BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA 4. Penatalaksanaan ulkus DM Outcome atau dampak terapi yang diharapkan adalah sembuh. Semakin cepat sembuh memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi. Ulkus pada pasien diabetes harus dirawat. Tujuan perawatan ulkus DM yaitu mengurangi risiko infeksi dan amputasi, memperbaiki fungsi dan kualitas hidup pasien, dan mengurangi biaya perawatan kesehatan (Anonim, 2006b). Sasaran terapi ulkus DM adalah kuman penginfeksi. Infeksi biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus, bakteri Gram–negatif aerob seperti Enterobacter sp., Escherichia coli, Klebsiella sp., Proteus mirabilis, Pseudomonas aeruginosa, dan bakteri anaerob seperti Peptostreptococcus (Guglielmo, 2001). Kuman penginfeksi dan antibiotika yang sensitif terhadap kuman penginfeksi tersebut dapat diketahui dengan kultur dan sensitivitas tes. Strategi terapi dapat dilakukan secara nonfarmakologis dan farmakologis. a. Periksa kondisi telapak kaki dengan mencari perubahan apapun dan atau kerusakan kulit seperti merah, bengkak, keretakan kulit, luka-luka, perdarahan, gatal, atau mati rasa. Perubahan apapun di telapak kaki menjadi tahap awal yang kemungkinan besar dapat menjadi berat. b. Jaga telapak kaki selalu bersih. Cuci dengan sabun dan air hangat setiap hari untuk menjaga kebersihan telapak kaki. Jangan merendam telapak kaki terlalu lama. Pastikan air yang digunakan untuk membasuh telapak kaki tidak panas tetapi hangat. Caranya yaitu dengan mengecek menggunakan siku tetapi jangan menggunakan tangan dan telapak kaki karena perbedaan temperaturnya tidak dapat dirasakan dengan tepat. c. Berikan perlakuan yang halus pada kulit. Sepertiga dari seluruh penderita DM menderita kekeringan kulit pada telapak kaki. Perlu diberikan pelembab setiap hari pada telapak kaki untuk mencegah kekeringan dan pecah-pecah kulit karena kerusakan kulit dapat menjadi masalah serius. Jika sangat kering maka berikan perawatan yang lebih khusus pada kulit. d. Hindari panas. Jangan menggunakan alas pemanas atau botol yang berisi air panas pada kaki atau telapak kaki untuk alasan apapun. e. Selalu mengenakan pakaian longgar. Jika terdapat masalah sirkulasi darah maka hindari menyilangkan kedua kaki dan jangan gunakan kaos kaki yang terlalu kencang atau pakaian yang dapat membatasi aliran darah menuju f. Dengarkan saran ahli kesehatan. Pastikan selalu konsultasi dengan ahli kesehatan dan jangan melakukan pengobatan apapun pada telapak kaki sebelum konsultasi dengan ahli kesehatan yang berkompeten. g. Hati-hati dengan alat-alat tajam. Jangan memotong sendiri kalus-kalus pada telapak kaki tanpa pertolongan petugas kesehatan karena dapat memicu infeksi. Terjadinya infeksi harus dihindari pada pasien DM karena dapat mengakibatkan komplikasi yang semakin berat. h. Pelihara berat badan yang sesuai. Jika perlu kurangi berat badan. Hal ini tidak hanya mengontrol diabetes tetapi juga mengurangi tekanan pada telapak kaki. i. Jaga kondisi telapak kaki. Jangan berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Sebelum menggunakan sepatu, periksa dan pastikan tidak ada kerikil atau permukaan kasar di dalam sepatu. Pastikan kaos kaki yang akan digunakan tidak ada lipatan kasar atau daerah yang ditambal. Segala sesuatunya harus benar-benar pas dan nyaman (Kalla, 2006). Terapi farmakologis dilakukan dengan pemberian antibiotika dan tindakan pembedahan luka atau amputasi. Antibiotika dan pembedahan penting untuk ulkus terinfeksi. Perawatan pasien rawat jalan dilakukan dengan merawat dan membersihkan luka, kultur kuman, dan pemberian antibiotika oral kemudian dievaluasi dalam tiga sampai lima hari. Perawatan pasien rawat inap dilakukan dengan pembedahan, kultur darah dan luka selanjutnya pemberian antibiotika empirik sebagai permulaan (Lipsky, et al., 2004). Pengobatan ulkus dimulai Faktor-faktor