b) Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh klien c) Melatih klien melakukan aktivitas

4) Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan klien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu. 5) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberi penguatan

terhadap perilaku klien yang positif

6) Melatih klien menggunakan obat secara teratur

Agar klien mampu mengontrol halusinasi maka perlu dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program.Klien

gangguan jiwa yang dirawat di rumah sering mengalami putus obat sehingga akibatnya klien mengalami kekambuhan. Jika kekambuhan terjadi, untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit. Oleh karena itu klien dilatih minum obat sesuai program dan berkelanjutan.

Berikut ini tindakan yang perlu dilakukan perawat agar klien patuh menggunakan obat:

a. Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa b. Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program c. Jelaskan akibat bila putus obat

d. Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, dan benar dosis). e. Memantau efek samping obat

Menurut Yosep (2011), perawat perlu memahami efek samping yang sering ditimbulkan oleh obat-obat psikotik seperti: mengantuk, tremor, mata melihat ke atas, kaku-kaku otot, otot bahu tertarik sebelah, hipersaliva, pergerakan otot tak terkendali. Untuk mengatasi ini biasanya dokter memberikan obat anti parkinsonisme yaitu

Trihexyphenidile 3 x 2 mg. Apabila terjadi gejala-gejala yang dialami

oleh klien tidak berkurang maka perlu diteliti apakah obat betul-betul diminum atau tidak.

b. Terapi Generalis pada Keluarga

Menurut Kelliat, Helena, Farida (2011), cara keluarga dalam merawat klien halusinasi yaitu:

1. Mengatakan, “saya percaya kamu mendengar suara itu, tapi saya sendiri tidak mendengarnya”.

2. Tidak membantah halusinasi klien.

Sementara menurut Purba, Wahyuni, Daulay, Nasution (2012) tindakan perawatan pasien halusinasi yang harus diketahui oleh keluarga yaitu:

a) Mengetahui pengertian, tanda dan gejala halusinasi, dan jenishalusinasi yang dialami klien beserta proses terjadinya. Halusinasi adalah presepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsang yang menimbulkannya (tidak ada objeknya). Misalnya, merasa melihat ada orang yang akan memukul, padahal tidak ada seseorang disekitarnya. Sekalipun tidak nyata, tetapi bagi penderita gangguan jiwa, halusinasi dirasakan sebagai sesuatu yang sungguh-sunggung (Baihaqi, Sunardi, Akhlan, Heryati, 2007).

Adapun jenis halusinasi beserta tanda dan gejalanya halusinasi yang harus diketahui oleh keluarga sebagai berikut:

1. Halusinasi dengar (Auditory-hearing voices or sounds)

Tanda dan gejala halusinasi dapat dilihat keluarga yaitumengarahkan telinga pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, menutup telinga, mulut komat-kamit serta ada gerakan tangan yang tidak wajar. 2. Halusinasi penglihatan (visual-seeing persons or things)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu tatapan mata pada tempat tertentu, menunjuk kearah tertentu, ketakutan pada objek yang dilihatnya sendiri.

3. Halusinasi penghidu (olfactory-smeeling odors)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu ekspresi wajah seperti mencium sesuatu dengan gerakan cuping hidung, mengarahkan hidung pada tempat tertentu.

4. Halusinasi perabaan (tactile-feeling bodily sensations)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat keluarga yaitu mengusap, menggaruk-garuk meraba-raba permukaan kulit. Terlihat menggerak-gerakkan badan seperti merasakan sesuatu rabaan. 5. Halusinasi pengecapan (gustatory-experiencing tastes)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu seperti mengecap sesuatu. Gerakan mengunyah, meludah atau muntah. 6. cenesthetic & Kinestetic hallucinations

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu klien terlihat menatap tubuhnya sendiri dan terlihat merasakan sesuatu yang aneh tentang tubuhnya.

b) Merawat klien halusinasi

Menurut Yosep (2011), ada beberapa tindakan perawatan penderita halusinasi yang harus diketahui:

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membina hubungan saling percaya dengan klien. Tunjukkan sikap empati dengan: mendengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian; tidak membantah halusinasi klien; segera menolong klien jika klien membutuhkan perawatan.

