• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TINDAK PIDANA PENCABULAN

B. Pencabulan Dalam Hukum Positif

2. Pencabulan Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak

Selain diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana, tindak pidana pencabulan juga diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.

Dalam Pasal 3 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

dikatakan bahwa tujuan dari pembentukan undang-undang ini untuk menjamin terpenuhinya segala hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemausiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminalisasi, guna terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berkakhlak mulia dan sejahtera26 Selain itu keberadaan Undang-Undang Perlindungan Anak ini juga bertujuan untuk melindung anak dari berbagai macam tindak kekerasan yang sering mereka dapatkan baik, kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan yang didapat dari lingkungan sekitarnya, ditambah dengan maraknya kasus eksplotasi anak. Dimana anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan terhadap hak-haknya, akan tetapi kemudian dipaksa bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Marak kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2010 kasus yang semula berjumlah 410 kasus naik menjadi 480 kasus pada tahun 2011, yang kemudian menigkat menjadi 673 kasus pada tahun 2012. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menemukan bahwa pada tahun 2012 saja ada 19 kasus trafficking dan eksplotasi anak yang dilaporkan kepada KPAI, baik melalui laporan langsung mau pun melalu surat dan telepon. Berdasarkan pada pantauan yang dilakukan KPAI melalu berbagai

26Lihat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

media, ditemukan setidaknya ada 125 kasus terkait trafficking dan eksplotasi anak.27

Sekretaris Jenderal Komnas PA, Samsul Ridwan, ketika diwawancarai oleh Liputan6.com, menyampaikan bahwa berdasarkan pada data yang dihimpun dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Komnas Anak mengatakan bahwa pada tahun 2010 terdapat 2.046 pengaduan dimana sebanyak 42 % merupakan laporan kejahatan seksual. Angka tersebut meningkat pada tahun 2011 dimana 52 % dari 2.467 kasus dilaporkan merupakan kejahatan seksual.

Peningkatan terus terjadi pada tahun 2012 bahwa telah terjadi 2.637 kasus dengan kekerasan seksual sebanyak 62 persen. Pada tahun berikutnya pun terus terjadi peningkatan di tahun 2013 ada 2.676 kasus dengan persentasi 54 % kejahatan seksual, tahun 2014 meningkat menjadi 2.737 kasus, dimana 52 % merupakan kejahatan seksual. Hingga ditahun 2015 terdapat sebanyak 2.898 kasus yang 59,30 % merupakan kekerasan seksual.28

Melihat pada jumlah kejahatan terhadap anak-anak yang terus meningkat setiap tahunnya, maka keberadaan UUPA dianggap sangat penting.

Mengingat bahwa meskipun perlindungan terhadap anak juga ada terdapat di dalam undang-undang yang lainnya seperti di KUHP, UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi, dan UU No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan

27“Temuan dan Rekomendasi Kpai Tentang Perlindungan Anak dibidang Perdagangan Anak Traffiicking dan Eksploitasi Terhadap Anak” (http://www.kpai.go.id artikel diakses pada tanggal 11 April 2016.)

28Komnas PA : “2015, Kekerasan Anak Tertinggi Selama 5 Tahun Terakhir”

(http://m.liputan6.com artikel diakses pada 11 April 2016.)

Kekerasan Dalam Rumah Tangga, namun undang-undang tersebut dirasa belum memberikan dampak yang optimal terhadap perkembangan upaya perlindungan terhadap anak-anak. Maka kiranya perlu untuk menerbitkan suatu undang-undang tersendiri yang difokuskan pada perlindungan anak.

Tindak pidana kejahatan terhadap anak-anak dapat dikategorikan ke dalam hukum pidana khusus. Kekhususan tersebut dikarenakan KUHP sebagai acuan dalam menyelesaikan perkara pidana tidak bisa lagi mengakomodir berbagai tindak pidana yang muncul. Undang-undang hukum pidana khusus yang kemudian muncul berfungsi sebagai pelengkap dari KUHP, sebab sesempurna apa pun kodifikasi hukum pidana pasti akan sulit untuk memenuhi kebutuhan hukum masyarakat.29

Kehadiran hukum pidana khusus ini pun sebenarnya sudah dijelaskna dalam KUHP sendiri yaitu pada Pasal 103 :

“Ketentuang-ketentuan dalam Bab I sampai Bab VIII buku ini juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain.”

