• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENCAPAIAN BANGUNAN

Dalam dokumen USULAN TEKNIS (Halaman 31-46)

Pencapaian bangunan atau aksesbilitas adalah suatu kemudahan yang disediakan bagi semua orang, termasuk yang memiliki ketidak-mampuan fisik  — seperti misalnya,  penyandang cacat, lanjut usia, ibu hamil dan penyandang cacat akibat penyakit tertentu — guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan pada suatu lingkungan terbangun.

Aksesibel : menggambarkan kondisi suatu tapak, bangunan, fasilitas, atau bagian darinya yang memenuhi standar pedoman ini.

Elemen Bangunan : komponen arsitektural atau mekanikal dari suatu bangunan, fasilitas, ruang atau tapak. Contoh-contoh elemen tersebut seperti telepon, curb-ramp,  pintu, tempat duduk atau WC.

RuteAksesibel : suatu jalur lintasan tanpa penghalang yang langsung menghubungkan suatu elemen dan ruang aksesi dari bangunan. Rute aksesibel interior dapat termasuk koridor, lantai, ramp, lift. Rute aksesibel eksterior dapat termasuk ruang akses parkir, ramp-curb, trotoir pada jalan kendaraan, ramp, dan lain.

Bangunan: setiap struktur yang digunakan atau dimaksudkan untuk menunjang atau mewadahi suatu penggunaan atau kegiatan.

Bagian bangunan : bagian ruang dari bangunan seperti kamar, koridor, ruang untuk  kegiatan tertentu dsb.

Ruang Lantai Bebas : ruang lantai atau tanah yang tidak terhalang, minimum diwajibkan untuk menampung sebuah kursi roda dan penggunanya.

Rambu : tanda-tanda yang bersifat verbal ( informasi yang dapat didengar), bersifat visual (informasi yang berupa gambar), simbol, atau yang dapat dirasa/diraba, atau.

Ruang : suatu daerah yang dapat ditentukan batasnya, seperti kamar, toilet, hall, tempat pertemuan, jalan masuk, gudang, dan lobby.

Jalur Pemandu : jalur yang digunakan bagi pejalan kaki, termasuk untuk   penyandang cacat yang memberikan panduan arah dan tempat tertentu.

A. Persyaratan Teknis Aksesbilitas

Dalam rangka menciptakan lingkungan binaan yang memenuhi persyaratan aksesibilitas maka diperlukan persyaratan bangunan gedung dan lingkungannya yang didasarkan kepada prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan bangunan umum, tapak   bangunan, dan lingkungan di luar bangunan harus dilakukan secara terpadu untuk 

 b. Setiap kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan lingkungan di luar bangunan yang dikunjungi dan digunakan masyarakat umum secara luas harus memperhatikan persyaratan aksesibilitas terutama pada :

o Ukuran dasar  o Jalur pedestrian o Jalur pemandu o Area parkir  o Landaian (ramp) o Rambu

a. Setiap kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan tapak bangunan umum yang memiliki luas lantai sama atau lebih besar dari 300 m2 perlantai harus memperhatikan persyaratan aksesibilitas terutama:

o Ukuran dasar  o Jalan pedestrian o Jalur pemandu o Area parkir  o Ramp o Rambu

a. Setiap kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan bangunan umum yang memiliki luas lantai sama atau lebih besar dari 300 m2 perlantai harus memperhatikan persyaratan aksesibilitas terutama:

o Ukuran dasar  o Ramp o Pintu o Tangga o Lift o Kamar kecil o Pancuran o Wastafel o Perabot o Perlengkapan o Rambu

e. Persyaratan aksesibilitas suatu fasilitas dalam bangunan dimungkinkan digunakan pada tapak bangunan, atau lingkungan di luar bangunan. Demikian pula sebaliknya, jika dalam persyaratan aksesibilitas fasilitas di luar bangunan atau tapak bangunan digunakan di dalam bangunan, maka butir-butir persyaratan aksesibilitas dalam pedoman ini bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya: kamar kecil atau telepon umum yang berada di taman, area parkir yang  berada di dalam bangunan, dan kasus-kasus sejenis.

f. Pada kondisi lingkungan di luar bangunan yang belum aksesibel, setiap  perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan konstruksi bangunan umum beserta tapaknya tetap diwajibkan memenuhi persyaratan aksesibilitas, sehingga akan mendorong terciptanya lingkungan yang aksesibel di masa mendatang.