Menurut Nasir & Muhith (2011), ada beberapa sikap untuk menunjukkan cara mendengarkan penuh perhatian, antara lain sebagai berikut:

1. Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan

nonverbalbahwa keluarga perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien.

2. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan nonverbal yang sedang dikomunikasikan.

3. Ketrampilan mendengarkan penuh perhatian adalah dengan memandang klien ketika sedang berbicara.

4. Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan.

5. Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan.

6. Hindarkan gerakan yang tidak perlu.

7. Anggukkan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik.

8. Condongkan tubuh kearah lawan bicara, bila perlu duduk atau minimal sejajar dengan klien.

9. Meninggalkan emosi dan perasaan kita dengan cara menyisihkan perhatian, ketakutan atau masalah yang sedang kita hadapi.

10. Mendengarkan dan memperhatikan intonasi kata yang diucapkan yang menggambarkan sesuatu yang berlebihan.

11.Memperhatikan dan mendengarkan apa-apa yang tidak terucap oleh klien yang menggambarkan sesuatu yang sulit dan menyakitkan klien.

b. Mengkaji isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, dan respons klienterhadap halusinasi (mengenal halusinasi)

Sama seperti tindakan perawat yang sudah diuraikan diatas,mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengobservasi perilaku klien dan menanyakan secara verbal apa yang dialami oleh klien. Kemudian keluarga juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh klien. Hal ini dilakukan untuk menentukan ntervensi khusus pada waktu terjadinyahalusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk pencegahan terjadinya halusinasi. Kemudian untuk mengetahui dampak halusinasi pada klien dan apa ada respons klien ketika halusinasi itu

muncul keluarga dapat menanyakan pada klien hal yang dirasakan atau dilakukan pada saat halusinasi timbul.

c. Melatih klien mengontrol halusinasi

Untuk membantu klien agar mampu mengontrol halusinasi, keluarga dapat mendiskusikan empat cara mengontrol halusinasi kepada klien.

Keempat cara tersebut meliputi: 1. Menghardik halusinasi

Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Klien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memperdulikan halusinasinya. Apabila ini bisa dilakukan klien dapat mengendalikan halusinasinya. Mungkinhalusinasi tetap muncul, namun dengan kemampuan ini klien klien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.

Tahapan tindakan meliputi:

1) Menjelaskan cara menghardik halusinasi 2) Memperagakan cara menghardik

3) Meminta klien untuk memperagakan ulang

2. Melatih bercakap-cakap dengan oranglain

Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Bercakap-cakap dengan orang lain dapat membantu mengontrol halusinasi, dan fokus perhatian klien beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang tersebut.

3. Melatih klien beraktivitas secara terjadwal

Libatkan klien dengan terapi modalitas. Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri melakukan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang sering kali mencetuskan halusinasi. Oleh karena itu halusinasi dapat dikontrol dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam. Tahapan intervensi sebagai berikut:

1) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi

2) Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh klien 3) Melatih klien melakukan aktivitas

4) Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan klien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu.

5) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberi penguatan terhadap perilaku klien yang positif

4. Melatih klien menggunakan obat secara teratur

Agar klien mampu mengontrol halusinasi maka perlu dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Klien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sering mengalami putus obat sehingga akibatnya klien mengalami kekambuhan. Jika kekambuhan terjadi, untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit. Oleh karena itu klien dilatih minum obat sesuai program dan berkelanjutan. Berikut ini tindakan yang perlu dilakukan keluarga agar klien patuh menggunakan obat:

a. Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa b. Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program c. Jelaskan akibat bila putus obat

d. Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, dan benar dosis).

d. Memantau efek samping obat

Keluarga perlu memahami efek samping yang sering ditimbulkan oleh obat-obat psikotik seperti: mengantuk, tremor, mata melihat ke atas, kaku-kaku otot, otot bahu tertarik sebelah, hipersaliva, pergerakan otot tak terkendali. Untuk mengatasi ini biasanya

dokter memberikan obat anti parkinsonisme yaitu Trihexyphenidile 3 x 2 mg. Apabila terjadi gejala-gejala yang dialami oleh klien tidak berkurang maka perlu diteliti apakah obat betul-betul diminum atau tidak.