Sebagaimana yang dikutip oleh Aziz dalam bukunya, Andi Hamzah berpendapat bahwa kemunculan undang-undang di luar KUHP disebabkan karena dua faktor :30

29Azis Syamsudin, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta : Sinar Grafika, 2014.) h. 10.

30Ibid. h. 10.

1. Adanya ketentuan lain diluar KUHP sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 103.

2. Adanya Pasal 1 s/d Pasal 85 (Buku I) tentang Ketentuan Umum yang memberikan peluang terhadap penerapan aturan-aturan pidana umum terhadap perbuatan-perbuatan baru yang muncul di luar KUHP, kecuali peraturang tersebut menyimpang.

Andi pun menggaris bawahi bahwa penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam undang-undang khusus tersebut hanya berlaku terhadap ketentuan umum saja, sedang terhadap hal yang tidak menyimpang dengan sendirinya teteap berlaku ketentuan umum yang ada di dalam KUHP, dengan berlandaskan pada lex spesialis derogat lex generali (ketentuan khusus mengesampingkan ketentuan umum, sehingga jika tidak terdapat ketentuan khusus maka tetap berlaku ketentuan umum.31

Dalam Undang-Undang Pencabulan Anak permasalahan tindak pidana pencabulan diatur di dalam Pasal 81 dan Pasal 82 dengan ketentuan sebagai berikut:

Pasal 81 :

“ (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling

31Aziz Syamsudin, Tindak Pidana Khusus.. h. 11.

banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).”

“(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat satu (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.”

Pasal 82 :

“ Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.

60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).”

Kemudian Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 ini mengalami revisi menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 yang disahkan pada tanggal 17 Okotober 2014. Dalam undang-undang yang baru (UU No. 35 Tahun 2014) tersebut ada beberapa perubahan pada redaksi pasal, yang salah satunya juga terjadi pada Pasal 81 dan Pasal 82 yang berganti menjadi :

Pasal 81 :

“(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.

5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”

“(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

“(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepetiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Sedangkan perubahan yang terjadi pada Pasal 82 berbunyi :

i. Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.

5.000.000.000,00 (lima miliar) rupiah.

ii. Dalam hal tindak pidana sebagiaman dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pada revisi Undang-Undang Perlindungan Anak ini ditambahkan hak restitusi yang memberikan kesempatan bagi para korban dan ahli waris untuk mendapatkan hak ganti kerugian yang nantinya akan dibebankan kepada pelaku kejahatan, hak ganti kerugianyang dimaksud dapat berupa materi maupun imateri yang diderita oleh korban atau ahli warisnya.32

C. Tindak Pidana dalam Hukum Pidana Islam 1. Pengertian Jarimah

Dalam hukum pidana Islam atau fiqh jinayah, tindak pidana disebut dengan jarimah

حًيرجنا

atau secara harfiah bermakna kejahatan. Secara etimologi kata Jarimah berasal dari bahasa arab

ََوَرَج

sama dengan kata

َوَ َةَسَك َ

َ َعَطَق

yang bermakna berusaha dan bekerja. Abu Zahrah memberikan definisi tentang jarimah :

َِىْيِقَتْسًُناَِقْيِرَّطناََوَِلْذَعناََوَِّقَحهِنَ ٌفِناَخُيََىُهَاَيَِّمُكَ ُباَكِتْر إ

“Melakukan segala perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, keadilan dan jalan yang lurus (agama)”.33

Ahmad Wardi Muslich mengutip pendapat Imam al-Mawardi yang memberikan pengertian jarimah yaitu sebagai suatu perbuatan yang dilarang oleh syara‟ yang hukumannya berupa had atau ta‟zir.

32 Hukum Online.com, “Undang-Undang Perlindungan Anak Buka Ruang Korban Ajukan Resitusi” (http://m.hukum online.com Artikel diakses pada tanggal 25 Juli 2016.)