penting perawatan ulkus DM adalah mencegah infeksi, menghindari tekanan pada ulkus, membersihkan jaringan dan kulit mati atau debridemen, melakukan pengobatan atau pembalutan luka, dan mengatur kadar glukosa darah agar tidak terlalu tinggi (Anonim, 2006b). Perawatan dan pembalutan luka juga penting untuk mencegah infeksi. Jenis-jenis perawatan dan pembalutan tergantung tingkat keparahan ulkus. Sebagian besar ulkus keadaannya semakin baik dengan pengurangan tekanan dan pembalutan luka (Kalla, 2006). Debridemen merupakan tahap awal evaluasi ulkus. Debridemen menghilangkan semua jaringan nekrosis dan kalus yang ada di sekeliling ulkus sampai dinyatakan sehat dan tidak terjadi perdarahan lagi di tepi luka. Sesudah debridemen sebaiknya ulkus diperiksa untuk menentukan keterlibatan struktur-struktur mendasar seperti tendon, tulang atau tulang sendi. Keterlibatan struktur-struktur mendasar, ada tidaknya iskhemia dan infeksi harus ditentukan sebelum dilakukan penggolongan kondisi klinis pasien yang tepat untuk membuat rencana perawatan yang akan dilaksanakan (Armstrong & Lavery, 1998). Tanpa memperhatikan perawatan, terdapat beberapa ulkus yang tidak dapat sembuh. Ulkus diabetes seringkali lambat sembuh. Salah satu penyebabnya adalah protein-protein yang menyembuhkan luka atau faktor-faktor pertumbuhan rusak. Faktor-faktor pertumbuhan ini adalah protein-protein yang memegang peranan penting dalam proses penyembuhan luka. Tidak berfungsinya faktor-faktor pertumbuhan menyebabkan ulkus tidak dapat sembuh (Kalla, 2006). Obat pilihan infeksi ulkus DM adalah seftriakson yaitu obat golongan bakteri. Indikasi antibiotika ini untuk infeksi kulit, struktur kulit, bakteri Gram positif, Gram negatif, infeksi tulang, dan tulang sendi (Lacy, Armstrong, Goldman, dan Lance, 2003). Dosis dan aturan pakai pasien dewasa diberikan secara injeksi intramuskuler dalam, bolus intravena atau infus 1 g/hari dalam dosis tunggal. Pada infeksi berat diberikan 2–4 g/hari dosis tunggal. Dosis lebih dari 1 g harus diberikan pada dua tempat atau lebih. Untuk profilaksis bedah diberikan 1 g dosis tunggal (Anonim, 2000). Efek samping yang mungkin timbul adalah diare dan kolitis pada penggunaan dosis tinggi (Anonim, 2000). Selain itu, dapat juga mengakibatkan gangguan darah seperti eosinofilia, trombositosis, dan leukopenia (Lacy, et al., 2003). Kontraindikasi adalah pasien yang hipersensitif terhadap sefalosporin dan antibiotika beta laktam lainnya. Interaksi obatnya yaitu dengan aminoglikosida menghasilkan aktivitas antibakteri yang sinergis namun meningkatkan potensi nefrotoksik. Seftriakson dengan probenesid dosis tinggi dapat mengurangi klirens. Tindakan pencegahan atau peringatannya yaitu kurangi dosis pada pasien dengan kerusakan ginjal berat, memperpanjang penggunaan pada superinfeksi, gunakan dengan hati–hati pada pasien yang mempunyai riwayat alergi penisilin, dan dapat menyebabkan kolitis (Lacy, et al., 2003). Infeksi pada penderita DM adalah multibakteri yaitu disebabkan oleh bakteri Gram negatif, Gram positif, bakteri anaerob, stafilokokus, dan streptokokus. Bakteri–bakteri penyebab infeksi tersebut dapat membentuk toksin yang dapat menyebabkan trombus pada arteri jari kaki sehingga memperparah siprofloksasin yaitu obat golongan kuinolon. Terapi ini cukup berhasil (Misnadiarly, 2001). Terdapat beberapa obat selain antibiotika yang perlu diberikan pada pasien ulkus DM. Beberapa obat lain yang biasa digunakan oleh pasien untuk mempercepat penyembuhan ulkus DM antara lain insulin, neurotropik, kompres luka, obat antitrombosit (cilostazol atau pletaal), neurontin, dan oksoferin solution untuk terapi lokal (Misnadiarly, 2001). C. Antibiotika Dalam dokumen Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien ulkus diabetes mellitus di instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2005. (Halaman 37-42)