6. 7. 8. 9. 10.

1. Persyaratan Teknis Aksesbilitas Sumber: Analisis

A. Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

a. Jalur Pedestrian

Jalan yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi penyandang cacat, dirancang berdasar perbedaan terbesar orang untuk bergerak aman, bebas dan tak terhalang.

Syarat:

i. Permukaan

Permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak licin. Hindari sambungan atau konstraksi pada permukaan, kalaupun terpaksa ada, tingginya harus tidak lebih dari 1,25 cm. Apabila menggunakan karpet ujungnya harus kencang dan mempunyai trim yang permanen.

ii. Kemiringan/gradient

Gradient di bawah 5% dan tiap-tiap 90m terdapat pemberhentian untuk istirahat.

iii. Area istirahat

Membantu pengguna jalan terutama bagi mereka yang menggunakan alat. iv. Cahaya/penerangan

Berkisar antara 15-150 cm.kandela tergantung pada intensitas pemakaian, tingkat  bahaya dan kebutuhan relatif keamanan.

v. Perawatan

Diharuskan untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan karena adanya kerusakan. vi. Drainasi

dengan lubang maksimal 1,5 cm. Mudah dibersihkan dan lubang dijauhkan dari tepi ramp sehingga tidak mendatangkan bahaya .

vii. Ukuran dan penghalang

Lebar minimum 95 cm untuk jalur searah dan 150 cm untuk dua arah. Jalur   pedestrian bebas dari pohon, rambu dan benda-benda pelengkap jalan yang

melintang.

viii. Tepi ramp dan trailing tongkat tuna netra

Penting bagi penghentian roda kendaraan dan tongkat tuna netra ke arah area yang berbahaya.Penyetop dibuat setinggi minimum 10 cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur pedestrian.

ix. Bebas dari pohon, rambu, dan benda-benda pelengkap jalan.

2. Prinsip jalur pedestrian

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK  INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

 b. Jalur Pemandu

Jalur yang memandu tuna netra untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin  pengarah dan tekstur ubin peringatan terhadap situasi di sekitar jalur yang bisa

membahayakan tuna netra. Syarat:

i. Tekstur ubin garis-garis menunjukkan arah yang benar untuk diikuti.

ii. Tekstur ubin dot (bulat) memberi peringatan terhadap situasi di sekitar jalur   pemandu.

iii. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu ( guiding  blocks) :

o Di depan jalur lalu-lintas kendaraan.

o Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai.

o Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area  penumpang.

o Pada pedestrian yang menhubungkan antara jalan dan bangunan.

o Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat.

iv. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada  perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting sedemikian sehingga tidak terjadi

kebingungan tuna netra dalam merasakan tekstur ubin pemandu dan tekstur ubin lainnya.

3. Tipe tekstur ubin pemandu

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK  INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

c. Area Parkir

Fasilitas parkir adalah tempat parkir kendaraan yang dikendarai oleh penyandang cacat, sehingga diperlukan tempat yang lebih luas untuk naik turun kursi roda, daripada tempat parkir yang biasa. Sedangkan daerah untuk menaik-turunkan  penumpang ( Passenger Loading Zones) adalah tempat bagi semua penumpang,

termasuk penyandang cacat, untuk naik atau turun dari kendaraan.