33Muhammad Abu Zahrah, Al- Jarim ah wa Al- „Uqubah fi Al- Fiqh Al- Islamy, (Kairo:

Maktabah Angelo, tanpa tahun,) h. 22

َاَهْنَعَيَناَعَتَُ ّاللَّرَجَزٌَحَّيِع ْرَشَ ٌخاَر ْىُظ ْحَيَُىِئاَرَجنا

َ رْيِسْعَتَْوَأٍَّذَحِت

“Jarimah ialah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara‟ yang diancam oleh Allah SWT, dengan hukuman berupa had atau pun ta‟zir.”34

Begitu pula dengan Abdul Qadir Audah yang juga mengutip definisi seperti yang diungkapkan oleh al- Mawardi sebagaimana dikutip oleh A. Wardi Muslich sebelumnya. Abd. Qadir Audah memperjelas bahwa :

َِهِتٌَرْىُيْأَيَ مْعِفَ كْرَتَْوَأَُهْنَعٌَّيِهْنَيٌَمْعِفَ ٌٌاَيْتإَاّيِإَ:َيِهَ ٌخاَرْىُظْحًَنا

“Hal yang dilarang yaitu baik mengerjakan pekerjaan yang dilarang ataupun meninggalkan pekerjaan yang diperintahkan untuk melakukan.”35

Ia (Abd. Qadir Audah) memperjelas bahwa sesuatu yang dilarang tidak hanya berkaitan dengan melakukan perbuatan yang dilarang akan tetapi juga termasuk di dalam al-mahdzurat yaitu tidak mengerjakan perbuatan yang diperintahkan.

Selain itu ada juga para fuqaha yang membatasi pemakaian kata-kata jarimah hanya kepada jarimah hudud dan qishash saja. Dengan mengenyampingkan perbedaan pemakaian kata-kata jarimah pada kalangan fuqaha sama dengan kata-kata jinayah.36 Dalam hukum Islam memang ada dua istilah yang seringkali digunakan untuk tindak pidana, yaitu kata jinayah dan

34A. Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005.) ix.

35Abdul Qadir Audah, al- Tasyri‟ al- Jina‟i al- Islamy, Juz 1, (Beirut: Dar al-Kutub al- Alamiyah, 1971.) h. 53.

36Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 2008.) h. 3.

jarimah. Jarimah sendiri mengandung arti larangan-larangan hukum yang diberikan oleh Allah SWT, yang pelanggarannya menimbulkan hukuman yang ditentukan oleh Allah. Larangan hukuman berarti melakukan perbuatan yang dilarang atau tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak diperintahkan.

Singkatnya bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai tindak pidana jika perbuatan tersebut dilarang oleh syariat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa melakukan (commission) atau tidak melakukan (ommission) suatu perbuatan, yang membawa kepada hukuman yang ditentukan oleh syariat merupakan tindak pidana.37

Sedangkan Jinayat memiliki pengertian setiap kelakuan buruk yang dilakukan oleh seseorang. Sayid Sabiq dalam Fiqh al- sunnah memberikan definis jinayah sebagai berikut :

jinayah menurut syara‟ ialah segala perbuatan yang dilarang. Dan perbuatan yang dilarang itu merupakan perbuatan yang oleh syara‟

dilarang untuk dilakukan, karena adanya bahaya yang dapat membahayakan agama, jiwa, akal, kehormatan maupun harta benda”.38

37Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam, (Bandung: Asy Syaamil, 2001.) h. 132

38Sayid Sabiq, Fiqh al- Sunnah, juz 2, (Kairo : Dar al- Hadits, 2008.) h. 323.

Sayid Sabiq membagi jarimah atau tindak pidana kedalam dua bentuk, pertama ke dalam bentuk jarimah hudud, kedua yaitu jarimah qishash.