c) Mengetahui follow up dan rujukan untuk klien halusinasi

Peran keluarga dibutuhkan dalam mengawasi klien dirumah. Penting bagi keluarga untuk mengetahui tanda dan gejala yang menunjukkan klien kambuh atau tidak. Keluarga diharapkan mengetahui kondisi klien 24 jam agar tingkat kesembuhan klien dapat terkontrol. Keluarga harus rutin secara berkala membawa klien ke rumah sakit jiwa atau fasilitas kesehatan lain yang mendukung untuk kontrol ulang dan mendapat pengobatan serta mengetahui perkembangan kesehatan klien. Jika perilaku klien tidak terkendali seperti mengamuk, tidak mau minum obat, maka segera bawa ke rumah sakit jiwa atau fasilitas kesehatan lain yang mendukung agar mendapat penanganan yang terbaik.

c. Terapi Generalis Kelompok

Menurut Yosep (2011), Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satusama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih.

Adapun tujuan dari aktivitas kelompok menurut Riyadi & Purwanto (2009) adalah untuk memfasilitasi psikoterapis terhadap

sejumlah klien pada waktu yang sama untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota.

Jumlah anggota kelompok dan komposisi dalam terapi kelompok harus ditentukan terlebih dahulu. Menurut wartono (1976) kelompok dengan cara verbalisasi biasanya 7-8 anggota merupakan jumlah yang ideal, sedangkan jumlah minimum 4 dan maksimum 10. Menurut Caplan, 1971 dalam Yosep, 2011, besarnya anggota kelompok terdiri dari 7-9 anggota (pria dan wanita) memungkinkan anggota berada dalam rasa tau suku, latar belakang sosial dan pendidikan sehingga mirip dengan kehidupan nyata. Sementara menurut Johnson, 1963 dalam Yosep, 2011, terapi kelompok sebaiknya tidak lebih dari 8 anggota karena interaksi dan reaksi interpersonal yang terbaik terjadi pada kelompok dengan jumah sebanyak itu. Apabila keanggotaan lebih dari 10, maka komunikasi sulit untuk difokuskan, sedangkan jika anggota kurang dari 4, maka akan terlalu banyak tekanan yang dirasakan oleh anggota sehingga anggota merasa lebih terekspos, lebih cemas, dan seringkali bertingkah laku irasional.

Menurut Dalami (2010), terapi aktivitas kelompok untuk klien halusinasi dibagi dua yaitu:

a. Terapi aktivitas kelompok: stimulasi persepsi

Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dan/atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan

persepsi atau alternatif penyelesaian masalah. Tujuan umum TAK stimulasi persepsi adalah klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya.

Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan yaitu baca artikel/majalah/buku/puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang disediakan), stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptif atau destruktif misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain, dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus.

1. Terapi aktivitas kelompok: stimulasi sensosi

Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi sensosi adalah upaya menstimulasi semua panca indera (sensori) agar memberi respons yang adekuat. Tujuan umum TAK stimulasi sensori agar klien dapat berespons terhadap stimulus panca indera yang

diberikan yaitu terhadap suara, gambar dan mampu

mengekspresikan perasaan melalui gambar.

Aktivitas yang digunakan sebagai stimulus adalah musik, seni, menyanyi, menari. Jika hobi klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai sebagai stimulus, misalnya lagu kesukaan klien dapat digunakan sebagai stimulus.

C. KerangkaTeori

Sumber : Keliat, 1996; Hawari, 2009;Yosep, 2009; Yosep, 2010

D. Kerangka Konsep Faktor Yang mempengaruhi mekanisme koping Mekanisme Koping - Adaptif - Maladaptif Kemampuan Klien dalam mencegah terjadinya halusinasi Gangguan Jiwa - Definisi - Faktor penyebab - Jenis-jenis Gangguan Jiwa - Penatalaksanaan Penanganan Dampak Klien Faktor Predisposisi - Biologi - Psikologi - Sosial budaya Faktor Presipitasi - Sifat - Asal Halusinasi - Definisi - Faktor penyebab - Tanda dan gejala - Penatalaksanaan Penanganan Dampak Keluarga Kemampuan keluarga dalam mencegah terjadinya halusinasi Faktor Lain Psiko kognitif

Keluarga mampua merawat klien dengan gangguan jiwa halusinasi

Kemampuan

mencegah kambuhnya halusinasi

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 21-36)

Dokumen terkait