Syarat:

i. Fasilitas parkir kendaraan :

o Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju  bangunan/ fasilitas yang dituju, dengan jarak maksimum 60 meter.

o Atau jika parkir tidak berhubungan langsung dengan bangunan, misalnya  pada parkir taman dan tempat terbukla lainnya, maka tempat parkir harus

diletakkan sedekat mungkin dengan pintu gerbang masuk dan jalur pedestrian.

o Area parkir harus cukup mempunyai ruang bebas di sekitarnya sehingga  pengguna berkursi roda dapat dengan mudah masuk dan keluar dari kendaraannya.

o Area parkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol/tanda umum yang berlaku.

o Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ramp trotorir di kedua sisi kendaraan.

o Ruang parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 670 cm untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ramp dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya.

o Dilarang meletakkan kursi roda di belakang mobil yang diparkir . ii. Daerah menaik-turunkan penumpang :

o Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur  lalu-lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm.

o Dilengkapi dengan fasilitas ramp, jalur pedestrian dan tanda-tanda bagi  penyandang tuna netra.

o Diberi rambu yang biasa digunakan untuk mempermudah dan membedakan dengan fasilitas serupa bagi umum

4. Tipikal ruang parkir 

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

d. Pintu

Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang merupakan tempat untuk masuk dan keluar.Pada umumnya dilengkapi dengan penutup (daun pintu).

Syarat:

i. Pintu pagar ke tapak bangunan harus mudah dibuka dan ditutup oleh penyandang cacat.

ii. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm, dan pintu-pintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm.

iii. Di sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.

iv. Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan:

o Pintu yang berat, dan sulit untuk dibuka/ditutup.

o Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil

o Pintu yang terbuka kekedua arah ( ―dorong‖ dan ―tarik‖)

o Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra

v. Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran karena sangat praktis bagi penyandang cacat. Pintu tersebut tidak boleh membuka lebih cepat dari 3 detik dan mudah menutup kembali.

vi. Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu

vii. Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna. Pintu terbuka sebagian berbahaya bagi penyandang cacat

viii. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda

5. Ukuran pintu dua daun

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

e. Ramp

Merupakan alternatif rute/ jalan untuk orang-orang yang tidak bisa menggunakan tangga

Syarat:

i. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi rasio 1:12,  perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan/ akhiran ramp(curb

ramps/landing ). Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan adalah 1:15 .

ii. Maksimum panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 1:12) tidak boleh lebih dari 900 cm. Ramp dengan kemiringan yang lebih rendah bisa menjadi lebih  panjang.

iii. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya, sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut, atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri. Untuk ramp atau ramp dengan fungsi ganda melayani angkutan barang, harus diperhitungkan secara tersendiri.

iv. Landing atau muka datar pada awalan atau akhiran ramp dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan, sekurang-kurangnya untuk memutar kursi dengan ukuran minimum 150 cm.

v. Permukaan datar dari landing (baik awalan atau akhiran ramp) harus memiliki tekstur  sehingga tidak licin baik diwaktu hujan atau tidak.

vi. Pembatas rendah pinggir ramp (low curb) dirancang untuk menghalangi roda kursi roda agar tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. Apabila berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar  tidak mengganggu jalan umum.

vii. Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup yang akan membantu  penggunaan ramp saat malam hari. Penerangan khususnya disediakan pada  bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian- bagian yang membahayakan.

viii. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan (handrail) yang dijamin kekuatannya dan dengan ketinggian yang sesuai untuk pengguna ramp.

6. Kemiringan ramp

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

f. Tangga

Ruang dan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang cukup untuk berpapasan dan aman

Syarat:

i. Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam ii. Harus memiliki kemiringan yang kurang dari 600

iii. Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga. iv. Harus dilengkapi dengan handrail pada kedua sisinya

v. Handrail (pegangan rambat) harus mudah dipegang dengan ketinggian 70-90 cm dari lantai dan bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu dan bagian ujungnya harus  bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai, dinding atau tiang

vi. Handrail harus ditambah panjangnya pada bagian ujung-ujungnya (puncak dan bagian  bawah) dengan 10-15 cm.

vii. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, maka tangga harus dirancang sehingga tidak ada air hujan yang menggenang.

7. Tipikal tangga

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

g. Lift

Elevator dan lift adalah alat mekanis-elektris untuk membantu  pergerakan vertikal di dalam bangunan baik yang digunakan khusus  bagi penyandang cacat atau kombinasi dengan lift barang.