Menurutnya tujuan dari dib erlakukannya jinayah ialah untuk melindungi kehormatan manusia, karena Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia di antara makhluk yang lainnya sebagaimana firman Allah dalam Surat Al- Isra ayat 70:

“Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”. (Al- Isra : 70)

Selain itu tujuan diberlakukannya hukuman hudud ialah untuk menjaga hak hidup manusia, karena hak ini merupakan hak yang sangat suci yang harus dijaga. Sehingga dilarang untuk membunuh seseorang tanpa ada alasan yang jelas. Namun demikian ada beberapa pengecualian yang diberikan oleh Rasulallah dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas‟ud:39

39Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah.. h. 324.

Haram darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali salah satu dari ketiga golongan ini, yaitu: seorang pezina yang sudah menikah, seseorang yang membunuh orang lain tnpa alasan yang jelas, orang yang meninggalkan agamanya keluar dari jama‟ah” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Para ahli hukum menggunakan “jinayat” pada segala perbuatan yang dinyatakan melawan hukum oleh syariat baik itu dilakukan terhadap hidup dan hak milik orang lain atau terhadap setiap hal lainnya. Akan tetapi mayoritas ahli hukum mengartikan jinayat sebagai suatu kejahatan yang menghilangkan hidup dan anggota tubuh seperti pembunuhan, melukai orang, kekerasan fisik atau aborsi dengan sengaja. Mayoritas ahli hukum pun menolak penggunaan istilah jinayat sebagai suatu kejahatan yang dihukum dengan hudud maupun qishash.40

2. Unsur-unsur Jarimah

Jarimah sendiri pada hakikatnya terdiri dari dua unsur :

1) Unsur umum yang pasti dimiliki oleh setiap jarimah yaitu41 ;

3. Al-Rukn al-Syar‟iy atau unsur hukum (unsur formil) adanya nash-nash yang berisikan perbuatan yang dilarang disertai dengan adanya ancaman hukuman.

40Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam... h. 133

41A. Djazuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalam Islam), (Jakarta:

Raja Grafindo, 2000.) h. 12

4. Al-Rukn al-Madi yaitu adanya perbuatan melakukan suatu larangan atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan, unsur ini dikenal dengan unsur materiil.

5. Al-Rukn al-Adaby (unsur budaya) yaitu bahwasanya pelaku merupakan orang yang mukallaf sehingga dapat dijatuhi hukuman atas perbuatan yang dilakukannya

2) Unsur khusus yaitu unsur yang tidak terdapat di dalam jarimah yang lain, misalkan, mengambil barang/harta orang lain secara diam-diam dari tempatnya yang terdapat di dalam jarimah pencurian, atau menghilangkan nyawa orang lain yang ada pada jarimah pembunuhan.42

Setelah mengetahu unsur-unsur yang dimiliki, jarimah sendiri dapat digolongkan menjadi tiga jenis dengan melihat kepada beberapa aspek diantaranya :

a) Segi berat ringannya hukuman :

1) Jarimah hudud merupakan jarimah yang pelakunya diancam dengan h ukuman hudud yang merupakan hak prerogatif Allah yang sudah ditentukan jenis serta jumlah hukumannya. Jarimah yang termasuk di dalamnya antara lain ; zina, qadzaf (menuduh orang berbuat zina), meminum khamar, mencuri, merampok, murtad, dan pemberontakan.

2) Jarimah qishash atau diyat yaitu jarimah yang pelakunya diancam baik dengan qishash maupun diyat. Ia merupakan hak dari individu yang dapat dibatalkan oleh korban apabila ia memaafkan si pelaku dan telah

42A. Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, h. 12

ditentukan kadar jumlahnya yakni tidak memiliki batas minimal atau pun maksimal. Perbuatan yang termasuk kedalam jarimah ini ialah pembunuhan sengaja, pembunuhan semi sengaja, pembunuhan karena ketidak sengajaan, penganiayaan sengaja dan penganiayaan yang tidak disengaja.

3) Jarimah ta‟zir merupakan jarimah yang pelakunya dapat diancam dengan satu atau beberapa macam hukuman ta‟zir. Berbeda dengan jarimah hudud, serta jarimah qishash dan diyat yang sudah ditentukan jumlahnya, pada jarimah ta‟zir besaran hukuman yang akan diterima oleh pelaku belum ditentukan oleh nash. Perbuatan yang termasuk ke dalam jarimahh ini antara lain : riba, suap, pencabulan, illegal loging, human trafficking dan lain-lain.43

b) Faktor kesengajaan atau niat44

1) Jarimah al-Maqsudah

َُجَد ْىُصْقًَناَ ُىِئاَرَجنا

atau tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku meski ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang oleh syariat.

2) Al- Jarimah Ghayr al-Maqsudahatau Jarimah al-Khatha‟ yaitu perbuatan yang bukan merupakan kejahatan, namun karena kealpaan menyebabkan terjadinya kerugian.

c) Segi pengerjaannya45

43A. Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, h. 100

44Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam...h. 140

45Ibid. h. 140.

1) Jarimah Ijabiah atau kejahatan positif yaitu mengerjakan kejahatan yang memang dilarang (commision) atau tidak mengerjakan sesuatu yang diperintahkan atau Jarimah Ijabiah taqa‟u bi thariq al-salab (commision per ommisionem commisa/ tidak murni ) sehingga menimbulkan kerugian, seperti tidak memberikan makanan kepada seseorang yang kelaparan sehingga menyebabkan seseorang mati.

2) Jarimah Salabiyah atau kejahatan negatif (omisionis) terjadi karena tidak mengerjakan perbuatan yang diperintahkan. Seperti tidak menunaikan zakat, kewajiban melapor jika melihat kejahatan.

d) Segi terungkapnya jarimah46

1) Jarimah yang tertangkap basah atau

اَهِتَ ُسٌثَهَتًُناَ ُىِئاَرَجنا

yaitu jarimah yang terungkap pada saat jarimah tersebut dilakukan atau beberapa saat setelah jarimah itu dilakukan.

2) Jarimah yang tidak tertangkap basah atau

َ ُسَثْهَتَ َلََ ُىِئاَرَجنا َ اَهْيِف

merupakan jarimah yang tidak tertangkap pada saat jarimah tersebut dilakukan atau jarimah yang baru terungkap dalam waktu yang lama.

e) Segi objek atau korban47

1) Jarimah Perseorangan

َِداَرْفَلأاَ ُّذِضَ ُىِئاَرَج

adalah jarimah yang tujuan penghukumannya ditujukan untuk melindungi individu, meskipun segala

46Abdul Qadir Audah, al-Tasyri al-Jina‟i al-Islami, Juz 1, (Beirut : Dar al- Kitab al-

„Alamiyah, 1971.) h. 84

47Abdul Qadir Audah, al- Tasyri al-Jina‟i.. h. 99

sesuatu yang menyinggung individu juga dapat menyinggung masyarakat.

2) Jarimah Masyarakat

َِحَعاًََجنا َ َُّذِضَ ُىِئاَرَج

merupakan suatu jarimah yang hukumannya diberikan demi melindungi kepentingan masyarakat umum, meskipun pada hakikatnya segala yang menyinggung kepentingan umum juga dapat menyinggung kepentingan individu. Jarimah ini condong kepada jarimah hudud yang merupakan hak Allah dan pemaafan tidak berpengaruh pada jarimah ini.

Pada hakikatnya pembagian jarimah ini tidak bedanya dengan pembagian tindak pidana seperti yang ada di dalam hukum pidana Indonesia.

Hal ini dilakukan demi memudahkan untuk menentukan pemberian pengampunan, menentukan kompetensi hakim, menentukan hal yang meringankan, menentukan alat-alat bukti.48

D. Pencabulan dalam Pandangan Hukum Islam

Dalam hukum Islam tidak diterangkan secara jelas mengenai tindak pidana pencabulan, akan tetapi perbuatan tersebut selalu dianalogikan kepada tindak pidana perzinahan. Karena pencabulan sendiri dianggap sebagai sebuah upaya atau perbuatan yang mendekati kepada zina, sedangkan perbuatan yang mendekati kepada zina dilarang oleh Allah SWT dalam firmannya :

48A. Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004.) h. 20-21

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu merupakan suatu perbuatan yang keji dan merupakan suatu jalan yang buruk. (QS.