Syarat:

i. Umum

Paling tidak satu elevator/ lift yang aksesibel harus ada pada jalur aksesibel dan memenuhi Peraturan Keselamatan yang telah ditetapkan secara umum.

ii. Sistem otomatis

Elevator harus menggunakan sistem kerja bersifat otomatis membawa penumpang ke setiap lantai yang dikehendaki. Toleransi perbedaan muka lantai bangunan dengan muka lantai ruang lift adalah 1,25 mm.

iii. Koridor/lobby lift

o Ruang perantara yang digunakan untuk menunggu kedatangan lift sekaligus mewadahi penumpang yang baru keluar dari lift harus disediakan. Lebar  ruangan ini minimal 130cm tergantung pada konfigurasi ruang yang ada.

o Panel luar yang berisikan tombol lift harus dipasang di tengah-tengan ruang lobby atau hall lift dengan ketinggian 90-110 cm dari muka lantai bangunan.

o Panel dalam dari tombol lift dipasang dengan ketinggian 90-110 cm dari muka lantai ruang lift.

o Semua tombol pada panel harus dilengkapi dengan panel huruf Braille dipasang tanpa mengganggu panel biasa.

o Layar/ tampilan yang secara visual menunjukkan posisi lift harus dipasang di atas panel kontrol dan di atas pintu lift, baik di dalam atau di luar lift (hall/koridor)

o Ruang lift juga harus dilengkapi dengan voice indicator untuk menerangkan secara auditif posisi lift.

8. Standard lift

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

h. Kamar Kecil

Merupakan fasilitas sanitasi yang disediakan untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) yang sedang mengunjungi suatu bangunan atau fasilitas umum.

Syarat:

i. Toilet/kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan tanda/gambar simbol universal (―kursi roda‖) pada bagian luarnya.

ii. Toilet/kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda.

iii. Ketinggian dari tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda.

iv. Toilet/kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pegangan disarankan merupakan bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk  membantu pergerakan/perpindahan menyamping dari tubuh pengguna kursi roda. v. Letak kertas tissu, air, kran air atau shower dan perlengkapan-perlengkapan seperti

tempat sabun, pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan-keterbatasan fisik/cacat dan bisa dijangkau dengan baik oleh pengguna kursi roda.

vi. Wastafel harus aksesibel dan disesuaikan dengan ketinggian pengguna kursi roda. vii. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel

viii. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin

ix. Pintu harus membuka keluar untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk  membuka dan menutup.

x. Kunci-kunci toilet atau grendel dirancang/dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat.

9. Tinggi perletakan closed

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

i. Wastafel

Fasilitas cuci tangan, cuci muka, berkumur atau gosok gigi yang bisa digunakan untuk semua orang, khususnya bagi pengguna kursi roda. Syarat:

i. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga posisinya baik tinggi maupun lebarnya dapat dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda.

iii. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda.

iv. Pemasangan ketinggian cermin harus juga diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda

10. Ruang gerak wastafel

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

 j. Telepon

Merupakan fasilitas komunikasi yang disediakan untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) yang sedang mengunjungi suatu bangunan atau fasilitas umum.

Syarat:

i. Telepon umum harus terletak pada lantai yang aksesibel bagi semua orang termasuk   penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil.

ii. Ruang gerak yang cukup harus disediakan di depan telepon umum sehingga memudahkan pengguna kursi roda untuk mendekati dan menggunakan telepon.

iii. Ketinggian telepon dipertimbangkan terhadap dasar-dasar penggunaan pesawat telepon misalnya; keterjangkauan gagang telepon, tombol-tombol angka atau sistem dialing. Sebaiknya telepon umum menggunakan tombol tekan angka.

iv. Bagi pengguna yang memiliki pendengaran yang kurang, perlu disediakan kontrol volume suara yang terlihat dan mudah terjangkau.

v. Bagi tuna rungu sebaiknya disediakan faksimili sebagai alat komunikasi yang lebih  bernilai, khususnya pada kantor pos, fasilitas komersial, dan fasilitas publik.

vi. Bagi tuna netra sebaiknya disediakan petunjuk dalam huruf Braille dan dilengkapi  juga dengan talking sign (isyrat bersuara) yang terpasang di dekat telepon umum. vii. Panjang kabel gagang telepon harus memungkinkan pengguna kursi roda untuk 

viii. Teleponboks (booth) dilengkapi dengan kursi yang disesuaikan dengan area gerak   pengguna.