Al-Isra : 32)

Selain dari ayat Al- Qur‟an di atas, terdapat pula hadist nabi yang melarang melakukan perbuatan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan zina yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas : 49

“Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kamu bersepi-sepi dengan seorang perempuan yang bukan mahram, karena orang ketiga di antara mereka adalah syaitan.” ( HR. Bukhari dan Muslim riwayat Ibnu Abbas).

Dari kedua dalil yang disebutkan bahwa status haram tidak hanya diberikan kepada perbuatan zina saja, akan tertapi termasuk di dalamnya juga segala perbuatan yang menjurus kepada perbuatan zina juga dijatuhi haram, sebagaimana dikatakan dalam kaidah :

ََىُهَف وَرَح

50

َِواَرَحناَيَنِإَيَّدَأَاَيَ ٌَِّإ

49Muhammad ibn Ismail Abu Abdullah al- Bukhari al-Ja‟fi, Shahih Bukhari, Beirut : Dar el-Ibn Katsir, 1987, Juz III, h. 1093 hadis nomor 2844 dan Muslim Ibn al-Hujaj Abu al-Husaini al- Qusyairi al- Nisaburi, Shahih Muslim, (Beirut : Dar al- Ihya Turas al-Arabi, tanpa tahun.) Juz II, h. 978. Hadis nomor 424.

50Abdullah Ibn Muhammad Ibn Qudamah, Al- Mughni, (Juz VIII, Dar el- Manar , 1368 H.) h. 181.

“Segala perbuatan yang mendatangkan pada sesuatu yang haram maka hukumnya adalah haram”.

Berlandaskan pada kaidah ini maka segala perbuatan yang pada akhirnya akan mengarahkan pada perbuatan zina merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman. Meskipun ada yang berpendapat bahwa tindak pidana pencabulan tidak sama de ngan tindak pidana perzinahan, sebab perzinahan merupakan persetubuhan yang dilakukan oleh seorang pria dan seorang wanita tanpa adanya ikatan perkawinan yang ditandai dengan masuknya kemaluan pria (penis) ke dalam kelamuan wanita (vagina) dan perbuatan zina jelas dapat diganjar dengan hukuman hudud baik berupa rajam maupun hukuman jilid (cambuk) sedangkan, tindak pidana pencabulan dapat dikatakan tidak termasuk kedalam kategori hukuman hudud karena perbuatan yang terjadi hanya merupakan perbuatan yang berupa meraba kemaluan, dada, mencium dan lain sebagainya.

Selain itu tindak pidana pencabulan tidak dijelaskan secara spesifik di dalam al-Qur‟anak mau pun hadis, karena itu hukuman yang dapat diterapkan terhadap pelaku tindak pidana pencabulan yaitu hukuman ta‟zir yang pelaksanaannya diserahkan kepada pemerintah.51

Dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 57 Tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan, menetapkan bahwa yang dimaksud dengan pencabulan yaitu istilah untuk aktifitas seksual yang dilakukan terhadap seseorang yang tidak memiliki ikatan suami istri, seperti meraba, meremas,

51A. Djazuli, Fiqh Jinayah ; Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalam Islam, (Jakarta : Raja Grafindo, 2000.) h. 181.

mencumbu, dan aktifitas lainnya, baik dilakukan terhadap lawan jenis maupun kepada sesama jenis, kepada dewasa mau pun kepada anak, yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam karena termasuk kepada perbuatan yang haram, serta pelaku tindak pidana pencabulan dapat dikenakan hukuman ta‟zir.52 Fatwa ini didasarkan pada nash-nash syar‟i yang berasal dari Al-Qur‟anak dan Hadits, serta juga berdasarkan pada pendapat para ulama.

Fatwa ini didasarkan pada firman Allah SWT :

Katakanlah : Sesungguhnya Tuhanku telah mengharamkan perbuatan keji yang nampak dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak asasi manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.(QS. Al- A‟raf: 33)

52Lihat Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan.

Diberlakukan tanggal 31 Desember 2014.

Serta di dalam penggalan Surat Al-an‟am :151 :

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.

demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).”

Selain itu berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

Dokumen terkait