11. Perletakan telepon

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

k. Perlengkapan dan Peralatan

Merupakan perlengkapan-perlengkapan tambahan yang bisa mempermudah semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua, dan ibu-ibu hamil) untuk melakukan suatu kegiatan tertentu.

Syarat: i. Sistem alarm/ peringatan

o Harus tersedia peralatan peringatan yang dapat terdiri dari dari sistem  peringatan suara (vocal alarms), sistem peringatan bergetar (vibrating 

alarms) dan berbagai petunjuk dan penandaan untuk melarikan diri pada situasi darurat .

o Stop kontak harus dipasang dekat tempat tidur untuk mempermudah  pemasangan sistem alarm, termasuk peralatan bergetar (vibrating devices) di  bawah bantal,

o Semua peralatan pengontrol peralatan listrik harus dapat dioperasikan dengan satu tangan dan tidak memerlukan pegangan yang sangat kencang atau sampai dengan memutar lengan.

ii. Tombol dan stop kontak 

Tombol dan stop kontak dipasang pada tempat yang posisi dan tingginya sesuai dan mudah dijangkau oleh pengguna kursi roda

iii. Pencahayaan

Semua ruang harus memiliki pencahayaan yang merata dan cukup yang tidak  menimbulkan silau. Ruang tangga harus dilengkapi dengan peralatan pencahayaan yang cukup

l. Perabot

Perletakan barang-barang perabot/ furniture dengan menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat.

Syarat:

i. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan dapat digunakan oleh pengguna yang berkursi roda, termasuk dalam keadaan darurat.

ii. Dalam bangunan yang digunakan untuk penggunaan oleh masyarakat banyak, seperti  bangunan pertemuan, konferensi, pertunjukan dan kegiatan yang sejenis maka jumlah

tempat duduk aksesibel yang harus disediakan adalah :

1. 2. 3. 4.

1. Perbandingan tempat duduk yang aksesibilitas

KAPASITAS TOTAL

TEMPAT DUDUK 

JUMLAH TEMPAT DUDUK  YANG AKSESIBEL 4 – 25 26 – 50 51 – 300 301 – 500 > 500 1 2 4 6

6, +1 untuk setiap ratusan

m. Rambu

Fasilitas dan atau elemen yang digunakan untuk untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk.

Syarat:

i. Penggunaan rambu, terutama dibutuhkan pada:

o Arah dan tujuan jalan pedestrian

o KM/WC umum, telepon umum dsb

o  Nama fasilitas dan tempat. ii. Beberapa Rambu yang digunakan :

o Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat dibaca oleh tuna netra dan dapat penyandang cacat lain.

o Rambu yang berupa gambar dan simbol yang mudah dan cepat ditafsirkan artinya.

o Rambu yang berupa tanda dan simbol internasional

o Rambu yang menerapkan metode khusus (misal; pembedaan perkerasan tanah, warna kontras, dll) Karakter dan latar belakang rambu harus dibuat dari bahan yang tidak silau. Karakter dan simbul harus kontras dengan latar   belakangnya, apakah karakter terang di atas gelap atau sebaliknya.

o Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan tinggi antara 3 : 5 dan 1 : 1 dan ketebalan huruf antara 1: 5 dan 1: 10

o Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus diukur sesuai dengan  jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca.

iii. Lokasi penempatan rambu :

o Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas secara vertkal dan horizontal.

o Satu kesatuan sistem dengan lingkungannya

o Cukup mendapat penerangan termasuk penambahan lampu pada kondisi gelap.

o Bisa dimasukkan dalam street furniture.

o Tidak mengganggu arus (pejalan kaki, dll) dan sirkulasi (buka/tutup pintu, dll).

Dalam dokumen USULAN TEKNIS (Halaman 31-46)

Dokumen terkait